SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (9) MENJADI GURU : SEBUAH PILIHAN YANG JENIUS DAN AMANAH (Disampaikan pada Pertemuan MGMP SMA se Kota Cilegon, Maret 2010)

Posted by Zulfikri Anas on March 3, 2011

I. Menjadi Guru atau Tidak Sama Sekali

“Menjadi guru adalah pilihan yang berani. Berani jadi guru, harus berani pula menjalani segala konskuensinya. Apabila mampu menjalaninya secara konsisten, jalan ke syurga akan menunggu, jika tidak, bahaya menghadang!.”

Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengangkat kembali pamor guru yang beberapa waktu lalu mulai memudar. Hari ini kembali bersinar walau dengan berbagai alas an (salah satunya karena sertifikasi). Untuk mengangkat kembali kehormatan guru, langkah pertama adalah “melarang sembarangan orang menjadi guru”.

Oleh karena modal utama jadi guru adalah “nurani”, bukan “akademiknya”, maka siapapun itu, apapun latar belakang pendidikannya, jika tidak memiliki nurani sebagai pendidik, mohon maaf, tidak ada toleransi. Pertanyaannya, “apakah latar belakang pendidikan mempengaruhi hal ini?”. Jawabannya bisa “Ya”, bisa “Tidak”. Artinya, latar belakang pendidikan tidaklah terlalu penting, apalagi dalam sebuah sistem pendidikan yang “tidak terarah” seperti yang kita alami saat ini.

Apakah hanya orang-orang yang berlatar belakang pendidikan dari Ilmu Kependidikan saja yang boleh jadi guru?. Idealnya memang begitu, tapi tunggu dulu!. Pada dasarnya setia manusia ditakdirkan menjadi guru bagi generasi penerusnya. Namun banyak di antara kita yang tidak menyadari hal ini, bahkan yang sudah memilih profesi jadi guru pun banyak yang tidak menyadari hal ini, sehingga dia menyia-nyiakan kesempatan berharga dalam hidupnya.

Jika system dan proses pendidikan dari awal berjalan sesuai dengan kaidahnya, yaitu membantu anak untuk menemukan potensi dirinya sedini mungkin, lalu mereka dibekali dengan sikap “belajar bagaimana belajar, sehingga belajar menjadi bagian dari hidupnya dan pada akhirnya tidak “menyesatkan” orang dari fitrahnya, maka mereka yang memilih “GURU” sebagai PROFESI adalah orang-orang yang tepat. Bukan kecelakaan atau kebetulan jadi guru. Memilih jadi guru karena memang telah dipersiapkan oleh Allah sebelum ruh ditiupkan dalam rahim.

Namun, jika selama dalam perkuliahan di LPTK para mahasiswa hanya dijejali ilmu dengan mengkonsumsi berbagai teori saja, sementara dia memilih untuk masuk ke situ bukan karena “nurani”, ini berbahaya. Kalau dianalogikan, apa yang terjadi ketika seseorang ahli merakit bom, namun yang bersangkutan tidak memiliki nurani?. Dengan mudah ia akan melenyapkan orang lain yang ia tidak suka. Lalu apa yang terjadi ketika ada “orang pintar” tapi tidak memiliki nurani sebagai pendidik, lalu ia jadi guru. Ia pasti akan menjadikan “kepintarannya” sebagai ukuran bagi anak-anak didiknya, dalam kondisi ini, di mata dia, anak-anak selalu pada posisi “bodoh”. Ini berbahaya karena akan mempengaruhi sikapnya dalam mendidik anak.

Betapa ketatnya seleksi menjadi seorang dokter, pada hal apabila ada dokter yang salah mendiagnosis dan salah mengasih obat, resiko yang tertinggi adalah hilangnya nyawa satu orang, tetapi, ketika guru salah mendiagnosis dan salah mendidik, 1.000 nyawa atau lebih 10 generasi akan terbunuh potensinya, dan untuk menebus semua ini tidak bisa dengan materil karena usia yang telah terpakai tidak dapat dikembalikan.

Di dunia ini hanya ada 2 profesi, yaitu guru dan bukan guru. Kita boleh kagum pada seorang dokter ahli yang mampu menyembuhkan penyakit yang kritis, juga sangat kagum kepada yang merancang sebuah jembatan panjang dengan tingkat kesulitan tinggi. Pertanyaannya, kehebatan orang-orang tersebut apakah terlepas dari peranan seorang guru?. Banyak cerita tentang keberhasilan seorang anak akibat guru yang hebat, namun banyak cerita juga tentang kegagalan karena guru salah didik. Kegagalan Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Stephen Hawking dan sebagainya di sekolah, dia bayar melalui belajar sendiri, dia menjadikan alam dan ilmu sebagai gurunya.

Pentingkah seorang guru?. Penting! Tapi guru yang mana? Yang jelas tidak ada tempat bagi guru yang “kecelakaan”, yaitu guru yang hanya manjadi guru sekedar mendapatkan pekerjaan. Namun, seorang guru profesional adalah guru dengan pangilan nurani, mungkin pada awalnya tidak sengaja jadi guru, namun jika yang bersangkutan dengan cepat menyadari akan pentingnya peran dia sebagai guru, lalu ia bangun paradigmanya, dan dengan nurani ia melangkahkan kaki ke hadapan anak-anak didiknya. Inilah guru yang dicari, ditunggu, dipuja, dan disayang sepanjang masa.

Guru adalah profesi yang paling terhormat. Ketika para arsitek jembatan, ahli biologi tanah, dokter bergelimang kotoran dan penyakit karena lahan pekerjaanya di situ, maka betapa bahagianya seorang guru yang memiliki lahan pekerjaan pada otak manusia. Otak adalah karunia tertinggi yang dimiliki manusia, dan otak juga di antara beberapa kekuatan maha dahsyat yang dimiliki manusia. Kita wajib bersyukur dengan menjadi guru

II. Bagaimana cara bersyukur dengan menjadi guru?

Salah satu cara untuk mensyukuri kita sebagai guru adalah “konsisten” pada amanah sebagai pendidik. Tujuan kita mendidik anak adalah agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang cerdas, berilmu pengetahuan, dan berakhlak mulia. Ukuran keberhasilan mendidik adalah terjadinya perubahan perilaku anak dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, dan tidak terbiasa menjadi terbiasa, sesuai dengan apa yang kita inginkan bersama. Artinya, tugas guru dianggap “selesai” setelah terjadi perubahan perilaku pada anak kearah yang lebih baik. Lalu, apakah dengan menyusun silabus, RPP, mengisi daftar hadir dan menuntaskan materi dapat menjadi ukuran bahwa guru yang bersangkutan telah menjalankan tugas?, Jawabannya belum!. Jika ukuran keterlaksanaan tugas sebagai guru hanya diukur dari aspek administrasi semata, berarati baru sebagian tugas yang selesai, yaitu tugas administratif, tugas sebagai edukator, belum!. Ingat, jika terjadi kesalahan dalam administrasi, kita dapat menghapus dan mengganti dengan yang baru, namun jika terjadi kesalahan dalam mendidik, kita tidak mampu menghapusnya, itu artinya kita bermimpi mengembalikan umur ke kondisi semula.

III. Peranan MGMP.

Sulitkah menjadi guru?, jawabannya TIDAK!, tentunya jika yang bersangkutan memang ahli dalam mendidik. Agama mengajarkan pada kita bahwa Tuhan tidak akan memberikan beban persoalan melebihi batas kemampuan manusia. Artinya, beban dan kemampuan selalu seimbang, dan sebelum beban diberikan kepada manusia, Tuhan membekali kemampuan lebih dulu. Hanya orang berkamampuan besarlah yang akan diberi persoalan besar, seharusnya kita berterima kasih ketika diberi persoalan besar, karena itu pertanda dalam diri kita tersimpan kemampuan sebesar persoalan yang dihadapi oleh kita. Sesulit apapun merancang dan membuat sebuah pesawat terbang, atau komputer tercanggih sekalipun, mudah bagi yang menguasai ilmunya. Namun, semudah apapun membuat pisang goreng, sulit bagi yang tidak menguasai ilmunya.

Artinya, menjadi guru sangat mudah bagi mereka yang professional di bidangnya. Orang-orang professional adalah orang-orang yang menguasai ilmu sesuai bidang kealiannya. Nah, bagi yang merasa sulit untuk mendidik anak dengan baik, berarti mereka belum menguasai ilmu mendidik sepenuhnya. Agar menjadi guru tidak menyiksa diri, dan dapat bekerja dengan rileks, untuk itu harus menjadi ahli. MGMP adalah salah satu wahana bagi guru untuk menguji dan mengembangkan kemampuannya secara bersama-sama.

MGMP adalah organisasi profesional, dan merupakan ajang atau arena bagi guru untuk mengembangkan kreatifitas dan prestasi melalui berbagai kegiatan ilmiah seperti workshop, seminar, presentasi hasil-hasil karya guru. Jangan menghabiskan energi dan waktu untuk memperdebatkan hal-hal spele seperti format-format adminstratif, jadikan MGM menjadi ajang peragaan best practice yang dilakukan oleh guru sehingga menjadi guru yang profesional.

IV. Semua Manusia Jenius!

Sesuatu yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa manusia adalah ciptaan ILLAHI, dan agama mengajar kepada kita bahwa setiap manusia diciptakan selalu dalam perencanaan, tidak satupun menusia yang dicptakan secara kebetulan. Setiap nyawa yang lahir mengemban suatu tugas sesuai dengan kekhasan potensi yang dimilikinya. Sebelum roh ditiupkan kepada jabang bayi di dalam rahim ibu, sebetulnya setiap kita telah “menandatangai” sebuah kontrak bahwa setiap menusia dibekali dengan potensi yang berbeda-beda. Apabila potensi yang saling berbeda tersebut dapat dikembangkan secara maksimal, tentunya tidak akan ada manusia yang terbuang. Semua anak menjadi juara di bidangnya masing-masing.

Berbagai hasil studi tentang perkembangan anak menyimpulkan bahwa pada dasarnya siswa itu baik, mereka memiliki kebutuhan untuk berekspresi, mengendalikan, memberi atensi dan mencintai. Hanya saja beberapa cara yang mereka pilih untuk mengekspresikan kebutuhan kadang-kadang tidak sesuai dengan situasi (kelas). Kondisi keseharian di sekolah seringkali tidak mampu mengakomodasi kebutuhan siswa secara keseluruhan, akhirnya mereka mencari konpensasi-konpensasi. Studi-studi tersebut juga menemukan bahwa seringkali pengalaman belajar anak “menghambat” proses kreatifitas. “Kebanyakan anak-anak memiliki kreatifitas tinggi (yang diatur oleh otak kanan) sebelum mereka masuk sekolah. Hanya 10% dari anak-anak ini yang tingkat kreatifitasnya sama pada usia 7 tahun, dan ketika telah dewasa hanya 2% yang tetap memiliki kreatifitas. Ini salah satu akibat dari proses pembelajaran yang mengutamakan otak kiri saja (Guinever Eden dalam Veronica Sri Utami, Majalah Nirmala, Okt 2008).

Studi lain yang dilakukan oleh Sidiarto berkesimpulan bahwa “tidak hanya kehilangan kreatifitas, meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh anak sebagai salah satu akibat metode pembelajaran yang mengutamakan otak kiri. Di samping itu pembelajaran yang demikian juga bisa membuat orang menjadi stress, bahkan musikpun tidak sempat lagi mereka nikmati karena sibuk menganalisis, serta akan menciptakan orang-orang yang :selalu berkompetisi dan selalu memandang sesuatu dari sisi menang-kalah” (Paul E. Dennison : Pencipta Brain Gym).

Kondisi demikian mengakibatkan nilai-nilai yang dipelajari oleh anak di sekolah menjadi tidak sinkron dengan perilaku mereka sehari-hari. Mereka rajin, disiplin, kolaboratif hanya pada saat berada di sekolah, di luar itu, dia bertindak lain, dan bahkan bertentangan.

V. Peranan Guru dalam Pendidikan

Hasil-hasil pengkajian tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa proses pembelajaran di dalam dunia pendidikan juga memiliki andil dalam proses “tercerabutnya” anak-anak dari akar budaya yang melingkupinya. Kondisi ini seharusnya menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan untuk melakukan berbagai perubahan dalam proses pembelajaran. Artinya, apabila terjadi inkonsistensi perilaku pada diri siswa, itu menjadi pertanda ada masalah dalam proses pembelajaran.

Eric Jensen (2008), seorang ahli yang mendalami pembelajaran berbasis otak (Brain Based Learning) menyatakan bahwa “anak-anak yang gagal dan sekolah yang gagal adalah sebuah indikasi dari adanya sistem yang salah, bukan otak yang salah”. Lebih jauh Eric Jensen mengungkapkan bahwa otak memang tidak dirancang untuk mengikuti instruksi formal. “Dalam kenyataanya, otak sama sekali tidak didesain untuk efisiensi atau ketertataan. Justeru otak berkembang paling baik melalui seleksi dan kemampuan bertahan hidup”. Semua ini diperoleh melalui pengalaman menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup. Melalui keterlibatan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah kemampuan otak bekerja makin optimal. “Masalah yang dihadapi saat ini tidak dapat diselesaikan dengan tingkat pemikiran yang sama atau dengan perangkat yang sama dengan yang telah menciptakan permasalahan itu (ibid).

Untuk itu, proses pembelajaran seyogyanya menyediakan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan potensi yang dimiliki, sekolah perlu menyediakan “tempat-tempat” produktif untuk melepaskan frustrasi dan berikan perhatian. Tempat-tempat tersebut dapat dalam bentuk proses pembelajaran yang demokratis, tugas-tugas yang menantang potensi setiap individu, dan mengurangi tugas-tugas yang sangat formal dan seragam untuk semua siswa. Melalui tugas-tugas yang beragam, setiap siswa memiliki peluang untuk mengekspresikan kreatifitas sehingga mereka berkembang secara optimal. Kondisi ini akan mengurangi perilaku “jahat” atau “brutal” karena mereka merasa dihargai dan dilibatkan.

Proses`tersebut harus didukung dengan penciptaan iklim belajar yang humanis, melalui berbagai kegiatan seperti pemeliharaan lingkungan sekolah yang nyaman yang melibatkan siswa secara aktif, melakukan kegiatan-kegiatan yang mirip dengan kehidupan nyata seperti dalam bersosialisasi, kegiatan ekstrakurikuler dan hubungan social antar warga sekolah yang penuh dengan keramahan. Sekolah yang ramah anak, lingkungan yang nyaman, dan keterlibatan anak terlibat dalam persoalan-persoalan nyata akan mendorong tumbuhnya jiwa humanis pada setiap anak.

Kegiatan-kegiatan seperti itu akan membangun mileu yang mendorong optimalisasi fungsi otak sebagaimana yang dinyatakan oleh Eric Jensen, kemampuan otak berkembang 99% melalui proses yang tanpa disadari. Artinya, pembelajaran yang sangat formal dan dilakukan secara sadar efektifitasnya hanya 1 %, berikut perbandingan proses pembelajaran berbasis otak.

Konsep ini ini juga berlaku dalam penanaman disiplin. “satu-satunya sistem disiplin yang terbaik adalah pembelajaran yang melibatkan. Ketika anak-anak dilibatkan, kenakalannya akan berkurang. Semakin siswa tidak mengetahui kalau mereka sedang didisiplinkan, akan semakin baik” (Jensen). Agar-agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang humanis, yaitu cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia maka kita perlu membangun suasana sekolah yang humanis pula. “Buatlah agar sekolah menjadi lebih seperti kehidupan nyata, integrasikan kurikulumnya, sertakan masalah-masalah nyata, lakukan kegiatan-kegiatan simulasi, berikan lebih banyak kebaruan dan umpan balik dan dapatkan kerjasama pembelajaran dengan memancing ketertarikan dan rasa hormat mereka” (ibid).

VI. Penutup

Sebagai kesimpulan dapat ditegaskan lagi bahwa pendidikan adalah salah satu media proses pembudayaan (enkulturasi). Manusia yang berbudaya adalah manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap sehingga mereka mampu berpikir secara rasional, kritis, dan memiliki karakter serta kepribadian yang cina pada keharmonian kehidupan. Mendidik anak agar menjadi humanis harus diawali dengan penciptaan iklim pembelajaran (school Culture) yang humanis dan bersahabat dengan anak. Persoalan pendidikan bukan pada kurikulum secara dokumen, melainkan kurikulum sebagai proses

• Pendidikan diharapkan dapat mengembangkan perilaku setiap individu siswa agar mampu menjaga konsistensi antara kompetensi hasil pembelajaran di sekolah dengan perilaku sehari-hari dalam kehidupan nyata.
• Sekolah diharapkan mampu mendidik siswa agar menjadi manusia pembelajar sehingga tumbuh menjadi orang yang berbudaya, kebiasanan belajar dan terus belajar (relearn).
• Sekolah diharapkan mampu mendidik siswa bagaimana cara manusia untuk mengetahui dan memahami, berdapatsi, menginterpretasi dan memanfaatkan sesuatu dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup.
• Sekolah diharapkan membiasakan siswa untuk saling percaya, menghargai, empati, simpati, serta bagaimana menumbuhkan kesenangan terhadap perbedaan gaya hidup di antara sesama mereka dan orang lain, bagaimana cara berpartisipasi, komit, kooperatif, dan emphati dalam berbagai hal.
• Kegiatan-kegiatan seperti melakukan pengamatan langsung secara teintegrasi antar mata pelajaran, praktik presentasi, pameran (eksebisi), membiasakan mengunjungi teman yang sakit atau ditimpa musibah, bermain peran sebagai pedagang, petani, dan berdoa sebelum belajar, membersihkan pekarangan sekolah dan ruang kelas adalah kegiatan-kegiatan yang merangsang anak untuk mengimplentasikan kompetensinya secara integratif. Apabila kegiatan tersebut di “manage” dengan baik dan menyenangkan, dengan sendirinya kemampuan akademik para siswa juga akan meningkat, mereka akan menjadi anak yang tahu, bisa, dan terbiasa.

Kita perlu menjadi guru yang jenius dan amanah yang dapat diteladani oleh setiap anggota masyarakat, terutama siswa. Guru adalah orang yang berilmu, cerdas, dan berakhlak mulia. Untuk itu jangan sia-siakan kesempatan yang mulia ini. Selamat menjadi guru yang professional, keindahan hidup akan selalu mewarnai. Amin. (Zulfikri Anas)

4 Responses to “Sebuah Impian (9) MENJADI GURU : SEBUAH PILIHAN YANG JENIUS DAN AMANAH (Disampaikan pada Pertemuan MGMP SMA se Kota Cilegon, Maret 2010)”

  1. Siti Khamdiatun said

    Jd tmbah semangat jd guru,,,tp sedih jg lihat tmen2 guru yg gak sdar sma tugasnya…

    • Banyak di antara teman-teman kita yang menjadi “guru kecelakaan” sehingga menjalankan tugasnya bukan dengan nurani, tanpa menyadari bahwa setiap tindak tanduknya, perilaku, sikap, cara bicara, perlakuan terhadap anak akan menjadi “model” bagi anak didiknya. Sikap egois, mau menang sendiri, memarahi murid dengan berkata kasar adalah salah satu ciri “guru kecelakaan”. Seberat apapun kesalahan “murid” mereka butuh sentuhan lembut dari para pendidiknya. Teruskan perjuangan, semoga teman-eman yang “belum sadar ” itu menjadi sadar, segera!. Selamat dan sukses selalu sebagai guru!
      ZA

  2. Yusuf said

    Insya Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: