SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Kurikulum

Dari dulu, kurikulum selalu dalam posisi “kambing hitam”. Karena alasan kurikulum, sumber, bahan, metode, dan penilaian pembelajaran diseragamkan. Akibatnya, dengan alasan perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan tuntutan jaman, semua buku pelajaran harus ganti, aturan dan manajemen sekolah harus diubah. Tugas-tugas siswa dalam bentuk PR-pun atas nama kurikulum, bukan lagi sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan siswa secara alamiah. Pendek kata, kita tidak lagi memandang anak sebagai manusia kreatif, potensial, mereka hanya sebagai obyek yang harus tunduk menjalankan kurikulum. Dan dengan itu semua kita sebagai pengelola pendidikan (pelayan siswa) seringkali kehilangan “akal sehat”, seringkali tidak lagi rasional dalam mendidik anak.

Intinya, setiap perubahan kurikulum berarti merepotkan semua pihak: guru, kepala sekolah, siswa, dan orang tua, pemerintah. Ada kesan bahwa demi melancarkan kurikulum, sisi kemanusiaan dikesampingkan. Padahal, bila dicermati, kita baru pada tahap merubah dokumen kurikulum. Dilihat dari segi implementasi, perbahan sangat lambat jika tidak boleh disebut jalan ditempat. Alias belum pernah berubah. Perlu kita sadari bahwa dari sudut pandang kurikulum sebagai proses, yang diterapkan sampai saat ini persis seperti zaman kolonial, sepertinya hanya perubahan pada “nama” kurikulum, yaitu kurikulum 1948, 1968, 1975, 1984, 1994, dan……

Apa sih sesungguhnya kurikulum itu?

Banyak definisi tentang kurikulum. Sejarah awalnya berasal dari bahasa Latin; “curere” yang berarti lintasan pacuan. Text-book pertama yang membahas ini ditulis oleh John Franklin Bobbit pada tahun 1918. Inilah pertama kali istilah kurikulum di populerkan sebagai word for race-course, suatu “lintasan” yang ditempuh dalam proses belajar. Sesuai dengan akar kata tersebut, Bobbit memaknai kurikulum sebagai pengalaman-pengalaman yang dilalui agar seorang anak menjadi dewasa, atau untuk menjadi sukses sebagai masyarakat yang dewasa ( for success in adult society. Sejak itu, istilah ini menjadi populer di kalangan pendidikan yang kemudian disebut dengan “curriculum”. Todd (1965) dari Curriculum Development and Instructional Planning. Nederland mendefinisikan kurikulum sebagai “pengalaman pendidikan (belajar) yang terencana atau yang direncanakan oleh sekolah (satuan pendidikan) yang dapat diselenggarakan kapanpun (any time) dan dimanapun (any where) serta dalam keberagaman konteks sekolah sebagai bagian dari masyarakat”.

Ada beberapa katan kunci di sini, yaitu (1) pengalaman pendidikan/belajar yang direncanakan (planned educational experiences), (2) tidak terbatas oleh ruang dan waktu (any where, any time), (3) kontekstual dan fleksibel (multiple context of the school), (4) menjadi bagian dari masyarakat setempat (caring communities).

Pengalaman belajar yang direncanakan artinya semua hal yang terkait dengan perilaku siswa selama dalam usia belajar yang terencana dan “terkonrol”. Kontrol yang dimaksudkan di sini adalah semua itu dilakukan dalam kesadaran dan, transformatif dan prediktif. Ketika kita mengajarkan kepada anak tentang mambuang sampah pada tempatnya lewat mata pelajaran IPA, IPS, Agama, Bahasa dan sebagainya, konsep itu dengan mudah dipahami oleh siswa, namun tidak ada jaminan pemahaman itu akan menjadi bagian dari sikap dan perilaku apabila tidak ada kondisi yang menggiring siswa mengalami hal itu. Sebagai contoh, tindakan apa yang akan dilakukan oleh siswa ketika dia melihat kita (guru dan orang tua) membuang sampah sembarangan?. Atau, di lingkungan sekolah itu sama sekali tidak melibatkan siswa dalam proses menjaga kebersihan karena semua telah dilakukan oleh “cleaning service”?. Ketika hal itu terjadi, konsep “membuang sampah pada tempatnya” hanya menjadi pengetahuan yang akan ditunjukkan melalui jawaban soal ujian saja. Situasi yang demikianlah yang sering disebut sebagai bagian dari kurikulum yang terimplementasi (implemented curriculum).

Seharusnya antara kurikulum yang tertulis dalam dokumen (written curriculum) menjadi harapan atau tujuan dari sebuah proses pendidikan (intended curriculum), sejalan atau saling berkaitan dengan aplikasi dalam bentuk perilaku dan iklim pembelajaran (implemented curriculum) agar apa yang menjadi tujuan akan terwujud dalam bentuk perilaku siswa (achieved curriculum). Antara harapan (intended) dengan yang tertulis dalam dokumen (written), dan pelaksanaan (implemented), serta hasil berupa outcomes yang dilihat dari perilaku siswa (achieved) di hubungkan oleh hal-hal yang tidak tertulis dan tidak terlihat (hidden curriculum). Hidden curriculum tersebut berwujud situasi, kondisi, iklim yang dapat berdampak posisitif maupun negatif. Ketika anak didik kita melihat kita membuang sampah sembarangan, sangat besar peluang mereka juga akan melakukan hal yang sama dengan tanpa merasa bersalah. Tidak ada beban “toh orang dewasa (orang tua atau gurunya) melakukan itu. Ini salah satu contoh hidden curriculum yang berdampak negatif, sebaliknya, jika kita (orang, guru, dan anggota masyarakat lainnya) membiasakan diri untuk membuang sampah pada tempatnya, dan lingkungan juga memungkinkan untuk hal itu, maka besar kemungkinan siswa juga akan menirunya, ini merupakan contoh hidden curriculum yang berdampak positif.

Kita baru akan menyadari keradaan hidden curriculum ini setelah terbentuk dalam diri anak. Kita akan kaget, mengapa siswa dengan entengnya membuang sampah sembarangan, pada hal dalam pelajaran IPA, IPS, Agama dan sebagainya selalu diajarkan agar membuang sampah pada tempatnya. Rupanya, mereka menerapkan apa yang dilihat, bukan di dengar, kalau sudah demikian, kita akan sulit untuk “memperbaikinya” karena sudah terlanjur menjadi kebiasaan. Untuk itu, berhati-hati dalam bertindak, berperilaku, bertutur kata adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh para pendidik dalam uapaya mewujudkan hidden curriculum yang positif, karena bagaimana pun “keteladanan” sangat berperan besar dalam mendidik anak dibandingkan dengan “kehebatan” berceramah/berpidato di depan kelas.

Hal ini menunjukkan betapa eratnya keterkaitan antara materi pelajaran yang bersifat akademis-teoritis dengan penerapannya dalam kehidupan. Untuk itu, perilaku guru yang selalu datang tepat waktu, tutur kata yang sopan, gerak-gerik yang anggun dan elegan, sampai pada kegiatan-kegiatan kerjabakti bersama, silaturrahmi, dan kegiatan lain yang biasanya disebut sebagai “ekstra kurikuler” sesungguhnya adalah juga “kurikulum” atau kurikuler, karena siatuasi yang demikian akan mendorong proses pembangunan sikap melalui berbagai pembiasaan.

Jadi, kurikulum itu bukanlah hal-hal yang dapat dilihat dan dibaca saja, lebih dari itu, kurikulum berwujud nyata seperti interaksi antar guru dengan siswa, siswa dengan siswa, siswa dengan orang tua dan masyarakat, serta iklim atau “miliu” yang melingkupinya.

The curriculum is not a tangible product but the actual, day-to-day interactions of students, teachers, knowledge and milieu. The curriculum encompasses what others have called curriculum practice or the curriculum -in-use..

Kondisi seperti inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa kurikulum tidak bisa sama antar sekolah sekalipun sekolah tersebut berdekatan. Situasi, kebutuhan, potensi, karakter, dan latar belakang siswa yang menjadi “subyek” layanan di sekolah sudah berbeda. Semangat inilah yang disikapi oleh pemerintah melalui KTSP. Tentunya kita berharap, terutama pemerintah dan sengenap pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan konsisten dalam mengimplementasikannya sehingga perubahan kebijakan tentang kurikulum kali ini tidak salah jalan. (Zulfikri Anas)

MERANCANG KURIKULUM YANG BERSAHABAT DENGAN ANAK

Zulfikri Anas

I. Pengantar

Selama ini kurikulum diberlakukan sebagai sekat-sekat dalam proses belajar. Sesungguhnya, kurikulum berarti “lintasan”. Lintasan bukan sekat, dan juga bukan sesuatu yang “liar”. Lintasan adalah jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sasaran tertentu. Masing-masing sasaran punya lintasan sendiri-sendiri. Jika sejumlah orang dengan karakter dan potensi yang bebeda kita giring pada lintasan yang sama, maka mereka akan terjebak pada sasaran yang sama pula. Akhirnya mereka terkonsentrasi pada titik yang sama, sementara titik tersebut akan mengalami kejenuhan. Hal inilah yang terjadi selama ini. Berapa banyak “orang-orang yang terbuang” akibat salah lintasan dari awal.

II. Rancangan Kurikulum

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan , dan kepentingan peserta didik

Setiap siswa dibimbing dan diarahkan untuk mampu mengembangkan potensi masing-masing sehingga menjadi manusia yang kompeten di bidangnya. Dengan menguasai kompetensi tersebut, setiap siswa diharapkan mampu berkolaborasi secara seimbang sehingga potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk membangun kehidupan masyarakat secara luas. Agar pengembangan potensi dapat dilakukan secara optimal, setiap siswa dibekali dengan kompetensi dasar (generic competencies) yang memadai. Kompetensi dasar tersebut diharapkan dapat menjadi pondasi dan bagian dari karakter setiap individu sehingga keberagaman potensi yang dimiliki oleh setiap individu justeru menjadi kekuatan yang mampu merekat keberagaman menjadi suatu hubungan saling membutuhkan.

Proses ini dilakukan melalui penciptaan iklim belajar yang menyerupai kehidupan nyata dengan penggunakan metode pembelajaran yang bervariasi di mana penfaatan metode bervariasi tersebut bersifat fleksibel dan situasional. Artinya, penggunaan metode pembelajaran sangat fleksibel sesuai dengan tingkat perkembangan, situasi emosional siswa dan karakter kompetensi yang dikembangkan. Agar proses pembelajaran yang demikian menjadi efisien dan efektif, dikembangkan alat dan proses evaluasi yang komprehensif mencakup semua aspek kemampuan dengan instrumen yang valid dan reliabel.

2. Beragam dan terpadu

Menyediakan layanan pembelajaran yang sesuai dengan keragaman karakteristik peserta didik dan potensi daerah. Hal ini tercermin melalui penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar dan pengembangan bahan ajar integratif yang disusun mengacu pada pencapaian kompetensi dasar dan kompetensi-kompetensi unggulan sesuai dengan karakter masing-masing siswa dan keunggulan daerah. Dengan demikian, keterpaduan sumber dan bahan ajar diharapkan mampu membangun karakter peserta didik yang memiliki ilmu, akhlak, dan iman yang kuat. Dalam konteks inilah, antara ilmu dan agama menjadi satu dan padu, tanpa batas apalagi pemisahan antara ilmu dan agama. Ilmu diperlukan untuk memahami dan menguasai fenomena alam dan kehidupan, sementara alam dan kehidupan itu sendiri tidak terlepas dari kuasa Illahi. Dengan demikian, satuan pendidikan diharapkan mampu membangun pribadi yang berilmu dan beriman. Artinya, peningkatan kualitas iman dan akhlak sejalan dengan peningkatan kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan.

3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

Mengembangkan bahan ajar dan metode yang aplikatif untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan dalam kehidupan sehubungan dengan perkembangan IPTEK yang dinamis. Bahan ajar dan proses pembelajaran dikemas dalam berbagai persoalan yang menantang peserta didik untuk mengeksplor kemamapuannya. Hal ini sangat diperlukan dalam rangka mempersiapkan mereka melalui pengalaman ril dalam menyelesaikan suatu persoalan. Harapannya, pengalaman belajar yang mereka miliki dapat menjadi bekal untuk hidup karena terbiasa dengan proses inkuiri dan pemecahan masalah. Dalam rangka memberikan pengalaman tersebut, sejak dini mereka diperkenalkan dan dibiasakan untuk menggunakan berbagai perlatan teknologi informasi dan komunikasi serta peralatan teknis lainnya.

4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan;

Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang dekat dengan realita kehidupan. Menerapkan pola pembelajaran yang menyatu antara ilmu, agama dan masalah kehidupan sehari-hari dengan memanfatkan alam sebagai sumber belajar. Dengan demikian, diharapkan setiap siswa dapat memelihara dan memanfaatkan sumber daya alam secara benar yang didasarkan pada iman dan ilmu.

5. Menyeluruh dan berkesinambungan;

Menerapkan filosofi pendidikan yang menggunakan agama/keimanan sebagai dasar pengembangan kompetensi dan intelektualisme. Menciptakan suasana belajar yang mendorong pencapaian keseluruhan dimensi kompetensi. Untuk itu, semua perangkat pembelajaran seperti perencanan, pemanfatan sarana belajar, evaluasi dan bahan ajar disusun dan dikembangkan secara komprehensif.

6. Belajar sepanjang hayat;

Menerapkan paradigma pendidikan yang dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Mencipatakan strategi dan iklim pembelajaran yang mendorong tumbuhnya budaya belajar yang berlangsung sepanjang hayat.

IV. Kriteria untuk menyeleksi Materi Kurikulum

Agar penulisan modul tidak meluas dan melebar, maka perlu diperhatikan kriteria untuk menseleksi materi yang perlu diajarkan. Kriteria tersebut antara

lain:

1. Sahih (Valid)

Materi yang akan dituangkan dalam pembelajaran benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya. Pengertian ini juga berkaitan dengan keaktualan materi, sehingga materi yang diberikan dalam pembelajaran tidak ketinggalan jaman dan memberikan kontribusi untuk pemahaman ke depan.

2. Tingkat Kepentingan (Significance)

Dalam memilih materi di sini perlu dipertimbangkan pertanyaan berikut: Sejauh mana materi tersebut penting dipelajari? Penting untuk siapa? Dimana dan mengapa penting?. Dengan demikian, materi yang dipilih untuk diajarkan tentunya memang yang benar-benar diperlukan oleh siswa.

3. Kebermanfaatan (utility)

Manfaat harus dilihat dari semua sisi, baik secara akademis maupun non akademis. Bermanfaat secara akademis artinya guru harus yakin bahwa materi yang diajarkan dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan dan ketrampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan berikutnya. Bermanfaat secara non akademis maksudnya adalah bahwa materi yang diajarkan dapat mengembangkan kecakapan hidup (life skills) dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Layak dipelajari (learnability)

Materinya memungkinkan untuk dipeljari, baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah, atau tidak terlalu sulit), maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan bahan ajar dan kondisi setempat)

5. Menarik minat (interest).

Materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi siswa untuk mempelajarinya lebih lanjut. Setiap materi yang diberikan kepada siswa harus mampu menumbuhkembangkan rasa ingin tahu, sehingga memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka.

V. Langkah Pengembangan:

1. Need Analysis

Sasaran pokok dalam melakukan need analysis untuk mengetahui secara konkrit hal-hal yang dibutuhkan. Hasil tahapan ini adalah sebuah pemetaan kemampuan secara keseluruhan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa.

2. Pengembangan Visi dan Misi

Agar semua upaya yang dilakukan konsisten dengan yang dicita-citakan maka perlu dikembangan visi dan misi sebagai koridor dalam mengimplementasikan kurikulum.

3. Pengembangan Kompetensi Dasar (Basic Competencies)

Tahap ini kelanjutan dari need analysis. Kompetensi dasar merupakan acuan dalam pengembangan kemampuan peserta didik. Kompetensi dasar tersebut berkembang secara kontinum dan tidak terbatas oleh ruang an waktu. Penataan kompetensi dasar ini dalam rangka mempromosikan (to promote) setiap siswa sesuai dengan rahan potensi, minat, dan kemampuan mereka. Karena sifatnya yang kontinum, maka rumusan kompetensi dasar harus dalam bentuk rentangan (range).

4. Desain Skenario Pembelajaran dan Iklim Pembelajaran yang Nyata (Real)

Tahapan ini merupakan proses perancangan aplikasi dari kompetensi dasar. Proses ini didasari oleh pemikiran bahwa pembelajaran adalah penjabaran kompetensi dasar sesuai dengan tahapan atau langkah-langkah pencapaiannya. Dalam proses ini, perlu ada kriteria ketercapaian yang terukur dan dapat diobservasi perkemangannya. Kriteria tersebut perlu dijelaskan kepada semua peserta didik sebelum proses belajar-mengajar berlangsung. Ini akan menjadi “kontrak sosial” antara penyelenggara pendidikan dengan peserta didik dan orang tua. Semua aktifitas yang dirancang dalam pembelajaran harus konsisten dengan filosofi, visi, misi, dan kompetensi dasar yang menjadi acuan. Proses belajar adalah proses memahami, mengolah, memanfaatkan dan menjaga keslestarian alam semesta, termasuk aspek kehidupan sosial. Untuk itu, iklim pembelajaran haruslah menjadi refleksi dari kehidupan nyata, dengan demikian yang menjadi sumber dan sarana belajar utama adalah lingkungan sekitar.

5. Tahap Implementasi:

Tahap ini dimulai dengan menciptakan semua perangkat yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Perangkat tersebut mulai dari perencanaan, pelaksanaan proses belajar mengajar sampai pada penilaian. Semua perangkat dikembangkan sesuai dengan dasar filosofi, visi, misi, dan model pembejaran yang dikemukakan di atas. Perangkat dikembangkan untuk mempermudah proses pencapaian sasaran. melalui perangkat yang praktis, siswa menjadi mudah belajar dan gurupun akan terbantu dalam mengelola proses pembelajaran secara efisien dan efektif.

6. Tahap Evaluasi Dan Penyempurnaan Lebih Lanjut

Pada dasarnya evaluasi dilakukan di sepanjang tahapan proses, mulai dari evaluasi perencanaan dan pelaksanaan sampai pada akhir suatu proses. Evaluasi membutuhkan alat-alat yan valid dan reliabel sehingga hasilnya dapat dijadikan sebagai langkah awal perbaikan semua progres.

2 Responses to “Kurikulum”

  1. terima kasih…
    postingan nya sangat membantu..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: