SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (22) : Memilih Sekolah Terbaik

Posted by Zulfikri Anas on April 14, 2013

Sebagian dari kita akan kaget ketika mendengar bahwa sekolah-sekolah unggulan yang selama ini diburu banyak orang karena sekolah-sekolah tersebut dianggap sekolah terbaik, ternyata itu adalah pilihan terburuk bagi keberlangsungan pendidikan jangka panjang anak-anak kita. Dan penyakit ini melanda hampir semua pendidikan di dunia. Sekolah Terbaik-edit

Kesalahan fatal kita adalah ketika kita merasa peduli dengan pendidikan anak-anak kita dengan membimbing mereka untuk mencapai titik atau posisi tertentu, seharusnya kita mendampingi mereka untuk mampu terus belajar (dalam artian yang sesungguhnya) dengan cara yang kondusif bagi masing-masing anak untuk menemukan titik-titik tak terhingga dan mungkin sama sekali tidak ada dalam bayangan kita saat ini.
“Sebagus-bagusnya, nilai tes yang tinggi di suatu sekolah atau distrik bisa jadi tidak artinya; seburuk-buruknya, nilai tinggi sebenarnya berita buruk karena cara pengajaran yang digunakan untuk menghasilkan nilai tersebut”.

“…..nilai biasanya terjun bebas setiap kali negara bagian atau distrik memutuskan untuk mengadakan jenis ujian baru. Dan tajuk utama di surat kabar berbunyi: Sistem sekolah kita gagal!, murid-muridnya tidak punya pengetahuan!. Setelah beberapa tahun nilai tes mulai naik karena guru dan siswa sudah mulai terbiasa dengan tes itu. Dan tajuk utama surat kabar berbunyi: Sistem sekolah kita membaik!, peningkatan standar efektif!”.

“Bukti jenis lain muncul dari cerita seperti yang terjadi di sebuah SMP di New Jersey. Di sekolah ini usaha persiapan ujian intensif berhasil mencetak nilai tertinggi di daerah itu, tetapi kemudian saat di sekolah menengah atas, sepertiga siswa ini ternyata perlu masuk kelas remedial. Di kelas remedial, mereka tidak dibantu belajar, mereka hanya dibantu untuk mendapatkan nilai bagus. Cara ini tidak memberikan manfaat apa-apapun, bahkan sesungguhnya sangat berbahaya bagi mereka!” (Kohn, 2009 :156-157).

Alfie Kohn (2009), Memilih Sekolah Terbaik untuk Anak: Mendobrak cara belajar tradisional. Judul Asli : The School Our Children Deserve), Jakarta, Penerbit Buah Hati

Buku ini perlu dibaca oleh para guru dan orang tua yang benar-benar mencintai anaknya
Sekedar Sharing pengalaman

“Masuk sekolah unggulan?, jangankan siswanya, kepala sekolah dan guru-gurunya aja arogan, selalu memandang rendah orang lain, dan cenderung meremehkan kita. Untuk bertemu kepala sekolahnya aja, paling tidak ada 4 meja yang harus dilalui, dan harus ada TIP”, ungkap seorang teman yang pernah bertamu ke sekolah unggulan ternama di negeri ini.

Pengalaman lain, seorang ibu mengeluhkan sikap anaknya yang ngotot masuk SMA unggulan. Si Ibu mencoba memberikan pengertian bahwa untuk masuk sekolah tersebut biayanya sangat mahal. “Pokoknya aku harus masuk sekolah unggulan, bagaimanapun caranya, kalau kita aku akan sangat malu sekali karena menurut semua guruku aku pantas dan sanggup sekolah unggulan itu”, kata anaknya. Si Ibu terpaksa memenuhi keinginan anak satu-satunya itu.

Banyak pengalaman lain yang diceritakan teman seputar realita sekolah unggulan. Paradigmanya : “anak unggul harus dilayani dengan unggul, anak seadanya, dilayani seadanya”!. (ZA).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: