SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (25) Nak: Alam ini Sangat Luas!

Posted by Zulfikri Anas on June 25, 2013

Anakku, orang bijak mengatakan bahwa “dunia ini seluas apa yang ada di pikiran kita”. Alam raya yang luas ini akan berubah jadi sempit ketika kamu mempersempit cakrawala pikiranmu. Gunung itu akan terasa semakin tinggi dan sulit didaki ketika pikiranmu mengatakan bahwa “betapa tingginya puncak gunung itu, dan aku tidak bakalan sanggup sampai di sana”. Kamu betul-betul tidak akan pernah sampai ke sana.

Hakikatnya, kesulitan itu selalu lebih kecil dari kemampuan kita. Allah mengatakan bahwa “tidak Aku berikan persoalan kecuali manusia sanggup mengatasinya”. Allah tidak pernah salah dalam memberi, termasuk persoalan, persoalan besar akan datang ke kita ketika menurut Illahi kita sanggup mengatasinya. Kemampuan lebih dulu diberikan-Nya dari pada persoalan.

Nak, alam raya ini tanpa batas, sebagaimana otak manusia yang tanpa batas, positifnya tanpa batas, negatifnya juga tanpa batas. Gunakanlah ia untuk memecahkan karang yang keras, mendaki gunung yang tinggi, mengharungi lautan luas dan bebas.

Bebaskan pikiranmu dari anggapan bahwa “semua itu hanya teori, hanya indah dan mudah diucapkan, tetapi pahit dan sulit dilaksanakan”. Pikiran itu akan mengunci pikiranmu, akan mempersempit ruang gerakmu dan akan menghentikan langkahmu. Sekarang saatnya membalik pikiran, “semua itu mudah dilaksanakan, sulit diucapkan”, artinya, buktikan bahwa pelaksanaan jauh lebih mudah daripada bicara.

Nak, kamu harus berhati-hati dalam belajar, angka 10 yang ada di rapormu akan menjebak pikiranmu dan akan mempersempit ruang gerakmu, angka itu akan membawa kamu ke zona nyaman, dan lama kelamaan kamu akan enggan keluar dari zona nyaman itu. Angka 10 berpotensi menghentikan langkah belajarmu karena tidak ada lagi angka yang lebih tinggi dari itu. Panjang langkahmu akan semakin mengecil ketika kamu mendapatkan angka 10 untuk semua mata pelajaran karena ini akan membawamu ke dunia semu yang menggambarkan solah-olah kamu orang super dan serba bisa. Kondisi ini akan memperkokoh kamu untuk mempertahankan diri di zona nyaman itu. Itu artinya kamu akan “berhenti” belajar dalam artian yang sesungguhnya, kamu juga akan terjebak dalam belajar yang “semu” karena untuk mepertahankan posisi kamu, kamu akan berusaha melakukan segala cara, termasuk cara-cara instan. Pelan-pelan di dalam dirimu akan tumbuh rasa takut pada kegagalan, kamu akan takut tersaingi, kamu akan takut penghargaan orang lain akan berkurang. Dan kamu akan memandang orang-orang di sekitarmu sebagai pesaing, sehingga kamu akan menjadi egois, tidak mau berbagi, apalagi berbagi ilmu.

Kondisinya akan semakin parah ketika kamu lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang “mudah” untuk memperbesar peluang menang, untuk memperkecil peluang kalah. Inilah yang akan menjebakmu sehingga kamu terperangkap pada cara-cara instan tadi. Untuk itu belajarlah menguasai sesuatu yang terbaik yang bisa dilakukan, bukan belajar untuk mendapatkan angka sempurna (10). Nilai akan berhenti di angka 10, sementara kemampuanmu tanpa batas, dan tidak bisa diukur dengan angka.

Nak, “Cintailah kemudahan, takutilah kesulitan, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa” (Kakek Ranggoworsito).

Apapun bentuk perlombaan, olimpiade, atau yang lainnya, itu adalah sebuah permainan, dan jika kamu ikut di situ, nikmatilah itu sebagai sebuah permainan yang menyenangkan, yang membebaskan kamu sementara waktu dari berbagai persoalan dan kejenuhan, lakukan itu sebagai rekreasi yang paling menyenangkan. Gunakan waktu perlombaan itu untuk bergembira, seperti Thomas Armstrog bilang bahwa “kejeniusan itu dilahirkan dari kegembiraan”. Tunjukkan hasil terbaik yang kamu bisa pada saat itu, lepaskan dirimu dari bayang-bayang menang atau kalah. Ketika kamu menang, kamu harus menghargai dan menghormati lawan mu, dia adalah sahabat sejatimu yang “legowo” menerima kekalahan darimu, itu sebuah perjuangan berat baginya, kita wajib mengapresias itu dan yang lebih penting, tanpa dia kamu tidak akan meraih kemenangan itu. Dialah orang pertamayang akan menolong mu jika tiba-tiba kamu terjatuh. Itu artinya, kemenangan itu milik kamu berdua. Jika kamu kalah, kuatkan dirimu untuk menghadapinya karena kehidupan akan menjadi indah ketika perjalanan yang kita tempuh itu berliku-liku, menanjak, dan menurun. Alam ini tidak akan memberikan cerita apa-apa jika ia hanya berupa dataran yang luas. Dan kekalahan adalah sumber energi terbesar bagimu yang akan membawamu terbang menggapai titik tak terhingga yang tak pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya. Itulah rahasia Illahi!.

Nak, maafkan Papamu ini, karena papa hanya mampu melangkah dalam ruang yang sangat sempit, langkah Papa mu hanya sebatas yang dibolehkan oleh orang lain, Papa mu hanya mampu berenang di kolam renang yang dijaga oleh petugas-petugas keamanan yang siap membantu Papa jika terjadi sesuatu secara tiba-tiba. Papa mu tidak mampu berenang di laut bebas yang telah disediakan oleh Illahi untuk kemuliaan manusia. Papa mu hanya mampu berlari dalam komando wasit yang setiap saat bisa menganulir langkah Papa, ketika mereka menganggap langkah Papa kebablasan………Sekencang apapun Papa berlari, tiba-tiba lari akan terhenti ketika wasit meniup pluit, Papa akan kena kartu kuning atau kartu merah, atau papa akan dihukum karena langkah Papa dianggap offside. Perjuangan Papa bergantung pada pluit seorang wasit. Dia akan meniup pulit itu kapanpun ia mau.

Nak, Dunia Papa sudah terlanjur sempit Nak……….Papa tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi mu, Papa tidak bisa menjadi murid pertama dari apa yang Papa omongkan. Namun percayalah, Papa tidak akan pasrah begitu saja dengan keadaan, Allah masih mebekali Papa dengan niat yang tulus dan sejumlah energi. seberapapun kecilnya, Papa akan menggunakan energi itu untuk melakukan sesuatu, walaupun saat ini akan terasa sangat pahit, tapi Insya Allah langkah itu belum terlambat. Nak, doakan Papa mu!!!!!!!. (ZA, Dalam keheningan tengah malam di kota Kinabalu, Sabah, 19 Mei 2013).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: