SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (17) : Rangking yang Mematikan….! (1)

Posted by Zulfikri Anas on May 14, 2012

Sahabat Kecilku di Melonguane, Kep Talaud

Sore kemarin saya mampir ke rumah seorang teman, begitu sampai di rumahnya, ia melihat rapor tengah semester anaknya –saya lupa menanyakan anaknya itu kelas berapa– tapi dugaan saya antara kelas 2 atau kelas 3 SD. Sambil melihat rapor itu:“koq turun Dhek?”, “kemarin ranking satu terus, sekarang rangking dua”, gumamnya. Saya tidak terlalu menanggapinya saat itu karena menurut saya itu hal yang wajar, dan dalam hati saya bicara “hari gini masih mempersoalkan ranking berdasarkan nilai rata-rata!”. Aneh!

Momen itu berlalu begitu saja, lalu kami ngobrol ke sana-kemari. Selesai Sholat Magrib, sesaat sebelum saya berpamitan pada keluarga teman saya itu, anaknya kelihatan lesu menunggu loading komputer yang telalu lama. “Komputer ini banyak virusnya, pada hal ia sangat kepingin main game”, kata pamannya yang duduk di sebelahnya.

Teman saya ini memegang pundak anaknya sambil menghibur, “kenapa tho Dhek?, habis kamu terlalu “royal” sama teman, semua yang kamu ketahui kamu bagi sama teman, akhirnya kamu disalib”. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | 5 Comments »

Sebuah Impian (16) “Sekolah Unggul?, Apanya yang Unggul!”

Posted by Zulfikri Anas on September 27, 2011

Sebuah sekolah disebut “unggul” karena didukung oleh tenaga kependidikan yang profesional, ahli mendidik, menguasai substansi yang diajarkan, mengenali siswa-siswanya dengan baik, paham betul dengan kebutuhan dan cara belajar siswa yang efektif, menguasai berbagai teknik penilaian sehingga mampu melakukan koreksi terhadap hasil belajar siswa dan koreksi terhadap proses yang dilakukan, menguasai teknik-teknik mengembangkan dan mengunakan berbagai sumber dan bahan ajar, metode pembelajaran dst. Ya…..itulah guru yang profesional di bidangnya. Sekolah dikatakan “unggul” juga di dukung oleh tenaga kependidikan non pendidik yang profesional, mampu mengadmistrasikan dan mendokumentasikan semua produk-produk sekolah, mampu mengurus keperluan manajemen sekolah dengan baik, semua unsur berperan dengan baik sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing sehingga sekolah tersebut mampu membangun sebuah sistem dan iklim kerja yang baik dan nayaman bagi semua pihak, terutama peserta didiknya. Terakhir, sekolah dikatakan “unggul” apabila didukung oleh sarana yang memadai, serba lengkap, dengan konsekuensi didukung oleh sumber dana yang memadai. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | 7 Comments »

Sebuah Impian (15) “Kenaifan Tes IQ”

Posted by Zulfikri Anas on September 27, 2011

John Dewey (Filosof dan Ahli Pendidikan)….”menyamakan (Tes IQ) dengan persiapan keluarganya untuk membawa ternak ke pasar. Untuk mengetahui berapa harga ternak tersebut, keluarganya menaruh ternak itu di salah satu ujung papan timbangan dan menaruh setumpuk batu bata di ujung papan yang satunya yang akan membuat papan itu seimbang. Kemudian kita berusaha menghitung berapa berat tumpukkan batu bata tersebut:… (Parker J Palmer,,Pendidik dengan Nurani)

John Dewey menyadari bahwa dunia pendidikan berhadapan dengan manusia, dan manusia itu makhluk yang “paling sempurna” diciptakan Illahi, tidak ada satu alatpun yang mamu mengukur kemampuan otak manusia, Kemampuan otak tak terbatas, positifnya tak terbatas, negatifnya juga tak terbatas. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | Leave a Comment »

Impian (14) Menjadikan “Manusia Sebuah Misteri”

Posted by Zulfikri Anas on September 27, 2011

Jika perilaku, profesi dan keahlian manusia bisa ditebak dengan mudah oleh orang lain, derajat “kemanusiaannya” akan turun ke level benda-benda hasil temuan/rakitannya sendiri, atau malah lebih rendah dari itu, dan pada level itu keberadaannya sebagai manusia akan segera digantikan oleh mesin-mesin temuannya tersebut. Dalam pandangan Daniel H.Pink, perjalanan peradaban manusia yang di awali dari peradaban modern di abad ke-18. Era itu, kehidupan ini didominasi oleh pekerja pekerja pertanian (farmers), era itu disebutnya sebagai era agriculture. Ini masa-masa kejayaan para tuan tanah, dan pengusaha pertanian. Menjadi Insiyur Pertanian adalah sebuah cita-cita yang diidamkan oleh banyak orang. Begitu masuk abad ke-19, era itu segera digantikan oleh era industri, kebanyakan orang mengidamkan pekerjaan sebagai karyawan atau manajer di dunia industri (factory worker). Bekerja di dunia industri memiliki daya pikat dan gengsi tersendiri. Rupanya, era itupun segera berlalu, dan masuk ke era informasi di abad ke-20 yang ditandai dengan perkembangan pesat teknologi informasi dan komputerisasi. Dunia menjadi mengecil ukurannya, kita dengan mudah memperoleh informasi secara langsung di seluruh penjuru dunia. Di era ini, kehidupan didominasi oleh pekerja ilmu yang menguasai IPTEK (knowedge worker). Read the rest of this entry »

Posted in 1 | Leave a Comment »

Sebuah Impian (13): Selamat Tinggal “Mufakat” dengan Cara Berpikir Linier

Posted by Zulfikri Anas on July 4, 2011

Mengunakan, membiarkan –apalagi memaksa—orang untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi dengan cara berpikir linear, berurutan secara logis, dan rasional sebagaimana yang digunakan oleh orang pada umumnya saat ini, dan apalagi menjadikan berpikir linier itu menjadi indikator keunggulan seseorang sehingga menjadikan semua orang berpikiran seragam, adalah cara berpikir yang menganiaya. Menurut Daniel H. Pink, seorang motivator dunia saat ini menyatakan bahwa pola pikir seperti itu merupakan cara pikir masa silam tatkala persoalan hidup yang dihadapi masih sangat sederhana — pola pikir linear hanya cocok dan efektif untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sederhana!–. Ke depan, pola pikir seperti itu akan menjadi “rongsokan” yang tidak bermanfaat. Persoalan datang dengan berbagai kejutan dan di luar jangkauan pikiran linear. Tiba-tiba saja Briptu Norman menyita perhatian banyak orang, sementara ada diantara kita yang berjuang dengan mengikuti prosedur yang logis, linear sepertinya hanya jalan di tempat!.

“Pikiran liar, logika yang terbalik, melakukan sesuatu yang tidak biasa, dan membiarkan setiap orang “konsisten” menjadi diri sendiri akan memperkuat jati diri dan memposisikan yang bersangkutan pada fitrahnya sebagaimana manusia yang diciptakan berbeda satu sama lain. Setiap individu diciptakan membawa misi masing-masing seperti planet dengan kekhasannya namun konsisten menjalankan dan memilihara kehormatan orbitnya masing-masing. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | 2 Comments »

Sebuah Impian (12) :TAHIMPIK HANDAK DI ATEH, Sebuah Ajaran yang Humanis

Posted by Zulfikri Anas on July 3, 2011

Apapun kondisinya, dan sampai kapanpun, saya sangat bangga terlahir sebagai orang Minang. Perjalanan panjang nenek moyang kita dalam membangun dasar-dasar kehidupan berupa pikiran-pikiran yang fislosofis dan utuh tentang kehidupan, merupakan jasa yang tidak pernah terukur dan tak terbayar sampai kapanpun. Salah satu yang membuat saya salut adalah ajaran bijak tentang “TAHIMPIK HANDAK DI ATEH, TAKURUANG HANDAK DI LUA”. Ini salah satu dari sekian banyak ajaran humanis yang dimiliki alam budaya Minang. Ajaran tersebut mengandung makna bahwa setiap makhluk dan benda apapun yang diciptakan Illahi memiliki energi untuk mempertahankan hidup dari sebuah himpitan atau tekanan. Archimedes membuktikan bahwa setiap benda yang mendapat tekanan akan mengeluarkan energi sebesar takanan yang ia terima, hal yang sama juga dibuktikan oleh Newton dengan teori AKSI= (min) REAKSI. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | 2 Comments »

Sebuah Impian (11): Menyatunya Adat (Minang) dan Islam : Alam Takambang Jadi Guru

Posted by Zulfikri Anas on July 3, 2011

Salah satu karakter dasar orang Minang adalah sulit untuk menerima begitu saja sesuatu yang datang dari luar, sehingga ada pandangan bahwa inilah salah satu bentuk “kesombongan budaya” Minang. Apalagi sesuatu yang baru datang itu kemudian “diangkat” derajatnya, lalu di posisikan sebagai “sandi” dari sesuatu yang telah mereka yakini sejak ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan tahun sebelumnya. Tidaklah mudah untuk membuat sebuah filosofi hidup “Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah” mengingat adat lebih dulu eksis daripada Islam. Pada saat itu, pastilah terjadi pergumulan luar biasa, semua “kekuatan” yang dimiliki adat dikerahkan untuk “menyerang” pandangan baru –ISLAM–. Ini sebuah keputusan yang luar biasa berat jika tidak ada sesuatu yang sangat-sangat-sangat istimewa yang dibawa oleh Islam. Dan semua tokoh Read the rest of this entry »

Posted in 1 | 2 Comments »

Sebuah Impian (10): Hati-Hati Ada Gelombang “INSTANISME” dalam Pendidikan Kita

Posted by Zulfikri Anas on March 24, 2011

Ibarat memasak kue, seorang koki yang berpikiran instan tidak peduli dengan proses pembuatannya. Atas nama efisiensi, semua adonan dicampur lalu dimasak, untuk mempercantik penampilan dan penikmat rasa dilakukan aksi instan dengan memberikan hiasan warna-warni dan bumbu penyedap buatan yang banyak. Begitu dilihat dan dicicipi kue itu sangat menarik hati dan sedap rasanya, namun semua itu merupakan kenikmatan semu karena dibumbui zat kimia yang lama kelamaan akan menjadi racun dalam diri manusia. Kira-kira analogi seperti itulah yang pas untuk menggambarkan kondisi iklim pembelajaran kita saat ini. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | Leave a Comment »

Sebuah Impian (9) MENJADI GURU : SEBUAH PILIHAN YANG JENIUS DAN AMANAH (Disampaikan pada Pertemuan MGMP SMA se Kota Cilegon, Maret 2010)

Posted by Zulfikri Anas on March 3, 2011

I. Menjadi Guru atau Tidak Sama Sekali

“Menjadi guru adalah pilihan yang berani. Berani jadi guru, harus berani pula menjalani segala konskuensinya. Apabila mampu menjalaninya secara konsisten, jalan ke syurga akan menunggu, jika tidak, bahaya menghadang!.” Read the rest of this entry »

Posted in 1 | 4 Comments »

Sebuah Impian (8) ““MERAJUT KEMBALI KAIN YANG TERKOYAK” Catatan Bedah Buku Arah Aktif Engku Syafei

Posted by Zulfikri Anas on February 9, 2011

Akhir-akhir ini para orang tua banyak yang bertanya “ada apa dengan pendidikan kita? Mereka disentakkan oleh perilaku anak-anaknya yang tadinya –sewaktu kecil — merupakan anak manis yang lincah, kreatif, bersahaja, santun, tekun, disiplin, dan mandiri, tiba-tiba begitu memasuki usia remaja mereka menjadi “liar”, suka melawan, menyenangi hal-hal yang instan untuk meraih segala sesuatu yang diinginkan. Kosa kata indah seperti : mohon maaf”, terimakasih, permisi, tenggang rasa, saling menghargai makin menjauh dari perbendaharaan kata mereka sehari-hari. Tidak hanya itu, keteladanan dari orang-orang dewasa dan tokoh-tokohpun semakin menjauh. Antara kata, hati dan perbuatan tidak lagi menyatu, kepentingan pribadi dan upaya melanggengengkan kekuasaan lebih mengemuka daripada memberikan layanan kepada masyarakat. Situasi tersebut sebagai akibat sekaligus penyebab kegagalan proses belajar yang menjadi pemicu kerusakan moral anak bangsa selanjutnya. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | Leave a Comment »