SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (15) “Kenaifan Tes IQ”

Posted by Zulfikri Anas on September 27, 2011

John Dewey (Filosof dan Ahli Pendidikan)….”menyamakan (Tes IQ) dengan persiapan keluarganya untuk membawa ternak ke pasar. Untuk mengetahui berapa harga ternak tersebut, keluarganya menaruh ternak itu di salah satu ujung papan timbangan dan menaruh setumpuk batu bata di ujung papan yang satunya yang akan membuat papan itu seimbang. Kemudian kita berusaha menghitung berapa berat tumpukkan batu bata tersebut:… (Parker J Palmer,,Pendidik dengan Nurani)

John Dewey menyadari bahwa dunia pendidikan berhadapan dengan manusia, dan manusia itu makhluk yang “paling sempurna” diciptakan Illahi, tidak ada satu alatpun yang mamu mengukur kemampuan otak manusia, Kemampuan otak tak terbatas, positifnya tak terbatas, negatifnya juga tak terbatas.

Itu pernyataan Dewey sekitar 80 tahun yang lalu, ketika ia dimintai respon terhadap Tes IQ, dia menjawab dengan menceritakan pengalamannya sewaktu kecil yang hidup di keluarga petani. Pointnya adalah…..kita tidak pernah tahu bobot batu bata itu yang sesungguhya, bagaimana bisa kita menjadikan batu bata itu sebagai ukuran, begitu banyak jenis dan ukuran, serta bahan baku batu bata, semua itu mempengaruhi bobotnya. Batu bata mana yang kita jadikan ukuran? Adalah suatu kekeliruan besar ketika kita menaksir bobot ternak berdasarkan berat batu bata yang kita tidak tahu pasti bobot yang sebenarnya saking banyaknya jenis, tipe dan ukuran batu bata yang bisa digunakan sebagai ukuran.

Sungguh sangat naif…… ketika kita memiliki alat untuk mengukur kemampuan kuda berlari…….berdasarkan alat yang kita gunakan terdeteksi bahwa “Kuda mempunyai tenaga besar, berkaki empat dan bertungkai panjang, lalu kesimpulan kita, kita bisa latih kuda untuk berlari dan mearik gerobak”. Nah setelah kita latih berlari, kemudian kita uji kemampuan berlari…dan betul hasilnya……..pendidikan kita berhasil…..untuk itu, kita harus “seleksi” calon murid-murid yang akan datang dengan alat ini…..dst.
Akhirnya alat tersebut jadi primadona, dan dijadikan untuk seleksi sebelum masuk ke sekolah tertentu. Naifnya, untuk mengukur kemampuan “belut” juga mengggunakan alat yang sama, sehinggga diperoleh hasil……belut tidak bisa diterima karena menurut alat tes….tidak mungkin belut bisa berlari,…skornya terlalu rendah….dia tidak punya kaki…….belut tidak dapat diterima……….hanya kudalah yang bisa diterima sebab kuda banyak manfaatnya…dia mampu melakukan segala-galanya….Ada yang dilupakan bahwa kuda tidak akan mampu menjadi “predatorr” di air sebagai mana yang dilakukan oleh belut, sehingga belut menjadi salah satu tokoh penting dalam hal menjaga kesimbangan alam di dalam air dan lumpur, sebuah kemampuan yang tidak mampu dilakukan oleh kuda!.

Salam

Zulfikri Anas……Catatan Perjalanan dari Semarang ke Jakarta…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: