SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (4) “Belajar adalah Rekreasi”

Posted by Zulfikri Anas on October 28, 2009

Bulu babi

95% tubuhnya terdiri dari bulu yang mengandung racun, namun isinya dapat dimakan dan menjadi menu favorit bagi orang Jepang.

“Tiba-tiba badan saya panas dingin, kaki saya bengkak, kata Ibu  harus  dipukul-pukul  dan siram dengan air pipis” kata seorang anak bernama Ali  menceritakan pengalaman pribadinya ketika pertamakali terkena tusuk duri landak laut atau dikenal dengan sebutan  bulu babi.

“Anak-anak,  bulu babi yang menancap di tubuh kita tidak bisa dicabut karena sangat rapuh, untuk itu harus dihancurkan dengan cara memukul-mukulnya agar bulu dan racunnya keluar bersama darah, dan kata orang yang pernah mengalaminya,  racun itu  dapat ditawarkan dengan amoniak,  karena sudah diyakini secara turun-temurun, Ibu Ali menyuruh  Ali menyiram dengan air seni, air seni  kita mengandung amoniak. Kata para ahli,  sebetulnya tubuh kita yang sehat ini mampu mengatasi racun karena tubuh kita mengandung antibody yang mampu  menawarkan racun,  untuk membuktikan kebenaran ini, kalian harus belajar dengan baik  dan mungkin ada diantara kalian yang berbakat menjadi ilmuawan ahli bulu babi”, Bu Guru memberikan penjelasan tambahan setelah Ali bercerita.

“Ada Bu……., beberapa anak berteriak ketika Bu guru mengakhiri penjelasannya tadi.

-o0o-

Pagi itu, pelajaran baru saja dimulai,   “Anak-anak, minggu lalu kalian telah mampu membuktikan bahwa Tuhan menyayangi kita semua, dan kalian juga telah berjanji akan mensyukuri atas semua  yang disediakan Tuhan bagi kita.  Nah, sebagai kelanjutannya, pada hari ini kita belajar bagaimana cara bersyukur pada  Illahi.   Melalui  mata pelajaran IPA, kita telah menyadari bahwa alam beserta isinya yang beragam seperti  hewan,  tumbuhan, dan benda-benda yang ada disekitar kita dicipakan oleh Illahi untuk kemakmuran kehidupan manusia.  Kita semua juga sudah paham bahwa manusia tidak mampu menciptakan semua itu,  untuk itu kita harus bersyukur, salah satu cara bersyukur adalah dengan  mempelajari semua ciptaan Tuhan sehingga kita paham dengan segala sifat-sifat dan manfaatnya”, kata Bu Guru mengawali pelajaran pagi itu sebelum meminta salah seorang anak bercerita tentang pengalaman pribadi.

“Sehari-hari, kita bergaul dengan alam, terutama alam laut karena kita

Bendungan

Menerapkan ilmu di sekolah dan kehidupan sehari-hari adalah ibadah (Banggai-za09)

tinggal di sekitar laut, untuk itu, masing-masing kalian menuliskan cerita singkat berdasarkan penglaman pribadi tentang hal-hal yang berkesan yang kamu alami, seperti cerita Ali, tadi. Waktu kalian ada 5 menit, dan setelah itu secara bergantian dengan teman yang berdekatan kalian menceritakan apa yang ditulis”, kata Bu Guru yang mengajar pagi itu.

Ketika semua siswa asyik dengan tugasnya masing-masing, guru berkeliling, melakukan observasi sambil membawa lembaran checklist untuk mencek siapa anak yang paling tidak bisa dan siapa yang paling bisa. Sebelumnya guru telah mempersiapkan indikator-indikator sebagai tolok ukur perkembangan kemampuan siswa pada pertemuan ini.  Paling tidak, ada beberapa indiktor mata pelajaran yang saling terkait, seperti “menentukan cara-cara besyukur pada Illahi, kemampuan menulis cerita, memilih dan merangkai kata menjadi kalimat yang bermakna, bercerita dengan kalimat yang jelas dan mudah dipahami,  menarik  kesimpulan, dan banyak lagi. Indikator tersebut membantu guru utnuk mengukur seberapa terjadi perubahan kemampuan pada setiap pertemuan.  Dengan berpegang pada indikator-indikator tersebut, guru dengan mudah mendesain pembelajaran interaktif, proses pembelajaran mengalir  di mana aktivitas siswa yang menjadi pusat kendali pembelajaran. Suasana kelas menjadi sanagt hidup, siswa terlihat sangat menikmati namun tetap kental dengan sifat kekanakan mereka. Dengan demikian, pada saat yang bersamaan, substansi yang dipelajaripun beragam, ada yang berkaitan dengan IPA, Bahasa, IPS, dan Agama. Sesuatu yang dianggap sangat sulit bagi guru pada umumnya. Guru ini melakukannya dengan mudah, dan yang lebih hebat lagi, kelihatannya guru ini sangat siap, perencanaannya matang sehingga pada saat masuk kelas seperti “rekreasi” saja.  Di sepanjang proses pembelajaran, siswa terkondisi menjadi orang-orang yang produktif. “Sekecil apapun, siswa harus memproduksi sesuatu, sekalipun itu hanya ide sederhana dan yang harus kita jaga jangan sampai mereka merasa terpaksa, biarkan mereka melakukan dengan caranya sendiri agar tidak terbebani sehingga seberat-beratnya persoalan yang dihadapi, akan terasa enteng”, kata Bu Guru.

Berbekal, catatan yang diisi sambil melakukan observasi, guru dengan mudah mengontrol perkembangan dan pencapaian kompetensi setiap siswa. Dan yang paling penting, guru dengan mudah mengambil keputusan apakah siswa-siswanya telah tuntas atau belum, bagian mana yang belum tuntas, juga dengan mudah diketahui. Hal ini akan mengatasi resiko kesalahan dalam memberikan tindak lanjut kepada setiap anak.

Oleh karena guru ini sudah terbiasa dengan cara demikian, guru yang satu ini sangat ahli menentukan metode, berkreasi dengan bebas, sehingga anak-anak terlihat gembira. Sepertinya, anak-anak didiknya tidak mengalami kesulitan menguasai kompetensi yang  telah ditargetkan. Dengan cara demikian “sesulit apapun, mereka mampu mengatasi kesulitan  secara mandiri”, kata Bu Guru optimis.

Bis Air

"Bis Air" : Akrab dengan alam laut (Siantan, za-08)

Di akhir pelajaran, setelah menutupnya dengan membantu siswa menarik kesimpulan dan penguatan, semua siswa ditugasi membuat cerita tentang apa yang mereka alami selama satu minggu ke depan. Topik utama cerita  “cara-cara bersyukur kepada illahi lewat pengalaman pribadi”.  Media yang dipilih diserahkan kepada masing-masing siswa,   kemungkinan ada yang memilih cerita essay, cerita bergambar, komik, pidato, puisi, dan sebagainya.  Tugas yang diberikan itu mampu memancing potensi-potensi yang tersembunyi   dalam setiap diri siswa karena di samping cerita yang beragam sesuai dengan yang dialami, mereka juga memiliki peluang untuk mengekspresikan kemampuan  melalui media yang diminati.  Melalui satu tugas tersebut, puluhan, dan bahkan ratusan kemampuan dapat terasah sekaligus, sementara guru telah mempersiapkan “rubrik” untuk mengevaluasinya.

“Anak-anak di pelosok (baca:pulau)  ini harus diperlakukan demikian Pak, jika tidak, semangat belajar mereka mengendor. Pada hal sebetulnya mereka sangat kreatif dan terbiasa mengatasi persoalan”, kata Bu Guru diakhir  pembicaraan kami, begitu saya pamitan sehabis melakukan observasi di kelasnya.

Wahhhhh… “guru ini memang hebat” anak-anak belajar dengan rileks. “Belajar adalah rekreasi bagi anak-anak!, begitu juga  bagi guru, bersama siswa adalah rekresi yang paling nyaman!”, katanya (bersambung). ……. Zulfikri Anas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: