SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Tangka Bakureh

Beban Persoalan Seimbang dengan Kemampuan

Jatuh bangun dalam menapaki kehidupan  ini merupakan proses yang harus dilalui dalam rangka meningkatkan kualitas diri sebagai manusia. Agama mengingatkan kepada kita bahwa Tuhan memberikan  persoalan tidak akan melebihi batas kemampuan manusia. Hakekatnya,  persoalan yang diberikan kepada setiap orang seimbang dengan kemampuan yang dimiliki. Dan bila kita cermati lebih jauh terjemahan ayat Alquran tentang ini, berarti  sebelum kita diberi beban persoalan,  Tuhan memberikan kemampuan terlebih dahulu, sehingga, kita tidak akan diberi persoalan besar jika kemampuan kita belum mencukupi.  Artinya, hanya orang yang berkemampuan “besar” yang diberikan beban  yang   lebih “berat”.

Seyogyanya kita berterima kasih atas “besarnya” persoalan yang diberikan kepada kita karena tidak semua orang memiliki kesempatan seperti itu, dan makin berat suatu persoalan yang dihadapkan kepada kita, itu pertanda  bahwa kemampuan kita juga lebih besar dari orang lain. Hanya saja, kesalahan yang sering diperbuat,  pada saat persoalan ada di hadapan, kita justeru bermimpi “betapa indahnya” hidup tanpa persoalan, lalu  perseoalan tersebut  “dibesarkan” sementara  sementara potensi diri “dikecilkan” (tidak digali), akhirnya persoalan yang dihadapi seolah-olah lebih  “lebih besar” (berat)  dari kemampuan yang   dimiliki. Inilah yang menjadi awal dari keputusasaan. Jika kita menyadari hal ini, tentunya kita tidak mau “menzalimi” diri sendiri.

Maco (bada) gadang dek ombak”, indak ado kusuik nan indak dapek  disalasaikan, indak ado karuah nan indak dapek dijaniahkan, dan indak ado persoalan nan indak ado jalan kaluanyo. Demikian serangkaian  kata-kata yang sering jadi motivasi bagi orang  Minang dalam  untuk mengharungi kehidupan.

“Takdir, hidup, mati dan rezeki sudah ditetapkan sebelum manusia lahir,  tugas kita adalah selalu berupaya  untuk “menjemputnya”, demikian kata Rusdi, S.E  (40 tahun), asal Tangah Sawah, Pasar Bawah Bukit  Tinggi.  Alumni  SMEA Negeri Bukit Tinggi thaun 1989, dan Fakultas Ekkonomi Universitas Mercu Buana Jurusan Manajemen Perusahaan (1997) ini pernah malang melintang di  PT. Delta Angker Bir, mengawali karier  sebagai  staf  distribusi, koordinator kolektor dan terakhir sebagai asisten manajer distribusi seluruh Indonesia. Keluar dari sini, mulai merintis usaha sendiri dan tahun 1997 punya toko baju/sepatu  di Pasar Jaya Blok M, berkembang sampai ke Bekasi,dan tahun 2002 hijrah ke Serang mendirikan showroom  sepeda motor China, awalnya 1 showroom  berkembang menjadi 7 showroom di seputar Serang, (Kopo, Maja,  dan Rangkasbitung)  dengan jumlah karyawan rata-rata 8 orang  tiap showroom, namun akhirnya “terjun bebas” karena berbagai persoalan, antara lain manajemen dan perusahaan leasing mengalihkan dananya ke usaha lain, showroom tidak dapat hidup hanya mengandalkan perputaran dana ciilan dari konsumen.

Saat ini berusaha bangkit kembali dengan membuka toko pakaian di Pasar Raya Kibin Tambak, Serang, dan pada bulan Maret 2008 yang lalu terpilih sebagai ketua Ikatakan Keluarga Minang Tambak dan Sekitarnya (IKMTS)  Serang Banten.

Senada dengan Rusdi, Afrizal (44 tahun) wiraswastawan sejak muda, mengawali perjuangan hidup di Jakarta tahun 1990 sebagai  sebagai tukang cukur rambut keliling di sekitar Mampang Prapatan, Jakarta, tahun 1992 usahanya berkembang dan  buka usaha Pangkas Rambut di Cikupa, Bitung dan  Balaraja Tangerang, dari tiga kios rata-rata 100 kepala per hari, dengan tukang pangkas per kios rata-rata 4 orang.  Afrizal memperluas usahanya dan coba-coba buka ayam bakar Bandung kebetulan kerabat dari pihak istrinya ahli di bidang itu, usaha ini berkembang sampai membuka usaha yang sama di Goldok, Bekasi dan Cikupa, kemudian diperluas lagi dengan membuka usaha ayam potong yang menyuplai beberapa restoran yang sama. Karena alasan sanitasi kurang bagus, akhirnya usaha ayam potong ini di demo masyarakat sekitar, dan gulung tikar, kerugian ditaksir sekitar 120 jut-an lebih. Bila dipikir, rasanya mau berhenti bernafas, namun karena ini adalah hidup dan harus dijalani akhirnya Afrizal masih mampu bertahan bahkan rumah makannya terus dekembangkan, ada beberapa tempat di seputar Balaraja. Namun akibat “manajemen” dan terlalu mempercayakan kepada orang lain untuk urusan operasional, lama-lama usaha itu tidak berkembang, dan sampai akhirnya diputuskan cukup buka satu rumah makan ayam bakar saja, yang sekarang ditunggui, yaitu “Ayam Bakar Katinueng Bogarasa  di Jl. Raya Balaraja Kresek, depan terminal Sentiong, Tangerang.  Sebelumnya, alumni STM Payakumbuh tahun 1983/1984 ini  bekerja di Bukit Marmar Sialang, Tungkar, 2 tahun kemudian merantau ke Medan dan bekerja sebagai operator alat berat di PT. IPOMAS Tunggal, perusahaan CPO, Kelapa Sawit sampai tahun 1992.

Cerita yang tidak kalah serunya berasal dari calon uasahawan muda, Zulhelmi  35 tahun asal Padang Panjang yang sat ini dipercaya untuk mengoperasionalkan restoran Minang “Gumarang”, saat ini Restoran Gumarang yang mulai berkembang menjadi perusahaan waralaba (franchise). Zulhelmi  mengawali perjuangan hidup dengan dagang keramik di K-5 di daerah Cengkareng (1992), tahun 1995 pulang ke Padang dan “manggaleh  bunga hidup  babelok ” Padang- Banda Aceh. Tahun 1997 kembali ke Jakarta bekerja  kadai nasi  Sari Raso di Kampung Rambutan, terus ke Cibeureum Puncak. Sebelum bergabung dengan Restoran Gumarang pada tahun 2002, Zulhelmi  sempat bekerja di Restorang Minang “Anugerah” di Bandara Soekarno Hatta dan sempat bergabung dengan Restoran Sederhana Bintaro, akhirnya  awal tahun 2008 kembali bergabung dengan Restoran Gumarang yang berpusat di Bitung, Tangerang.

Sebagai orang Minang yang agamis,  kita meyakini bahwa setiap persoalan ada jalan keluarnya, dan jalan keluar itu telah ada jauh sebelum persoalan itu datang. Alquran memandang bahwa manusia diciptakan bukan secara kebetulan, melainkan setelah emua diperhitungkan dengan matang lalu kepada setiap roh yang  ditiupkan diberi potensi yang berbeda untuk mengemban satu tugas, sebagai “khalifah” di bidangnya. Kegagalan adalah bahan bakar untuk maju, kepercayaan adalah amanah yang diterima atas restu Yang Maha Kuasa,  persoalan adalah tangga untuk menaikkan derajat manusia. Dan setiap manusia diutus sebagai penyelesai masalah. Semua perjalanan  hidup telah ditetapkan sebelum kita lahir, dan ini telah menjadi perjanjanjian setiap insan dengan  Sang Khalik  sebelum roh di terima  dalam rahim ibu, kita tinggal “menjemputnya”. Untuk itu, kita harus “tangka bakureh” . Jangan pernah berhenti berupaya. Jangan mengenal kata putus asa, ini kata penutup dari  ke tiga tokoh muda kita kali ini. Sampai jumpa di kisah  “Tangka Bakureh” berikutnya (Zulfikri Anas).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: