SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (26) : Membangun Fatamorgana

Posted by Zulfikri Anas on June 25, 2013

Dalam mendidik anak-anak kita, sering kali (kalau tidak boleh dibilang selalu) kita melakukan hal yang berkebalikan dari apa yang kita inginkan. Kita ingin anak yang pintar, anak yang super, anak yang baik, anak yang jauh dari pergaulan negatif, dan anak yang selalu “lebih” dibanding anak-anak yang lain. Untuk itu, sebagian besar dari kita, baik orang tua maupun guru berperan (seolah) sebagai orang yang “bermurah hati” dalam memberi. Kita berikan “semua” apa yang menurut kita dibutuhkan anak, saking “murah hatinya” kita, tanpa sadar ternyata kita telah memposisikan anak sebagai “konsumen”. Konsumen dalam segala hal, termasuk dalam pendidikan, sehingga setelah dewasa ia tumbuh menjadi konsumen dalam segala hal juga, ketika ia menjadi pejabat, menjadi dokter, menjadi guru, dan menjadi apa saja, posisinya selalu sebagai konsumen. Selalu meminta orang lain untuk memahaminya.

Ada dua kosa kata yang selalu mengiringi langkah kita dalam mendidik mereka, yaitu perintah (suruhan) dan larangan. Kedua kata itu bermakna sama, mempersempit cara berfikir anak. Kita ingin anak menguasai segalanya dengan tingkat yang sama dengan memposisikan mereka sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Tiap tahun, tiap bulan, tiap hari, tiap jam, tiap menit bahkan tiap detik yang keluar dari mulut kita kalau tidak perintah, ya larangan. Di rumah, di halaman sekolah, di pintu gerbang sekolah, di teras sekolah, di perpustakaan, di laboratorium dan di dalam kelas, kata itupun selalu menghiasi hari-hari belajar anak, dan itu juga terjadi setiap kali kita berinteraksi dengan anak. Di depan pintu gerbang masuk pekarangan sekolah ada belasan atau puluhan butir kata-kata perintah dan larangan, tidak boleh, tidak boleh…..dilarang, dan dilarang, harus, dan harus, diminta……dan seterusnya. Dan yang lebih menyedihkan, semua itu hanya untuk siswa. Siswa tidak boleh datang terlambat, sementara kita orang dewasa mondar-mandir keluar masuk, bahkan terlambat adalah hal biasa bagi kita, karena kita banyak urusan, sementara urusan siswa hanya belajar dan belajar.

“Anak-anak, kalian harus rajin, harus disiplin, harus selalu bekerja keras, harus menyimak dengan baik agar kalian menjadi anak pintar, jangan malas, sekarang buka buku halaman 30, baca baik-baik dan kerjakan soal-soal yang ada, awas, kekita mengerjakan soal di larang menyontek, jangan sekali-kali melakukan itu”, kata kita pada mereka. Esok harinya, “anak-anak, kalian masih ingat pelajaran kemarin?, sekarang dengarkan, ibu/bapak akan menjelaskan pelajaran lanjutan, kalian harus menyimak,konsentrasi, dilarang bicara, nanti di akhir pelajaran kita akan ulangan, nilai ulangan akan masuk ke rapor, jika kalian mendapat nilai rendah (dibawah KKM), kalian akan tinggal kelas, dan jangan kalian lupa, bahwa mata pelajaran ini di “UN”-kan, jika kalian gagal, maka sia-sialah waktu kalian, kalian harus ingat pengorbanan orang tua kalian”. Lusanya, semua anak diperintakan untuk mengerjakan tugas yang seragam, gambar dengan bentuk pola, dan warna yang seragam.

Kita selalu mengingatkan anak untuk tidak menyontek, namun cara yang kita gunakan membuat anak termotivasi untuk menyontek, materi yang kita sampaikan, cara yang kita gunakan, evaluasi yang gunakan, soal yang kita berikan, dan ukuran pencapaian hasil belajar yang kita gunakan, buku, referensi dan sumber belajar yang kita gunakan, tugas-tugas dan PR yang dikerjakan anak semuanya seragam. Apalagi di akhir semua itu dijustifikasi dengan angka. Rapor dan ijazahnya berisi deretan angka, dan itu menihilkan makna belajar yang sesungguhnya. Kondisi ini akan menciptakan dorongan anak untuk menyontek. Secanggih apapun cara yang kita lakukan, membuat paket soal yang banyak, tetap akan membuat anak-anak “kreatif” untuk menemukan cara bagaimana menyontek yang baik dan mengatur strategi bagaimana caranya agar tidak pernah ketahuan. Apa lagi ambisi kita sebagai orang dewasa agar anak memperoleh nilai tinggi atau nilai sempurna untuk semua mata pelajaran, semuanya menyuburkan kompetensi menyontek pada anak. Mereka tumbuh menjadi penyontek yang ulung. Kalau sudah begini, sungguh tidak adil apabila mereka yang dipersalahkan, apalagi mereka yang harus menerima hukuman dengan cara tinggal kelas, dikeluarkan atau diusir dari sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi mereka untuk membangun dan memperbaiki diri, sekolah telah berubah fungsi menjadi tempat bagi (hanya) anak yang dianggap sudah menjadi anak “baik-baik”.

Bagaimana kita tidak kaget, paket soal UN yang sudah banyak (20 paket), ternyata anak menemukan cara menyontek yang baik, ada saja cara mereka untuk menemukan contekan, tentu saja ini tidak lepas dari orang dewasa yang berada di baik layar. Ternyata dunia anak super canggih.

Apa yang kita lakukan itu, akan menghasilkan hal yang berkebalikan dari apa yang kita inginkan dari anak. Dengan belajar yang rajin, dengan patuhnya anak, dengan ketatnya aturan yang kita berikan, kita berharap anak menjadi pintar dan patuh sehingga dia mendapat nilai sempurna. Kita samakan mereka dengan lumba-lumba, berang-berang, atau macan yang pintar. Mereka menjadi pintar, patuh, dan membuat kita terkesima dengan cara “instant”, cambuk di tangan kanan, dan makanan enak di tangan kiri. Ketika ia salah, atau tidak menjalankan apa yang kita inginkan, mereka dihukum cambuk, dan ketika ia benar dan melakukan apa yang kita inginkan, ia akan mendapat hadiah makanan begitu seterusnya. Akhirnya, itulah yang membentuk dia menjadi lumba-lumba, berang-berang, dan macan yang pintar dan patuh.

Secara kasat mata, kita seolah-seolah melihat itu semua ada dalam diri anak, anak patuh, rajin, dan nilanyapun sangat membahagiakan orang tua, namun begitu kita bersabar dan teliti melhat ke dalam diri anak, ternyata itu hanya ada dipermukaan, jauh di balik itu semua, keadaanya berkebalikan. Ternyata kita telah terlena oleh sebuah fatamorgana, dan fatamorgana itulah hasil jerih payah kita selama ini. Sayangnya, kita menyadari itu setelah semua terjadi dan terlanjur terbentuk dalam diri anak. Ketika semua telah terjadi dan terbentuk, untuk memperbaikinya, kita bagaikan melentur bambu tua, atau mengukir di atas air. Kita sudah terlambat, lalu kita hanya mampu menghibur diri, biarlah terlambat daripada tidak sama sekali. Toh penyesalan datangnya juga selalu terlambat.

Secepatnya kita harus keluar dari fatamorgana itu, kita harus lebih banyak mendengarkan suara hati mereka yang sejati. Seorang anak remaja yang memasuki usia 15 tahun menuliskan kata hati mereka, menceritakan tentang mereka, apa yang mereka peroleh selama 3 tahun belajar di SMP. Tulisan ini ia buat untuk kata sambutannya sebagai ketua pelaksana pembuatan buku kenangan selama mereka belajar di SMP, mereka menamakan buku itu “Year Book”. Saat ini dia dan 11 temannya lagi berada di Dubai, Uni Emirat Arab (17-26 Juni 2013) mengikuti Lomba Debat dalam kegiatan “The world Scholar’s Cup”. Mari kita simak, apa kata anak……

“Three years. Our thoughts have grown faster than before. Perhaps too fast. We just let people pass arround us easily without our concern. Problems build up so fast that makes all those 24 hours a day is just…not enough. Its like video game, with the exception the levels keep getting harder until game over.This make me think, is there any way to pause for a moment from our lives to get relaxed, just like video games? Well, there are a lot of wayas to do that, if we carefully look for it. One way is this year book. Reading this yearbook and watching the videos will help us “withdraw” from real life for a little while and start realizing how we have become. Howw all the events that’s happening and all the people around us for the last three years shaped our thoughts about life as a whole. How age changes our perception about friends, parents, teacehrs, and maybe life itself, while slowly discovering our talents and skills along the way. It provides more than enough”. (Muhammad Kevin Azzari, June 2013).

Selamat berjuang anakku, semoga Dubai menjadi langkah pertamamu untuk mengukir apa yang ingin kamu ukir di atas kanvas alam raya ini, kamu tahu persis bagaimana balik “mengajari” orang dewasa untuk berdebat secara santun, dan kamu tahu persis bagaimana menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bukanlah seperti apa yang dilihat di liputan berita TV, bagaimana DPR berdebat, bagaimana cara mahasiswa menyalurkan aspirasi, bagaimana cara kelompok tertentu mengadapi perbedaan. Kamu tahu persis, bagaimana menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah, cerdas, berpikiran luas, anti cara-cara instan, santun, menghargai semua orang, cinta damai, religius, dan berakhlak mulia.

Sekali lagi, selamat berjuang, kemenangan bukanlah tujuan, ia hanyalah sebuah dampak dari kesungguhan dari setiap apa yang kita perbuat, siap menang atau kalah, itulah kemenangan sejati! (ZA).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: