SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (3): “Belajar dari Kehidupan Nyata”

Posted by Zulfikri Anas on October 28, 2009

Kehidupanku

Di pagi hari, kehidupan berawal, dan belajarpun dimulai. "Sesungguhnya alam raya ditunddukan bagi manusia"(za-09)

Matahari pagi menyapa, nadi kehidupan masih berdenyut, suara ombak, desiran angin menghembuskan udara segar pagi ini. Semalaman tidur nyenyak tanpa lampu. Inilah kehidupan di pulau, listrik hanya menyala antara pukul 18.00 – 24.00, tapi beberapa hari ini sering mati semalaman, kalau sudah begitu, sinyal HP-pun hilang. Beberapa hari di sini saya terbebas dari dering HP, he,he,…….kadang-kadang enak  juga hidup tanpa dering HP, tapi rasa ingin tahu dan ingin berbagi cerita dengan keluarga sering membuat kita ingin cepat pulang….

“Di sini satu strip sinyal HP  lebih mahal dari HP-nya  Pak”, kata Bu Camat menceritakan pengalamannya ketika beliau berusaha mengontak kerabatnya di kota, karena sangat penting, terpaksa Bu Camat naik speedboat ke pulau lain (dekat pusat pemerintahan kepulauan) untuk mencari sinyal HP, begitu dapat 2 strip, perasaan bukan main lega.  “Alhamdulillah, akhirnya ada sinyal, hati senang walaupun harus merogoh kocek  Rp. 1 juta untuk keperluan BBM speedboat pulang-pergi”, katanya.

Saya membatin “hari gini, masih ada wilayah di republik ini yang sulit listrik dan komunikasi, sementara pulaunya menyimpan ribuan potensi, potensi itu tertidur karena  selama ini pendidikan juga  tertidur”.

Pagi ini saya berencana masuk ke kelas, sebuah SD yang dulunya

Berdansa

Dua ikan "aneh" kelihatan seperti daun kering, berdansa menikmati beningnya air laut. Potensi yang terlupakan. (za-09)

direncanakan sebagai sekolah kelautan. Setahun yang lalu, saya datang ke sini, lalu bertanya kepada anak-anak di dalam kelas, coba sebutkan contoh ikan yang kamu ketahui!, serentak mereka menjawab “hiu, tongkol, teri, udang”, lalu saya bertanya lagi, hanya itu?, bagaimana dengan ikan sunu, bubara, ikan kardinal (cardinal fish), ikan napoleon, ikan yang berwarna-warni, dan puluhan dan mungkin ratusan jenis ikan lain yang akrab dengan kalian sehari-hari?, “Itu kan tidak ada dalam pelajaran Pak”, kata mereka polos. Dahsyatnya akibat dari sebuah pembelajaran!. Nnama-nama ikan tersebut tidak disebut dalam buku yang mereka gunakan sebagai bahan ajar sehar-hari.

“Anak-anak di sini terbiasa mendayung  sendiri sampan mereka setiap hari pergi sekolah, bila musim badai, mereka dengan lihai mengatur kecepatan sampan sehingga posisi sampan selalu persis di puncak gelombang,  jika tidak, bisa berbahaya”, kata Pak Guru menceritakan anak-anak pulau pada saat kami sedang memperhatikan beberapa anak yang mendorong perahu ke pantai beberapa menit sebelum pelajaran di mulai.

Anak Pulau

Tidak hanya di laut, di daratpun mereka perkasa karena terbiasa belajar dari kehidupan nyata (za-09)

Keperkasaan” anak-anak mengarungi laut setiap hari membuktikan betapa mereka memiliki life skills yang teruji. Ketika mereka mengatur kecepatan sampan, di dalam otak mereka perhitungan matematis mengalir secara  otomatis, bukan saja perhitungan matematis, perhitungan fisika seperti, gaya,  gesekan, momentum, tekanan udara, hukum Archimedes dan banyak lagi yang lain begitu akrab dengan kehidupan mereka. Demikian juga pemahaman mereka dengan berbagai biota laut. Namun, semua itu “di-nol-kan (nullified) begitu dia masuk kelas.

“Anak-anak, hari ini kita belajar tentang peta, buka buku kalian halaman 20, dan lihat peta di papan tulis, ini adalah peta Jawa Barat, ibu kotanya Bandung…..dst, bu Guru dengan fasih mengajak anak-anak untuk bercerita tentang Jawa Barat”.

Reaksi anak-anak?, sekilas mereka terkagum-kagum mendengar cerita Bu Guru tentang kota Bandung, di sana banyak mobil, kereta api, dan toko-toko besar, dan beberapa makanan khas yang enak rasanya. Sejenak mereka berfantasi membayangkan kota yang diceritakan, dan mulai lupa atau mungkin melupakan keindahan dan kekayaan alam yang mereka gauli setiap hari. Perlahan-lahan mereka bermimpi, betapa enak…..ya hidup di kota besar separti Bandung, listrik tidak pernah mati, bisa naik kereta api, naik mobil……. “Aku akan ke sana”……..mimpi mereka!.

Jika saja kita mampu memberikan pembelajaran mereka melalui kehidupan

mereka sendiri, tanpa harus meracuni dengan memaksa mereka untuk menggunakan buku sebagai satu-satunya sumber belajar, mungkin suatu saat wajah-wajah polos dan penuh semangat ini menjadi pengusaha lokal di bidang kelautan yang tersohor ke

Nampang Sejenak di Halaman Parkir Gedung APEC, Busan Korea

penjuru dunia, atau sekurangnya menjadi konsultan kelautan di Jerman, Amerika, dan di manapun……, namun, akibat proses pembelajaran yang sejak awal mulai sekolah “mencabut” mereka dari kehidupannya, mimpi itu mungkin tetap tinggal mimpi.

Hari ini akan saya buktikan, seberapa jauh lagi langkah yang harus diayunkan untuk mencapai mimpi itu! (bersambung). Zulfikri Anas-09

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: