SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (2): “Alam Terkembang Jadi Guru”

Posted by Zulfikri Anas on October 14, 2009

Tuapejat-0

"Mimpi yang tertunda": Alam Takambang Jadi Guru. (za: Tuapejat 09)

“Alhamdulillah, kita masih bisa bermimpi”. Kalimat ini menjadi energi pendorong sebelum saya meneruskan bermimpi. Takutnya, suatu saat bermimpi pun dilarang.

Menyimak kebijakan pemerintah Negeri Impian, saya menjadi tergugah untuk menjelajah lebih jauh ke pelosok tanah air. Sungguh sangat menakjubkan, sebuah negeri “laut” yang ditaburi pulau. Selama ini para warganya memandang bahwa tanah airnya sebagai negeri “pulau” yang dihubungkan oleh laut sebagai pemersatu. Konon, cara pandang ini sengaja ditumbuhkan sejak zaman kolonial agar masyarakat negeri ini berpikir sebagai “orang gunung” bukan “orang laut”.  Karakternya jelas beda, orang gunung  relatif manja karena semua kebutuhan pangan terpenuhi tanpa harus menguras “energi” untuk berpikir lebih keras, alam yang sejuk, subur, dan siap menyuplai kebutuhan hidup setiap saat. Sementara orang laut harus “berpikir” keras karena hidup dalam ketidakpastian. Hidup di laut harus “perkasa” secara fisik dan mental. Akibat keganasan “alam”, hari ini dapat makan, besok belum tentu. Masa paceklik dapt berlangsung  berbulan-bulan. Akibat kehidupan yang “keras” dan  diimbangi dengan konsumsi protein tinggi dari laut,  orang-orang laut tumbuh menjadi orang perkasa dan ulet. Berbeda dengan orang gunung dengan hidup yang lebih santai. Karakter sebagai orang “laut” ini menjadikan bangsa ini dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Ini — salah satunya– ditunjukkan oleh bangsa Bugis yang tersohor sebagai pelaut yang ulung.

Lalu apa kepentingan pemerintah kolonial menjadikan masyarakat negeri

dua wanita

"Keperkasaan Wanita Mentawai", potensi yang di-nol-kan (nullified) di dalam kelas. Tuapejat-za-09)

ini jadi “orang gunung”, bukan “orang laut”?. Ya….cara berpikir. Jika kehidupan bangsa kita didominasi oleh cara berpikir orang “laut” yang lebih dinamis, ulet, gigih dan kreatif, tentu, bangsa ini akan lebih cepat pintar dan cerdas. Alasan lain, jika anak-anak bangsa ini terkonsentrasi di “gunung”, harapannya mereka “lupa” akan kehebatan sumber daya lautdengan  kekayaan yang tersimpan di dalamnya mungkin jauh melebihi kekayaan yang tersimpan di daratan. Mungkin begitu!.

Tuapejat-5

Terdampar di Pantai Tuapejat: Meski sudah mati, ikan ini tetap memperlihatkan keindahan warnanya sebelum ia lenyap buat selamanya. (za-09)

Kembali ke pokok cerita “mimpi” kali ini, ketika  saya berada di sebuah pulau yang  sangat mempesona. Letaknya yang terpencil justeru makin membakar adrenalin turis mancanegara untuk datang ke sana. Makin lama turis yang datang makin banyak, dan pulau ini makin tersohor.  Pesona laut menjadi kekuatan magis bagi mereka. Air yang bening memantulkan warna kebiruan, bias langit. Ikan laut dengan berbagai bentuk dan warna menghiasi pemandangan dan menjadi aquarium hidup. Rumput luatpun menjadi komoditi baru yang menjanjikan, tiap minggu para saudagar datang membawa uang miliyaran untuk membeli ribuan ton rumput laut yang katanya akan diekspor ke Korea sebagai bahan baku kertas pengganti kayu pinus. Wow……pola hidup sebagian warga masyarakat berubah. “Wah pak, kalau musim panen rumput laut, membeli barang elektronik dan kendaraan bermotor seperti membeli kacang goreng”, kata yang punya penginapan kepada saya sewaktu sarapan pagi.

“Di sini pernah dibangun sebuah SD Kelautan” kata Ibu Camat. Awalnya

Bersantai bersama Pak Husnul Kamal "Keindahan Alam": Sumber belajar yang menumbuhkan ketakjuban

pemerintah “tergugah” karena banyak anak-anak yang tidak bersekolah, pada hal mereka sehat-sehat, segar, prima, dan memiliki keberanian luar biasa. Mereka pesahabat, penakluk, dan penikmat alam laut. Bukan tidak mungkin suatu saat mereka menjadi ahli laut termahal di dunia. Namun, belakangan  ini sekolah ini menjadi sekolah biasa yang jauh dari cita-cita semula, menjadikan sekolah berbasis keunggulan lokal, (kelautan). Dari dialog singkat saya dengan Ibu Camat itu, membersitkan sebuah ide, mendesain sekolah khas kelautan  dan ide tersebut sudah terimplementasi sejak beberapa tahun yang lalu. Hari ini saya datang lagi ke pulau ini untuk melihat seberapa jauh ide ini terlaksana. (bersambung..) Zulfikri Anas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: