SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

Sebuah Impian (27): Catatan dari Sinabung

Posted by Zulfikri Anas on May 29, 2014

Tiba-tiba suasana di dalam tenda itu sontak menjadi ajang “tangisan berantai”. Tidak seorangpun diantara kami yang menduga bahwa suasana yang semula sedikit agak serius karena lagi membahas topik yang cukup “serius” pula, yaitu tentang hakikat diri kita sebagai manusia diciptakan oleh Illahi, lalu kita bersama-sama menyaksikan film-film pendek yang sengaja disajikan untuk makin menguatkan motivasi dan memperbesar power dari dalam diri para siswa. Setiap kali selesai menonton film pendek kita berdiskusi dan siswa diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan tertulis, mengungkapkan apa yang mereka rasakan setelah melihat film itu, dan menuliskan janji yang betul-betul ingin ia wujudkan. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | Leave a Comment »

Sebuah Impian (26) : Membangun Fatamorgana

Posted by Zulfikri Anas on June 25, 2013

Dalam mendidik anak-anak kita, sering kali (kalau tidak boleh dibilang selalu) kita melakukan hal yang berkebalikan dari apa yang kita inginkan. Kita ingin anak yang pintar, anak yang super, anak yang baik, anak yang jauh dari pergaulan negatif, dan anak yang selalu “lebih” dibanding anak-anak yang lain. Untuk itu, sebagian besar dari kita, baik orang tua maupun guru berperan (seolah) sebagai orang yang “bermurah hati” dalam memberi. Kita berikan “semua” apa yang menurut kita dibutuhkan anak, saking “murah hatinya” kita, tanpa sadar ternyata kita telah memposisikan anak sebagai “konsumen”. Konsumen dalam segala hal, termasuk dalam pendidikan, sehingga setelah dewasa ia tumbuh menjadi konsumen dalam segala hal juga, ketika ia menjadi pejabat, menjadi dokter, menjadi guru, dan menjadi apa saja, posisinya selalu sebagai konsumen. Selalu meminta orang lain untuk memahaminya.

Ada dua kosa kata yang selalu mengiringi langkah kita dalam mendidik mereka, yaitu perintah (suruhan) dan larangan. Kedua kata itu bermakna sama, mempersempit cara berfikir anak. Kita ingin anak menguasai segalanya dengan tingkat yang sama dengan memposisikan mereka sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Tiap tahun, tiap bulan, tiap hari, tiap jam, tiap menit bahkan tiap detik yang keluar dari mulut kita kalau tidak perintah, ya larangan. Di rumah, di halaman sekolah, di pintu gerbang sekolah, di teras sekolah, di perpustakaan, di laboratorium dan di dalam kelas, kata itupun selalu menghiasi hari-hari belajar anak, dan itu juga terjadi setiap kali kita berinteraksi dengan anak. Di depan pintu gerbang masuk pekarangan sekolah ada belasan atau puluhan butir kata-kata perintah dan larangan, tidak boleh, tidak boleh…..dilarang, dan dilarang, harus, dan harus, diminta……dan seterusnya. Dan yang lebih menyedihkan, semua itu hanya untuk siswa. Siswa tidak boleh datang terlambat, sementara kita orang dewasa mondar-mandir keluar masuk, bahkan terlambat adalah hal biasa bagi kita, karena kita banyak urusan, sementara urusan siswa hanya belajar dan belajar.

“Anak-anak, kalian harus rajin, harus disiplin, harus selalu bekerja keras, harus menyimak dengan baik agar kalian menjadi anak pintar, jangan malas, sekarang buka buku halaman 30, baca baik-baik dan kerjakan soal-soal yang ada, awas, kekita mengerjakan soal di larang menyontek, jangan sekali-kali melakukan itu”, kata kita pada mereka. Esok harinya, “anak-anak, kalian masih ingat pelajaran kemarin?, sekarang dengarkan, ibu/bapak akan menjelaskan pelajaran lanjutan, kalian harus menyimak,konsentrasi, dilarang bicara, nanti di akhir pelajaran kita akan ulangan, nilai ulangan akan masuk ke rapor, jika kalian mendapat nilai rendah (dibawah KKM), kalian akan tinggal kelas, dan jangan kalian lupa, bahwa mata pelajaran ini di “UN”-kan, jika kalian gagal, maka sia-sialah waktu kalian, kalian harus ingat pengorbanan orang tua kalian”. Lusanya, semua anak diperintakan untuk mengerjakan tugas yang seragam, gambar dengan bentuk pola, dan warna yang seragam.

Kita selalu mengingatkan anak untuk tidak menyontek, namun cara yang kita gunakan membuat anak termotivasi untuk menyontek, materi yang kita sampaikan, cara yang kita gunakan, evaluasi yang gunakan, soal yang kita berikan, dan ukuran pencapaian hasil belajar yang kita gunakan, buku, referensi dan sumber belajar yang kita gunakan, tugas-tugas dan PR yang dikerjakan anak semuanya seragam. Apalagi di akhir semua itu dijustifikasi dengan angka. Rapor dan ijazahnya berisi deretan angka, dan itu menihilkan makna belajar yang sesungguhnya. Kondisi ini akan menciptakan dorongan anak untuk menyontek. Secanggih apapun cara yang kita lakukan, membuat paket soal yang banyak, tetap akan membuat anak-anak “kreatif” untuk menemukan cara bagaimana menyontek yang baik dan mengatur strategi bagaimana caranya agar tidak pernah ketahuan. Apa lagi ambisi kita sebagai orang dewasa agar anak memperoleh nilai tinggi atau nilai sempurna untuk semua mata pelajaran, semuanya menyuburkan kompetensi menyontek pada anak. Mereka tumbuh menjadi penyontek yang ulung. Kalau sudah begini, sungguh tidak adil apabila mereka yang dipersalahkan, apalagi mereka yang harus menerima hukuman dengan cara tinggal kelas, dikeluarkan atau diusir dari sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi mereka untuk membangun dan memperbaiki diri, sekolah telah berubah fungsi menjadi tempat bagi (hanya) anak yang dianggap sudah menjadi anak “baik-baik”.

Bagaimana kita tidak kaget, paket soal UN yang sudah banyak (20 paket), ternyata anak menemukan cara menyontek yang baik, ada saja cara mereka untuk menemukan contekan, tentu saja ini tidak lepas dari orang dewasa yang berada di baik layar. Ternyata dunia anak super canggih.

Apa yang kita lakukan itu, akan menghasilkan hal yang berkebalikan dari apa yang kita inginkan dari anak. Dengan belajar yang rajin, dengan patuhnya anak, dengan ketatnya aturan yang kita berikan, kita berharap anak menjadi pintar dan patuh sehingga dia mendapat nilai sempurna. Kita samakan mereka dengan lumba-lumba, berang-berang, atau macan yang pintar. Mereka menjadi pintar, patuh, dan membuat kita terkesima dengan cara “instant”, cambuk di tangan kanan, dan makanan enak di tangan kiri. Ketika ia salah, atau tidak menjalankan apa yang kita inginkan, mereka dihukum cambuk, dan ketika ia benar dan melakukan apa yang kita inginkan, ia akan mendapat hadiah makanan begitu seterusnya. Akhirnya, itulah yang membentuk dia menjadi lumba-lumba, berang-berang, dan macan yang pintar dan patuh.

Secara kasat mata, kita seolah-seolah melihat itu semua ada dalam diri anak, anak patuh, rajin, dan nilanyapun sangat membahagiakan orang tua, namun begitu kita bersabar dan teliti melhat ke dalam diri anak, ternyata itu hanya ada dipermukaan, jauh di balik itu semua, keadaanya berkebalikan. Ternyata kita telah terlena oleh sebuah fatamorgana, dan fatamorgana itulah hasil jerih payah kita selama ini. Sayangnya, kita menyadari itu setelah semua terjadi dan terlanjur terbentuk dalam diri anak. Ketika semua telah terjadi dan terbentuk, untuk memperbaikinya, kita bagaikan melentur bambu tua, atau mengukir di atas air. Kita sudah terlambat, lalu kita hanya mampu menghibur diri, biarlah terlambat daripada tidak sama sekali. Toh penyesalan datangnya juga selalu terlambat.

Secepatnya kita harus keluar dari fatamorgana itu, kita harus lebih banyak mendengarkan suara hati mereka yang sejati. Seorang anak remaja yang memasuki usia 15 tahun menuliskan kata hati mereka, menceritakan tentang mereka, apa yang mereka peroleh selama 3 tahun belajar di SMP. Tulisan ini ia buat untuk kata sambutannya sebagai ketua pelaksana pembuatan buku kenangan selama mereka belajar di SMP, mereka menamakan buku itu “Year Book”. Saat ini dia dan 11 temannya lagi berada di Dubai, Uni Emirat Arab (17-26 Juni 2013) mengikuti Lomba Debat dalam kegiatan “The world Scholar’s Cup”. Mari kita simak, apa kata anak……

“Three years. Our thoughts have grown faster than before. Perhaps too fast. We just let people pass arround us easily without our concern. Problems build up so fast that makes all those 24 hours a day is just…not enough. Its like video game, with the exception the levels keep getting harder until game over.This make me think, is there any way to pause for a moment from our lives to get relaxed, just like video games? Well, there are a lot of wayas to do that, if we carefully look for it. One way is this year book. Reading this yearbook and watching the videos will help us “withdraw” from real life for a little while and start realizing how we have become. Howw all the events that’s happening and all the people around us for the last three years shaped our thoughts about life as a whole. How age changes our perception about friends, parents, teacehrs, and maybe life itself, while slowly discovering our talents and skills along the way. It provides more than enough”. (Muhammad Kevin Azzari, June 2013).

Selamat berjuang anakku, semoga Dubai menjadi langkah pertamamu untuk mengukir apa yang ingin kamu ukir di atas kanvas alam raya ini, kamu tahu persis bagaimana balik “mengajari” orang dewasa untuk berdebat secara santun, dan kamu tahu persis bagaimana menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bukanlah seperti apa yang dilihat di liputan berita TV, bagaimana DPR berdebat, bagaimana cara mahasiswa menyalurkan aspirasi, bagaimana cara kelompok tertentu mengadapi perbedaan. Kamu tahu persis, bagaimana menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah, cerdas, berpikiran luas, anti cara-cara instan, santun, menghargai semua orang, cinta damai, religius, dan berakhlak mulia.

Sekali lagi, selamat berjuang, kemenangan bukanlah tujuan, ia hanyalah sebuah dampak dari kesungguhan dari setiap apa yang kita perbuat, siap menang atau kalah, itulah kemenangan sejati! (ZA).

Posted in 1 | Leave a Comment »

Sebuah Impian (25) Nak: Alam ini Sangat Luas!

Posted by Zulfikri Anas on June 25, 2013

Anakku, orang bijak mengatakan bahwa “dunia ini seluas apa yang ada di pikiran kita”. Alam raya yang luas ini akan berubah jadi sempit ketika kamu mempersempit cakrawala pikiranmu. Gunung itu akan terasa semakin tinggi dan sulit didaki ketika pikiranmu mengatakan bahwa “betapa tingginya puncak gunung itu, dan aku tidak bakalan sanggup sampai di sana”. Kamu betul-betul tidak akan pernah sampai ke sana.

Hakikatnya, kesulitan itu selalu lebih kecil dari kemampuan kita. Allah mengatakan bahwa “tidak Aku berikan persoalan kecuali manusia sanggup mengatasinya”. Allah tidak pernah salah dalam memberi, termasuk persoalan, persoalan besar akan datang ke kita ketika menurut Illahi kita sanggup mengatasinya. Kemampuan lebih dulu diberikan-Nya dari pada persoalan.

Nak, alam raya ini tanpa batas, sebagaimana otak manusia yang tanpa batas, positifnya tanpa batas, negatifnya juga tanpa batas. Gunakanlah ia untuk memecahkan karang yang keras, mendaki gunung yang tinggi, mengharungi lautan luas dan bebas.

Bebaskan pikiranmu dari anggapan bahwa “semua itu hanya teori, hanya indah dan mudah diucapkan, tetapi pahit dan sulit dilaksanakan”. Pikiran itu akan mengunci pikiranmu, akan mempersempit ruang gerakmu dan akan menghentikan langkahmu. Sekarang saatnya membalik pikiran, “semua itu mudah dilaksanakan, sulit diucapkan”, artinya, buktikan bahwa pelaksanaan jauh lebih mudah daripada bicara.

Nak, kamu harus berhati-hati dalam belajar, angka 10 yang ada di rapormu akan menjebak pikiranmu dan akan mempersempit ruang gerakmu, angka itu akan membawa kamu ke zona nyaman, dan lama kelamaan kamu akan enggan keluar dari zona nyaman itu. Angka 10 berpotensi menghentikan langkah belajarmu karena tidak ada lagi angka yang lebih tinggi dari itu. Panjang langkahmu akan semakin mengecil ketika kamu mendapatkan angka 10 untuk semua mata pelajaran karena ini akan membawamu ke dunia semu yang menggambarkan solah-olah kamu orang super dan serba bisa. Kondisi ini akan memperkokoh kamu untuk mempertahankan diri di zona nyaman itu. Itu artinya kamu akan “berhenti” belajar dalam artian yang sesungguhnya, kamu juga akan terjebak dalam belajar yang “semu” karena untuk mepertahankan posisi kamu, kamu akan berusaha melakukan segala cara, termasuk cara-cara instan. Pelan-pelan di dalam dirimu akan tumbuh rasa takut pada kegagalan, kamu akan takut tersaingi, kamu akan takut penghargaan orang lain akan berkurang. Dan kamu akan memandang orang-orang di sekitarmu sebagai pesaing, sehingga kamu akan menjadi egois, tidak mau berbagi, apalagi berbagi ilmu.

Kondisinya akan semakin parah ketika kamu lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang “mudah” untuk memperbesar peluang menang, untuk memperkecil peluang kalah. Inilah yang akan menjebakmu sehingga kamu terperangkap pada cara-cara instan tadi. Untuk itu belajarlah menguasai sesuatu yang terbaik yang bisa dilakukan, bukan belajar untuk mendapatkan angka sempurna (10). Nilai akan berhenti di angka 10, sementara kemampuanmu tanpa batas, dan tidak bisa diukur dengan angka.

Nak, “Cintailah kemudahan, takutilah kesulitan, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa” (Kakek Ranggoworsito).

Apapun bentuk perlombaan, olimpiade, atau yang lainnya, itu adalah sebuah permainan, dan jika kamu ikut di situ, nikmatilah itu sebagai sebuah permainan yang menyenangkan, yang membebaskan kamu sementara waktu dari berbagai persoalan dan kejenuhan, lakukan itu sebagai rekreasi yang paling menyenangkan. Gunakan waktu perlombaan itu untuk bergembira, seperti Thomas Armstrog bilang bahwa “kejeniusan itu dilahirkan dari kegembiraan”. Tunjukkan hasil terbaik yang kamu bisa pada saat itu, lepaskan dirimu dari bayang-bayang menang atau kalah. Ketika kamu menang, kamu harus menghargai dan menghormati lawan mu, dia adalah sahabat sejatimu yang “legowo” menerima kekalahan darimu, itu sebuah perjuangan berat baginya, kita wajib mengapresias itu dan yang lebih penting, tanpa dia kamu tidak akan meraih kemenangan itu. Dialah orang pertamayang akan menolong mu jika tiba-tiba kamu terjatuh. Itu artinya, kemenangan itu milik kamu berdua. Jika kamu kalah, kuatkan dirimu untuk menghadapinya karena kehidupan akan menjadi indah ketika perjalanan yang kita tempuh itu berliku-liku, menanjak, dan menurun. Alam ini tidak akan memberikan cerita apa-apa jika ia hanya berupa dataran yang luas. Dan kekalahan adalah sumber energi terbesar bagimu yang akan membawamu terbang menggapai titik tak terhingga yang tak pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya. Itulah rahasia Illahi!.

Nak, maafkan Papamu ini, karena papa hanya mampu melangkah dalam ruang yang sangat sempit, langkah Papa mu hanya sebatas yang dibolehkan oleh orang lain, Papa mu hanya mampu berenang di kolam renang yang dijaga oleh petugas-petugas keamanan yang siap membantu Papa jika terjadi sesuatu secara tiba-tiba. Papa mu tidak mampu berenang di laut bebas yang telah disediakan oleh Illahi untuk kemuliaan manusia. Papa mu hanya mampu berlari dalam komando wasit yang setiap saat bisa menganulir langkah Papa, ketika mereka menganggap langkah Papa kebablasan………Sekencang apapun Papa berlari, tiba-tiba lari akan terhenti ketika wasit meniup pluit, Papa akan kena kartu kuning atau kartu merah, atau papa akan dihukum karena langkah Papa dianggap offside. Perjuangan Papa bergantung pada pluit seorang wasit. Dia akan meniup pulit itu kapanpun ia mau.

Nak, Dunia Papa sudah terlanjur sempit Nak……….Papa tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi mu, Papa tidak bisa menjadi murid pertama dari apa yang Papa omongkan. Namun percayalah, Papa tidak akan pasrah begitu saja dengan keadaan, Allah masih mebekali Papa dengan niat yang tulus dan sejumlah energi. seberapapun kecilnya, Papa akan menggunakan energi itu untuk melakukan sesuatu, walaupun saat ini akan terasa sangat pahit, tapi Insya Allah langkah itu belum terlambat. Nak, doakan Papa mu!!!!!!!. (ZA, Dalam keheningan tengah malam di kota Kinabalu, Sabah, 19 Mei 2013).

Posted in 1 | Leave a Comment »

Sebuah Impian (24) : Resign

Posted by Zulfikri Anas on June 25, 2013

Dalam pandangan agama, minimal ada empat alasan mengapa kita dilahirkan. Salah satunya adalah “untuk memenuhi janji kita dengan Allah. Allah berfirman bahwa “setiap nyawa yang Aku berikan, Aku perhitungkan dengan matang”, setiap kita direncanakan untuk apa kita dilahirkan. Tidak ada manusia yang terlahir secara kebetulan, semua berada dalam perencanaan-Nya. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | Leave a Comment »

Sebuah Impian (23) : Sekolah yang Menyenangkan

Posted by Zulfikri Anas on April 14, 2013

Sekolah yang MenyenangkanDi akhir sebuah seminar dengan Topik “Belajar untuk Ilmu, Ilmu untuk Cinta, Cinta untuk Kehidupan” yang diselenggarakan oleh sekolah “Semesta Hati : Sekolah untuk Kehidupan”, Cimahi, Bandung. Saya didatangi oleh seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu, Beliau menyapa saya, “masih ingat waktu kita sering diskusi tentang pendidikan di tahun 2003?, “masih doong”, jawab saya. “Kami terinspirasi oleh diskusi-diskusi itu, dan ingin mewujudkan inspirasi itu melalui sekolah kami, pengalaman merealisasikan ide-ide itu kami bukukan, ini bukunya”, kata sahabat lama saya itu sambil menyodorkan sebuah buku ke saya.

Adalah Ir. EdiSudrajat Ahmad kelahiran Cimahi 29 Maret 1963, setelah purna tugas dari SD Islam Asih Putra Cimahi, yang kemudian dikenal dengan nama SD Hikmah Teladan,lalu merintis SD Interaktif Gemilang Mutafannin, yang dikenal dengan nama SD Gemilang (SIGM), Bandung sampai sekarang. Mereka bertiiga, yaitu Anna Farida, Suhud Rois, dan Edi S Ahmad, menuliskan pengalaman nyata itu menjadi sebuah buku yang pantas dibaca oleh semua kita,orang tua, guru, pejabat, pembina guru, akademisi, pengawas dan sebagainya. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | 2 Comments »

Sebuah Impian (22) : Memilih Sekolah Terbaik

Posted by Zulfikri Anas on April 14, 2013

Sebagian dari kita akan kaget ketika mendengar bahwa sekolah-sekolah unggulan yang selama ini diburu banyak orang karena sekolah-sekolah tersebut dianggap sekolah terbaik, ternyata itu adalah pilihan terburuk bagi keberlangsungan pendidikan jangka panjang anak-anak kita. Dan penyakit ini melanda hampir semua pendidikan di dunia. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | Leave a Comment »

Sebuah Impian (21) : Suara Anak Mencari Keadilan

Posted by Zulfikri Anas on February 3, 2013

Mumpung dagangan lagi sepi…….saya duduk sambil melamun membayangkan peristiwa-demi peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, pada saat saya mau masuk SMA.

——0000000——-
“Apakah salah saya?”. Rumah saya persis di belakang sekolah negeri ternama dan masyarakat menyebutnya sekolah unggulan. Di papan namanya juga tercantum sebutan itu sebagai alat promosi.

“Tiap hari saya menyaksikan keceriaan mereka, walau dari balik pagar, aku dapat membaca betapa dunia pendidikan berpihak sekali pada mereka, mereka selalu mendapat apa yang mereka inginkan. Dalam lamunan, saya membayangkan, “seandainya saya berada di antara mereka, betapa indahnya hidup ini”. Lagi ,…saya bertanya, “Apakah kesalahan saya?”, apakah karena saya berasal dari keluarga miskin?. Saya ini miskin harta, dan miskin prestasi pula, akhirnya dunia pendidikan enggan menerima saya. Saya ingat nasehat guru mengaji. Walau nasihat ini sudah lama, tapi masih segar dalam ingatan saya sampai sekarang. Beliau selalu mengatakan “Agama kita memerintahkan, “orang tahu wajib mengasih tahu orang yang belum tahu”. Artinya apakah salah saya juga ketika saya “belum tahu apa-apa?”. Saya tau bahwa saya tidak bisa apa-apa, untuk itu saya ingin belajar dan saya ingin mendapatkan ilmu dari sekolah yang bonafit karena pasti mereka memiliki guru yang unggulan dan sara yang lengkap, tentunya mereka ahli dalam menididik anak dalam kondisi apapun. Saya hanya ingin menjadi orang yang berilmu, tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang tidak bisa menjadi bisa. Hanya itu!, berlebihankanh permintaan saya?. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | Leave a Comment »

Sebuah Impian (20) Curhat Anak Sebelum Tidur (2)

Posted by Zulfikri Anas on February 3, 2013

“Sebelum kami masuk sekolah, kami membayangkan ketemu guru yang ceria, ramah, santun, menyenangkan, dan kreatif menciptakan berbagai permainan tentang berbagai peristiwa alam. Suasana kelas kami akan meriah, kami akan saling beragumentasi untuk melatih bagaimana cara menarik kesimpulan yang baik, mengungkapkan alasan yang logis dan ilmiah, masing-masing kami juga akan mengeluarkan ide-ide kreatif, dan belajar berdebat secara santun”. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | Leave a Comment »

Sebuah Impian (19) : Curhat Anak Sebelum Tidur

Posted by Zulfikri Anas on February 3, 2013

Kita hanya bisa menangis di hati dan menatap wajah anak-anak kita dengan tatapan hampa ketika mereka bertanya:

“Adakah sekolah yang mampu memahami dunia kami?, yang dapat menyediakan jalan bagi kami untuk menemukan dan mengembangkan potensi setiap individu kami sejak dini? Siapakah yang bertanggung jawab ketika teman-teman kami memaksa kami untuk saling menanamkan kebencian di antara sesama kami?, ketika kami dipaksa untuk mewariskan dendam kepada yunior kami?. Read the rest of this entry »

Posted in 1 | 2 Comments »

Sebuah Impian (18) : Rangking yang Mematikan…!!! (2)

Posted by Zulfikri Anas on May 14, 2012

Selamat Pagi Pelanggan kami…..Salakan, Banggai Kepulauan

Akal, pikiran, kekuatan, dan semua potensi manusia merupakan AMANAH dari ILLAHI. Apabila ada manusia yang dengan sengaja membeda-bedakan atau megelompokkan “derajat” sesama manusia berdasarkan tingkat atau kekuatan akal, pikiran, dan potensinya itu, maka kepada Allah-lah ia harus mempertanggungjawabkannya.

Apalagi bila itu terjadi di dunia pendidikan. Dan ………apalagi alasannya demi “kemudahan” pelayanan. Sekolah berupaya “menghomogenkan” kelas dengan mebuat kelompok-kelompok seperti kelas “unggulan” dan kelas “reguler” dan banyak lagi istilah lain yang digunakan. Kelas unggulan mendapat perhatian khusus dengan layanan prima, sementara kelas reguler akan mendapat layanan seadanya. Ibaratnya, orang yang memiliki kaki dituntun berjalan dan orang yang lumpuh dibiarkan dan ilayani seadanya!. Ini mengingkari amanah Illahi!. Kita perlu berobat untuk hal ini! Read the rest of this entry »

Posted in 1 | 2 Comments »