SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (21) : Suara Anak Mencari Keadilan

Posted by Zulfikri Anas on February 3, 2013

Mumpung dagangan lagi sepi…….saya duduk sambil melamun membayangkan peristiwa-demi peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, pada saat saya mau masuk SMA.

——0000000——-
“Apakah salah saya?”. Rumah saya persis di belakang sekolah negeri ternama dan masyarakat menyebutnya sekolah unggulan. Di papan namanya juga tercantum sebutan itu sebagai alat promosi.

“Tiap hari saya menyaksikan keceriaan mereka, walau dari balik pagar, aku dapat membaca betapa dunia pendidikan berpihak sekali pada mereka, mereka selalu mendapat apa yang mereka inginkan. Dalam lamunan, saya membayangkan, “seandainya saya berada di antara mereka, betapa indahnya hidup ini”. Lagi ,…saya bertanya, “Apakah kesalahan saya?”, apakah karena saya berasal dari keluarga miskin?. Saya ini miskin harta, dan miskin prestasi pula, akhirnya dunia pendidikan enggan menerima saya. Saya ingat nasehat guru mengaji. Walau nasihat ini sudah lama, tapi masih segar dalam ingatan saya sampai sekarang. Beliau selalu mengatakan “Agama kita memerintahkan, “orang tahu wajib mengasih tahu orang yang belum tahu”. Artinya apakah salah saya juga ketika saya “belum tahu apa-apa?”. Saya tau bahwa saya tidak bisa apa-apa, untuk itu saya ingin belajar dan saya ingin mendapatkan ilmu dari sekolah yang bonafit karena pasti mereka memiliki guru yang unggulan dan sara yang lengkap, tentunya mereka ahli dalam menididik anak dalam kondisi apapun. Saya hanya ingin menjadi orang yang berilmu, tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang tidak bisa menjadi bisa. Hanya itu!, berlebihankanh permintaan saya?.

Di lain waktu, guru mengaji saya itu juga mengingatkan bahwa “jika ada dua orang yang datang kepadamu untuk belajar, yang satu belum bisa apa-apa, dan yang satu lagi sudah bisa, maka kamu harus memprioritaskan yang belum bisa apa-apa. Bagi anak yang sudah bisa, kita tinggal memberikan tantangan yang lebih, dan pendidikan yang baik itu membaurkan anak yang belum bisa dengan yang sudah bisa sehingga yang belum bisa dapat belajar dari anak yang sudah bisa. Dengan demikian kedua anak itu akan berkembang dengan baik. Bukanlah suatu kerugian bagi anak yang sudah bisa membimbing anak yang belum bisa. Pada saat anak yang sudah bisa mampu membimbing anak yang belum bisa, maka anak yang belum bisa akan menjadi bisa, sementara anak yang sudah bisa akan semakin mahir. Cara seperti ini akan menimbulkan hubungan harmonis antara anak yang beragam kemapuan. Menghomogenkan anak, artinya mengelompokkan anak-anak yang sudah bisa dengan sesama yang sudah bisa, dan anak yang belum bisa juga dikelompokkan menjadi satu, justeru ini menyulitkan proses pendidikan. Dan ini akan sangat berbahaya, ini akan menimbulkan kelompok-kelompok yang saling egois”, katanya.

Walaupun aku tidak sepenuhnya paham dengan apa yang dikatakan oleh guru mengaji itu, yang jelas menurut pikiran saya yang awam ini, kebiasaan menolong sesama akan membangun kehidupan yang harmonis.

Apakah salah saya? Pada awal tahun pelajaran waktu itu, saya sudah mendaftarkan diri ke sekolah unggulan tersebut. Pada saat mendaftar, kehadiran saya diterima dengan baik. Oleh karena sistem penerimaan siswa baru dilaksanakan secara online, saya diminta untuk memantau lewat internet. Dengan mengumpulkan sisa-sisa uang jajan, saya datang ke warnet yang tidak jauh dari rumah saya, apa dikata, belum setengah hari, nama saya sudah lenyap dari daftar, saya telah tergilas!.

Orang tua saya mencoba menghibur, dan menjelang tahun pelajaran di mulai, orang tua saya mendatangi kepala sekolah, mereka menerima orang tua saya dengan baik, lalu bilang ke Bapak saya bahwa “sekolah ini terbuka bagi siapa saja, di sekolah ini tidak ada diskriminasi, miskin atau kaya silahkan belajar di sini. Namun karena daya tampung yang terbatas kami terpaksa melakukan seleksi, “kami sangat bisa menerima anak dari keluarga tidak mampu secara ekonomi, apalagi berasal dari daerah sekitar sekolah ini seperti Bapak, di sini juga berlaku subsidi silang, artinya, anak yang berasal dari keluarga mampu, wajib membantu yang tidak mampu (secara ekonomi).

“Sekarang begini aja, besok bawa anak Bapak ke sini, lalu kita tes, jika hasil tes itu menunjukkan bahwa anak Bapak memang pantas untuk diterima, kami akan menerimanya, dan minggu depan anak Bapak bisa bersekolah di sini”, kata kepala sekolah mengakhiri pertemuan itu.

Dengan hati gembira, Bapak saya bergumam “wah masih ada harapan”. Esok harinya, saya dan Bapak saya datang lagi untuk tes, dan saya di test, testnya membaca gambar-gambar dan wawancara. Sebelum berakhir, orang tua saya juga ditanya, “Setahu Bapak, apakah ada prestasi yang menonjol yang pernah diraih anak Bapak selama ini?, Bapak saya menjawab “tidak”, anak saya tidak pernah ikut lomba apapun, selama ini ia bersekolah di sekolah sedanya jadi tidak ada kesempatan untuk itu. Setelah selesai tes wawancara, Bapak saya dipanggil kepala sekolah, “dengan sangat menyesal, kami memutuskan bahwa anak Bapak tidak bisa diterima di sini, kemampuannya sangat rendah”. “Bapak kan tahu bahwa sekolah ini sekolah unggulan. Di sini berkumpul anak-anak yang cerdas, mereka juga telah bersusah payah memperjuangkan nama baik sekolah ini sehingga sekolah ini terkenal ke mana-mana, prestasi mereka hampir di setiap bidang, sementara anak Bapak tidak bisa apa-apa. Jika dipaksakan sekolah di sini, kasihan anak Bapak, nanti ia keteteran sendiri. Lagi pula, jika tetap dipaksakan, nanti prestasi sekolah kami akan menurun karena pencapaian nilai rata-ratanya akan menurun akibat nilai anak Bapak yang sangat rendah, dan itu akan berakibat turunnya ranking sekolah kami. Dengan berat hati, sekolah ini belum bisa menerima anak Bapak. Mungkin ada sekolah lain, yang lebih sesuai dengan anak Bapak!”.

Kami pulang dengan wajah lesu, dalam pikiran saya berkecamuk, apa artinya “tidak ada diskriminasi?”. Jika saya miskin harta, namun kaya prestasi, baru sekolah mau menerima saya,. Ini SEKOLAH NEGERI LHO!, yang dibiayai melalui uang rakyat!. Bagi kami, untuk berprestasi itu sangat sulit, mungkin pengaruh makanan juga, boro-boro saya mendapat asupan makan yang bergizi, makan satu kali sehari dengan nasi dan lauk seadanya saja sudah mewah bagi kami, bagaimana saya bisa berprestasi?.

Apakah salah saya?, dan di luar sana begitu banyak anak-anak yang senasib dengan saya. Di negeri ini, negeri yang berfalsafah Pancasila, sepertinya “orang lumpuh harus belajar dari sesama yang lumpuh, dan orang yang punya kaki dituntun untuk berjalan”. Orang miskin harta dan miskin prestasi harus mencari sekolah pinggiran yang diasuh oleh “guru yang seadanya”.

Di negeri ini pula, untuk mendapatkan layanan pendidikan yang baik, kita harus jadi pintar dulu, bagi mereka yang tidak pintar dan miskin, harus bersabar menunggu orang-orang yang masih memiliki nurani untuk menjamah kami. Anak pintar berhak mendapat layanan pendidikan terbaik, anak yang tidak pintar “dilarang” mendapat layanan terbaik! KAMI INI BANYAK LHO!, apakah pemerintah tidak khawatir kami yang banyak ini akan menjadi beban berat bagi negara di kemudian hari?

Sekali lagi apakah ini bukan diskriminasi?. Sekolah unggul, apalagi sekolah negeri, hanya menerima “anak unggul”. Jika saya ingat nasehat guru mengaji saya dulu, saya jadi semakin heran dengan pendidikan di negeri yang santun ini. Guru mengajiku selalu mengatakan bahwa “Allah tidak mengenal istilah “produk gagal” dalam menciptakan sesuatu, setiap manusia itu unggul, ada yang unggul di kemampuan berpikir dan ada yang unggul di bidang lain. Ini ada dalam kitab suci kita, salah satu firman Illahi menyatakan bahwa “setiap nyawa yang diberikan Allah memperhitungkan dengan matang untuk apa seseorang dilahirkan, tidak ada manusia yang dilahirkan untuk sia-sia, kepada setiap manusia dibekali potensi untuk merubah corak hidupnya”. Nah jika ada anak yang belum terlihat potensinya, maka ini menjadi tugas orang “tahu untuk mengasih tahu”, atau tugas orang yang kebetulan “sudah terlebih dahulu pintar” untuk mengasuhnya. Ini menjadi kewajiban bagi yang “pintar”. Bukan sebaliknya, yang potensinya sudah terlihat di asah sedemikian rupa, dan potensi yang tenggelam dibiarkan tenggelam. Untukhal ini, nampaknya pemerintah menunggu ada “orang baik hati” yang menangani mereka secara sukarela…….Aneh!

Sekali lagi…….Di negeri ini, sekolah bermutu hanya untuk anak yang sudah pintar. Lalu ….apa salah sayayang terlahir sebagai orang yang miskin harta dan miskin prestasi?, yang jelas ini bukan kesalahan Illahi dalam menciptakan manusia seperti saya, ini “kekejaman” sistem. Betapa malangnya orang yang terlahir di negeri ini dengan kondisi seperti saya.

Di negeri ini, banyak anak-anak yang tidak mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu karena dinilai tidak pantas untuk mesuk ke sekolah bermutu. Pada hal, mereka bukan orang yang tidak memiliki potensi, -seperti kata guru mengaji tadi– setiap manusia ciptaan Illahi pasti memilikinya, hanya saja sebagian anak potensinya terlihat jelas sejak dini, namun sebagian besar anak justeru potensinya tersembunyi, seharusnya duia pendidikan memahami ini, jangan mau gampangnya saja. Nah malanglah bagi anak yang potensinya tersembunyi dan miskin lagi. Dengan sendirinya mereka akan terlempar dari dunia pendidikan yang layak bukan karena tidak memiliki potensi, tapi sistem yang tidak mau menerima!.

Tampaknya, di negeri ini, “anak pintar” diasingkan, tidak boleh bergaul dan belajar bersama dengan “anak yang tidak pintar”, gurunyapun harus pilihan, tidak boleh guru sembarangan, sekolahnya pun harus serba lengkap, pokoknya, anak unggul harus mendapat pelayanan unggul. Kata orang pintar di negeri ini, jika dalam proses belajar anak pintar atau anak unggul dicampur dengan anak yang “tidak pintar” maka ini akan menghambat perkembangan anak pintar itu, lalu jika dalam pergaulan juga harus dicampur, maka anak pintar ini akan mendapat pengaruh buruk yang akan menurunkan prestasinya. Di negeri ini juga, anak “baik” tidak boleh bergaul dengan “anak nakal” karena nanti anak nakal akan mempengaruhi anak baik, sehingga mereka berubah menjadi anak nakal pula. Nah, jika begitu berarti anak pintar, anak unggul, dan anak baik itu adalah “anak yang lemah” , sebegitu mudahnya ia dipengaruhi. Jika memang mereka itu memiliki kepintaran sejati atau keunggulan sejati atau kebaikan sejati, tentunya justeru dia yang akan mempengaruhi anak nakal dan anak yang tidak unggul itu. Lalu apa peran guru?, jika guru tidak mampu menghadapi situasi demikian, berarti, kesaktian ilmu mendidik yang dipelajari oleh guru selama 4 tahun di S1 LPTK (dan 2 tahun di S2 bagi yang sudah S2) kalah oleh “anak bodoh dan anak nakal?”.

Kata orang pintar lagi, apabila dalam suatu sekolah dicampur antara anak unggul dengan yang tidak unggul, disamping akan “merepotkan” pengelola dan pendidik, pergaulan campuran itu akan berpengaruh kepada prestasi mereka, perkembangan dan prestasi mereka menjadi tidak maksimal!. Nah, padahal menurut tentangga kami, kebetulan Beliau praktisi pendidikan, dia bilang saat ini begitu banyak teori-teori belajar kolaboratif, multiple intelligence, dan banyak lagi yang dapat dijadikan sebagai acuan bagaimana mengelola kemampuan anak yang beragam, justeru dengan pola seperti itu anak pintar akan semakin pintar, dan semakin dewasa, serta semakin peduli dengan sesama, sementara anak yang tadinya “belum pintar” akan lebih mudah untuk berkembang, dan tadinya nakal, akan berubah menjadi baik. Menurut beberapa teori, seringkali anak lebih mudah belajar dari temannya daripada guru, lagi pula ketika “anak pintar” mampu membantu anak yang belum pintar, maka penguasaan ilmunya makin mendalam. Itulah yang disebut dengan tutor sebaya. Tentunya ini lebih merepotkan, tapi…, apakah ada larangan untuk repot?

“Aneh……pengaruh “anak bodoh atau anak nakal” lebih kuat dari pertahanan “anak pintar atau anak baik”, dan pengaruh “anak nakal” dan “anak bodoh” itu bahkan lebih kuat dari pengaruh guru yang notabene sudah dipersiapkan sedemikian rupa dengan ilmu-ilmu mendidik sebelum mereka menjadi guru”……..

Nampaknya, di negeri ini pelayanan pendidikan dasar dan menengah disamakan dengan layanan hotel, pesawat terbang,kereta api, kapal lalut dan bis. Ada kelas eksekutif, ada kelas reguler, ada kelas elite, dan ada kelas proletar. Jika demikian adanya, anak pintar tadi bukanya malah makin pintar, tapi akan semakin manja, egois, dan semakin sulit untuk mebaur bila ia dewasa nanti, apalagi ketika ia dipercaya memegang kekuasaan. Sementara anak yang “tidak pintar” makin lemah karena mereka hanya boleh bersekolah di sekolah “apa adanya” dan diajar oleh guru yang “apa adanya pula”. Dia akan makin lumpuh dan jumlahnya jauh lebih banyak dari anak unggul. Inilah yang membuat bangsa kita lumpuh seperti sekarang.

Apa yang kita alami saat ini, hidup miskin di tengah alam yang kaya, adalah salah satu bukti kegagalan pendidikan dalam membangun sumber daya manusia. Elitisme pendidikan, yang memisahkan anak pintar dengan anak kebanyakan sudah lama diterapkan, hasilnya seperti yang kita peroleh saat ini. Artinya, pendekatan ini terbukti tidak efektif dalam membangun sumber daya manusia. Siatuasi yang dialami anak semasa sekolah merupakan replika kehidupan masyarakat masa depan!.

Aku sempat menguping ketika Bapak saya duduk santai sambil ngopi dengan tetangga kami yang kebetulan ia praktisi pendidikan, mungkin bisa disebut sebagai penggiat atau pejuang pendidikan. Dia mengatakan, semua itu pertanda lemahnya MANAJEMEN dan semrawutnya SISTEM PENDIDIKAN kita, para pengelola pendidikan mencari mudahnya saja, menurut mereka, mencampurkan anak dengan kemampuan yang beragam akan merepotkan sekolah dan akan berdampak negatif pada anak pintar.

Aku sendiri tidak paham dengan pembicaraan ini, namun aku hanya bertanya kepada diri sendiri,, APA SALAHKU YANG TERLAHIR SEBAGAI ORANG MISKIN dan TIDAK PINTAR?. Kalau dibilang nasib, apa salah nenek moyang kami, apa salah orang tua kami, jika dibilang Tuhan tidak adil, mengapa ada orang dilahirkan sebagai orang pintar dan kenapa ada orang bodoh?. Saya yakin ini bukan sebuah ketidakadilan, ini hanya persoalan ketidakmampuan kita memaknai apa arti penciptaan manusia dengan segala keberagamannya. Pemikiran ini saya dapatkan dari guru mengaji…….hebat ya Beliau!……..

Okee….lah jika memang anak pintar tidak boleh berbaur dengan kami yang bodoh (pada hal menurut guru mengaji saya, larangan seperti itu justeru merugikan mereka yang pintar itu karena dengan demikian pergaulan mereka menjadi terbatas, mereka akan tumbuh menjadi anak yang egois dan terasing dari kehidupan dan pada giliranya mereka akan menjadi pejabat-pejabat yang sombong dan egois). Apa yang terjadi pada bangsa ini kini, itulah hasilnya, kita lihat Beliau-beliau yang di atas itu sangat egois, di hadapan umum tampil seperti malaikat, tapi pada saat menandatangani sesuatu yang penting, pada saat dia sendirian, kita tidak tahu apa yang dipikirkannya. Ketika ketangkapbasahpun, rame-rame membantah, demi nama baik mereka rela mengkambinghitamkan temannya sendiri yang kebetulan menjadi lawan politiknya. Jangan-jangan mereka ini dulunya adalah anak-anak unggul yang dibesarkan dengan sistem pendidikan yang demikian, ….mungkin saja…..ini hanya bayangan spekulatif saya saja.

Kami tidak meminta pemerintah untuk menjadikan kami seperti teman-teman kami yang pintar itu, yang mampu meraih berbagai medali di olimpiade,dan kami juga tidak minta untuk disekolahkan ke Cambridge, ke Jepang, atau ke Jerman. Yang kami minta hak kami sebagai warga negara, yaitu mendapat layanan pendidikan yang prima sehingga kami mampu menjadi anak mandiri sesuai dengan potensi kami sebagaimana yang dititipkan Allah kepada kami, sebagai umat Illahi kami yakin dengan firman-Nya yang mengatakan bahwa setiap manusia yang dilahirkan memiliki keunggulan masing-masing. Dengan kemandirian itu, mudah-mudahan kami bisa membuka usaha kecil-kecilan sehingga kehadiran kami yang banyak ini tidak menjadi beban bagi negara kelak, mana tau kami bisa seperti Stephani Handoyo penderita Down Sindrom yang mampu menjadi pengusaha yang mempekerjakan manusia normal.

Aneh memang, anak yang sudah pintar tidak boleh diajar oleh guru sembarangan, sedangkan anak “bodoh” boleh diajar oleh siapa saja sementara jumlah mereka jauh lebih banyak. Bukankah semua anak unggul?

Entah apalagi yang akan terjadi di negeri ini, atas nama kemudahan dan kepraktisan kita berani mengingkari makna mendidik itu sendiri, lebih dari itu kita juga mengabaikan dan bahkan berani menentang fitrah dan perintah Illahi dalam mendidik anak-anak manusia yang dititipkan-Nya pada kita…….Entahlah……mudah-mudahan ini hanya sebuah mimpi (buruk)…………

Apa yang salah di negeri ini? Ataukah SAYA YANG SALAH?. Apa salah saya?????????????
“Semoga hanya saya yang merasakan hal ini, dan teman-teman yang merasa senasib, jangan putus asa, karena Allah selalu menciptakan jalan, dan jangan lupa nelayan yang tangguh tidak akan lahir dari laut yang tenang!”. (Zulfikri Anas, Akhir Januari 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: