SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Impian (14) Menjadikan “Manusia Sebuah Misteri”

Posted by Zulfikri Anas on September 27, 2011

Jika perilaku, profesi dan keahlian manusia bisa ditebak dengan mudah oleh orang lain, derajat “kemanusiaannya” akan turun ke level benda-benda hasil temuan/rakitannya sendiri, atau malah lebih rendah dari itu, dan pada level itu keberadaannya sebagai manusia akan segera digantikan oleh mesin-mesin temuannya tersebut. Dalam pandangan Daniel H.Pink, perjalanan peradaban manusia yang di awali dari peradaban modern di abad ke-18. Era itu, kehidupan ini didominasi oleh pekerja pekerja pertanian (farmers), era itu disebutnya sebagai era agriculture. Ini masa-masa kejayaan para tuan tanah, dan pengusaha pertanian. Menjadi Insiyur Pertanian adalah sebuah cita-cita yang diidamkan oleh banyak orang. Begitu masuk abad ke-19, era itu segera digantikan oleh era industri, kebanyakan orang mengidamkan pekerjaan sebagai karyawan atau manajer di dunia industri (factory worker). Bekerja di dunia industri memiliki daya pikat dan gengsi tersendiri. Rupanya, era itupun segera berlalu, dan masuk ke era informasi di abad ke-20 yang ditandai dengan perkembangan pesat teknologi informasi dan komputerisasi. Dunia menjadi mengecil ukurannya, kita dengan mudah memperoleh informasi secara langsung di seluruh penjuru dunia. Di era ini, kehidupan didominasi oleh pekerja ilmu yang menguasai IPTEK (knowedge worker).

Di ketiga era tersebut, pola pikir linier menjadi primadona dalam menyelsaikan persoalan karena persoalan-persoalan hidup yang muncul pada saat itu masih relatif sederhana sehingga dapat diselesaikan melalui pola pikir linier. Profesi-profesi yang mengggunakan pola pikir linier sebagai metode penyelesaian masalah menjadi profesi yang berjaya. Ketika itu pula para insyinyur, teknisili teknik, ahli komputer (hard-ware dan soft-ware), akuntan, dan semua keahlian yang didasarkan pada ilmu-ilmu eksakta (termasuk matematika) yang mengggunakan pikiran-pikiran, linier, rasional, dan logis menjadi keahlian dan profesi idola. Peran mereka menjadi dominan dan di tangan mereka semua persoalan yang dihadapi ketika itu dapat diselesaikan dengan baik, sehingga profesi tersebut mendapat penghargaan yang tinggi dalam kehidupan masyarakat.

Era itu sudah lewat, menurut Daniel H Pink, peran itu semua akan segera digantikan oleh mesin-mesin dan komputer, semua persoalan yang membutuhkan pikiran dan keahlian linier akan diselesaikan oleh mesin dan komputer. Ke depan, manusia yang mampu bertahan dan akan berjaya adalah manusia-manusia “misterius” yang keahliannya tidak bisa ditebak, ia dapat tampil terbaik kapanpun dan dalam situasi apapun ia muncul, keberadaannya ditandai dengan ide-ide yang selalu baru dan penuh kejutan. Tiap detik ia tampil dengan hasil berbeda. Kemampuan seperti ini tidak dapat di-copy sehingga tidak akan mampu digantikan oleh mesin-mesin atau komputer tercanggih sekalipun. Orang-orang seperti ini betul-betul menggunakan power “otak dan hati-nya” yang tidak terbatas. Orang ini sangat sadar bahwa kekuatan otak yang diberikan Illahi tidak terbatas. Positifnya tidak terbatas, negatifnya juga tidak terbatas. Para ahli mengakui bahwa sampai kapanpun tidak akan ada alat ciptaan manusia yang mampu mengukur kekuatan otak manusia, dan ketika ini disadari oleh manusia, dan ia mampu mengembangkan dan memberdayakan dengan baik, maka is akan menjadi kekuatan yang “misterius”, siapa yang tahu seorang intellijen?, siapa yang mengerti keahlianya? No body knows!

Pertama kali saya melihat judul buku “Manusia Sebuah Misteri” karya Louis Leahy pada tahun 80-an, buku itu langsung saya cari, dan memang…jika ingin eksis sebagai manusia sekaligus sebagai wujud rasa syukur kepada Illahi yang telah menciptakan manusia, kita harus muncul sebagai sosok manusia yang misterius, tidak bisa ditebak keahliannya yang sesungguhnya!

Tapi, Ini semua, TIDAK BERLAKU bagi manusia yang memilih menjadi “misterius” dengan cara berperan seperti “bunglon” untuk “menyelamatkan muka” atau “bersembunyi” seperti bunglon-bunglon politik yang –seolah-olah– selalu tampil “bersih” di hadapan publik.
Menjadi manusia “misterius” yang dimaksudkan di sini adalah menjadi orang-orang yang memiliki kemamampuan untuk berbuat kebaikan yang bermanfaat bagi semua orang untuk selamanya, bukan untuk kepentingan sesaat dan bagi sebagian orang saja. Menjadi “Manusia Misteri” di sini adalah manusia yang menguasai kecerdasan dengan perangkat-perangkat dasarnya kemampuan (Design, Story, Symphony, Emphaty, Play, Meaning).

Ini sinyal bagi dunia pendidikan kita yang harus segera merevolusi diri jika kita tidak ingin anak-anak kita nanti menjadi tergilas oleh zaman!. (Zulfikri Anas, –on the way Madiun to Semarang, September 2011–)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: