SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (11): Menyatunya Adat (Minang) dan Islam : Alam Takambang Jadi Guru

Posted by Zulfikri Anas on July 3, 2011

Salah satu karakter dasar orang Minang adalah sulit untuk menerima begitu saja sesuatu yang datang dari luar, sehingga ada pandangan bahwa inilah salah satu bentuk “kesombongan budaya” Minang. Apalagi sesuatu yang baru datang itu kemudian “diangkat” derajatnya, lalu di posisikan sebagai “sandi” dari sesuatu yang telah mereka yakini sejak ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan tahun sebelumnya. Tidaklah mudah untuk membuat sebuah filosofi hidup “Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah” mengingat adat lebih dulu eksis daripada Islam. Pada saat itu, pastilah terjadi pergumulan luar biasa, semua “kekuatan” yang dimiliki adat dikerahkan untuk “menyerang” pandangan baru –ISLAM–. Ini sebuah keputusan yang luar biasa berat jika tidak ada sesuatu yang sangat-sangat-sangat istimewa yang dibawa oleh Islam. Dan semua tokoh adat memutuskan untuk belajar ke negeri asal Islam!

Yang pasti, ketika Orang Minang mengangkat Alam Takambang sebagai guru sejati, itu berarti “alam” adalah suri tauladan, tempat kita bernaung, mencapai kebahagiaan yang hakiki, dan tempat kita menggali ilmu setinggi-tingginya sehingga sampai pada kesimpulan bahwa semua rahasia penciptaan alam semesta tersimpan dalam sifat-sifat seluruh makhluk, benda, jagat raya ini. Adat membungkus ini dengan apik, tanpa ada yang terlewat satupun, bahkan kesimpulan itu menembus batas-batas logika linier, kadang-kadang justeru berlogika terbalik, dialektis, paradoks, pokoknya lengkap dengan keberagaman yang terkadang saling bertentangan. Sebagai contoh, bagaimana nenek moyang kita sampai pada kesimpulan “ado samo ditahan, indak ado samo di makan, tagang bajelo-jelo, kandua badantiang-dantiang, duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang!”. Semua itu adalah alam!, dan tidak satupun dari ungkapan itu keluar dari sifat-sifat alam. Kalau dilihat dari kata secara harfiah seperti bertentangan, pada hal tidak, inilah “logika” tingkat tinggi.

Dan ternyata, semua yang diperoleh nenek moyang kita dari pengembaraan pemikiran melalui penelusuran sifat-sifat alam yang sangat-sangat mendetil yang dilakukan sejak ribuan, mungkin jutaan tahun lamanya itu –untuk sampai pada kesimpulan alam adalah guru sejati— merupakan sunatullah sebagaimana dijelaskan oleh Alquran secara lengkap dan menyeluruh, mulai dari proses penciptaan, sifat-sifat dan keberadaanya dalam kehidupan manusia. Mungkin ada diantara beberapa pertanyaan yang belum sempat terjawab oleh pemikiran manusia, dijawab dengan baik oleh Alqur’an. Akhirnya nenek moyang kita sampai pada kesimpulan bahwa, Allah itu abadi, tidak punya awal, dan Allahlah menciptakan semua jagat raya yang telah dianggap sebagai “guru sejati” –termasuk manusia itu sendiri– oleh Orang Minang. Lalu, dengan keikhlasan yang penuh, Adat menerima Syara’ sebagai sandi, dan kitabullah sebagai sandi dari kesemuanya!

Dalam skala kecil dan sesuai dengan bidang yang saya geluti, saya mencoba mengkaji teori-teori pendidikan sejak awal pendidikan formal dikenal dalam peradaban manusia sampai pada perkembangan mutakhir, begitu ditarik ke ajaran Islam, ternyata semua teori-teori itu telah diijelaskan dengan sempurna oleh Alqur’an. Ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa Islam dan Alqur’an merupakan payung dari semua ilmu yang ada di alam. Semua cabang ilmu-ilmu pengetahuan lahir sebagai alat dan metodologi untuk memahami alam –tidak satupun ilmu pengetahuan yang keluar dari alam–, sementara alam itu sendiri merupakan firman Illahi –sunnatullah–, jadi pada hakekatnya, semua ilmu pengetahuan adalah strategi dan metode untuk memahami sunnatullah –alam dan segala aspek yang terkait dengannya— Ini juga memiliki makna bahwa ilmu pengetahuan adalah ‘jembatan emas’ untuk menuju ketaqwaan.

Artinya lagi, semakin dalam orang mengkaji sifat-sifat alam, semakin tinggi ilmunya, maka –seharusnya—makin kuat iman dan ketaqwaanya. Namun, apa yang terjadi kini?, makin tinggi ilmu seseorang makin jauh dia dari agama. Ini salah satu bukti bahwa dunia pendidikan kita yang kita sebut dengan pendidikan moderen adalah pendidikan yang sekuler. Sangatlah nyata sekali bahwa pendidikan kita sekuler!, —termasuk (maaf) pada lembaga-lembaga pendidikan yang mengatasnamakan Islam atau bernafaskan Islam—, sebab, selagi lembaga itu membedakan antara ilmu umum dan ilmu agama (pagi belajar ilmu umum, sore belajar agama), artinya jam pembelajaran antara keduanya dipisah dan terpisah, ini ciri utama bahwa pendidikan itu sekuler.

Pada level mikro di kelas (dalam pendidikan formal), pemikiran “Alam takambang jadi guru” –yang menjadi dasar bagi pengembangan adat– dapat diimplementasikan melalui pendekatan konstruktivisme dengan berbagai alternatif metode seperti collaborative learning, eksplorasi, elaborasi, konfirmasi dan sebagainya (metode ini lazim diterapkan di surau zaman dulu). Contoh implementasinya (ini contoh kecil saja) pada saat anak belajar biologi tentang fotosintesis, amuba dan sebagainya, guru sebanyak mungkin menggunakan alam nyata sebagai sumber belajar dan setelah guru dan anak terlibat (sama-sama aktif) dalam pembelajaran yang demikian, lalu di akhir pembelajaran sang guru –mestinya mereka yang berani menjadi guru sangat paham tentang ini– menyampaikan pada anak muridnya bahwa “anak-anak kita baru saja belajar tentang firman Illahi”. Sifat-sifat tumbuhan, bagaimana dia bernafas, hidup, berbuah, dan sebagainya…semua itu adalah ayat Illahi atau sunnatullah. Metode ini juga berlaku dalam pembelajaran IPS, Agama atau yang lainya, karena obyek semua mata pelajaran (ilmu) adalah alam dan kehidupan di alam.

Jika proses ini terjadi dalam pendidikan kita, maka antara ilmu, kehidupan, dan agama sekaligus menyatu sehingga semakin tinggi ilmu anak-anak, semakin dalam di masuk ke alam, maka semakin kuatlah imannya. INILAH YANG MENJADI SALAH SATU KEKUATAN YANG DIMILIKI SURAU SEBAGAI INSTITUSI PENDIDIKAN (pola ini pula yang dkembangkan oleh Engku Sjafei di INS Kayutanam). Bukti lain dari keberhasilan “Surau” dalam mengimplementasikan ini adalah ketika keberadaan “Surau” berhasil membangun tatanan kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat Minang yang arif dalam menyikapi alam dan kehidupan, sehingga berpikir berfilsafat dimiliki oleh setiap individu orang Minang (ini terlepas dari apakah dia berpendidikan tinggi atau tidak, dan malah kecenderungannya justeru mereka yang berpendidikan tinggi yang sering kali tidak mampu bersifat arif). Hal ini menjadi modal dasar bagi orang Minang untuk mampu hidup di mana saja. Ini pula yang menyebabkan orang Minang mampu beradaptasi di manapun. Orang Minang yang sebenar-benarnya Minang tidak akan pernah mengeluh dalam menghadapi persoalan hidup, mereka tetap menjadi orang cerdas walaupun di tengah himpitan berbagai persoalan, termasuk masalah ekonomi yang sangat menghantam dirinya, semakin kuat himpitan, semakin kuat pula semangat dia untuk keluar dari himpitan itu. Tahimpik ingin di ateh, takuruang ingin di lua” (ini sama dengan hukum Archimedes dan Newton) , “Indak ado kusuik nan indak ka salasai, indak ado karuah nan indak bisa dijaniahkan”, “jiko tasasek, kembali ka pangka”. inilah sederetan simbol-simbol ketawakalan dan ketekunan orang Minang (zaman dulu) dalam menyelsaikan semua persoalan yang dihadapi.

Oleh karena itu, KEMBALI KE SURAU berarti KEMBALI KE ISLAM sebagai basis penyelenggaraan pendidikan dalam artian yang sebenar-sebanarnya!, bukan dalam artian sempit seperti yang ada sekarang –termasuk yang disebut dengan “boarding school” atau “islamic Center– (maaf) bukan bermaksud “merendahkan”, saya sangat menghormati Islam dan alam pikir Minang (adat), tapi jika kita berani mencatut “ISLAM” sebagi label sekolah tanpa diiringi dengan tindakan yang konsisten untuk menjadikan Alquran sebagai induk kitab (“sandi” dari segala aspek kehidupan) dalam mengembangkan sumber dan metode pelajaran…….menurut saya itu tindakan sangat keterlaluan. Tindakan itu hanya akan mengotori kemurnian Islam dan alam pikir Minang (adat) itu sendiri. Dengan demikian, tanpa disadari, ternyata kita telah memperkuat akar SEKULARISME………

Nenek moyang kita sangat paham bahwa untuk meraih puncak kesuksesan hidup termasuk dalam pengembaraan spiritual sampai ke puncak tertinggi, harus belajar pada alam, dan sendirinya harus menjadikan Alqur’an (kitabullah) sebagai sendi utama. Lalu mengapa Islam?, bukan agama yang lain selain Islam?!. Orang Minang sangat cerdas, teliti dan arif, pilihan jatuh pada Islam membuktikan bahwa agama lain tidak mampu menjelaskan dengan sempurna apa yang dicari oleh ADAT!. Islamlah yang paripurna, makanya lahir ADAT BASANDI SYARA’, SYARA’ BASANDI KITABULLAH! Ternyata orang Minang itu telah “Islam” sebelum Islam datang ke Ranah Minang, makanya tidak salah AA Navis bilang “bukan Islam yang berkontribusi pada Adat, melainkan Adat yang berkontribusi pada Islam”. (Zulfikri Anas, 2011, Dalam Perjalanan dari Manado ke Jakarta)

2 Responses to “Sebuah Impian (11): Menyatunya Adat (Minang) dan Islam : Alam Takambang Jadi Guru”

  1. dida said

    tulisan bapak menarik, mengenai surau sebagai institusi pendidikan🙂 apalagi untuk saya yang tertarik belajar segala yang berbau adat minang.

    hm.. jadi, pesantren terbilang sekuler juga ya pak bila “memisahkan” jam belajar ilmu keduniaan dengan agama? seharusnya terintegrasi?

    • Jika kita secara sadar memisahkan antara ilmu (umum) dan (ilmu) agama, berarti kita sekuler. Obyek material semua ilmu adalah alam, dan alam itu adalah Sunnatullah atau firman Illahi, jadi dengan memahami isi alam melalui ilmu, itu artinya kita memahami isi firman Illahi, dengan demikian, semua ilmu adalah “jembatan” untuk meningkatkan aqidah dan keimanan,……jadi antara ilmu, alam, agama tidak dapat dipisahkan……..untuk itu..pada saat belajar, apapun bidangnya…pada dasarnya kita belajar tentang Sunnatullah……….ya….seharusnya menyatu, menyatu bukan berarti menambah “beban belajar”, justeru dengan menyatu, proses belajar menjadi lebih mudah, menarik, menggugah, dan membuat peserta didik menjadi takjub. Menurut Thomas Armstrong (ahli Multiple Inntelligences), ketakjuban adalah salah satu ciri dari 12 ciri kejeniusan manusia. Ketakjuban mendorong keinggan yang tinggi untuk menggali dan mendalami sesuatu…..terus dan terus mencari…akhirnya semua hukum di alam ini tunduk, atau mengacu pada satu hukum, yaitu Hukum Illahi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: