SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (18) : Rangking yang Mematikan…!!! (2)

Posted by Zulfikri Anas on May 14, 2012

Selamat Pagi Pelanggan kami…..Salakan, Banggai Kepulauan

Akal, pikiran, kekuatan, dan semua potensi manusia merupakan AMANAH dari ILLAHI. Apabila ada manusia yang dengan sengaja membeda-bedakan atau megelompokkan “derajat” sesama manusia berdasarkan tingkat atau kekuatan akal, pikiran, dan potensinya itu, maka kepada Allah-lah ia harus mempertanggungjawabkannya.

Apalagi bila itu terjadi di dunia pendidikan. Dan ………apalagi alasannya demi “kemudahan” pelayanan. Sekolah berupaya “menghomogenkan” kelas dengan mebuat kelompok-kelompok seperti kelas “unggulan” dan kelas “reguler” dan banyak lagi istilah lain yang digunakan. Kelas unggulan mendapat perhatian khusus dengan layanan prima, sementara kelas reguler akan mendapat layanan seadanya. Ibaratnya, orang yang memiliki kaki dituntun berjalan dan orang yang lumpuh dibiarkan dan ilayani seadanya!. Ini mengingkari amanah Illahi!. Kita perlu berobat untuk hal ini!

Perbedaan tingkat potensi (termasuk tingkat kecerdasan) hanyalah untuk berbagi peran agar saling memberi dan menerima, saling melengkapi dan dan saling berkolaborasi. Hukum alam membuktikan bahwa tidak ada satu unsurpun di alam ini yang mampu hidup atau berjalan sendiri, atom terkecilpun perlu dukungan unsur lain, jika tidak, dia hanya menjadi zat mati tanpa fungsi apa-apa. Demikian juga manusia karena manusia adalah “alam”. Orang ber IQ tinggi bertugas sebagai ilmuwan yang meneliti, menemukan sesuatu, sementara hasil temuannya itu akan dikembangkan, diproduksi massal oleh orang lain.

Di dalam proses memproduksi secara massal, kita sangat membutuhkan manusia dengan berbagai jenis dan tingkat keahlian. Oleh karena itu, Illahi menciptakan orang-orang yang ber IQ tinggi tidak banyak jumlahnya, karena penemu tidak perlu banyak dan IQ bukan segala-galanya. Jadi, keliru bila menganggap bahwa orang ber IQ tinggi adalah orang-orang istimewa. Semua orang adalah istimewa, ini diakui oleh Thomas Armstrong bahwa setiap manusia terlahir jenius, kekeliruan kita menggunakan IQ sebagai satu-satunya ukuran kejeniusan. Menurut Armstrong, kejeniusan itu ada dalam setiap diri manusia. Dan dalam surat Albaqarah, Allah menegaskan bahwa “setiap manusia direncanakan sepenuhnya untuk apa ia lahir!.

Alangkah indahnya hidup ini jika suasana kolaborasi itu sudah terbangun sejak belajar di sekolah. Tidak ada yang merasa lebih hebat dari yang lain. “Aku menyumbangkan ini, dan kamu telah memberikan ini pada ku!”….”mari kita terus bergandeng tangan menuntaskan semua persoalan dalam hidup ini…hayoooooo!”. Dialog yang indah!.

Untuk itu, sebuah kekeliruan besar ketika kita mengelompokkan anak dengan kategori, sekolah unggul, kelas unggul, kelas reguler dan sebagainya. Sekolah unggul hanya untuk anak yang diangap unggul, kelas unggul adalah untuk anak yang lebih unggul lagi dan seterusnya. Kehadiran sebuah sekolah dalah untuk membangun masyarakat sekitarnya, bukan untuk membangun elit-elit terpelajar. Di negeri ini, ada orang tempat tinggalnya bersebelahan dengan pagar “sekolah unggul”, tapi ia tidak mendapat tempat di situ karena dia dianggap “tidak layak bersekolah” di sekolah unggulan, terpaksa ia berjalan kaki bekilo-kilo meter dari rumahnya mencari sekolah yang “ramah” padanya!.

Inilah yang membentuk sikap elitisme pendidikan yang akhirnya membuat jarak antara sesama manusia. Elitisme pendidikan adalah salah satu bentuk pengingkaran terhadap amanah Illahi!.

Pendidikan dan agama tidak dapat dipisahkan karena kehadiran agama adalah untuk mendidik manusia. Agama mewajibkan kepada orang yang tahu untuk mengasih tahu orang yang belum tahu. Ketika ada orang yang datang kepada kita untuk minta untuk belajar, agama melarang kita untuk menolaknya. Orang itu harus dilayani, dan jika ada 2 orang anak manusia yang datang untuk belajar, yang satunya “sudah pintar”, atau “sudah bisa atau mahir”, dan yang satunya “belum bisa apa-apa”, Agama memerintahkan kepada kita untuk memprioritaskan yang “ belum bisa apa-apa” karena yang sudah mahir tinggal diberi tantangan yang lebih tinggi, dan dia juga bisa menjadi “guru” bagi yang belum mahir. Apabila, kita merasa “berilmu tinggi”, dan bekerja sebagai pengelola sekolah unggulan, dengan guru yang bermutu, sarana yang lengkap, kita berkewajiban untuk memprioritaskan orang-orang yang belum bisa/belum mahir. Ini jika kita memiliki nurani sebagai pendidik!

Cara belajar yang terbaik menurut ajaran Agama adalah dengan mempertahankan heterogenitas para peserta didiknya, heterogintas itu dapat bersifat horizontal dengan keahlian yang berbeda, misalya Si A ahli matematika, si B Ahli Seni, ketika kedua anak ini berkolaborasi, terciptalah sebuah hasil karya yang akurat namun bernilai seni yang tinggi. Heterogenitas juga bersifat vertikal, anak yang telah mahir akan semakin mahir apabila ia berkolaborasi dengan anak yang belum mahir, sementara anak yang belum mahir akan lebih mudah belajar dari teman sebayanya yang sudah terlebih dahulu mahir. Cara belajar yang demikian akan membangun “mozaik” kehidupan yang indah dan harmonis. Masing-masing anak akan saling menghargai antara satu dengan yang lainnya. Akan muncul saling mengapresiasi. Situasi yang sangat dan sangat diimpikan bangsa kita saat ini.

Hasil pendidikan yang demikianakan sangat kontras dengan hasil pendidikan yang kita rasakan saat ini. Dalam notes yang lalu (Rangking yang Mematikan –episode 1) telah ungkapkan mengapa bangsa kita tumbuh menjadi bangsa yang “egois”, dan “saling mematikan” satu sama lain dan kaitannya dengan tumbuh suburnya perilaku korupsi serta kejahatan lainnya.

Pihak sekolah (lembaga pendidikan) biasanya menggunakan label “unggul” untuk menolak anak yang menurut mereka tidak layak masuk ke sekolahnya. Sekolah unggul hanya menyediakan tempat bagi anak yang unggul. Jika kami menerima anak yang tidak “unggul” kami tidak bisa jamin anak ini bisa mengikuti pelajaran di sekolah kami, kasihan mereka akan “keteter” mengikuti cara belajar teman-temannya. Lagi pula, hasil anak yang tidak unggul ini jika di rata-ratakan, akan mempengaruhi pencapaian peringkat sekolah kami yang selama ini sudah ternama”. “Di samping itu, daya tampung kami terbatas, kami terpaksa harus melakukan seleksi, siapa yang terbaik, itulah yang masuk ke sekolah ini. Wajarlah jika kami ingin anak-anak yang terbaik”. Ini ungkapan sekolah dalam menanggapi mengapa mereka harus menseleksi anak yang masuk ke sekolahnya.

Mengapa sekolah unggul (yang memiliki guru yang berkualitas unggul, berpengalaman pelatihan di mana-mana, sarana yang lengkap dan unggul, anggaran yang besar) mengandalkan “kemampuan atau keunggulan awal anak/input/intake” untuk menjamin keunggulannya, bukan kualitas layanan yang ia berikan? Sehingga anak-anak yang tadinya tidak “unggul” menjadi unggul.

Pada hal, sekolah-sekolah unggul tersebut akan semakin teruji keunggulannya ketika ia berhasil mendidik “anak pintar” dan anak yang berkemampuan biasa-biasa saja lalu mampu berprestasi terbaik sesuai keahliannya. Di dalam diri anak yang “tidak pintar” itu tersimpan berjuta kesempatan bagi guru untuk mendapatkan ilmu bagaimana menangangi anak yang tadinya tidak bisa apa-apa, lalu menjadi “bisa” karena ia mampu mengenali potensinya yang sesungguhnya. Teori-teori pendidikan yang lahir dari para ahli yang melambungkan namanya, bukan lahir dari pengalamannya menangani anak pintar, tapi justeru lahir dari anak-anak yang bersmasalah, sebut saja Piaget, Palmer, Thomas Armstrong, Howard Gardner dan sebagainya. Mereka para pahlawan pendidikan yang justeru mendapatkan ilmu yang mendalam ketika berhadapan dengan berbagai persoalan yang dialami oleh peserta didik.
Nelayan yang tangguh tidak akan pernah lahir dari laut yang tenang!.

Elitisme Pendidikan

Elitisme pendidikan berawal dan berkembang sejak awal abad ke-19 di Amerika. “Pada tahun 1817, Thomas Jefferson meminta persetujuan legislatif Virginia untuk menyediakan pendidikan 3 tahun bagi semua anak Virginia (wajib belajar 3 tahun) atas biaya negara bagian. “Setelah tiga tahun”, ujranya, “kita kelompokkan anak-anak itu, siapa yang ditakdirkan untuk bekerja dan siapa yang ditakdirkan untuk menikmati hidup dan belajar. Anak-anak yang ditakdirkan untuk bekerja kita kirim sebagai tenaga kerja di toko-toko atau di ladang. Mereka yang ditakdirkan untuk menikmati hidup dan belajar kita arahkan ke perguruan tinggi.”(Adler, Mortinimer J : 2009:1)

Pada pertengahan abad ke-19, Horace Mann berjuang untuk meningkatkan wajib belajar dari 3 tahun menjadi 6 tahun. Keberhasilan usahanya itu tanpa disertai sanggahan terhadap usulan Jefferson yang memisahkan anak-anak yang ditakdirkan menjadi buruh, atau ditakdirkan untuk menikamti hisup dan belajar. Pada tahun 1916, bersamaan dengan terbitnya buku Democracy and Education oleh John Dewey, cita-cita pendidikan untuk demokrasi pertamakali diusulkan oleh seorang pendidik terkemuka saat itu, John Dewey. Bagi Dewey, semua anak dalam masyarakat demokratis memiliki takdir yang sama dan karena itu harus menerima atau mendapatkan layanan pendidikan yang sama-sama berkualitas. Dan menurut Dewey, semua anak ditakdirkan untuk menikmati hidup, belajar dan bekerja. (ibid)

Upaya Dewey ini masih dalam perjuangan sampai sekarang, termasuk di Amerika. Dan hal yang sama juga terjadi di negeri ini, karena negeri ini selalu bercermin kepada negara adikuasa dan negara-negara yang sealiran denganya sampai-sampai kita “melupakan” agama sebagai basis penyelenggaraan pendidikan. Lalu kita membuat dikhotomi antara pendidikan umum dan agama, atau sekolah umum dan agama. Pendidikan atau pembelajaran ilmu umum untuk hidup, dan ilmu agama untuk “akhirat”. Pola ini sebetulnya mengimplementaikan pemikiran sekuler. Pada hal konsep pendidikan yang melekat dengan agama itu pernah menguasai negeri ini dalam bentuk Surau di Miangkabau, Padepokan-Padepokan dan Pesantren (zaman dulu) di Jawa. Kita lihat bagaimana berkibarnya seorang Buya Hamka, Raja Ali Haji, Hatta, dan sebagainya, mereka mendunia lewat institusi pendidikan yang menyatu antara “agama, pendidikan, dan budaya. Mereka bukan lahir dari “SBI” sebagaimana yang marak saat ini.

Nampaknya memang sulit bagi kita untuk menerima bahwa “semua anak itu istimewa” dan apalagi memikirkan bahwa mereka punya hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang prima sesuai dengan potensinya.
Sepertinya, ada yang salah dalam cara berfikir kita, kita selalu melihat gunung dari laut, sehingga kita dihantui betepa sulitnya untuk mendaki gunung itu, coba kita berpindah “tempat berdiri” dan “hamipiri” gunung itu, sangat besar kemungkinan pemikiran kita akan berbeda…………..semoga semangat Dewey ini terwujud, karena ini senafas dengan ajaran Agama yang kita anut……..selamat berjuang para sobat, tunggu episode berikut dengan tema “Atasan yang Kejam”. (bersambung)… Jakarta, 9 Mei 2012

2 Responses to “Sebuah Impian (18) : Rangking yang Mematikan…!!! (2)”

  1. What a great enlightenment, Pak Zul….. Keep up the good job…..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: