SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Catatan dari Sinabung

Tiba-tiba suasana di dalam tenda itu sontak menjadi ajang “tangisan berantai”. Tidak seorangpun diantara kami yang menduga bahwa suasana yang semula sedikit agak serius karena lagi membahas topik yang cukup “serius” pula, yaitu tentang hakikat diri kita sebagai manusia diciptakan oleh Illahi, lalu kita bersama-sama menyaksikan film-film pendek yang sengaja disajikan untuk makin menguatkan motivasi dan memperbesar power dari dalam diri para siswa. Setiap kali selesai menonton film pendek kita berdiskusi dan siswa diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan tertulis, mengungkapkan apa yang mereka rasakan setelah melihat film itu, dan menuliskan janji yang betul-betul ingin ia wujudkan.

Bersama Anak-Anak penari

Dream Board

Pusi

Penampungan

Sekolah-2

Sekolah 1

Suasana haru itu hadir tiba-tiba tatkala selesai diskusi, siswa secara bergiliran menyampaikan kesan dan perasaan, serta mimpi-mimpi yang telah mereka rajut sebagai hasil kegiatan yang mereka ikuti sejak awal pendampingan mereka oleh Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLIP) bulan April 2014 yang lalu, yang dimotori oleh Bu Yanti Sriyulianti atau lebih populer dengan panggilan Yanti Kerlip beserta kawan-kawan

“Semalam aku dipeluk Bapak. Ini adalah kejadian yang luar biasa bagiku. Selama ini Bapak selalu membandingkan aku dengan kakakku. Sedikit-sedikit kakak, aku dianggap anak bodoh yang tidak bisa apa-apa, namun setelah melihat penampilan dan hasil-hasil karyaku, Bapak seakan menyesali tindakan selama ini. Aku yang selama ini merasa minder karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakak, lalu teman-temanku juga memandang rendah, namun hari ini, aku bisa menunjukkan kepada mereka semua bahwa aku “tidaklah sebodoh yang mereka kira”, tiba-tiba bagai koor, semua yang hadir sontak meneteskan air mata. “Ini semua aku peroleh setelah mengikuti kegiatan pendampingan dari KerLIP”. Air mata itu tiba-tiba berubah lagi menjadi senyuman yang membawa aura optimis.

Walau terbata-bata sambil menahan tangis, kata-kata demi kata dirangkai perlahan melahirkan kalimat-kalimat pendek namun penuh makna, keluar dari mulut mereka yang selama ini terdiam. “Selama ini aku tidak pernah berani bicara di hadapan umum, di luar dugaanku sendiri, ternyata aku mampu menunjukkan di hadapan para pejabat, para orang tua, dan para siswa lainya”. Ada beberapa anak dengan polos mengakui bahwa selama ini ia sering melawan dan bicara kasar pada orang tua karena selalu dianggap “bodoh” dan tidak pernah dipercaya.Namun “berkat berbagai kegiatan yang aku ikuti selama pendampingan oleh KerLIP, aku menyadari kekeliruanku selama ini, aku harus membuktikan bahwa aku mampu, dan aku tidak lagi melawan dan bicara kasar pada orang tua dan kakakku, kakakku memelukku sambil berkata “ternyata adikku hebat, dan kakak berjanji akan membantu membiayai kuliahmu nanti”.

Sangat jelas bahwa tangisan itu bukanlah tangisan sedih untuk “meratapi” kondisi mereka yang sampai saat ini masih tinggal di penampungan dan belajarnya juga masih menumpang di salah satu SMP negeri. Helaan nafas, denyut nadi, denyut jantung, gerakan langkah kaki, ayunan tangan, tatapan dan putaran bola mata, dan semua kekuatan yang ada dalam diri mereka melebur mencuatkan kekuatan yang terlihat dari ekspresi dan narasi tentang mimpi-mimpi mereka saat ini. Semua ini memberikan gambaran bahwa mereka sudah “melupakan” tragedi itu, hantaman dan tekanan mental akibat erupsi Gunung Sinabung sejak 9 bulan yang lalu. Bahkan ekspresi itu sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan mereka saat ini, 9 bulan tinggal dan hidup prihatin di penampungan. Mereka tersenyum, tertawa, berkarya, mandiri, dan penuh percaya diri menampilkan karya-karya dan rencana aksi pribadi mereka. “Anak-anakku, engkau anak yang tangguh dan perkasa, ekspresimu telah mengalahkan perasaan untuk “dikasihani”. Sekarang anak-anakku telah menyatakan diri, siap menjadi Agen GSB Mesra (Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak). Selamat berjuang anak-anaku dan jangan lupa selalu rendah hati, santun dan bersatulah dalam dekapan dan rahmat-Nya.

Selama 2 hari saya bersama dengan anak-anak mengikuti acara Festival Gembira Anak-Anak SMA Negeri 1 Simpang Empat, Kaban Jahe, Sumatera Utara ini bisa melihat betapa penanganan yang bersifat holistik sangat ampuh. Pola dan model yang digunakan sangat berbeda dari cara-cara yang umumnya digunakan untuk me-rocovery traumata akibat bencana alam. Anak-anak diberikan ruang dan memulai sesuatu dari apa yang bisa mereka lakukan, kegiatan diawali dengan mengajak mereka mengenal diri, mengenal kekuatan,dan menggunakan kekuatan masing-masing, lalu berkolaborasi. Mereka sukses mengelola keunikan masing-masing individu dan hal ini akan terus dipertahankan di masa depan.

Selama ini, seringkali kita salah kaprah dalam melakukan penanganan anak-anak yang bermasalah, baik sebagai akibat trauma bencana alam, maupun karena disabilitas seperti hiper aktif atau autis. Seringkali pula kondisinya makin parah setelah diterapi. Apapun atau separah apapun trauma yang mereka alami akbat erupsi Sinabung,bisa saja menyebabkan mereka stres, hilangnya rasa percaya diri, kacaunya cara berfikir, sensitif, pemarah, melankolis dan sebagainya, namun yang “pasti” itu semua bukan “penyakit” yang harus “disembuhkan”. Semua gejala itu menunjukkan terganggunya keseimbangan dan mekanisme penyaluran atau penggunaan energi di dalam tubuh kita. Dalam kondisi normal, sebelum kejadian dahsyat itu, energinya berjalan mengikuti kesimbangan sehingga sebagaimana manusia kita mampu mengendalikan diri, mengendalikan emosi dan menunjukan eksistensi dalam berbagai situasi. Kita bisa tampil dengan “baik” pada saat gembira, sedih, percaya diri, mandiri dan sebagainya. Namun karena sesuatu hal, keseimbangan terganggu, mekanisme penyaluran energi tidak terkontrol lagi, mungkin perasaan sedih, hilangnya kepercayaan diri, curiga, sensitif lebih dominan, sinergi kita lebih besar ke arah itu. Jadilah kita seperti “sakit” dengan gejala mudah tersinggung, mudah menangis, mudah marah, mudah patah (rapuh), dan perasaan ingin dilayani lebh dominan dan sebagainya.

Itu semua bukan penyakit!. Hanya ketidakseimbangan sementara. Tubuh kita dibekali oleh Allah antibodi yang akan menormalkan semua itu. Antibodi dalam diri akan membangun keseimbangan baru dengan baik apabila kita menggunakan cara yang tepat. Cara yang tepat disini tidak kaitanya dengan “dosis” atau “terapi”. Cara terbaik adalah melakukan kegiatan-kegiatan yang mengkondisikan anak mengenali dirinya secara baik, nah dalam kondisi ini kita harus menyediakan “ruang” bagi mereka untuk “me-recovery” diri dengan menciptakan situasi agar energi dalam dirinya membangun keseimbangan baru. Untuk itu, memulai dari apa yang bisa ia lakukan adalah cara yang tepat. Dengan memulai dari apa yang bisa dilakukan, sekecil apapun itu, perlahan-lahan kepercayaan diri akan muncul. Sejalan dengan kepercayaan diri mulai menaik, energi dalam diri akan membangun kesimbangan baru, dan di situlah kekuatan mereka akan kembali, bahkan bisa jadi melebihi kekuatan sebelumnya.

Semua ini sudah digambarkan oleh Allah lewat firman-Nya. Allah selalu memberikan kemampuan lebih besar dari masalah. Sebesar apapun persoalan yang ada, hakikatnya selalu lebih kecil dari kemampuan, (tidak akan Aku berikan persoalan melebihi batas kemampuan manusia). Dan Allah tidak mengenal kesia-siaan, artinya sebesar apapun persoalan yang kita alami, semua itu adalah jalan yang disediakan Allah untuk mengangkat derajat kita, karena setelah “lulus” dari ujian Allah, ilmu kita akan meningkat, dan Alllah berjanji akan menaikkan derajat manusia yang mampu meningkatkan kapasitas atau ilmunya. Pada bagian lain Allah menyatakan bahwa “ditundukkan alam raya bagi manusia untuk dikelola”, lalu pada ayat lain juga dikatakan bahwa “setiap manusia dibekali kekuatan positif untuk mengelola dan mengubah corak kehidupanya ke arah yang lebih baik”. Semua ini ketentuan Illahi (sunnatulah) yang dituangkan dalam ayat-ayat suci. Sabda Illahi mutlak, janji Allah pasti. Allah menyediakan kekuatan dalam setiap diri manusia untuk “me-recovery” situasi.

Seperti kata Thomas Armstrong, semua anak terlahir jenius dan kejeniusan itu akan tumbuh melalui kegembiraan. Memulai sesuatu dari yang mampu dilakukan anak akan membangkitkan kegembiraan, dan itu akan memunculkan kejeniusan pada setiap orang sebagaimana hakikat manusia diciptakan oleh Illahi.

Hal inilah yang dirintis dan diimplmementasikan oleh teman-teman dari Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLIP). Hasilnya luar basa!. Dalam waktu beberapa bulan,anak-anak tersebut mampu mengolah keunikan masing-masing mejadi sebuah kolaborasi yang indah, dan apa yang mereka tampilkan telah “menghapus semua trauma” akibat bencana Sinabung. Lebih dari itu, sepertinya, kepercayaan diri dan kemandirian, serta semangat juang mereka hari ini jauh melebihi apa yang dimiliki selama ini, bahkan sebelum bencana ini terjadi.

Hari ini mereka punya impian yang akan segera diwujudkan secara bertahap, satu-satu persatu langkah mereka rajut yang sudah dituangkan dalam DReAMS Board dan Book of Me (Rencana Aksi anak secara individual mulai dari tahunan, bulanan, sampai harian untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak melalui Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak (GSB MesRA), yang diawali dengan kegiatan 1 jam menjaring mimpi yang dipandu oleh Bu Nia Kurniati dari SMP 11 Bandung di awal kegiatan ini, sekitar bulan April yang lalu.

Ada tiga tema besar yang menjadi program anak-anak ini, yaitu: (1) Gerakan Antikorupsi yang dimulai dari diri mereka sendiri dan dimulai dari hal-hal kecil yang biasa dilakukan dalam keseharian; (2) Pertanian, mereka bercita-cita menjadikan kampung mereka sebagai daerah pertanian andalan; (3), Musik, dan ini telah ditunjukkan oleh mereka pada saat acara Festival Gembira, mereka menciptakan lagu yang menggambarkan cita-cita dan hal-hal sederhana yang akan mereka lalukan sebagai bagian dari rencana aksi yang telah disusun, penampilan pusi-pusi buatan mereka membuat penonton terpaku, apalagi puisi tentang “korupsi”. Festival ini juga menampilkan tarian yang mereka rancang sendiri dan tarian khas Karo.

Semua itu adalah upaya mewujudkan mimpi mereka untuk menjadikan Tanah Karo yang tampil dengan keunikan dan kearifan lokalnya. “Kami cinta tanah kelahiran kami, kami akan rawat, kami akan kembangkan, dan kami akan tunjukkan kepada dunia luar bahwa Tanah Karo adalah “emas dan berlian yang kemilau sinarnya memancar ke seantero dunia. Semoga Tuhan Memberkati langkah kami!”. Tekad anak-anak muda tangguh ini.

Bagi saya pribadi, momen ini mengingatkan saya ke peristiwa 15 tahun silam saat pertama kali berkenalan dengan Bu Yanti, dan akhirnya saya bergabung dengan KerLIP walaupun tidak intens, namun secara pemikiran, komunikasi itu ternyata berjalan terus. Inilah kekuasaan Illahi, komunikasi secara fisik ternyata bukanlah hal yang utama, meskipun secara fisik sangat jarang bertemu, namun interaksi dalam pemikiran terus berlanjut. Berawal dari impian yang sama, yaitu membangun “Sekolah Ramah Anak, Sekolah Anak Merdeka, dan Sekolah yang Bersahabat dengan Anak”. Tema-tema ini sengaja kita angkat karena sekolah tidak lagi ramah pada anak, sekolah tidak lagi bersahabat dengan anak, dan sekolah merampas kemerdekaan anak. Hari ini kondisi ini makin parah. Tantangan terberat kita sejak 15 tahun yang lalu sampai saat ini adalah “birokrat” pendidikan. Namun saya yakin, kondisi ini pasti akan berubah, dan itu telah dibuktikan oleh Bu Yanti bersama KerLIP-nya, Insya Allah ke depan gerakan ini makin kuat dan makin menyebar. Amin.

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan salut kepada keluarga besar KerLIP, baik yang berdomisili di Bandung maupun yang di Medan. Bravo Bu Yanti, Bu Nia, Pak Juniadi, Pak Dedi (Jurnalis yang menjadi salah satu relawan mendampingi anak-anak dalam pelatihan jurnalistik), Pak Abdi Siregar (LSM Air Mata Guru), Pak Marsyid (Guru Berprestasi), dan Pak Ustadz Mail, Bu Nelli (Wakasek Kurikulum SMA 1 Simpang Empat), Pak Darson, serta teman-teman guru relawan yang tidak bisa saya sebutkan satu-per satu, dan teristimewa kepada anak-anak sahabat dan agen GSB MesRA, selamat berjuang, tingginya gunung bukan berarti menjadi penghalang bagi kita untuk menginjakan kaki di puncaknya. Bravo!. (ZA-Perjalanan dari Brastagi ke Jakarta).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: