SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Tutur Nurani

          

Zulfikri Anas

Senja di Pinggir Pantai Tanjung Jepara Banggai (I)

laut dan nurani sama-sama tak bertepi

 pantai adalah sebuah titik pertemuan dua unsur pembentuk kehidupan

cair dan padat

perbuatan  adalah titik pertemuan dua unsur kemanusiaan

rohani dan jasmani

ketika laut dan nurani tercemar

pantai menjadi sekat pembatas dua unsure kehidupan

cair dan padat

perbuatanpun menjadi sekat  pembatas dua unsur kemanusiaan

rohani dan jasmani

Senja Di Pinggir Pantai Tanjung Jepara  Banggai (II)

mentari perlahan menceburkan diri di bibir laut

semburat warna merah jingga menjadi saksi

adzan magrib akan segera menghampiri

anak-anak bermain air, tertawa sambil salto ke belakang

melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan

apabila bukan di air

inilah rumahku,

inilah kampungku

inilah duniaku, ha,ha,ha,……..

dunia laut, kampung laut

seiring gelap merayap pasti

anak-anak bersiap-siap untuk tidur di atas tikar  

di ruang lepas tanpa kamar

satu rumah yang ditempati oleh 4 sampai 6 kepala keluarga, bahkan lebih

konon inilah pemukiman terpadat di dunia

malam makin larut

rembulan muncul perlahan

ayah ibu mereka  turun ke laut

merencanakan kehidupan baru

sambil membayangkan dan berdoa

tentang kehidupan yang indah

tentang pendidikan yang bersahabat

tentang orang-orang atas yang memahami dunia mereka

tentang rintihan  anak-anak mereka

ayah, ibu, kembalikan kehidupan kami

andai itu belum terlambat.

 

Ketika Ruang Menjadi Jalan Buntu

 

ketika ruang menjadi jalan buntu

jerit tangis bagian dari kehidupan

senyum menjadi bagian dari perjuangan

kehidupan menjadi bayangan kematian

Banggai, Sulteng, Oktober 2008

Stop! Mafia Buku Pelajaran

Tahun ajaran baru, berarti buku baru! Tidak kompromi ekonomi lagi sulit. Semua orang percaya bahwa sebagai salah satu sumber belajar, buku pelajaran dapat mengembangkan kreatifitas dan kecerdasan anak, namun tidak banyak yang menyadari bahwa buku pelajaran juga dapat  berubah menjadi “monster”  pembunuh yang paling dahsyat terhadap kreatifitas dan kecerdasan itu sendiri. Semua  berawal dari bagaimana proses buku itu ditulis, dan yang tidak kalah pentingnya, bagaimana delivery system-nya, karena kedua hal ini akan mempengaruhi cara penggunannya oleh siswa.

Dari segi  teknis penulisan, buku-buku pelajaran harus disusun berdasarkan  kajian psikologi anak, agar buku tersebut “ramah” dan mengerti dunia mereka. Ini penting karena mereka berada pada masa-masa aktif berkembang.  Dari segi delivery system, idealnya, siswa sendiri yang memilih dan menentukan buku mana yang akan mereka gunakan, bukan orang lain, apalagi dipaksa demi kepentingan menghidupi penerbit.

Buku-buku pelajaran yang beredar sampai saat ini, pada umumnya ditulis tanpa melalui studi perkembangan dan kebutuhan siswa. Yang paling parah justeru di jenjang pendidikan dasar, sepertinya, menulis buku SD dianggap lebih mudah di banding SMP dan SMA. Sesungguhnya menulis buku  pelajaran untuk anak SD harus lebih hati-hati dan jauh lebih sulit di banding jenjang di atasnya. Harus diakui, khusus untuk siswa jenjang pendidikan menengah ke bawah, kita belum memiliki penulis buku pelajaran, yang ada  kompilator, comot sana, comot sini lalu jadi buku. Dan itu dilakukan secara instan karena  penerbit  berlomba menjadi yang pertama  masuk pasar. Buku yang ditulis dengan cara instan tersebut,  dipasarkan secara “paksa” melalui berbagai cara, termasuk melibatkan jajaran birokrasi. Beberapa tahun lalu pernah diungkap bagaimana cara penerbit memanfaatkan birokrasi untuk memperlancar praktik monopoli pemasaran buku. Dan guru dikondisikan sedemikian rupa sehingga  terbiasa mengajar berdasarkan kata demi kata yang tertulis di buku.

Saatnya kita menyadari, bahwa cara-cara yang digunakan oleh penerbit selama ini menjadi malapetaka bagi siswa. Praktik monopoli mengakibatkan sumber belajar siswa menjadi seragam, dan itu berarti memiskinkan pengalaman belajar siswa. Tentang keberagaman jenis biota laut, seharusnya anak-anak di Kepulauan Natuna  memiliki wawasan yang jauh lebih luas di banding anak-anak dari Jakarta. Namun, apa yang terjadi? Suatu ketika, dalam kunjungan ke Natuna, saya bertanya kepada anak-anak, “sebutkan macam-macam ikan laut yang kamu kenal?”,  mereka hanya menulis “hiu, tongkol, teri, dan ikan-ikan yang umumnya di kenal orang banyak karena  nama-nama itu yang ada di buku pelajaran.  Mereka lupa dengan ratusan jenis ikan laut yang mereka kenal sehari-hari. Anak-anak di Flores makin asing dengan keunikan sifat komodo, karena ketika belajar dari buku tentang binatang buas, mereka hanya belajar tentang macan, ular, dan buaya. Anak-anak sekarang sudah tidak mengenal lagi tokoh dan pahlawan di daerahnya, karena buku pelajaran yang dipakai hanya mampu menyajikan pahlawan-pahlawan nasional. Bicara tentang warisan budaya, anak-anak di Minang  lebih fasih bicara tentang candi borobudur ketimbang peninggalan-peninggalan yang ada di daerahnya.  Dan ketika anak-anak Papua pertama kali belajar tentang peta, mereka  disuguhi peta Jawa Barat, padahal kompetensi yang diminta oleh kurikulum adalah “membuat peta daerahnya”.

Anak-anak  tidak lagi memiliki rasa bangga dengan potensi daerahya karena mereka tidak mengenalnya dengan baik. Kearifan terhadap budaya dan lingkungan setempat makin menipis,  kreatifitas  mandeg, mereka berubah menjadi generasi yang “membeo”. Tidak berlebihan kiranya jika semua ini menjadi salah satu penyebab lunturnya identitas diri dan bangsa kita di kalangan remaja.

Belum lagi kita bicara tentang bagaimana siswa diombang-ambingkan oleh buku dengan alasan pergantian kurikulum. Bermodalkan tulisan di sampul “sesuai dengan kurikulum tahun tertentu”, penerbit dengan mudah  meloloskan buku “barunya” ke pasaran, dan dapat ditebak, dengan sendirinya buku yang sebelumnya dipakai oleh kakak, tidak dapat lagi digunakan oleh adiknya. Entah kenapa, guru lebih percaya dengan tulisan di sampul itu daripada isi bukunya. Asal ada tulisan itu di sampul, apapun isinya seakan tidak diperdulikan lagi. Sebagus apapun isi buku, jika tidak ada tulisan tersebut di sampul, guru akan menolak menggunakan buku itu. Bayangkan, ada dua buku memuat topik yang sama tapi topik tersebut berada pada halaman yang berbeda atau urutan bab-nya berbeda, salah satu dari buku tersebut dikatakan tidak sesuai dengan kurikulum. Ini sama artinya penerbit  menjual sampul, bukan isi. Pada hal, jika fungsi buku dipahami sebagai salah satu referensi, pergantian kurikulum tidak serta merta harus mengganti buku karena secara substansi pergantian kurikulum tidak mengubah isi atau materi pelajaran yang sudah baku.

Karena terbukti ampuh, penerbit sepertinya berupaya untuk mempertahankan strategi ini, terbukti dengan adanya desakan IKAPI kepada Mendiknas agar penerbit diperbolehkan menjula buku di sekolah. Untuk memperlancar itu,  buku-buku yang beredar saat ini juga  bertuliskan “sesuai KTSP (Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan) di sampulnya. Alasannya, guru tidak mau menggunakan  buku jika tidak ada tulisan itu disampul. Pada hal jika di sampul buku ditulis KTSP, maknanya buku tersebut hanya cocok untuk satu sekolah tertentu karena KTSP artinya kurikulum operasional yang disusun dan ditetapkan penggunaanya oleh satuan pendidikan (sekolah) yang bersangkutan. Kebijakan ini bertujuan agar  setiap potensi-pontensi khas yang ada di sekitar satuan pendidikan tersebut dapat dieksplorasi, sehingga setiap sekolah memiliki keungggulan masing-masing.

Pembelajaran yang diinginkan oleh  KTSP adalah pembelajaran yang menggunakan lingkungan sebagai sumber utama belajar. Kebijakan ini memerlukan dukungan bahan-bahan ajar lokal, seperti sejarah lokal, bahasa daerah, geografi daerah setempat, dan mata-mata pelajaran muatan lokal yang khas seperti kelautan, pertanian dataran rendah, dataran tinggi dan sebagainya. Bahan-bahan ajar ini dapat dikemas dengan buku yang menarik, dan bila perlu dilengkapi dengan CD interaktif. Apabila penerbit mengerti, dan  mampu membaca peluang besar ini di balik kebijakan KTSP, serta memiliki niat yang  tulus untuk mencerdaskan bangsa, mereka tidak perlu mengandalkan  label “KTSP” disampul buku dan  juga tidak perlu “merengek” minta dilindungi untuk memasarkannya.   

Keputusan pemerintah untuk menyediakan buku murah melalui pembelian hak cipta secara langsung ke penulis sudah tepat. Di samping harganya murah, kebijakan ini membuka peluang besar bagi guru untuk menjadi penulis buku. Pemerintah jangan luluh dengan rintihan penerbit sebagaimana yang diungkapkan oleh Setia Dharma, Ketua IKAPI “jangan sampai harga buku dibuat murah, tapi penerbit malah mati” Tempo, selasa 17 Juni 2008).  Jika dipenuhi, mereka semakin manja sebagaimana yang sudah-sudah. Biarkan mereka survive dengan membaca peluang lain. Ironis!.Mereka takut mati, tapi tidak pernah merasa bersalah ketika jutaan kreatifitas anak-anak mati akibat upaya mereka yang selalu ingin menyeragamkan sumber belajar. 

Untuk itu, stop mafia buku!”. Jangan biarkan penerbit menjual buku ke sekolah, alasan bahwa buku yang dijual telah lolos penilaian tidak dapat dijadikan jaminan karena buku-buku tersebut adalah buku yang “terbaik” di antara yang terjelek.

 Z.A. Piliang, praktisi pendidikan tinggal di Tangerang

 Misteri Angka  5,25

Menarik menyimak perilaku yang ditampilkan anak-anak kita sesaat setelah pengumuman hasil UN (ujian Nasional). Ada  senyum tertawa, riang gembira sampai-sampai tidak memperhatikan lingkungan seperti memacu kendaraan dengan berbagai atraksi, namun ada yang menangis, bahkan pingsan begitu dia dinyatakan tidak lulus. Tiba-tiba dia merasa jalan seakan tertutup, dunia tidak lagi bersahabat, lalu masa depannya seakan tidak menentu.  Fenomena ini banyak menggunundang pikiran  spekulatif lalu  mempertanyakan sebegitu pentingkah UN?, Apakah ada jaminan bagi yang lulus UN, dapat dikatakan yang bersangkutan  lebih baik dari anak yang tidak lulus? Apakah anak yang dinyatakan lulus UN akan lebih berhasil di banding anak yang tidak lulus?. Apakah peningkatan angka standar dari, 4,25, 5,0, dan 5,25 diikuti oleh peningkatan kualitas? Perlukah UN?, atau sedemikian pentingkah UN sebagai penentu nasib seseorang?. 

Tulisan ini bukan dalam rangka mendukung atau menolak kebijakan pemerintah tentang pelaksanaan UN. Apapun alasannya, UN tetap dilaksanakan, jadi agar energi kita tidak mubazir,  tindakan yang perlu dilakukan saat ini adalah mencoba memahami makna apa yang dapat kita ambil dari kebijakan tersebut. Angka 5,25 dan akan dinaikkan lagi menjadi 5,50 ini menjadi angka yang ditakuti dan penuh misteri.  Misterinya angka tersebut karena dia menjadi penentu yang ditakuti sementara “wujud” sebenarnya tidak pernah dijelaskan dengan tuntas. Masyarakat memahami angka tersebut hanya sebagai angka, bukan level kompetensi.  Dalam skala presentase, angka 5,25 berarti  52,5% dari 100% yang diajarkan. Jika yang diajarkan di sekolah 100% dari kompetensi sebagaimana yang dinyatakan Peraturan Mendiknas nomo2 22, 23, dan 24 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI)  dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), lalu batas ketuntasan minimal yang diberlakukan di sekolah rata-rata antara 60% (6,0) sampai dengan 75% (7,5), logikanya, semua anak akan lulus!.  Sebagai contoh, salah satu rumusna SKL mata pelajaran Bahasa Indonesia SD berbunyi: “Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana berupa petunjuk, teks panjang, dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk puisi, dongeng, pantun, percakapan, cerita, dan drama.” Mata Pelajaran Matematika SD, “Memahami bangun datar dan bangun ruang sederhana, unsur-unsur dan sifat-sifatnya, serta  menerapkannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari. Kalau kemampuan ini dijadikan patokan 100%, artinya batas anak yang dinyatakan lulus adalah menguasai minimal 52,5% dari itu. Bila kita susun kriterianya, untuk Indonesia, anak akan dinyatakan lulus apabila minimal mampu membaca untuk memahami petunjuk (52,5%). Jika dalam proses pembelajaran sehari-hari, ketuntasan minimal adalah 65%, artinya dia telah mampu membaca dan memahami teks panjang, apalagi jika angka di rapornya 7,0 (70%), atau 8 (80%). Demikian juga halnya dengan contoh matematika, bila si anak telah menguasai tentang bagunan datar, apabila bisa menghitung pecahan artinya, dia telah melewati batas kemampuan minimal. Logikanya, dengan batas kelulusan 5,25 (52,5%) dia pasti lulus diuji oleh siapapun asal alat uji yang digunakan valid.

Bagaimana kita memahami ketidaklulusan anak?, persoalan pertama, kriteria yang digunakan untuk menetapkan batas kelulusan 5,25 tidak pernah dijelaskan, seperti halnya presentase angka kemiskinan. Presentasi ngka kemiskinan bisa menurun ketika kriterianya diturunkan.  Demikian juga dengan tingkat kelulusan, standar kelulusan dapat dengan mudah dinaikan dari 4,25 menjadi 5,25 dan bahkan sampai 7,0, namun kriterianya tidak pernah dijelaskan secara nyata. Ini namanya pengelabuan secara nasional. Bisa jadi, presentase angka kelululusan ditetapkan dulu berdasarkan prinsip kurva normal, lalu angka standar dianikan. Artinya, bila ini terjadi, peningkatan mutu tidak akan pernah terjadi seiring dengan peningkatan angka standar kelulus. Artinya, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa dengan dianikkan standar kelulusan, dan presentase kelulusan tidak berubah secara signifikan, belum dapat dipastikan mutu meningkat. Karena semuanya bermain pada angka-angka saja, tidak ada kriteria yang jelas.

Kajian dari sudut lain, bolehkah kita melulusn anak SD yang tidak bisa membaca?. Kalau memang tidak boleh karena anak pasti akan ternaiaya hidupnya, dia punya ijazah tetapi tidak memiliki kemampuan. Dalam kasusnya  berarti UN diperlukan. Namun apakah dengan adanya UN, kemampuan anak yang sesungguhnya dapat diukur secara valid?. Jika tidak, dan kita tetap hanya bermain-main dengan angka saja, berarti UN juga tidak bermanfaat dan tidak perlu.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: