SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Dari Pohon Mangga Jangan Minta Buah Rambutan : Merindukan Pendidikan yang Humanis

Posted by Zulfikri Anas on October 5, 2009

Dari pohon mangga jangan diminta buah rambutan,

tetapi jadikan setiap pohon menghahasilkan buah yang manis”.

(Engku Sjafe’i, dalam Navis, 1996:94).

Pendidikan: Mengembangkan potensi bukan memasukkan ke dalam kotak yang telah ditetapkan ukuranya. (za-09)

Pendidikan: Mengembangkan potensi bukan memasukkan ke dalam kotak yang telah ditetapkan ukuranya. (za-09)

Ungkapan di atas menegaskan bahwa tugas dan fungsi utama pendidikan bukan untuk membentuk anak (didik) sesuai dengan selera kita atau menjadi manusia dengan cara berpikir (wawasan) yang seragam, melainkan membantu mereka untuk mengenali dan mengembangkan potensinya sedini mungkin sehingga mereka mampu membangun diri menjadi manusia yang berkualitas prima sesuai dengan fitrah yang ia terima dari Sang Khalik. Pendidikan bukan untuk “memaksa” mereka untuk menjadi apa yang kita inginkan, tetapi lebih kepada “upaya membangkitkan minat mereka agar berkemauan keras untuk memilih sendiri arah jalan hidupnya”, demikian tegas Engku Sjafei dalam tulisannya.

Tuapejat-7

Pagi menjelang siang di pinggir kampung nelayan Tuapejat, Mentawai (za-09)

Pada zamannya, (antara tahun 1920-1950-an), Sjafe’i (Pendiri INS Kayu Tanam, Sumatera Barat) menentang keras pemaksaan terhadap peserta didik. Hal ini merupakan “warisan” pola pendidikan zaman kolonial. Namun, sampai saat ini, praktik seperti itu tetap hidup dan bahkan makin subur. Ada berbagai macam bentuk pemaksaan dalam praktik pendidikan, antara lain: (1) penyeragaman orientasi, bahan, sumber, metode, dan pengalaman belajar siswa; (2) mengutamakan kebakuan format dan pengaturan adminstrasi daripada out-come dalam proses pembelajaran; (3) mempoisisikan kebutuhan psikologis siswa sebagai “hadiah” daripada “ruang” dan media belajar; (4) menggunakan ukuran “kuantitatif dan normatif” sebagai ukuran keberhasilan belajar.

Lebih lanjut Engku Sjafei menegaskan bahwa “penyeragaman jenis, tingkat dan materi kurikulum untuk seluruh sekolah di manapun lokasinya, berakibat pada penyeragaman kualitas dan wawasan manusia, akibat lanjutnya adalah memusnahkan keberagaman manusia itu sendiri. Ini menentang kodrat manusia!. Jika kita memiliki 250 juta penduduk, dengan pola yang demikian seolah-olah kita hanya memiliki 1 (satu) orang yang seharusnya kita memiliki 250 juta potensi yang berbeda dan semuanya menjadi juara di bidang masing-masing. Betapa dhasyatnya bangsa kita bila ini terwujud. Tapi a pa mau di kata, para pemikir dan pengambil kebijakan dunia pendidikan kita selalu menggiring kita untuk menghargai “satu” potensi, yaitu “potensi akademik”.

Pengkuran yang demikian melahirkan dikotomi: pintar-bodoh, berbakat-tidak berbakat. Anak pintar dan berbakat akan dipromosikan dengan baik, sebaliknya anak bodoh dan tidak berbakat diabaikan atau diberi layanan seadanya, dan yang lebih parah lagi mereka diserahkan pada nasibnya masing-masing. Persentase anak yang terabaikan ini jauh lebih tinggi dibanding anak yang diurus dengan baik. Dari 40 anak dalam 1 kelas, ada 10 anak (25%) yang disebut anak “unggul” atau 10 besar, dan 30 anak atau 75% temasuk yang tidak unggul. Anak unggul dituntun, dan diberi berbagai kemudahan dan fasilitas, sementara yang tidak unggul dibiarkan. Bila diibaratkan anak pintar sebagai orang yang memiliki kaki yang lengkap, sementara anak “bodoh” bagai orang lumpuh, yang justeru perlu dituntun berjalan malah ditinggal dengan alas an “kasihan anak yang berkaki, jalannya “terhalang” karena waktu kita tersita hanya karena melayani yang lumpuh!

III. Pendidikan yang Diskriminatif

Apabila pola tersebut tetap kita biarkan, bangsa ini akan runtuh. Betapapun hebatnya kualitas gizi orang tua dan mampu melahirkan anak-anak yang berkualitas, karena system penilaian dalam proses pendidikan stelah ia lahir yang bersifat eliminasi dengan menjagokan salah satu kemampuan tertentu (akademik), maka lebih 75% anak-anak tersebut tetap akan tereliminasi alias tidak mendapatkan layanan pendidikan yang baik. Hal ini terjadi bukan karena mereka tidak punya potensi, melainkan system yang tidak menerima mereka. Sistem yang berlaku hanya member tempat pada 25% anak. Artinya, dari 250 juta penduduk Indonesia, yang berpeluang mendapatkan layanan pendidikan yang baik, artinya lagi, yang berpeluang menjadi anak yang terdidik atau professional hanya 25% saja. Pertanyaannya adalah, mampukah anak-anak yang 25% itu mengatasi persoalan yang muncul dari 75% yang lain? Jawabnya “pasti tidak!”. Bukankah ini yang terjadi dibangsa kita saat ini. Sesungguhnya tidak ada satu alasanpun untuk hidup miskin di tanah air yang kaya ini, kecuali system pendidikan kita yang tidak bersahabat dengan sebagian besar anak, kalau tidak boleh dikatakan tiak becus.

Praktik pendidikan yang demikian terbukti “membunuh” potensi yang ada dalam diri seseorang. Lewat kacamata awam, kita dapat menentukan kira-kira berepa persen anak-anak kita yang memiliki ijazah dengan nilai tinggi tetapi pasif (tidak produktif, tidak kreartif, pesimis, fasis, dan memiliki mental “buruh” , selalu ingin dilayani an tidak mampu menciptakan peluang). Pada hal ketika terlahir, tidak satupun manusia bersifat pasif. Dalam ajaran agama sudah jelas dikatakan bahwa potensi itu merupakan amanah dari Illahi yang diterima manusia sebelum lahir. “Manusia diciptakan setelah sebelumnya direncanakan untuk mengemban satu tugas dan sesungguhnya aku hendak menjadikan ia sebagai seorang khalifah di bumi” (QS 2:30). Kitab suci (terutama Al Qur’an) memandang manusia sebagai makhluk yang tercipta bukan secara kebetulan. Untuk itu, manusia dibekali dengan potensi dan kekuatan positif untuk mengubah corak kehidupan di dunia ke arah yang lebih baik (QS 13:11). Dan ditundukkan serta dimudahkan kepadanya (manusia) alam raya untuk dikelola dan dimanfaatkan (QS 45:12-13). Antara lain, ditetapkan arah yang harus ia tuju (QS 51:56) serta dianugerahkan kepadanya petunjuk untuk menjadi pelita dalam perjalanan itu (QS 2:38).

Dalam kajian lain, Thomas`Armstrong dengan tegas mengatakan bahwa semua manusia terlahir jenius, kesalahan kita selama ini adalah menggunakan IQ sebagai satu-satunya ukuran kejeniusan. Hal ini yang mengakibatkan kita menjadi diskriminatif terhadap peserta didik. 12 ciri kejeniusan menurutnya adalah; rasa ingin tahu, jenaka, imajinasi, kreatif, ketakjuban, bijaksana, penuh daya cipta, vitalitas, peka, fleksibel, lucu dan gembira. Sementara ahli psikologi sepakat bahwa IQ hanya menyumbang sekitar 20% factor-faktor yang menentukan suatu keberhasilan hidup. 80% sisanya berasal dari factor lain, termasuk kecerdasan emosional (Goleman). Ini mengandung makna, jika hidup kita hanya mengandalkan kekuatan IQ, peluang gagal dalam kehidupan mencapai 80%.

Kejeniusan anak bisa hilang oleh berbagai faktor seperti peran rumah, sekolah, media. Situasi rumah yang tidak menyenangkan, serba cepat dan serba instan akan mempengaruhi perkembangan kejeniusan seseorang. Di sekolah, kejeniusan anak terancam tidak berkembang antara lain disebabkan oleh cara-cara pengujian dan penilaian yang sangat formal. “Tes-tes formal dan sistem penilaian mempunyai banyak fungsi yang penting dalam pendidikan; namun mengembangkan kejeniusan siswa tidak terjadi karena hal-hal tersebut’ (Armstrong; 2004;73). Pemberian julukan yang menjadikan siswa terkelompok seperti “kelompok unggulan”, kelompok berbakat dan seterusnya juga berpotensi untuk mengegrogoti perkembangan kejeniusan seseorang. Demikian pula faktor kelelahan dan kejenuhan akibat suasana yang monoton.

Setiap siswa menginkan suasana belajar yang menyenangkan dan ramah terhadap mereka, namun keramahan itu didapatkan oleh sebagai “hadiah” dari “perilaku baik dan pintar” yang mereka tampilkan tanpa dilihat apakah perilaku itu merupakan kamuflase atau yang sebenarnya. Asal berperilaku “baik dan pintar” diberi hadiah, yaitu layanan yang indah dan bersahabat. Bila sebaliknya, “nakal dan bodoh” akan “dilemparR dari system, padahal justeru merekalah yang lebih membutuhkan belaian, karena anak yang sudah pintar dan baik tinggal di tantang untuk membuktikan bahwa dirinya memang layak disebut anak pintar. Pendidikan diperuntukkan bagi mereka yang sudah “jadi”. Hanya anak “baik” yang akan memperoleh layanan yang bagus. Lainnya, merasakan betapa layanan pendidikan tidak bersahabat dengan mereka.

Praktik pendidikan seperti ini yang menjadikan dunia pendidikan kita menjadi dunia yang ekslusif, diskriminatif, dan layanan yang bermutu hanya akan menangkau sebagian kecil siswa saja. Dan yang lebih membahayakan, pengalaman belajar mereka menjadi miskin. Kemiskinan pengalaman belajar akan berdampak pada orientasi pembelajaran dan mengakibatkan mereka lebih dominan berpikir secara linier dan satu arah.

Kurikulum sbagai lintasan atau kendaraan utama bagi setiap anak selayaknya bersahabat dengan setiap individu yang ada dalam lintasan atau kendaraan tersebut, mari kita ciptakan itu, dan tentunya tidak akan sulit apabila kurikulum itu dekembangkan atas dasar makna manusia sebagai ciptan Illahi, semuanya diciptakan untuk mengemban satu tugas, dan dengan sendirinya tugas itu berbeda satu sama lain, ibarat planet dengan orbitnya masing-masing. Ketika setiap planet konsisten pada orbitnya, akan terjadi kesimbangan yang haromonis, sebaliknya, apabila ada satu saja yang macet atau tidak konsisten pada orbitnya, akan terjadi kekacauan. Agama mengingatkan kita, serahkan pada ahlinya masing-masing, jika tidak tunggu kiamat akan datang.

4 Responses to “Dari Pohon Mangga Jangan Minta Buah Rambutan : Merindukan Pendidikan yang Humanis”

  1. isyiana w said

    bagus banget ulasannya pak! seneng ternyata msh ada org yg sgt peduli dgn pendidikan di indonesia.
    Tol dong, buat ulasan ttg anak2 luar biasa, biar masyarakat indonesia jg tahu bahwa msh ada anak2 indonesia yg luar biasa!
    Dan klu bisa, anak2 luar biasa ini jgn dijadikan objek utk mencari keuntungan semata!

    • Terimakasih, untuk anak-anak luar biasa sudah saya siapkan , termasuk selama kunjungan ke SLB-E, cuma belum sempat ditayangkan karena perlu revisi. Terima kasih Bu Wisnu. Semoga sukses di tahun baru. Amin

  2. EMPAT LANGKAH MENGEMBANGKAN KEJENIUSAN…

    Kadang suatu masalah tidak dapat kita pecahkan ketika kita terjaga dan mencoba memecahkannya secara sadar dan memeras otak sehingga kita stress dan hampir putus asa. Tetapi kadang juga pemecahan itu sering datang dalam keadaan kita rilex dan bahkan dat…

    • Ya, Eric Jensen mengatakan bahwa otak manusia memang tidak tertata melalui instruksi formal, dia (otak) berkembang dengan baik ketika kita “masuk” ke dalam persoalan. Sayangnya, kebiasaan kita sering “menghindar” sehingga pada saat-saat dibutuhkan, kemampuan itu “hilang” mengaibatkan kita jadi stress. Pada hal, ketika persoalan itu datang, sesungguhnya jawabannya ada dalam diri kita. Persoalan adalah “gizi” bagi otak kita, namun seringkali kita “membatasi’ asupan “gizi” itu” pada otak kita dengan jalan menhgindar dari persoalan. Selanjutnya, eric Jensen, juga mengingatkan otak belajar efektif 99% secara tidak disadari, hanya 1% belajar secara sadar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: