SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (8) ““MERAJUT KEMBALI KAIN YANG TERKOYAK” Catatan Bedah Buku Arah Aktif Engku Syafei

Posted by Zulfikri Anas on February 9, 2011

Akhir-akhir ini para orang tua banyak yang bertanya “ada apa dengan pendidikan kita? Mereka disentakkan oleh perilaku anak-anaknya yang tadinya –sewaktu kecil — merupakan anak manis yang lincah, kreatif, bersahaja, santun, tekun, disiplin, dan mandiri, tiba-tiba begitu memasuki usia remaja mereka menjadi “liar”, suka melawan, menyenangi hal-hal yang instan untuk meraih segala sesuatu yang diinginkan. Kosa kata indah seperti : mohon maaf”, terimakasih, permisi, tenggang rasa, saling menghargai makin menjauh dari perbendaharaan kata mereka sehari-hari. Tidak hanya itu, keteladanan dari orang-orang dewasa dan tokoh-tokohpun semakin menjauh. Antara kata, hati dan perbuatan tidak lagi menyatu, kepentingan pribadi dan upaya melanggengengkan kekuasaan lebih mengemuka daripada memberikan layanan kepada masyarakat. Situasi tersebut sebagai akibat sekaligus penyebab kegagalan proses belajar yang menjadi pemicu kerusakan moral anak bangsa selanjutnya.

Ada apa dengan negeri ini? Kita tahu bahwa setiap perilaku manusia tidak ada yang “tiba-tiba”, muncul begitu saja dan kemudian akan hilang begitu saja, semuanya melalui proses berpikir. Proses berpikir berkembang berdasarkan learning experiences dan mimpi hidup ke depan. Padahal bila bicara content pelajaran, tidak ada sekolah yang –dengan sengaja– mengajarkan anak untuk berperilaku tidak baik!, di rumahpun orang tua selalu mengingatkan dan mengawasi perilaku anak-anak mereka, semua baik-baik saja.

Lalu?, tentu ada sesuatu yang telah terjadi dalam perjalanan proses belajar anak-anak. Iklim belajar yang tidak sehat, anak dijejali dengan pengetahuan, mengajar hanya untuk kepentingan mendapatkan nilai baik (teaching to the test), pencapaian prestasi anak diukur secara kuantitatif yang menggunakan n pencapaian nilai rata-rata sehingga berujung pada pengaburan potensi individu, bahan belajar yang diseragamkan. Belajar menjadi kerontang, hidup diselimuti kemarau panjang, panas oleh selimut emosi yang meledak-ledak mengakibatkan semakin suburnya kesombongan, keserakahan, dan perilaku menerabas. Semua ini mendorong kebiasaan menggunakan jalan pintas dengan cara-cara instan untuk mewujudkan keinginan, termasuk maraknya bimbingan belajar agar pintar menjawab soal-soal ujian. Celakanya, semua orang, apakah itu guru, orang tua dan masyarakat “mendukung” cara-cara demikian.
Dalam konteks ini, kita semakin yakin terhadap kebenaran kesimpulan hasil penelitian Guinever Eden tentang sekolah yang telah menyebabkan hilangnya kreatifitas pada anak. “Kebanyakan anak-anak memiliki kreatifitas tinggi (yang diatur oleh otak kanan) sebelum mereka masuk sekolah. Hanya 10% dari anak-anak ini yang tingkat kreatifitasnya sama pada usia 7 tahun, dan ketika telah dewasa hanya 2% yang tetap memiliki kreatifitas. Ini salah satu akibat dari proses pembelajaran yang mengutamakan otak kiri saja (Guinever Eden dalam Veronica Sri Utami, Majalah Nirmala, Okt 2008).

Studi lain yang dilakukan oleh Sidiarto berkesimpulan bahwa “tidak hanya kehilangan kreatifitas, meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh anak sebagai salah satu akibat metode pembelajaran yang mengutamakan otak kiri. Di samping itu pembelajaran yang demikian juga bisa membuat orang menjadi stress, bahkan musikpun tidak sempat lagi mereka nikmati karena sibuk menganalisis, serta akan menciptakan orang-orang yang :selalu berkompetisi dan selalu memandang sesuatu dari sisi menang-kalah” (Paul E. Dennison : Pencipta Brain Gym).

Di sengaja atau tidak, yang jelas itu telah terjadi. Masa kanak-kanak adalah masa-masa aktif dalam pendidikan, jika pengalaman belajar pada masa kanak-kanak itu berjalan sesuai dengan aturan yang benar, maka ia akan menjadi benar, dan setelah dewasa akan terbawa, anak akan sulit untuk mengubah perilakunya. Begitu juga sebaliknya, jika ketika kecil tidak mendapat pengalaman belajar yang benar, maka setelah dewasa juga akan sulit diubah (Sjafei,2010 : 7). Prinsip ini mengingatkan kita pada pepatah Minang “katiko ketek baraja-raja, lah gadang tabao-bao, dan katiko tuo tarubah tidak “(sewaktu kecil coba-coba, ketika remaja terbawa-bawa, dan setelah dewasa tidak bias diubah), (mengutip ungkapan Fidesrinur : 2011). Ini mengarah pada kesimpulan bahwa setiap perbuatan pasti melalui sebuah proses terlebih dahulu, di situlah peranan penting pendidikan.

Pada hal 80-an tahun yang lalu, seorang pendidik sejati, Engku Mohamad Sjafei , telah memulai merajut dan membangun pondasi kehidupan dengan menata pendidikan secara benar. Tidak dipungkiri bahwa awalnya ide tersebut muncul dari dorongan dan keinginan yang kuat agar bangsa segera lepas dari belenggu penjajahan psikologis untuk menuju kehidupan baru yang bermartabat melalui pengembangan kreatifitas, penanaman nilai-nilai agama dan budaya dalam pembentukkan perilaku sejak dini. Hal ini memunculkan kesadaran akan pentingnya pembangunan jatidiri, dengan disertai ketulusan hati , kondisi tersebut telah memicu semangat Sang Pendidik sejati dalam membangun sebuah institusi pendidikan. Engku Sjafei, melalui tangannya sendiri yang dibantu oleh para murid dan masyarakat sekitar, satu-persatu batu yang diambil dari kali digotong, semak-semak ditebas, dan akhirnya berdirilah sebuah “Ruang Pendidik” yang kemudian dikenal dengan INS Kayutanam. Dengan keyakinan penuh, Sang Guru membuktikan filosofi yang dianutnya “sehari selembar benang, lama-lama menjadi sehelai kain (Mohamad Sjafei).

Buku “Arah Aktif memberikan bukti bahwa Engku Sjafei adalah seorang guru sejati yang pernah dimiliki bangsa ini. Pikiran yang jernih dan tajam menyigi dan mengupas apa yang seharusnya dilakukan oleh dunia pendidikan dalam upaya membangun setiap individu menjadi produsen yang aktif dan berbudi sejak dini. Tidak hanya filosofis, Engku Sjafei bicara tentang hal-hal yang nyata, mudah, dan efektif. Impian kita yang terpendam selama ini tentang kurikulum yang hidup, bersahabat dan ramah anak terlihat terang di sini. Pembaharuan dalam dunia pendidikan yang saat ini menjadi wacana, seperti belajar aktif, contextual teaching learning, multiple intelligences, pendidikan karakter, budi pekerti, dan akhlak mulia justeru telah diimplementasikan dengan baik pada zaman itu. Andaikan pemikiran dalam Arah Aktif ini secara konsisten diterapkan sejak ide ini dimunculkan, alangkah hebatnya bangsa ku kini.

Bak setetes air di padang pasir yang tandus, pemikiran Engku Sjafei membawa angin segar dan nafas lega untuk menjawab berbagai persoalan pendidikan dalam rangka menjawab tantangan hidup generasi muda ke depan sebagaimana yang dicanangkan pemerintah akhir-akhir ini. Sayangnya tidak semua peserta acar bedah Buku ini menangkap itu, dan yang membuat kita menjadi miris adalah ketika sambutan riuh dari sebagian besar peserta pada saat salah seorang guru SD memberikan tanggapan “bahwa pendekatan seperti yang digunakan oleh Engku Sjafei ini sulit diterapkan di sekolah karena tuntutan akhir pemerintah berupa nilai angka (kuantitatif)”. Sebagian besar peserta “mengamini” pandangan guru ini.

Pemikiran yang demikian mengisyarakatkan seolah-olah pola pembelajaran yang mengaktifkan siswa ini akan mengurangi pencapaian hasil (nilai) akhir anak. Tentunya apabila anak terkondisi untuk belajar secara aktif, inovatif, mandiri dan kontekstual dengan sendirinya pencapaian prestasi juga akan baik. Entah ruh apa yang merasuki pikiran para guru kita saat ini sehingga mereka mengangap proses pembelajaran yang mengaktifkan siswa tersebut justeru akan membuang waktu sia-sia, “buat apa capek-capek, toh pemerintah hanya menuntut hasil akhir yang kuantitatif di ranah kognitif”. Ibarat memasak kue, sang koki tidak peduli dengan proses pembuatannya, yang penting semua adonan dicampur lalu dimasak, untuk mempercantik penampilan dan penikmat rasa dilakukan aksi instan dengan memberikan hiasan warna-warni dan penyedap rasa yang banyak. Begitu dilihat dan dicicipi kue itu sangat menarik hati dan sedap rasanya, namun semua itu merupakan kenikmatan semu karena dibumbui zat kimia yang lama kelamaan akan menjadi racun dalam diri manusia. Kira-kira analogi seperti itulah yang pas untuk menggambarkan kondisi iklim pembelajaran kita saat ini. Prihatin!.

Pandangan senada juga diungkapkan oleh seorang guru TK yang menyatakan bahwa “jangan biarkan anak-anak kebanyakan bermain, mereka perlu dibiasakan untuk belajar tekun sejak dini, untuk itu saya juga membuka bimbingan belajar, termasuk bahasa Inggeris untuk membekali anak agar kelak mampu bersaing dengan negara maju”. Pandangan ini mewakili pandangan banyak orang tua yang ingin anaknya dikenal sebagai anak super, sehingga anak-anak dijejali dengan berbagai beban belajar formal sejak dini.

Apapun persepsi guru tentang belajar, tentu tidak adil apabila mereka yang dipersalahkan? Mengapa guru jaman dulu tidak begitu? Mereka lebih tulus mengabdi sebagai guru, dan memandang kebutuhan belajar anak dengan jernih. Perlu dipertanyakan “sistem apa yang telah berlaku saat ini di republik ini sehingga guru berubah jadi begitu?”.

Engku Sjafei telah memulai merajut helai-demi helai benang lebih 80 tahun yang lalu, kini kain itu terkoyak, mari kita rajut kembali. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu, apalagi itu pernah menjadi bagian dari diri kita. Amin!

Bedah buku yang dilakukan pada tangal 4 Februari 2011 di Auditorium Arifin Panigoro, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Jakarta ini terlaksana atas prakarsa Dedi Sjarir Panigoro bekerjasama dengan Yayasan Jembatan Pekerti (JembaTi), Penerbit Tiga Serangkai Solo, dan Universitas Al Azhar Indoesia. Hadir sebagai pembicara utama, Dr. Dewi Utama Faizah (Staf Direktorat Pembinaan SD, Kemdiknas), Dr. Fidesrinur, M.Pd (Dekan Fak. Psikologi dan Pendidikan, UAI), Murni Djamal, MA (Dekan Fak. Sastra UAI), dengan moderator Drs. Zulfikri Anas, M.Ed (Staf Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemdiknas). Kegiatan yang dibuka oleh Rektor UAI Prof. Dr. Zuhal yang di dampingi oleh Dr. Ir. Ahmad H. Lubis, M.Sc (Wakil Rektor III UAI)diikuti oleh sekitar 600 orang peserta terdiri dari guru TK, SD, Mahasiswa dan Umum. Dan yang terpenting juga hadir tamu istimewa, Elvira Sjafei, salah satu puteri engku Sjafei, Muchtar Taat salah seorang murid Engku Sjafei dan Dr. HC Ani Iwasaki dari Pusat Studi Jepang Untuk Kemajuan Indonesia (PUSJUKI) dan Ir. H.Akhmad Supriyatna dari Binaputera, Kopo, Serang Banten. Penanggung jawab kegiatan Dr. Ahmad Lubis, M.Sc.(UAI) dan Ikhsan Fauzie (yayasan Jembatan Pekerti), dan Ketua Panitia Penyelenggara Suwardi dari UAI. (Zulfikri Anas).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: