SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (16) “Sekolah Unggul?, Apanya yang Unggul!”

Posted by Zulfikri Anas on September 27, 2011

Sebuah sekolah disebut “unggul” karena didukung oleh tenaga kependidikan yang profesional, ahli mendidik, menguasai substansi yang diajarkan, mengenali siswa-siswanya dengan baik, paham betul dengan kebutuhan dan cara belajar siswa yang efektif, menguasai berbagai teknik penilaian sehingga mampu melakukan koreksi terhadap hasil belajar siswa dan koreksi terhadap proses yang dilakukan, menguasai teknik-teknik mengembangkan dan mengunakan berbagai sumber dan bahan ajar, metode pembelajaran dst. Ya…..itulah guru yang profesional di bidangnya. Sekolah dikatakan “unggul” juga di dukung oleh tenaga kependidikan non pendidik yang profesional, mampu mengadmistrasikan dan mendokumentasikan semua produk-produk sekolah, mampu mengurus keperluan manajemen sekolah dengan baik, semua unsur berperan dengan baik sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing sehingga sekolah tersebut mampu membangun sebuah sistem dan iklim kerja yang baik dan nayaman bagi semua pihak, terutama peserta didiknya. Terakhir, sekolah dikatakan “unggul” apabila didukung oleh sarana yang memadai, serba lengkap, dengan konsekuensi didukung oleh sumber dana yang memadai.

Betulkah begitu?…………jika kita berfikir linier, rasional dan normatif….YA! Dan untuk masuk ke sekolah itu tidak boleh orang sembarangan, seleksi yang ketat dengan kriteria anak harus “pintar dulu” baru punya akses, di samping itu, pastilah mahal!

Berkaca pada sumber daya yang dimiliki, tentunya sekolah “unggul” tersebut “siap” untuk menerima calon murid dalam kondisi apapun!, mereka tidak takut untuk menerima calon murid yang berkemampuan rendah –atau bahasa lain yang sering diungkapkan: murid berkebutuhan khusus, murid yang “bodoh” (saya sangat tidak suka dengan label yang satu ini), murid yang malas dan seterusnya—- karena di tangan guru yang profesional semua persoalan yang terkait dengan keterbatasan kemampuan, sikap dan perilaku siswa akan mampu dihadapi dan diselesaikan. Jika dan seandainya……..sekolah “unggul” tersebut “sangat takut” dengan anak-anak yang berkemampuan akademis rendah sehingga untuk masuk ke sekolah itu harus mengikuti seleksi yang super ketat……….yang harus kita pertanyakan adalah …..di manakah letak keungggulan sekolah itu?……., karena sebuah jala hanya mampu menjaring ikan-ikan yang “lemah”, ikan yang liar dan cerdas sudah pasti tidak akan terjaring!

Sekolah yang berani menyatakan dirinya sebagai “sekolah ungggul” harus berani menampung calon murid dengan kondisi apapun!, ini pendidikan dasar dan menengah lho……! cerita akan lain bila bicara perguruan tinggi yang akan mempersiapkan calon-calon ilmuwan…sementara kehidupan ini tidak hanya membutuhkan ilmuwan, kita juga butuh pelaksana, pekerja, teknissi, manejer, tukang sapu, security yang handal di bidang masing-masing, dan yang paling penting adalah kita butuh warga negara yang produktif (produsen) sekaligus juga sebagai konsumen yang cerdas, tidak diombang-ambingkan oleh produk-produk luaryang instan. Kita butuh semua keahlian……

Alasan klise……kita tidak mau “sekolah unggulan” “tercemar” oleh hal-hal yang seperti itu, di sini kami hanya mendidik anak-anak yang kemampuannya sudah jelas, arahnya sudah jelas, sangatlah merepotkan kami jika kami menerima murid-murid yang memiliki keterbatasan, terutama yang memiliki keterbatasan akademis sesuai dengan kriteria sekolah kami!. Bukankah ini hanya alasan untuk tidak mau repot?, tidak mau bekerja lebih keras lagi. Pada hal jika sekolah ungggulan mau menerima murid yang memiliki keterbatasan, sekolah tersebut memiliki peluang besar untuk menujukkan keunggulannya.

Parker J Palmer, seorang pendidik dengan nurani menyatakan bahwa “guru yang baik adalah guru selama tugasnya seringkali mengalami atau menghadapi masalasah-masalah rumit dan sulit”. Guru yang demikian akan menjadi guru (pendidik) yang sesunguhnya. Mengendarai mobil sendirian di jalan yang lebar, mulus, rata, tidak ada tikungan, tidak ada lawan……..tidak akan menjadikan kita sebagai pengemudi yang profesional. Orang bijak mengingatkan kita, situasi yang nyaman membuat otak kita “tertidur pulas”. Nelayan yang berlayar di laut yang tenang tidak akan mendapat ilmu apa-apa kecuali ikan-ikan yang jinak-jinak saja.

Mungkin kita harus belajar kepada China, sebuah negara besar dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. China menjadi salah satu negara yang ditakuti oleh negara-negara besar seperti AS. Sebagai ilustrasi saja, di China, ketika sebuah memiliki daya tampung terbatas, katakannya hanya mampu menampung 200 orang murid, dia akan buka pendaftaran terbuka bagi semua anak yang ingin masuk, begitu kuota penuh, pendaftaran ditutup. Artinya, sekolah itu siap dengan segala resiko tentang keberagaman kemampuan anak yang masuk ke situ. Namun, apa yang dilakukan?….tiga tahun kemudian ke- 200 orang anak tersebut tumbuh menjadi anak-anak profesional sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing, ke semuanya menjadi sang juara dengan berbagai bidang keahlian, mulai dari pemikir (insyiur), perancang, pekerja, penjual, penjaga dan seterusnya. Ya mungkin yang memiliki kemampuan akademis tinggi berkembang sebagai pemikir atau ilmuwan hanya sebagian kecil (mungkin tidak lebih dari 10% saja), tapi itu bukanlah berarti kiamat! Karena yang lainnya juga berkembang sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Dengan pola seperti itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama, China menjadi ancaman besar bagi negara maju karena mereka memiliki semua jenis keahlian, ahli apa saja ada dansemua anak kompeten di bidan masing-masing sehingga China dengan mudah mampu menyaingi semua negara dalam bidang apa saja . Orang China tidak pernah hidup sia-sia, semua mereka “jadi” walau apapun kondisi mereka terlahir. Mari kita belajar ke negeri China….

Itulah potret sekolah “ungggulan”, yaitu unggul dalam memberikan layanan terhadap kepentingan peserta didik, bukan unggul dalam “meneyeleksi” calon murid. Jika semua sekolah berlomba mendapatkan murid dengan cara seleksi, tentulah murid-murid yang berpeluang untuk mendapatkan layanan penddidikan hanya sedikit. Anak harus “pintar” dulu baru dapat sekolah bagus! Ibarat akan melatih orang berlari, yang punya kaki akan mendapat sekolah dengan guru yang bagus, sementara yang lumpuh akan mendapat sekolah dan guru yang lumpuh pula. Anak yang punya kaki dituntun untuk berjalan, yang lumpuh ditinggalkan. Secara persentase, sudah jelas anak yang masuk kategori “layak” diterima jumlahnya sangat sedikit dibanding yang tidak layak. Secara akumulatif, jumlah anak yang “tidak layak” dan mendapatkan layanan pendidikan yang tidak layak ini akan semakin menggunung. Akibat selanjutnya, anak-anak yang dianggap “unggulan” yang telah menyelesaikan sekolah di sekolah unggulan tadi, dengan jumlah yang sangat terbatas tentulah tidak akan mampu menyelesaikan persoalan yang muncul dari anak-anak “yang bukan unggulan” dan juga tidak bersekolah di sekolah unggulan. Akhirnya…..inilah yang menyebabkan bangsa kita menjadi bangsa yang “lumpuh” seperti sekarang ini.

Sekolah unggulan?…..lalu bagaimana dengan “SBI”?…hmmmmm……….jawaban saya hanya singkat…..di Bali begitu banyak pemahat, pematung, dan seniman yang merajai dunia seni di dunia, di Jawa banyak sekali dalang yang tidak bersekolah apalagi sekolah di “SBI” yang juga mendapat tempat khusus di dunia. Raja Ali Haji (Penulis Gurindam 12) juga mendunia, Buya Hamka tidak dapat dibandingkan dengan ulama dari dunia manapun……mereka hanya bersekolah di sekolah biasa…..dan mungkin sebagian dari mereka ada yang tidak bersekolah di sekolah formal. Lalu bagaimana dengan Bethoven, Thomas Alfa Edison, Stephen Hawkins, Charles Darwin. Albert Einstein, Emile Zola, adalah orang-orang terkenal yang dianggap “bodoh” di sekolah sehingga mereka dikeluarkan dari sekolah karena sekolah hanya untuk anak pintar……..

Saya yakin dan seyakin-yakinnya bahwa anak-anak unggul dapat lahir dari mana saja. Suatu saat nanti, mungkin kita akan terkejut ketika anak-anak yang betul-betul unggul dalam artian yang sebenarnya datang dari sekolah sederhana di daerah terpencil, sementara dari sekolah “unggulan” lahir anak-anak dengan “keunggulan yang semu”. Unggul dengan sejumlah prestasi di sekolah, mampu dengan baik menjawab soal ujian, namun tidak mampu menghadapi persoalan kehidupan oleh karena selama masa pendidikan yang tumbuh subur adalah kesombongan dan egoisme. Semoga hal ini tidak terjadi!

Salam dan selamat berjuang para Sobat, tidak ada istilah terlambat, selagi ada persoalan yang kita hadapi maka peluang kita untuk menunjukkan bahwa kita adalah “sang profesional di bidang kita” semakin terbuka lebar. Itu artinya, peluang untuk maju sangat terbuka. Itu semua kembali ke diri kita masing-masing, kita tidak akan pernah menuntut orang lain untuk berubah sebelum kita menunjukkan perubahan itu sendiri…………Yang utama adalah mari kita berbuat, sekecil apapun itu, jika perbuat dengan HATI NURANI, sebesar apapun persoalan bangsa yang kita hadapi, Insya Allah akan dapat diselesaikan, karena Allah tidak pernah memberikan persoalan lebih besar dari kemampuan kita. Sebesar apapun persoalan yang dihadapkan ke kita, selalu lebih kecil dari kemampuan yang diberikan Allah kepada manusia! Good luck!

Zulfikri Anas………

7 Responses to “Sebuah Impian (16) “Sekolah Unggul?, Apanya yang Unggul!””

  1. Akiko said

    Insya Allah akan dapat diselesaikan, karena Allah tidak pernah memberikan persoalan lebih besar dari kemampuan kita.

    encouraging sekali kalimat bapak yang satu ini. Sejak pertama kali mendengarnya waktu pelatihan di Nan-tongga, saya selalu mengingat kata-kata bapak ini setiap ada masalah dalam “mengajar”. ^_^

    • Ya Insya Allah, fungsi persoalan adalah memperbesar kemampuan, dan Allah tidak pernah salah dalam memberikan sesuatu kepada manusia, termasuk persoalan yang diberikan kepada kita. Jika kita tidak memiliki kemampuan yang “sesuai” atau yang lebih besar dari persoalan itu, maka persoalan tersebut akan diberikan pada orang lain yang lebih mampu dari kita. Selamat atas bergabungnya kita kepada orang-orang yang mensyukuri segala apapun yang diberikan oleh Illahi. Allah akan selalu memberikan yang terbaik bagi umat-Nya pada saat ia membutuhkan, termasuk persoalan………..teruslah berjalan dan berlari melewati berbagai persoalan yang makin lama makin besar …dan….kesuksesan telah menunggu kita di seberang jalan……Bravo Akiko Kesuma…….

  2. Akiko said

    fungsi persoalan adalah memperbesar kemampuan, dan Allah tidak pernah salah dalam memberikan sesuatu kepada manusia, termasuk persoalan yang diberikan kepada kita. Jika kita tidak memiliki kemampuan yang “sesuai” atau yang lebih besar dari persoalan itu, maka persoalan tersebut akan diberikan pada orang lain yang lebih mampu dari kita.

    Like this sentences very much. Pak Izin share ya…. Thank you in Advance.

  3. Akiko said

    fungsi persoalan adalah memperbesar kemampuan, dan Allah tidak pernah salah dalam memberikan sesuatu kepada manusia, termasuk persoalan yang diberikan kepada kita. Jika kita tidak memiliki kemampuan yang “sesuai” atau yang lebih besar dari persoalan itu, maka persoalan tersebut akan diberikan pada orang lain yang lebih mampu dari kita.

    Like these sentences very much. Pak Izin share ya…. Thank you in Advance.

  4. Santi said

    Saya senang dengan ulasan sekolah unggulan di atas. Di Indonesia sepertinya baru ada satu sekolah yang merupakan sekolah unggulan yang sesuai dengan ulasan Pak Zul di atas. Bapak bisa menemukannya di Surabaya. Kebetulan anak saya dulu sekolah disitu. Saya termasuk orang yang cerewet dalam hal pendidikan anak dan kebetulan pada saat anak saya mau masuk SD, sekolah itu berdiri. Sejak anak saya usia dini, saya memang berkeinginan menyekolahkan anak saya di sekolah yang tidak memerlukan tes masuk berupa baca & tulis, tidak memberikan banyak PR kepada muridnya, bukan nilai atau ranking sebagai patokan keberhasilan, gurunya mengajar muridnya dengan hati, perhatian kepada setiap muridnya & orang tua bisa mengetahui berbagai perkembangan si anak dengan baik.

    Alhamdulillah Allah menjawab keinginan saya & akhirnya anak saya sekolah di sekolah tersebut. Untuk tes masuk di sekolah itu, calon siswa hanya diminta menggambar orang, rumah & pohon, PR diberikan berupa proyek kreativitas anak bukan berupa mengerjakan soal/latihan, hubungan antara guru & murid sangat dekat sehingga guru bisa mengenal karakter & bakat setiap murid, sesama murid pun juga dekat bahkan mereka sangat kompak dimanapun mereka berada & saling perhatian satu sama lain, satu kelas maks 25 anak, SQ & EQ sangat ditekankan, tidak berorientasi pada nilai & ranking sebagai hasil akhir/kesuksesan tapi lebih pada proses belajar, sekolah tersebut juga menerima anak berkebutuhan khusus seperti autis, hiperaktif, tunarungu & metode pembelajarannya berbeda dengan sekolah konservatif. Selain itu murid-murid diajak berpikir & dididik sesuai alam pikirnya. Meskipun tergolong sekolah eksklusif tapi anak2 tidak merasa eksklusif, bahkan mudah berbaur dengan teman2nya dari sekolah lain dan golongan apapun, malah mereka lebih peka terhadap lingkungan. Yang pasti semua anak yang bersekolah disitu betul-betul senang, enjoy & merasa seperti di rumah sendiri.

    Saya bersyukur anak saya bersekolah di sekolah tersebut sampai SMP.
    Saya berharap di Indonesia tumbuh sekolah-sekolah seperti sekolah yang saya ceritakan & Pak Zul inginkan, sehingga akan tumbuh banyak anak2 bangsa yang jujur, berhati mulia, yang dapat membangun negaranya dengan arif & bijaksana dengan kecerdasan yang dimiliki. Amiin.

    • Ya, Bu Santi, membuat sekolah bermutu tidak sulit dan tidak mahal, modalnya hanya nurani…..nurani inilah yang hilang dalam penyelenggaraan pendididkan. Sekolah mengutamkan “pagar beton dan pagar baja”, sementara “pagar hati” dibiarkan runtuh…..ini yang kami perjuangkan….memagar diri anak dengan nurani dan hatinya sehingga hidupya tidak “liar” sebagaimana masyarakat kita dewasa ini…..mari kita saling merangkul melahirkan lembaga-lembaga pendidikan yang “bernurani”, yang tidak menjadikan anak-anak menjadi “mesin” pemuas keinginan orang deawasa, melainkan membangun diri dan peribadian mereka sehingga mereka menemukan jati diri, dan dengan penuh percya diri melangkah,menjalani hidup ke depan…..toh agama mengajarkan…..dimudahkan alam bagi manusia untuk dikelola, dan setiap manusia dibekali dengan kemampuan untuk “mengubah” corak kehidupan…..Alam tunduk pada manusia, bukan sebaliknya…Bravo Bu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: