SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (12) :TAHIMPIK HANDAK DI ATEH, Sebuah Ajaran yang Humanis

Posted by Zulfikri Anas on July 3, 2011

Apapun kondisinya, dan sampai kapanpun, saya sangat bangga terlahir sebagai orang Minang. Perjalanan panjang nenek moyang kita dalam membangun dasar-dasar kehidupan berupa pikiran-pikiran yang fislosofis dan utuh tentang kehidupan, merupakan jasa yang tidak pernah terukur dan tak terbayar sampai kapanpun. Salah satu yang membuat saya salut adalah ajaran bijak tentang “TAHIMPIK HANDAK DI ATEH, TAKURUANG HANDAK DI LUA”. Ini salah satu dari sekian banyak ajaran humanis yang dimiliki alam budaya Minang. Ajaran tersebut mengandung makna bahwa setiap makhluk dan benda apapun yang diciptakan Illahi memiliki energi untuk mempertahankan hidup dari sebuah himpitan atau tekanan. Archimedes membuktikan bahwa setiap benda yang mendapat tekanan akan mengeluarkan energi sebesar takanan yang ia terima, hal yang sama juga dibuktikan oleh Newton dengan teori AKSI= (min) REAKSI.

Sunnatullah adalah fakta yang tak terbantahkan, termasuk keberagaman kedudukan dan peran dalam kehidupan, ada yang kebetulan memiliki “kekuatan” lebih besar dari yang lain, dan juga yang kebetulan memiliki “kekuasaan” dan ada yang “dikuasai”. Dalam membangun kehidupan yang harmoni, semua kedudukan dan peran memiliki arti dan makna tersendiri. Untuk itu, para orang tua kita zaman dulu mengingatkan, jika berhubungan dengan orang lain “jangan menghimpit” dan “jangan mengurung”, karena semakin kuat himpitan yang kita berikan, akan semakin kuat pula perlawanan yang akan kita dapatkan. Siapakah manusia di dunia ini “rela dihimpit dan dikurung?. Jangankan manusia, semut yang terinjakpun akan melawan, dan benda mati pun memiliki energi untuk bertahan dari tekanan. Begitu juga dalam hubungan orang per orang, bagi yang kebetulan memiliki kelebihan dari yang lain, jangan sekali-kali menggunakan kelebihan itu untuk menekan atau menghimpit dan mengurung, karena tindakan itu akan menjadi bumerang nantinnya. Fungsi tekanan adalah menghasilkan power internal, semakin besar tekanan, akan semakin besar pula “ledakannya”. Dalil ini pula yang digunakan oleh perakit bom. Dalam kehidupan sosial, dalil ini terbukti dengan runtuhnya rezim orde baru. Seperti yang kita ketahui, salah satu ciri orde baru adalah mengendalikan rakyat dengan “tekanan”, awalnya aman-aman saja, namun lama kelamaan energi internal berubah menjadi POWER yang tidak terkendali, sekuat apapun rezim itu akhirnya tumbang juga!

Begitu arifnya nenek moyang kita, mereka meninggalkan acuan hidup bagi anak cucunya. Kita diingatkan jangan pernah menghimpit dan jangan pernah mengurung, apapun, apalagi sesama manusia. Pemikiran ini didasarkan pada hukum alam bahwa semua benda dan makhluk ciptaan Illahi, sekecil apapun ukurannya, selalu memiliki kedudukan dan peran yang ikut menentukan terciptanya tatanan kehidupan yang harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Khalik. Tarubuak busuak, jariang busuak menjadi santapan yang enak di meja makan, dan memperkuat ikatan moral antara ibu, ayah, dan anak. Daun busuak, sampah busuak menjadi pupuk yang menyuburkan tanah. Bakteri, virus dan penyakit yang diderita mendorong manusia untuk “mengeksplore” alam untuk menemukan obat, dan seterusnya. Untuk itu jangan pernah meremehkan setiap benda dan makhluk ciptaan Illahi. Dalam penciptaan alam tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, semuanya memiliki kemuliaan sendiri=sendiri dan tidak bisa dibandingkan. Sungguh ini ajaran yang sangat mulia.

Semula, sama dengan yang lain, saya juga berpikiran bahwa “TAHIMPIK HANDAK DIATEH, TAKURUANG HANDAK DI LUA” merupakan simbol kelicikan (cadiak buruak) orang Minang sebagaimana yang dipahami oleh banyak orang sampai saat ini. Ungkapan ini akan jadi ajaran “licik” di tangan orang yang berpandangan “licik”, namun ia akan menjadi ajaran yang “arif” di tangan orang yang berpandangan “arif”, itulah Orang Minang, nenek moyang kita!. Tidak satupun ajaran, pepatah petitih, atau filosofi dalam alam pikir budaya Minang yang sengaja untuk “MENJELEKKAN DIRI SENDIRI”. Ini salah satu bukti bahwa antara Islam dan alam pikiran/Budaya Minang merupakan satu ke satuan yang tidak terpisahkan. Sampai saat ini saya belum ketemu suatu bangsa yang secara “eksplisit” dan “ikhlas” mengakui kearifan alam (Sunnatullah) dalam mendidik manusia. Alam Takambang Jadi Guru. Inilah yang membuat saya bangga sebagai orang Minang. Subhannallah! (Zulfikri Anas).

2 Responses to “Sebuah Impian (12) :TAHIMPIK HANDAK DI ATEH, Sebuah Ajaran yang Humanis”

  1. Monthy Nazar said

    cuma ada satu hal yg mengganjal bagi saya dan beberapa teman,
    Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah ( ABS/SBK ), pada “perkawinan sasuku” terjadi pertentangan antara adat dengan kitabullah, jikalau kita berpegang pd aturan agama(islam), kita dianggap sbg “orang tidak beradat”.

    • Dalam mengahadapi persoalan ini, cobalah kita berfikir secara jernih, salah satu kebanggaan kita (saya) terlahir sebagai orang Minang adalah kekuatan berfikir di balik fenomena nyata. Ini membutuhkan pemahaman yang mendalam, bukan emosi lalu menyimpulkan itu bertententangan. Cobalah kita memahami makna tagang tajelo-jelo, kandua badantiang-dantiang, ini tidak bisa dipahami dengan logika sederhana. Sepertinya sudah ditakdirkan bahwa Orang Minang dilahirkan sebagai “pemikir”. Perlu juga diingat, tidak kusut yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada keruh yang tidak bisa dijernihnkan, pasti banyak dalili-dalil yang bisa digali. Kita hanya memahami sepotong, larangan kawin sesuku, cobalah gali lebi jauh “apa itu sesuku” Banyak terminologi tentang ini, mulai dari saparuik, dan seturusnya. Jika dipikir secara emosi, tidak akan ada solusi. Jika ada kusuik nan indak namuah salasai, berarti itu bukan kusuik, tapu kusuik nan bakusuik-an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: