SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (1): ” Kembalinya Nurani”

Posted by Zulfikri Anas on October 5, 2009

rumah-gadang-edit-24

"Rumah Gadang Kian Berlalu" di sinilah tempatku dibesarkan, umumnya rumah gadang di Ranah Minang bernasib sama.

Suatu saat saya berkunjung ke “negeri impian”. Pemerintahnya benar-benar komit membangun bangsanya. “Tidak ada jalan lain, kecuali kita harus merombak sistem pendidikan, utamanya implementasinya”, ungkap Presiden terpilih pada saat dia dikukuhkan. “Kita telah sepakat akan membangun ekonomi lewat pendidikan, bukan meng-“ekonomiskan” pendidikan” (melindungi secara formal pendidikan menjadi ladang bisnis yang menggiurkan), demikian tegasnya. Undang-undang sudah benar, tapi aturan-aturan operasional dari undang-undang tersebut banyak yang keliru, untuk itu kita harus konsisten dengan undang-undang.

Tekad pemerintah sudah bulat, bila perlu kita akan melakukan revolusi pendidikan. Pertanyaan masyarakat, apanya yang akan direvolusi?,  jika hanya mengubah kurikulum dan tetek bengeknya,  kita sudah terlalu capek, masyarakat sudah lelah. Berkali-kali ganti kurikulum, hanya ganti baju,  “kurikulum” yang sesungguhnya tidak pernah berubah.  Sejak dirusak oleh bangsa lain,  sistem pendidikan kita tercabik-cabik menjadi perca yang berserakan dan ironisnya, kondisi tersebut belum banyak berubah sampai saat ini. Alih-alih peningkatan mutu dan atas nama upaya “mensejajarkan” dengan bangsa lain melalui SBI (sekolah bertaraf internasional), namun karena konsep dan penerapanya salah kaprah. Kita berlomba-lomba “menginduk” dan “minta” diakreditasi oleh negara lain yang menurut pandangan awam kita lebih maju dengan melupakan potensi unggulan yang kita miliki.  Sering kali tidak kita sadari bahwa kita memiliki banyak keunggulan di banding negara lain. Unggulan-unggulan tersebut akan menjadi  pijakan untuk memperkokoh nilai tawar (bargaining position) karena mereka tidak memiliki itu. Apabila dikemas dengan sungguh-sungguh, hal tersebut sekaligus akan memperkokoh jatidiri bangsa, meningkatkan daya saing.

Jika tidak dengan menawarkan keunggulan yang kita miliki,  cara menginduk akan terus melemahkan jatidiri bangsa kita. Bayangkan,  suatu saat nanti, semua sekolah di negeri impian ini menjadi “sub ordinat” dari sekolah-sekolah di negara lain, di samping menjadi “ladang” yang subur bagi mereka, semua sisi kehidupan kita akan dikendalikan melalui “remote control”.  Dalam kondisi seperti ini mungkinkah mereka akan menganggap kita sejajar dengan mereka? atau mungkinkah kita akan mencapai standar yang telah mereka tetapkan?. Jawabnya tidak akan pernah!.

Tuapejat-8

Salah satu keunggulan lokal: Potensi alam yang tidak terhingga, jangan sampai tidak dikenali oleh anak-anak kita, sementara orang-orang asing memburunya. (Tuapejat, za-09)

Biaya yang dikeluarkan untuk “merombak” sistem pendidikan sudah terlalu banyak, tapi hasilnya makin semrawut, inti persoalan tidak pernah terjawab!. Pemerintah mencoba meyakinkan masyarakat, “yang akan  kita lakukan  adalah mengembalikan nurani para pelaku pendidikan mulai dari tingkat menteri sampai pelaksana di lapangan karena yang hilang dalam dunia pendidikan kita adalah nurani!”.

Pemerintah optimis meski mengembalikan hati nurani yang hilang tentunya tidak mudah. Contoh kecil saja, bayangkan!, demi “nama baik sekolah”,  kita-kita ini rela mengorbankan sebagian besar  anak-anak yang sesungguhnya sangat membutuhkan layanan pendidikan yang terbaik. Sekolah-sekolah, terutama sekolah negeri berlomba-lomba memasang “kriteria tinggi” bagi calon muridnya. Dan celakanya, kriteria tersebut hanya diukur dari satu sudut kemampuan saja, yaitu kemampuan kognitif. Dengan ukuran-ukuran tersebut lahirlah pengkategorian yang dikhotomis, pintar-bodoh, unggul-tidak unggul. Ya, atas nama “gengsi” sekolah, sekolah-sekolah yang menganggap “dirinya” bermutu, sangat alergi dan takut dengan anak-anak yang menurut kategori mereka “tidak unggul”. “Apabila kita membiarkan sekolah kita dimasuki oleh anak-anak yang tidak “bermutu” maka mutu sekolah kita akan anjlok!”, tegas kepala sekolah, dan gilanya lagi keputusan para kepala sekolah “yang menganggap dirinya bermutu” tersebut  didukung penuh oleh aparat pemerintah dan parlemen. Dalam berbagai talk-show, pemerintah dan parlemen dengan bangganya mengatakan “kita tidak akan menyia-nyiakan aset bangsa yang berharga ini, untuk itu kita siap menggelontorkan dana sebanyak-banyaknya untuk merelaisasikan program pendidikan untuk anak-anak unggulan ini!”. Anak unggulan harus kita layani, ini aset yang paling berharga. Pernyataan ini adalah pengakuan bahwa hanya sebagian kecil anak-anak bangsa ini yang disebut “unggulan”. Ini melecehkan penciptaan manusia yang dirancang secara khusus sebagai khalifah di muka bumi.

Tuapejat-1b

Lambaian Nyiur "Kelapa Pontong" (Tuapejat, za-09)

Ironis memang!, sebagai manusia, kita dengan mudah mengatakan bahwa makhluk ciptaan Allah yang bernama manusia itu hanya sebagian kecil yang “layak” didik, atau dari jutaan manusia yang diciptakan-Nya sebagian besar  dinyatakan “afkir”. Bagi kelompok-kelompok afkiran akan mendapat pelayanan pendidikan yang bermutu rendah.  Ini sungguh telah mengingkari amanah Illahi, pantas aja bangsa ini terpuruk. Untuk itu, mulai saat ini juga, dasar pemikiran ini harus dibuang jauh-jauh.  Sekolah-sekolah negeri yang berkategori bagus justeru diharuskan menerima murid-murid yang “dianggap” lemah, karena sebetulnya mereka bukanlah orang “lemah”. Mereka hanya dikucilkan karena instrumen penilaian yang digunakan tidak cocok dengan potensi yang mereka miliki. Belakangan ini pemerintah mulai menyadari kekeliruanya.

Pertanyaan saya, “apakah mimpi ini akan terwujud?”, yang kita takutkan adalah sebagian besar aparat yang ada saat ini, bermimpi aja belum, apalagi niat untuk melakukan perubahan. Lalu, kapankah impian ini akan terwujud?.  Atau ini hanya mungkin mimpi seorang rakyat kecil yang merasa dunia pendidikan kita sudah tidak lagi memiliki NURANI!. (Zulfikri Anas) (Bersambung……)

4 Responses to “Sebuah Impian (1): ” Kembalinya Nurani””

  1. abbasahmad said

    Pendidikan berlangsung seumur hidup, dimulai dalam kandungan proses prilaku sehari-hari orang tua turut mempengaruhi perkembangan bayi dan ini terekam dalam kehidupan selanjutnya. Perkembangan karakter di mulai dari kandungan dan ini menjadi bekal dalam proses selanjutnya. Untuk itu diharapkan orang tua pendidikan bukan saja dimulai sejak anak menghirup udara bebas akan tetapi proses pendidikan di mulai awal dari kandungan. Orang tua diharapkan memperhatikan kondisi bayi baik kesehatan mau[pun persiapan mental. Pendidikan pada intinya sangat ditentukan oleh partisifasi aktig orang tua.
    Sekarang ini untuk mencari pemimpin harus yang berlatar belakang akhlak yang mulia, jujur, ikhlas dalam menjalankan tugas dan bertanggung jawab.

    • Ok Pak, nanti saya kirimkan beberapa film pendek dan beberapa tayangan saya untuk disebarkan agar semua kita menyadari bahwa jika kita salah dalam mendampingi anak, mereka akan “mati” sebelum ajalnya datang. Secara fisik mereka terlihat “hidup”, namun sesungguhnya mereka telah “mati”. Itu bukan karena salah penciptaan manusia oleh Illahi, karena Illahi tidak pernah mengenal produk gagal. Semua manusia, apapun keadannya memiliki peran penting yang tidak tergantikan oleh yang lain. Semua hadir membawa makna bagi yang lain, itulah kehidupan yang harmonis dan penuh makna.

  2. abbasahmad said

    terima kasih tulisannya Pak, ini membuka cakrawala…pandangan kita tentang dunia pendidikan yang seharusnya… smoga Bapak dalam kondisi sehat & sukses dalam menjalankan tugas

    • Sama-sama Pak, persoalan pendidikan di negeri ini berawal dari paradigma, apa lagi dalam duni pendidikan di negeri ini, posisi anak sebagai “obyek”, “klien yang harus mengikuti patron, bukan sebagai subyek yang harus dilayani. Lebih parah lagi mereka dalam posisi “terdakwa”, itulah awal matinya kreatifitas mereka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: