SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (5) “Belajar Menembus Batas Ruang dan Waktu”

Posted by Zulfikri Anas on March 31, 2010

Asyik memperhitungkan agar bangunan tidak mudah roboh

Pada saat anak-anak bermain dengan air, tanah, pasir, pohon, dan semua yang ada di dunia sekitar mereka, ketika itu zat kimia yang ada dalam cairan otak sangat aktif membangun jaringan baru membentuk sebuah sistem yang makin lama makin kompleks. Sistem itu terus tertata dan semakin canggih  sejalan dengan berbagai persoalan yang ada dalam setiap kegiatan yang dilakukan.  “Otak memang tidak dirancang untuk tertata melalui instruksi formal, ia akan berkembang dengan baik melalui pengalaman dan kemampuan menyelesaikan masalah sebagai upaya untuk survive (bertahan hidup)” (Eric Jensen).

Sampai saat ini, para ahli anatomi dan seluk beluk otak, sepakat bahwa tidak ada satupun alat (secanggih apapun itu) yang mampu mengukur kemampuan otak manusia. Kemampuan otak tidak terbatas, positifnya tanpa batas, negatifnyapun tanpa batas. Perkembangannya sangat bergantung pada perjalanan dan pengalaman yang dirasakan selama perjalanan itu.

Orang bijak mengingatkan kita, hakikat perjalanan hidup manusia adalah “rangkaian persoalan demi persoalan”. Setiap persoalan yang dihadapkan kepada setiap manusia tidak pernah melebihi batas kemampuan yang bersangkutan, demikian agama  mengajarkan kepada kita. Ajaran ini bermakna,  antara persoalan dan kemampuan manusia seimbang. Makna lain, kemampuan diberikan sebelum persoalan dihadapkan.  Untuk itu, belajar yang paling baik adalah melibatkan diri dalam persoalan yang sedang dihadapi, bukan mencari jalan untuk menghindar  secara instan.

Dalam rangka itu, proses belajar seyogyanya kaya dengan “problem solving”.  Berikan kegiatan dan  tugas-tugas yang menantang kepada setiap anak sejak dini. Bentuk tugas yang seragam dengan penyelesaian melalui jalan tunggal akan memiskinkan pengalaman belajar.

Sekolah yang baik adalah sekolah yang aktivitas se-hari-hari mirip dengan kehidupan nyata. Ketika si anak bermain pasir membuat patung, bendungan dan berbagai macam bentuk yang lahir dari imajinasinya, sebetulnya mereka sedang berupaya menerapkan sejumlah teori ilmiah melalui bahasa mereka. Mengapa kegiatan seperti itu tidak dijadikan “PR” mereka?. Saatnya kita mengubah “PR” dari mengerjakan soal-soal berupa pertanyaan yang ada di buku dengan hal-hal yang menantang anak.

Ketika mereka bergelut  dengan alam di sekitar, berarti pada saat itu mereke bergelut dengan ilmu karena semua ilmu berkaitan dengan alam. Tidak satupun ilmu yang terlepas dari alam, dan alam itu  adalah firman Illahi.

Inilah sebuah impian, belajar tanpa batas-batas ruang dan waktu. Semua tersedia di alam. Dan berguru ke alam, berarti berguru pada firman-Nya. Hakikatnya begitu.  Alam adalah guru terbaik! (Bersambung…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: