SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (7) “Hukum Kekekalan Energi”

Posted by Zulfikri Anas on August 14, 2010

Potensi yang Belum Tergali

Energi tidak dapat diciptakan  dan dimusnahkan, namun ia dapat dialihkan atau beralih. Hukum ini berlaku untuk semua benda dan makhluk yang memanfaatkan energi, termasuk manusia. Setiap individu dibekali dengan takaran  energi yang sama, apapun kondisinya. Seorang yang terlahir sebagai Tunanetra memiliki kelebihan yang tidak dapat kita tandingi. Ketika kita berlomba dengan mereka berjalan dalam gelap, mereka tetap tenang, sementara kita sudah pasti jungkir balik.

Seorang Hellen Keller, yang semula terlahir normal, namun pada usia 19 bulan ia terkena demam panas, demam tersebut hampir saja merenggut nyawanya. Sebuah keajaiban terjadi, ia kembali sembuh, namun ia tiba-tiba menjadi buta dan tuli. Di awal hidupnya, Hellen Keller sempat frustrasi dan marah, namun karena keuletan seorang guru yang mamahami  kemarahan Hellen Keller, ia di didik dengan sentuhan hati, kemudian  Hellen Keller  tumbuh menjadi seorang penulis terkenal.  Ia dijuluki sebagai keajaiban dunia yang kedelapan karena prestasinya dengan tulisanya sangat inspiratif dan memotivasi setiap pembaca.

“Di dalam hidup ini “janganlah kita meminta pada Tuhan untuk diringankan beban, tetapi, mintalah kekuatan agar kita mampu memikul beban yang diberikan” (Helen Keller). Agama mengajarkan bahwa Tuhan  tidak akan memberikan beban melebihi batas kemampuan manusia. Kemampuan yang diberikan seimbang atau lebih besar dari beban yang diberikan dan sebelum memberikan beban,  Tuhan memberikan kemampuan terlebih dulu.  Pada saat kemampuan kita kecil, kita diberi beban kecil, beban yang diberikan akan bertambah besar seiring dengan makin besarnya kemampuan. Artinya, beban yang diberikan merupakan “anak tangga” bagi kita untuk maju. Kita  seharusnya  bersyukur ketika beban yang diberikan kepada kita cukup besar, itu pertanda bahwa kekuatan yang ada dalam diri kita juga besar.   Ini ayat, kebenarannya mutlak!. Hanya terkadang kita yang menzalimi diri sendiri,ketika beban itu datang, beban “dibesarkan” lalu potensi  diri “dikecilkan”,  akhirnya kita keteteran sendiri, lalu dengan tanpa merasa bersalah, dan dengan enteng kita bilang bahwa  Tuhan tidak adil, memberikan beban yang berat pada saya. Ironis!.  Kita lupa bahwa takaran energi yang kita miliki seimbang  dengan energi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Ayat itu juga berarti bahwa solusi persoalan yang kita hadapi ada dalam diri kita.

Ada sejumlah pengalaman teman saya  tentang kebenaran hukum kekekalan energi ini.Pada suatu saat, sebuah mobil mengalami gangguan mesin, hidupnya tidak stabil.Mobil tersebut sudah diperbaiki di beberapa bengkel, namun tetap tidak”sembuh”. Akhirnya sampai di sebuah bengkel yang salah satu montirnya  Tunarungu (mengalami gangguanpendengaran).  Si Montir tersebut  menaruh telapak tangannya di atas kap mesin,diam sejenak, sambil berfikir, lalu ia membuka kap mesin, dan meng-uta-atikbagian tertentu, beberapa menit kemudian mesin dinyalakan. Ajaib. Mesin  mobil kembali normal.  Pengalaman lain, ada beberapa teman dari LSMmelatih anak-anak tunagrahita (anak-anak yang diketegorikan ber-IQ sangatrendah) untuk mensortir sayuran, kemudian anak tersebut diperkejakan disupermarket. Selama mereka bekerja di situ, hasilnya bersih, walaupun iabekerja tanpa pengawasan.  Ada yang diajarimenjahit dengan jarak 2 mm, setelah dia bisa, dia dibiarkan bekerja sendiritanpa diawasi, jahitan itu kossisten 2 mm. Ada juga yang melatihnya untukmeng-entry  jutaan data di komputer,kecepatan dan ketepatanya melebihi kita yang normal. Salah satu kelebihanmereka di banding kita adalah ketekunan, kejujuran, konsistensi dan komitmen.Jika kita ingin mencari manusia yang tingkat kebohongan  “nol”, merekalah orangnya. Energi yangseharusnya digunakan untuk berfikir, sebagian dialihkan ke konsistensi dankejujuran itu.  Maha besar Allah!

Allah menunjukkan kebesaran dan keadlian-Nya.  Namun, dengan berbagai alasan dan dengan logika manusia (yang dipersempit), seringkali kita melupakan karunia yang maha besar itu. Suatu ketika,terjadi kebakaran dalam ruangan mesin sebuah pabrik. Karena bising, para teknisi yang bekerja di ruangan tersebut harus memakai tutup telinga untuk peredam suara agar para teknisi dapat bekerja dengan konsentrasi yang penuh.Namun apa yang terjadi, tiba-tiba penutup telinga tidak berfungsi,  konsentrasi buyar, kepekaan terhadap lingkungan sekitar menjadi hilang. Terjadilah kebakaran itu. Andaikan yang dipekerjakana dalah teman-teman kita yang Tunarungu, tentunya kejadian akan lain, karena alat peredam suara ciptaan Allah  tidak akan pernah rusak!

Pandangan umum dalam masyarakat kita terhadap saudara kita  yang terlahir sebagai orang yang berkebutuhan khusus,  dikonotasikan sebagai “produk gagal” atau bahkan ada yang berani dengan enteng mengatakan bahwa itu “kutukan”. Lalu mereka diperlakukan bukan seperti orang-orang yang memiliki potensi, seringkali kita hanya memandang mereka dengan belas kasihan lalu “membantu” mereka dengan cara yang tidak tepat. Keterbatasan yang dimilikinya dianggap sebagai penyakit. Seharusnya mereka diberi kesempatan untuk mengasah keunggulannya tanpa harus terhambat oleh pandangan-pandangan yang diskriminatif. Allah menitipkan “sesuatu” pada diri mereka, yang tidak ada dalam diri kita, dan kita butuh mereka!

Nenek moyang orang Minang zaman dulu sangat arif menyikapi hal ini, sehingga lahirlah filosofi tentang kehidupan bahwa setiap manusia bermanfaat bagi kehidupan. Si Buto paambih lasuang, si lumpuah panunggu jamua, si pakak palapeh badia.Artinya, yang buta ditugasi meniup debu di lesung, yang lumpuh “mengangon”jemuran padi agar tidak dimakan ayam, dan yang tuli ditugasi meletuskan meriam.

Sorang yang “lumpuh”  mengalihkan energi yang seharusnya digunakan untuk berjalan ke kesabaran, ketekunan, dan ketelitian. Apabila kita menyerahkan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, ketelitian dan ketekunan yang tinggi kepada mereka, dan ketika pekerjaan itu sesuai dengan potensi yang diberikan Allah padanya, pekerjaan itu akan   dapat dilakukan dengan baik dan dengan hasil yang menakjubkan.   Keberhasilan sesorang tidak bergantung pada jenis profesi, melainkan kesesuaian antara potensi (fitrah) yang dimiliki dengan profesi yang digeluti. Semua manusia memiliki potensi unik yang dibutuhkan dalam kehidupan.

Dalam hati kecil, saya berucap, sesungguhnya saudara  kita yang mengalami keterbatasan seperti tunarungu, tunanetra, tunagrahita, tunadaksa dan sebagianya, adalah orang-orang yang “beruntung” karena secara kasat mata ditunjukkan keterbatasannya oleh Allah sehingga dalam mengelola energi yang dimiliki, mereka bisa lebih focus daripada kita. Menyadari keterbatasannya, seseorang yang menderita kelumpuhan  tidak akan membuang energinya untuk bermimpi menjadi pelari. Energinya akan difokuskan pada keahlian yang ia punya. Hasilnya? Maksimal! Orang-orang yang fokus  bisa dihargai berpuluh kali lipat dari orang yang tidak fokus. Sementara kita yang merasa diri kita  “serba lengkap” ini bermimpi untuk jadi apa saja, ketika ada orang ang berhasil menjadi pemain bulu tangkis, kita bilang “saya juga bisa”, apa bedanya saya dengan dia! Ketika ada orang yang berhasil sebagai penceramah, lalu kita berpikir,betapa enaknya hidup seperti dia, bicara ke sana ke mari lalu dapat uang.  Apa kurangnya saya dari dia? Saya  juga bisa, lalu kita coba pula. Akibatnya kita malah tidak focus. Salah satu kelemahan kita yang “normal” ini adalah  seringkali “tidak focus”, tidak terarah, semua ingin  dicoba, sehingga pemanfaatan energi tidak efektif.

Kita harus bersyukur pada Allah, menghargai apa yang ada,memahami potensi diri, menyadari keterbatasan, berbuat sesuatu yang dapat dilakukan dengan kemampuan maksimal dan dengan ketulusan hati sehingga bermanfaat bagi kehidupan. Itulah orang sukses. Sukses tidak  ada kaitannya dengan kaya raya, populer, jabatan yang tinggi, dan sebagainya, orang-orang sukses adalah orang-orang mensyukuri apa yang ada, berbuat sesuatu dengan memaksimalkan kemampuan dan tulus sehingga bermanfaat bagi orang lain, apapun itu bentuknya. Kesuksesan dan kebahagian hidup dapat hinggap di manapun, tukang sapu, tukang bakso keliling, guru, karyawan, pengusaha dan sebagainya.  Namun ketidaksuksesan juga bisa hinggap dimanapun. Apakah orang kaya dapat dikatakan seorang yang sukses?, Jawabnya, bisa”ya” bisa “tidak”, bergantung sejauh mana yang bersangkutan mensyukurinya.

Kiranya tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa dari 5 atau 6 milyar manusia di dunia, Allah telah membaginya dengan sempurna, berapa % yang diutus sebagai ilmuwan (penemu),berapa orang untuk pengemudi, cleaning service, manajer, guru, karyawan, dansebagainya.  Komposisinya diatu rberdasarkan hukum kesimbangan dan hukum kekekalan energi karena inila hukum tertinggi. Namun kesimbangan itu menjadi terganggu ketika manusia ingin mengubah komposisi dengan mengagungkan salah satu potensi yaitu (IQ) yang tingggi. Semua orang ingin dididik berdasarkan kekuatan IQ. Inilah sebuah keniscayaan. Jika IQ menjadi satu-satunya penentu  keberhasilan hidup manusia, (mohon maaf) berarti Allah diskriminasi menciptakan manusia. Tentunya bukan demikian,perbedaan IQ hanya mengisyaratkan berbagi peran saja. Saudara kita yang tunarungu, dibekali dengan kepekaan membaca getaran dengan sensitifitas yang tinggi.Kepada orang lumpuh diberikan ketekunan dan kesabaran.  Kepada orang-orang yang ditugasai sebagai penemu (ilmuwan)  dibekali IQ tinggi,jumlah penemu tidak perlu banyak, cukup 2,5% saja dari populasi. Hasil temuan para penemu tidak dapat dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan sehingga diperlukan orang lain yang berperan sebagai pengolah, pentransfer (guru),pekerja dan tukang sapu. Ketika semua peran itu dimainkan dengan baik oleh masing-masing sesuai dengan potensinya, maka terjadilah kesimbangan. Jika ada  yang mengingkarinya,  tunggulah “kiamat”.

Itulah contoh cara kerja hukum kekekalan energi pada kehidupan manusia.Setiap manusia memiliki keunggulan, Thomas Armstrong dengan tegas mengatakan bahwa setiap manusia terlahir jenius, tanpa kecuali. Kesalahan kita selama ini adalah menggunakan IQ sebagai satu-satunya ukuran kejeniusan, akibatnya kita diskriminatif terhadap sesama. Bagi Armstrong, kejeniusan diartikan sebagai kemampuan unik yang dimiliki oleh setiap orang. “Semua orang dilahirkan dengan kejeniusan unik yang menjaga mereka, membantu mereka keluar dari kesulitan, dan memberi inspirasi pada saat-saat yang penting dalam kehidupan mereka” (Thomas Armstrong).  Didalam Alquran dijelaskan bahwa kehidupan manusia ibarat planet yang memiliki orbit sendiri-sendiri, dan setiap orbit sama pentingnya, terlepas dari besar-kecil ukuranya. Dan ketika setiap planet konsisten menjalankan orbitnya,terjadilah keseimbangan. Sebaliknya apabila ada salah satu atau beberapa  “planet” hanya sibuk mengurus orbit yang  lain sementara orbitnya macet, terjadilah “kiamat”.

“Anak-anak yang gagal dan sekolah yang gagal adalah sebuah indikasi dari adanya sistem yang salah, bukan otak yang salah”(Eric Jensen).  Ya, karena otak ciptaan Allah, dan otak salah satu karunia tertinggi yang diberikan pada kita. Semoga bermanfaat……(bersambung).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: