SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (10): Hati-Hati Ada Gelombang “INSTANISME” dalam Pendidikan Kita

Posted by Zulfikri Anas on March 24, 2011

Ibarat memasak kue, seorang koki yang berpikiran instan tidak peduli dengan proses pembuatannya. Atas nama efisiensi, semua adonan dicampur lalu dimasak, untuk mempercantik penampilan dan penikmat rasa dilakukan aksi instan dengan memberikan hiasan warna-warni dan bumbu penyedap buatan yang banyak. Begitu dilihat dan dicicipi kue itu sangat menarik hati dan sedap rasanya, namun semua itu merupakan kenikmatan semu karena dibumbui zat kimia yang lama kelamaan akan menjadi racun dalam diri manusia. Kira-kira analogi seperti itulah yang pas untuk menggambarkan kondisi iklim pembelajaran kita saat ini.

Semua orang berlomba agar anaknya memiliki NILAI yang tinggi sehingga rapor dan ijazahnya indah dipandang mata. Untuk itu dan atas nama efisiensi, berbagai upaya dilakukan, belajar instan, bimbel instan untuk menguasai strategi jitu untuk menjawab soal ujian, tidak cukup hanya di situ, masih ada upaya lain seperti menyewa joki, mencari bocoran jawaban. Demi mendapatkan nilai instan, semua upaya ditempuh bila perlu dari awal gurunya “didekati” dengan berbagai cara yang penting anak naik kelas dan lulus dengan angka bagus!

Semua orang, tanpa memandang profesi, memiliki kepentingan dengan nilai anak, mereka berlomba-lomba untuk melakukan itu tanpa menghiraukan bahaya gelombang yang satu ini. Tidak hanya saat ini, bahaya besar akan menghadang di masa datang. Apa yang sedang kita hadapi saat ini, bangsa kita yang tadinya memiliki semangat juang (patriotisme) yang tinggi dengan selalu mengutamakan kejujuran dan kerja keras berubah menjadi bangsa yang serba INSTAN. Para pejabat berlomba membuat kebijakan instan. Upaya ini perlu dilakukan untuk “menyelamatkan” nama mereka agar jabatan dapat terus dipertahankan. Cara instan sudah menjadi pilihan yang dianggap strategis. Pengentasan kemiskinan, bahaya kelaparan, penanggulangan bencana krisis pangan, kesehatan, politik dan semua urusan pembangunan dilakukan dan diatasi dengan cara instan.

—o00o—
Perilaku manusia tidak ada yang tiba-tiba dan kebetulan, mungkin saja suatu ketika Si A kebetulan ketinggalan HP, dan kebetulan juga ada Si B di tempat itu, serta kebetulan juga tidak ada orang lain di situ. Semua serba kebetulan!. Tapi, begitu HP diambil, ada dua pilihan, mengembalikan kepada yang punya atau diambil menjadi milik pribadi. Keputusan diambil bukan lagi “kebetulan”, itu merupakan keputusan yang mencerminkan kepribadian. Inilah pentingnya proses pendidikan. Jika selama mengisi pengalaman belajar, anak-anak kita dibiasakan dengan upaya-upaya instan, semua tindakannya setelah dewasa kelak akan selalu diwarnai oleh keputusan instan untuk kepentingan sesaat.

Sudah saatnya kita perlu mengembangkan perangkat early warning system agar para orang tua dapat mengurangi resiko bencana akibat gelombang “INSTANISME” yang melanda dunia pendidikan kita. Ada banyak peringatan dini yang dapat dilakukan, seperti Pepatah Minang yang mengingatkan kita akan dampak sebuah proses pendidikan. “Katiko ketek taraja-raja, lah gadang tabao-bao, katiko tuo tarubah tidak (Ketika kecil coba-coba, dewasa terbawa-bawa, setelah tua sulit diubah).

Jika anak dibiasakan dengan hal baik, dia akan jadi baik, sebaliknya juga begitu. Mungkin pengalaman belajar INSTAN seperti itu sudah berlangsung lama di negeri ini. Bila asumsi ini benar, tidaklah mengherankan mengapa orang-orang penting di negeri ini menyukai semua hal yang berbau “INSTAN”! Siapapun itu! Dan tidak mengherankan juga mengapa bangsa ini seperti ini!

Namun kita tidak perlu khawatir, jika kita mampu menjaga anak-anak kita dari pengaruh INSTANISME, semua penyakit akan sembuh, lalu bangsa ini akan bangkit kembali! karena tidak ada penyakit, kecuali ada obatnya!. Tentunya…bila kita mau!

Selamat mengikuti ujian Ananda tersayang!……tidak akan ada ujian yang “melebihi” batas kemampuan kita, percayalah pada dirimu! Insya Allah, ujian selalu lebih rendah dari kemampuan kita! Begitu firman ILLAHI!
(Zulfikri Anas, Maret 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: