SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (17) : Rangking yang Mematikan….! (1)

Posted by Zulfikri Anas on May 14, 2012

Sahabat Kecilku di Melonguane, Kep Talaud

Sore kemarin saya mampir ke rumah seorang teman, begitu sampai di rumahnya, ia melihat rapor tengah semester anaknya –saya lupa menanyakan anaknya itu kelas berapa– tapi dugaan saya antara kelas 2 atau kelas 3 SD. Sambil melihat rapor itu:“koq turun Dhek?”, “kemarin ranking satu terus, sekarang rangking dua”, gumamnya. Saya tidak terlalu menanggapinya saat itu karena menurut saya itu hal yang wajar, dan dalam hati saya bicara “hari gini masih mempersoalkan ranking berdasarkan nilai rata-rata!”. Aneh!

Momen itu berlalu begitu saja, lalu kami ngobrol ke sana-kemari. Selesai Sholat Magrib, sesaat sebelum saya berpamitan pada keluarga teman saya itu, anaknya kelihatan lesu menunggu loading komputer yang telalu lama. “Komputer ini banyak virusnya, pada hal ia sangat kepingin main game”, kata pamannya yang duduk di sebelahnya.

Teman saya ini memegang pundak anaknya sambil menghibur, “kenapa tho Dhek?, habis kamu terlalu “royal” sama teman, semua yang kamu ketahui kamu bagi sama teman, akhirnya kamu disalib”.

Teman saya paham bahwa ini pengingkaran terhadap firman Illahi yang menyatakan b: “bagi orang tahu, wajib hukumnya memberi tahu orang belum tahu”. Awalnya si anak telah menjalankan amanah itu dengan baik sehingga dia tanpa beban membagi ilmunya pada temannya, namun…kondisi “memaksa” dia untuk “kapok” melakukan itu. Betapa teganya kita pada mereka!, sengaja merusak sesuatu yang telah ia bangun dengan baik!.

Sambil melihat pada saya, teman saya itu melanjutkan bicaranya “Ya anak saya ini terlalu baik sama teman, sekarang yang jadi ranking satu itu temannya yang suka dia bantu selama ini, karena sering diberi tahu, sekarang temannya menyalib dia”. “Gimana ya kita, mau melarang dia membantu temannya ya ngga mungkin, berarti dia harus jadi orang yang egois. Namun jika dibiarkan, jadinya begini…..bingung jadinya” .

Tiga kalimat terakhir yang diucapkan teman saya itu yang mengganggu pikiran saya, spontan saya bilang, “naaaah…itulah bahayanya me-rangking anak dengan nilai rata-rata”………..

Dia spontan lagi menjawab “ lho kan memang begitu sistem pendidikan kita!”

“Itulah kekeliruan kita”, jawab saya lagi.

Bertahun-tahun saya menyuarakan ini kepada teman-teman guru di sekolah, supaya mereka jangan menggunakan rangking berdasarkan nilai rata-rata, namun pikiran saya ini dianggap “menyimpang”. Memang belakangan ini banyak sekolah yang secara eksplisit tidak mencantumkan rangking di rapor, namun secara implisit tetap ada “ada rangking” hal ini terbukti dengan dicantumkannya nilai rata-rata kelas di rapor. Suatu saat saya mendampingi anak saya mengambil rapor, di sekolahnya tidak ada rangking, tapi wali kelasnya mengatakan pada anak saya, “jika kamu sedikit lebih sabar dan teliti, kamu bisa memperoleh nilai tertinggi di kelas ini, kamu janji akan menjadi yang tertinggi pada semester depan?”.

Anak saya menganggukan kepala, pertanda dia hormat pada gurunya. Oleh karena berbagai pertimbangan, salah satunya karena banyak yang antri menunggu giliran, lalu saya diam sambil tersenyum. Namun, kepada anak saya, saya ingatkan agar ia berani menunjukkan bahwa ia berbeda.

Bila kita mencari nilai rata-rata tertinggi di kelas, sudah bisa dipastikan yang akan meperoleh itu hanya satu orang, walaupun kadang-kadang ada “juara kembar”, tapi itu tetap salah satunya akan menjadi nomor dua. Menggunakan nilai rata-rata sebagai dasar untuk merangking anak sama dengan “meracuni” dan “membunuh” mereka secara perlahan-lahan, sifat-sifat humanis (kemanusiaan) nya makin lama makin hilang, dan bila ini terjadi, lama kelamaan mata hatinya akan tertutup. Bila ini terjadi, manusia akan “meninggal” sebelum ajalnya datang!.

Matinya sifat-sifat Humanis pada Anak

Ada beberapa dampak psikis pada anak dengan sistem ini, pertama, anak yang juara, bila ingin tetap juara, ia harus menjadi “egois” tidak akan mau berbagi ilmu dengan temannya, jika dibagi, resikonya seperti yang dialami anak teman saya tadi. Banyak anak yang mengalami hal ini, seperti halnya yang saya alami sendiri, sedih rasanya menjadi orang yang bukan juara, kita selalu dibandingkan dengan anak yang selalu juara, sedikit-sedikit, “contoh tuh si Erwin!. Begitulah cara orang tua kita dulu pada kita yang biasa-biasa saja. Saya merasakan seperti itu sejak dari SD, SMP, dan SMA, dan dampaknya saya rasakan sampai sekarang, untungya selama di SMP saya sempat juara, meskipun hanya juara kelas. Hati orang tua saya sedikit terhibur. Dalam kerja kelompokpun teman saya yang “hebat” itu selalu berusaha sendiri , hampir tidak mempercayai teman sekelompoknya, dan karena takut kehilangan angka, ia “rela” berkorban dengan cara mengerjakan semua tugas-tugas kelompok itu, hasilnya “wow” terbaik di kelas, anggota kelompok yang lain bersorak gembira karena merasakan mendapat nilai tertinggi juga tanpa harus mengeluarkan energi yang terlalu banyak. Dalam tingkat tertentu, bagi anak yang “pintar” kerja kelompok sama dengan menyiksa diri, makanya dia lebih suka berkompetisi secara pribadi.

Dalam pemilihan ketua OSIS, teman saya yang juara umum memiliki khans yang lebih besar untuk terpilih, di samping banyak pendukung dari siswa, semua guru juga seolah-seolah “mendorong” agar dia jadi ketua OSIS. Setalah terpilih, dia menjadi otoriter, tidak mempercayai teman, apabila ada persoalan, dia sangat cepat mencari kambing hitam. Begitu muncul ribut-ribut mempersoalkan dia, guru lebih memihak padanya. Ia anak pintar!

Memang ada beberapa pengecualian, saya pernah ketemu anak pintar yang baik, santun, dan suka membantu, setelah ditelusuri, ternyata dia berasal dari keluarga sederhana yang terbiasa berjuang keras membantu ekonomi keluarganya. Ini pertanda bahwa persoalan mendewasakan cara berpikir kita, sebaliknya bila anak dibesarkan dengan cara meminimalkan persoalan dengan alasan agar konsentrasi belajarnya tidak terganggu, maka kelak dia akan menjadi orang yang berketergantungan tinggi pada keadaan atau orang lain.

Dampak berikut, di samping ia “dipaksa” untuk egois, ia juga “dipaksa” untuk menjadi orang super. Ia harus senantiasa mencapai nilai tertinggi di semua mata pelajaran. Untuk mempertahankan rangkingya, ia akan berusaha sekuat tenaga merata-ratakan nilai semua mata pelajarannya. “Hampir di semua mata pelajaran nilai anak saya ini tertinggi, seperti Agama, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, hanya karena dia kurang di Olahraga, Seni, dan Keterampilan dan setelah di rata-rata dia berada di bawah temannya, makanya rangkingya jatuh, kakaknya juga begitu, karena ada mata pelajaran yang tidak begitu dia kuasai meskipun tidak jelek-jelek amat, namun itu mempengaruhi jumlah perolehan nilai keseluruhan, akibatnya rangkingya turun”, demikain ungkap teman saya tadi mengulas tentang beberapa hal yang menurutny a mestinya bukan begitu.

Dan bagi anak yang rangking di bawah, apabila ingin mendapat rangking satu ia akan bekerja keras untuk meraihnya, untuk sampai ke puncak, ia harus menurunkan temannya yang tadi di posisi itu. Ini berarti kita telah “menanamkan” sikap untuk saling “mematikan”. Agar kita bisa naik, turunkan orang lain, jika perlu dengan cara yang curang, asal tidak diketahui orang.

Berbagai penelitian mengungkapkan ada kecenderungan anak-anak kita selalu memandang sesuatu dari menang-kalah. Saya harus menang, kamu harus kalah!. Apapun caranya akan ditempuh, cara-cara instan, curang, nyogok dan sebagainya. Mungkin ini pula yang mewarnai sikapnya setelah dewasa, kalau ada 5 calon Bupati/Walikota, Gubernur atau Presiden, semuanya harus menang, yang kalah tidak terima dan mencari-cari kesalahan yang menang. Yang menangpun tidak kalah pintar, berusaha sekuat tenaga dengan segala upaya agar tetap menang, dan setelah menang terus berupaya “menindas” lawan yang kalah, termasuk menindas orang-orang yang tadinya pendukung lawannya, meskipun sekarang orang itu telah menjadi anak buahnya. Suatu saat nanti, yang kalah tadi akan mencari celah, dan jika ia menang akan terjadi balas dendam, begitulah seterusnya. Dendam tiada akhir!.

Pengingkaran terhadap firman Illahi yang berikutnya, “Setiap manusia direncanakan dengan mata oleh Illahi untuk apa ia dilahirkan. Setiap nyawa yang Aku berikan, aku rencanakan untuk apa ia hidup, kepada setiap nyawa itu Aku titipkan peran yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ini menujukkan bahwa Allah tidak mengenal “produk gagal” . Setiap manusia memiliki keistimewaan, apapun kondisinya terlahir. Semua manusia adalah sang juara di bidang masing-masing. Mestinya, semua anak adalah rangking satu di bidangnya.

Terbiasa Mejadi Orang Super

Bahaya berikut adalah: apabila anak terbiasa selalu berusaha untuk menjadi “orang super” dengan berupaya terus mencapai nilai tertinggi untuk semua mata pelajaran, lama kelamaan dia menjadi tidak tahu kekhasan kemampuannya, ia tidak tahu persis di mana keunggulan atau kelemahannya yang sesungguhnya, yang ia tahu adalah dia yang terbaik dari semua anak di kelas atau di sekolah, dan dia tidak mau kehilangan “sebutan terbaik” walau hanya satu kali dalam hidupnya. Lama kelamaan dia akan semakin sulit menerima “kekalahan” , apa lagi untuk menghargai “kelebihan orang lain”.

Orang bijak sering bilang, apabila “seseorang tidak paham dengan keunggulan dan kelemahan dia yang sesungguhnya, maka itulah awal kehancuran hidupnya karena dia tidak akan mampu merencanakan masa depannya dengan baik.

Dampak selanjutnya, “anak super” ini akan diperlakukan istimewa oleh sistem. Dengan alasan supaya ia bisa konsentrasi tinggi, anak tersebut dibebaskan dari tugas-tugas domistik rumah tangga, bermain dan bergaulpun dibatasi. Orang tuanya tidak ingin konsentrasi belajar anaknya terganggu, di sekolahpun begitu, hampir semua “kesalahan” nya “dimaafkan” dengan mudah, bahkan si anak pintar ini tidak jarang “disterilkan” dari persoalan-persoalan keseharian, semuanya dibereskan oleh orang tua dengan alasan “memberi ruang dan waktu untuknya buat belajar”, agar bisa bekonsentrasi penuh untuk belajar, agar prestasinya tidak menurun dan berbagai alasan lainnya.

Si anak pintar ini tiba-tiba berlari masuk kamar dan mengambil buku ketika nenek dan saudara-saudara sepupunya datang dari kampung. Beberapa menit kemudian Ibunya membawakan rambutan kesukaanya yang dibawa neneknya dari kampung itu, saking asyiknya belajar dia lupa bertanya pada ibunya: “ini rambutan dari mana Bu?”, atau bahkan ia lupa mengucapkan terimakasih pada ibu dan neneknya. Sang Ibu bangga bahwa anaknya tidak mau kehilangan waktu belajar, pagi sampai siang belajar di sekolah, siang sampai sore dihadapan buku, malampun buku, tiada hari tanpa buku. “Semalam anak saya belajar sampai jam 02.00 dini hari”, kata ibunya membanggakan anaknya pada tetangga.
Pokoknya, asal dia mau belajar, semua kemauannya diikuti, dilayani dengan baik, apabila dia ngambeg dibujuk-bujuk. Begitu juga di sekolah, ia menjadi murid kesayangan semua guru, ketika ia terlambat datang ke sekolahpun dipuji di depan teman-temannya, “nah coba kalian liat, si Ayu ini terlambat pagi ini karena ia belajar sampai jam 02.00 malam”, sambil si anak pintar dielus-elus. Beberapa menit kemudian, ada lagi anak yang terlambat, tapi anak itu rangking terakhir di kelas, sikap guru berubah 180 derajat. “Nah kamu!, mau jadi apa kamu, sudahlah tidak bisa apa-apa, terlambat lagi! , seru gurunya.

Pengingkaran firman illahi berikutnya ketika kita berlomba-lomba memrikan perhatian lebih kepada anak yang “pintar” sementara yang kita anggap tidak pintar kita biarkan. “Jika ada 2 orang yang kepada mu untuk belajar, yang satu sudah bisa sementara yang satunya belum bisa,. maka kamu harus prioritaskan yang belum bisa yang sudah bisa tinggal ditantang agar mau memberikan ilmunya pada teman yang belum bisa”. Ini perintah agama. Bagi kita anak “pintar” mendapatkan layanan istimewa dari guru istimewa dan dari sekolah yang istimewa, sementar a anak yang lemah akan dapat sekolah yang lemah, guru yang lemah fasilitas sedanya, pada hal jumlah mereka lebih banyak. Jika ini berlanjut terus, maka instusi pendidikan kita kan memproduksi orang-orang lumpuh. “Da n jangalah kamu menginggalkan generasi yang lemah di kemudaian hari. Ini Firman Illahi

“Si anak super” itu menjadi terbiasa dilayani, dan sistem pendidikan pun “berpihak” padanya, ia akan mudah diterima di sekolah favorit. Ia bisa dengan mudah masuk perguruan tinggi dengan pilihan jurusan yang ia suka, dan tak jarang pilihahnya jatuh pada bidang yang sesungguhnya bukan potensi dirinya yang sebenarnya, ia pilih jurusan itu karena gengsinya tinggi, dan nilai yang ia peroleh cukup memudahkan dia untuk masuk. Dan masuklah dia ke “kedokteran”, ia diterima dengan baik, pada hal sesungguhnya potensi dirinya lebih cocok pada “teknik mesin”, dan salah satu kebiasaanya adalah selalu dilayani dan tidak tidak suka melayani orang. Bisa dibayangkan “konflik” yang terjadi pada dirinya selama hidupnya nanti. Mudah-mudahan dia bukan jadi dokter jadi-jadian.

Si anak super ini juga mudah mendapat pekerjaan, karena dia mampu mempertahankan nilai tertinggi sejak dari TK sapai sarjana dan lulus dengan waktu yang tercepat dengan IP yang nyaris sempurna, lalu semua instansi, perusahaan berlomba untuk “menarik” dia. Dengan mudah dia memilih profesi yang menurutnya “bergengsi”. Jadilah seorang karyawan yang disanjung karena kepintarannya, kepintarannya membuat orang berdecak kagum, karirnya melejit, dalam waktu singkat di berhasil menjadi pimpinan tertinggi di tempat ia bekerja, jika di instansi pemerintah dia jadi pejabat tertinggi dalam usia yang begitu muda, atau jika diperusahaan swasta ia telah menjadi manajer.

Tapi apa daya, karena terbiasa dilayani, dan hampir semua persoalannya selama ini diatasi oleh orang lain, ia minta dilayani, ia tidak mempercayai orang lain apalagi bawannya, ia tidak mau disaingi, tidak mau berbagi kecuali pada orang-orang tertentu yang ia suka (atau kelompok yang mendukung dia), dan ia mudah “gambeg”. Gampang mengeluh apabila ada persoalan, dia baru bisa bekerja dengan baik apabila tidak ada gangguan sama sekali. “Saya harap semua kita harus satu kata, jangan ada yang berbeda, dan coba lihat apa yang bisa kita kerjakan kalau kita diganggu terus, singkirkan saja orang-oarang atau karyawan yang demo itu, kita tidak bisa bekerja apabila mereka ribut terus, mereka orang-orang yang tidak punya kemampuan apa-apa, paling nanti dia merengek minta pekerjaan”, katanya dalam sebuah rapat tertutup. Jik ada yang protes ia akan menyuruh orang lain yang menghadapinya, dan kalau perlu dicari kelompok tandingan. Dalam situasi gawat, dia akan berlindung di balik anak buahnya.

Mungkin ini jawaban mengapa bangsa kita seperti ini. Setiap pemimpin di bidang apapun, pada level manapun, mereka lebihmemilih menyelamatkan “kelompoknya” daripada berpihak pada orang banyak. Mungkin ini pula yang menyebabkan mengapa korupsi begitu mengakar dan sulit diberantas di negeri ini. Bagaimana jadinya jika pemegang jabatan strategis adalah anak-anak yang tadinya “anak super” yang kehilangan nurani akibat situasi yang dialaminya sejak masa-masa awal dia belajar sampai ia menamatkan pendidikan pada jenjang tertinggi.

Ado Nyao Ado Rasaki (Setiap Nyawa Punya Rezeki)

Tidak hanya mereka yang dapat rangking yang jadi korban dengan sistem nilai rata-rata ini. Kita-kita yang biasa-biasanya ini juga sebagai korban, agar tidak merasa ketinggalan, semua kita “dipaksa” untuk me-rata-ratakan pencapaian nilai semua mata pelajaran, tidak hanya itu, semua penampilan, produk dan perilaku harus ada dalam wilayah rata-rata. Ketika kita menghasilkan sesuatu yang berbeda, lalu kita dikomentari “ lho, kamu koq begitu?, teman-temanmu tidak ada yang begitu. Setiap kali kita menunjukkan sesuatu yang berbeda, selalu “dipaksa” untuk ke wilayah “common”. Kondisi ini seakan membawa kita ke alam “generalis”, dan menghilangkan keberbedaan. Sementara dalam hidup kita dituntut untuk menuju suatu titik tertentu. Akibatnya, sampai tamat SMA kita bingung mau melanjutkan ke mana, dan bahkan setelah jadi sarjanapun bingung mau kerja di mana, atau kerja apa, atau keahliannya apa. Pada saat tes melamar pekerjaan, ada pertanyaan penguji “berapa gaji yang kamu inginkan?, kita tidak mampu memberikan jawaban yang pasti karena kita tidak mampu mengukur kontribusi kita pada perusahaan. Ini pertanda bahwa kita tidak “mengenal” kemampuan kita sendiri.

Ini pengingkaran makna pendidikan sebagaimana yang dinyatakan oleh Engku Sjafei dengan pemikiran yang basis agama Islam yang kuat, Beliau menyatakan bahwa Pendidikan adalah “upaya membantu anak untuk berkemauan keras dalam memilih arah jalan hidupnya sendiri”.

Semua ini akibat kekeliruan kita memahami pemberian “reward” pada anak, kita memberikan penghargaan kepada anak sesuai dengan “selera” kita, bukan berdasarkan spesifikasi dan karakteristik kemampuan yang ditunjukkan oleh setiap anak. Allah memberikan “reward” kepada siapapun, kata orang Minang “Ado nyao ado rasaki” (setiapyang bernyawa memiliki rezeki). Sistem perengkingan yang berlaku di negeri ini hanya memberi peluang pada “SATU ORANG ANAK”, meskipun seolah-seolah sistem ini memberikan kesempatan kepada semua anak, namun karena kriteria untuk mendapatkan itu “HANYA SATU” maka sesungguhnya peluang itu hanya satu, atau SATU PER EMPAT PULUH, jika anak di kelas itu ada 40 anak. Sementara Allah memberikan penghargaan EMPAT PULUH PER EMPAT PULUH, peluang yang diberikan Allah 100%. Ini pengingkaran kaidah agama yang berikutnya. Jangan sampai kita merasa lebih mampu menentukan siapa-siapa yang berhak untuk mendapat penghargaan dari pada Zat yang lebih berkuasa di alam ini.

Untuk itu, harus ada keberanian kita semua untuk mengubah sistem yang berlaku, dan stop perengkingan dengan nilai rata-rata. Sudah terlalu lama –puluhan dan bahkan mungkin ratusan tahun– sistem pendidikan kita “dikuasai” oleh cara-cara yang demikian, dalam sistem seperti ini manipulasi dalam pendidikan sangat mudah dilakukan. Dan jika manipulasi itu mewarnai pendidikan, maka bangsa yang akan tumbuh adalah bangsa yang “manipulatif” pula. Mungkinkah ini yang telah terjadi di negeri tercinta ini?, mudah-mudahan tidak!. Mengubah sistem ini tidak perlu mengubah kurikulum, dan kebutuhan utama negeri ini bukan perubahan kurikulum,melainkan mengubah mindset atau paradigma sehingga cita-cita pendidikan yang mengembangkan potensi setiap individu dapat diwujudkan. Yang bermasalah di negeri ini bukan kurikulumnya, tapi manajemen pengelolaan kurikulum yang didasari mind-set para pengambil kebijakan dan pelaku di lapangan.

Jalan itu Tidak Selalu Lurus

Orang-orang yang sebagian besar sejarah perjalanan hidupnya “selalu mulus” dan “difasilitasi” sangat mudah kehilangan kepercayaan dirinya, ia selalu membayangkan jalan itu LURUS, MULUS, LEBAR, TIDAK ADA TANJAKAN, TIDAK ADA TIKUNGAN dan TIDAK BOLEH ADA GANGGUAN, TIDAK BOLEH ADA ORANG YANG BERLAWANAN ARAH. Pada hal Allah menyediakan jalan dalam berbagai bentuk, kadangkala jalan itu berupa tembok tinggi yang harus dipanjat, atau jurang dalam yang harus dilompati, sungai lebar yang harus diseberangi, lautan bergelombang yang harus diarungi, atau tali genting yang nyaris putus yang harus digelantungi. Dan semua perangkat untuk menempuh jalan itu sudah disiapkan jauh sebelum kita menemukan jalan itu. Allah itu menyediakan “jalan” bukan persoalan, persoalan sengaja diberikan kepada setiap manussia agar manusia yang bersangkutan menemukan jalan yang telah disiapkan Allah. Ini terbukti dengan firman-Nya: tidak ada pesoalan yang tidak ada jalan keluarnya, dan persoalan yang diberikan kepada manusia selalu lebih kecil dari kemampuan, dan kemampuan selalu lebih dulu diberikan daripada persoalan. “Ditundukkan alam raya kepada manusia!”. Indak do kusuik nan ndak salasai, indak karuah nan ndak bisa dijaniahkan (semua kusut dapat diselesaikan dan semua keruh dapat dijernihkan). Sesulit apapun persoalan yang dihadapkan pada kita, ada jaminan pasti ada jalan keluarnya jika kita mau dan menyadari kemampuan yang diberikan oleh Illahi.

Tidak ada larangan untuk merangking anak, tapi buatlah kriteria sebanyak-banyaknya sehinga ada anak yang juara matematika, juara bahasa, juara disiplin, juara rapih, juara tangjawab, ada ratusan bahkan jutaan kriteria yang dapat diciptakan sehingga setiap anak menemukan arah jalan hidupnya masing-masing sejak dini. Inilah cita-cita Engku Sjafei pada saat membangun INS Kayutanam. Inilah sang juara sejati hasil kompetisi yang sejati!.
Pepatah Minang: Si Buto paambuih lasuang, si Pakak palapeh badia, si Lumpuah panunggu jamua. Yang Buta tugasnya meniup debu dalam lesung, yang tuli membunyikan bedil, dan yang lumpuh menjaga padi yang dijemur agar padinya tidak dimakan ayam. Semua berperan, semua sang juara di bidangnya masing-masing.

Jadilah dengan Jati Diri yang Kuat

Pelaut tangguh tidak pernah lahir dari laut yang tenang, sebagai manusia kita harus mampu menempuh jalan yang disediakan Allah di hadapan kita, apapun bentuknya. Betapa bahagianya seorang pelaut yang dengan gagahnya kembali ke pelabuhan setelah “mengalahkan” gelombang dahsyat yang memainkan “nada-nada” indah dalam kehidupanya. Betapa hebatnya, seorang yang mampu melewati seutas tali genting yang hampir putus. Bekerja adalah rekreasi terbesar sehingga mendapatkan kebahgiaan yang hakiki.

Batenggang di banang sahalai, buktikan bahwa kamu mampu melewati sehelai benang yang hampir putus, jika kamu berhasil melewati kawat baja yang super kuat, siapaun bisa melakukannya. Di sinilah perbedaan derajat manusia, sukses dengan melewati rintangan, bebeda dengan sukses yang dikondisikan.

Hai anakku…….jadilah pemenang sejati, karena semua manusia adalah pemenang. Pertarungan milyaran sel sperma hanya untuk mebuahi satu sel ovum, dan sel ovum itu dilindungi dengan sangat ketat sehingga barikadenya tidak mudah ditembus. Hanya satu sel sperma yang akan jadi pemenangnya, dan itulah kamu.

Anakku, tunjukan jati dirimu, tunjukkan kekhasanmu, dan tunjukan keistimewaan dirimu, kamu tidak perlu menjadi orang “super” yang serba bisa, apalagi serba tahu, semua itu hanya semu. Juara dengan nilai rata-rata itu adalah juara semu. Dan yang harus kamu tau, keistimewaan yang ada dalam dirimu itu adalah fitrah dan janjimu dengan Sang Khalik ketika kamu menerima ruh dalam rahim ibumu. Dan kamu juga harus paham sepaham-pahamnya bahwa kamu pasti membutuhkan orang lain karena orang lain juga memiliki keistimewaan yang tidak kamu punyai dan kamu membutuhkan itu.

Tempuhlah jalan yang ada di depan mu, apapun bentuknya, kadangkala kamu “dipaksa” mendaki jalan terjal, atau meniti tali yang hampir putus. Itulah jalan yang terbaik bagimu saat itu, teruslah berjalan persiapkan dirimu dengan baik…….dan di seberang sana kesuksesan telah menunggumu sejak kemarin……………….. (Zulfikri Anas – Catatan antara Semarang dan Jakarta 22 April 2012) .

Bersama Sahabat Kecil di Manokwari

5 Responses to “Sebuah Impian (17) : Rangking yang Mematikan….! (1)”

  1. Akiko said

    Pak, setelah baca artikel bapak ini saya malah jadi berfikir bahwa sistem pendidikan yang sekarang dengan sistem remedi itu juga merupakan bentuk terparah dari pemaksaan kompetensi dan kemampuan anak. Saya sebagai wali kelas sekaligus guru, harus menyaksikan anak-anak didik saya mati-matian belajar matematika, bahasa Indonesia, ekonomi, dll hingga mencapai nilai tertentu (KKM) padahal mereka tidak menyukai atau bahkan berfikir bahwa pelajaran-pelajaran itu tidak mereka butuhkan.

    Saya menyaksikan betul anak-anak didik saya yang dipelajaran bahasa Inggrisnya jelek sekali, di suruh nyanyi pakai bahasa inggris, pronounciation-nya berantakan, tapi kalau nyayi bahasa indonesia dan nge-dance, dia jago sekali.
    Ada juga anak yang suka melamun di kelas, tidak tertarik hampir pada seluruh pelajaran di kelas, tapi dia utusan LPI sebagai pemain bola, dan tim-nya mendapat juara 3. Sayangnya anak-anak ini harus ikut UN untuk dapat lulus SMA, dan untuk lulus UN mereka membutuhkan pelajaran yang tidak mereka sukai/kuasai. Dipaksa belajarpun sulit sekali…

    • Ada yang salah dalam mensosialisasikan konsep “remedial”. Remedial bukan perbaikan “nilai” melalui ujian ulangan (her). Remedial adalah perbaikan kompetensi. Jika anak tidak bisa mengoperasikan matematika, tindakannya adalah membantu dia sampai dia bisa atau mampu. Jika anak punya persoalan dengan “pronounciation” bahasa Inggeris, maka remedial yang harus dilakukan oleh guru adalah “membantu anak” atau meltih anak sampai pronounciation-nya bagus. Kesalahan berikut adalah ketika “tes” atau ujian dilakukan “untuk mengambil nilai”. Tes atau ujian dilakukan untuk mencek apakah anak menguasai kompetensi tertentu atau tidak, jika hasil tes menunjukkan “tidak” jangan diambil nilainya, lakukan “perbaikan” pada pada kompetensi yang bermasalah itu. Artinya, konsep remedial adalah cara untuk membantu siswa agar mudah mencapai kompetensi. Sejalan dengan ini “KKM” adalah “hutang guru pada anak”, bukan sebaliknya, “hutang anak pada guru!”. Setelah guru yang bersangkutan menetapkan KKM (bukan KKM angka) tapi “kriteria ketuntasan minimum”, dalam artian “batas-batas minimum yang dapat ditolerir”. Setelah guru menetapan kriterianya (KKM), guru yang bersangkutan “wajib” membimbing sepenuhnya anak yang bersangkutan sampai anak itu benar-benar menguasai. Remedial sama dengan kita memasukkan kendaraan yang berasalah ke bengkel agar kendaran itu sehat kembali.
      Tidak ada ada persoalan dengan UN jika proses pembelajaran dilakukan dengan benar. Saya menyatakan ini sama sekali bukan karena “pro” pada UN. Saya tidak mau terjebak pada “pro” dan “kontra” UN karena hal itu membuang energi. Harusnya yang dipersoalkan bukan “ada” atau “tidaknya” UN, tapi validitas danreliabelitasnya UN. Sebuah evaluasi yang tidak valid dan tidak reliabel “haram” untuk dijadikan dasar keputusan, terlepas dari siapa yang melakukan evaluasi (internal atau eksternal). Jika ada keputusan yang diambi berdasarkan hasil evaluasi yang tidak valid, itu perbuatan dosa. Agama mengecam tindakan itu. “Jangan sekali-kali menambah atau mengurangi timbangan”.
      Dengan pola UN sekarang, andaikan anak dapat 2,5 (25%) dari hasil UN dia lulus, karena kelulusannya dipadukan dengan ujian sekolah. UN lebih banyak kognitif, sementara nilai sekolah kaya dengan muatan psikomotor dan afektif. Bisa saja anak mengalami sesuatu pada saat UN, sehingga hasilnya jatuh, namu nia akan “diselamatkan” oleh nilai sekolah (tentunya penilaian yang autentik dan obyektif). Artinya, kewajiban yang harus dipenuhi anak untuk lulus UN itu hanya (25%) saja dari 100% yang diajarkan. Jika ketuntasan minimun (bukan tuntas angka, tapi tuntas kompetensi) yang ditetapkan guru 65%, dan ini betul-betul pencapaian kompetensi minimal rata-rata untuk setiap KD, tentunya tidak sulit bagi anak untuk lolos dengan batasan 25%. Kecuali, kelulusan UN di atas ketuntasan minimum yang dicapai oelh guru. Jika untuk mencapai “25%” (2,5) itu bermasalah, berarti proses pembelajaran selama ini memang bermasalah. Dan kalau itu terjadi, mestinya yang “tidak lulus” itu gurunya, bukan “siswa-nya”. Ketika harus anak yang tidak lulus, namanya tidak adil, proses pembelajaran yang tidak beres, artinya “guru yang berhutang”, siswa yang membayar. Ini namanya penganiayaan!!!!.
      Dalam hal ini saya sama sekali tidak menyalahkan guru secar pribadi, yang salah adalah sistem yang “membina” guru kenapa hasil binaannya tidak memahami pendidikan yang sebenarnya. Atau jangan-jangan pembinanya juga tidak memahami apa itu pendidikan yang sebenar-benarnya pendidikan yang mendidik……Jika ini yang terjadi, inilah kecelakaan fatal yang terjadi di dunia pendidikan kita.

  2. Mantabbs nieh Artiklenya pak.. Smoga Seluruh Jajaran Pendidikan Membaca ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: