<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SURAU: Educational Engineering</title>
	<atom:link href="http://fikrieanas.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fikrieanas.wordpress.com</link>
	<description>Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jan 2012 02:34:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fikrieanas.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/523991c5fe998c0c84237c465a079af3?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>SURAU: Educational Engineering</title>
		<link>http://fikrieanas.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fikrieanas.wordpress.com/osd.xml" title="SURAU: Educational Engineering" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fikrieanas.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sebuah Impian (16)  &#8220;Sekolah Unggul?, Apanya yang Unggul!&#8221;</title>
		<link>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/09/27/sebuah-impian-16-sekolah-unggul/</link>
		<comments>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/09/27/sebuah-impian-16-sekolah-unggul/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 05:12:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikri Anas</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fikrieanas.wordpress.com/?p=603</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah sekolah disebut “unggul” karena didukung oleh tenaga kependidikan yang profesional, ahli mendidik, menguasai substansi yang diajarkan, mengenali siswa-siswanya dengan baik, paham betul dengan kebutuhan dan cara belajar siswa yang efektif, menguasai berbagai teknik penilaian sehingga mampu melakukan koreksi terhadap hasil belajar siswa dan koreksi terhadap proses yang dilakukan, menguasai teknik-teknik mengembangkan dan mengunakan berbagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=603&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/09/angklung.jpg"><img src="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/09/angklung.jpg?w=150&#038;h=107" alt="" title="Angklung" width="150" height="107" class="alignright size-thumbnail wp-image-604" /></a>Sebuah sekolah disebut “unggul” karena didukung oleh tenaga kependidikan yang profesional, ahli mendidik, menguasai substansi yang diajarkan, mengenali siswa-siswanya dengan baik, paham betul dengan kebutuhan dan cara belajar siswa yang efektif, menguasai berbagai  teknik penilaian sehingga mampu melakukan koreksi terhadap hasil belajar siswa dan koreksi terhadap proses yang dilakukan, menguasai teknik-teknik mengembangkan dan mengunakan berbagai sumber dan bahan ajar, metode pembelajaran dst. Ya&#8230;..itulah guru yang profesional di bidangnya.  Sekolah dikatakan “unggul” juga di dukung oleh tenaga kependidikan non pendidik yang profesional, mampu mengadmistrasikan dan mendokumentasikan semua produk-produk sekolah, mampu mengurus keperluan manajemen sekolah dengan baik,  semua unsur berperan dengan baik sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing sehingga sekolah tersebut mampu membangun sebuah sistem dan iklim kerja yang baik dan nayaman bagi semua pihak, terutama peserta didiknya. Terakhir, sekolah dikatakan “unggul” apabila didukung oleh sarana yang memadai, serba lengkap, dengan konsekuensi didukung oleh sumber dana yang memadai. <span id="more-603"></span></p>
<p>Betulkah begitu?&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;jika kita berfikir linier, rasional dan normatif&#8230;.YA! Dan untuk masuk ke sekolah itu tidak boleh orang sembarangan, seleksi yang ketat dengan kriteria anak harus “pintar dulu” baru punya akses, di samping itu, pastilah mahal!</p>
<p>Berkaca pada sumber daya yang dimiliki, tentunya sekolah “unggul” tersebut  “siap” untuk menerima calon murid dalam kondisi apapun!, mereka tidak takut untuk menerima calon murid yang berkemampuan rendah –atau bahasa lain yang sering diungkapkan: murid berkebutuhan khusus, murid yang “bodoh” (saya sangat tidak suka dengan label yang satu ini), murid yang malas dan seterusnya&#8212;-  karena di tangan guru yang profesional semua persoalan yang terkait dengan keterbatasan kemampuan, sikap dan perilaku siswa akan mampu dihadapi dan diselesaikan. Jika dan seandainya&#8230;&#8230;..sekolah “unggul” tersebut  “sangat takut” dengan anak-anak yang berkemampuan akademis rendah sehingga untuk masuk ke sekolah itu harus mengikuti seleksi yang super ketat&#8230;&#8230;&#8230;.yang harus kita pertanyakan adalah &#8230;..di manakah letak keungggulan sekolah itu?&#8230;&#8230;., karena sebuah jala hanya mampu menjaring ikan-ikan yang “lemah”, ikan yang liar dan cerdas sudah pasti tidak akan terjaring!</p>
<p>Sekolah yang berani menyatakan dirinya sebagai “sekolah ungggul” harus berani menampung calon murid dengan kondisi apapun!,  ini pendidikan dasar dan menengah lho&#8230;&#8230;!  cerita akan lain bila bicara perguruan tinggi yang akan mempersiapkan calon-calon ilmuwan&#8230;sementara kehidupan ini tidak hanya membutuhkan ilmuwan, kita juga butuh pelaksana, pekerja, teknissi, manejer, tukang sapu, security yang handal di bidang masing-masing, dan yang paling penting adalah kita butuh warga negara yang  produktif (produsen) sekaligus juga sebagai konsumen yang cerdas, tidak diombang-ambingkan oleh produk-produk luaryang instan.  Kita butuh semua keahlian&#8230;&#8230;</p>
<p>Alasan klise&#8230;&#8230;kita tidak mau “sekolah unggulan” “tercemar” oleh hal-hal yang seperti itu, di sini kami hanya mendidik anak-anak yang kemampuannya sudah jelas, arahnya sudah jelas, sangatlah merepotkan kami jika kami menerima murid-murid yang memiliki keterbatasan, terutama yang memiliki keterbatasan akademis sesuai dengan kriteria sekolah kami!.  Bukankah ini hanya alasan untuk tidak mau repot?, tidak mau bekerja lebih keras lagi.  Pada hal jika sekolah ungggulan mau menerima murid yang memiliki keterbatasan, sekolah tersebut memiliki peluang besar untuk menujukkan keunggulannya.</p>
<p>Parker J Palmer, seorang pendidik dengan nurani menyatakan bahwa “guru yang baik adalah guru selama tugasnya seringkali mengalami atau menghadapi masalasah-masalah rumit dan sulit”.  Guru yang demikian akan menjadi guru  (pendidik) yang sesunguhnya. Mengendarai mobil sendirian di jalan yang lebar, mulus, rata, tidak ada tikungan, tidak ada lawan&#8230;&#8230;..tidak akan menjadikan kita sebagai pengemudi yang profesional.  Orang bijak mengingatkan kita, situasi  yang nyaman membuat otak kita “tertidur pulas”.  Nelayan yang berlayar di laut yang tenang tidak akan mendapat ilmu apa-apa kecuali ikan-ikan yang jinak-jinak saja. </p>
<p>Mungkin kita harus belajar kepada China, sebuah negara besar dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. China menjadi salah satu negara yang ditakuti oleh negara-negara besar seperti AS.  Sebagai ilustrasi saja, di China, ketika sebuah memiliki daya tampung terbatas, katakannya hanya mampu menampung 200 orang murid, dia akan buka pendaftaran terbuka bagi semua anak yang ingin masuk, begitu kuota penuh, pendaftaran ditutup. Artinya, sekolah itu siap dengan segala resiko tentang keberagaman kemampuan anak yang masuk ke situ.  Namun, apa yang dilakukan?&#8230;.tiga tahun kemudian ke- 200 orang anak tersebut tumbuh menjadi anak-anak profesional sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing, ke semuanya menjadi sang juara dengan berbagai bidang keahlian, mulai dari pemikir (insyiur), perancang, pekerja, penjual, penjaga dan seterusnya. Ya mungkin  yang memiliki kemampuan akademis tinggi berkembang sebagai pemikir atau ilmuwan hanya sebagian kecil (mungkin tidak lebih dari 10% saja), tapi itu bukanlah berarti kiamat! Karena yang lainnya juga berkembang sesuai dengan fitrahnya masing-masing.  Dengan pola seperti itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama, China menjadi ancaman besar bagi negara maju karena mereka memiliki semua jenis keahlian, ahli apa saja ada dansemua anak kompeten di bidan masing-masing sehingga China dengan mudah mampu menyaingi semua negara dalam bidang apa saja . Orang China tidak pernah hidup sia-sia, semua mereka “jadi” walau apapun  kondisi mereka terlahir.  Mari kita belajar ke negeri China&#8230;.</p>
<p>Itulah potret sekolah “ungggulan”, yaitu unggul dalam memberikan layanan terhadap  kepentingan peserta didik, bukan unggul dalam “meneyeleksi” calon murid.  Jika semua sekolah berlomba mendapatkan murid dengan cara seleksi, tentulah murid-murid yang berpeluang untuk mendapatkan layanan penddidikan hanya sedikit. Anak harus  “pintar” dulu baru dapat sekolah bagus! Ibarat akan melatih orang berlari, yang punya kaki akan mendapat sekolah dengan guru yang bagus, sementara yang lumpuh akan mendapat sekolah  dan guru yang lumpuh pula. Anak yang punya kaki dituntun untuk berjalan, yang lumpuh ditinggalkan. Secara  persentase, sudah jelas anak yang masuk kategori “layak” diterima jumlahnya sangat sedikit dibanding yang tidak layak. Secara akumulatif,  jumlah anak yang “tidak layak” dan mendapatkan layanan pendidikan yang tidak layak ini akan semakin menggunung. Akibat selanjutnya,  anak-anak yang dianggap “unggulan” yang telah menyelesaikan sekolah di sekolah unggulan tadi, dengan jumlah yang sangat terbatas tentulah tidak akan mampu menyelesaikan persoalan yang muncul dari anak-anak “yang bukan unggulan” dan juga tidak bersekolah di sekolah unggulan. Akhirnya&#8230;..inilah yang menyebabkan bangsa kita menjadi  bangsa yang “lumpuh” seperti sekarang ini. </p>
<p>Sekolah unggulan?&#8230;..lalu bagaimana dengan “SBI”?&#8230;hmmmmm&#8230;&#8230;&#8230;.jawaban saya hanya singkat&#8230;..di Bali begitu banyak pemahat, pematung, dan seniman yang merajai dunia seni di dunia, di Jawa banyak sekali dalang yang tidak bersekolah apalagi sekolah di “SBI” yang juga mendapat tempat khusus di dunia. Raja Ali Haji (Penulis Gurindam 12) juga mendunia, Buya Hamka tidak dapat dibandingkan dengan ulama dari dunia manapun&#8230;&#8230;mereka hanya bersekolah di sekolah biasa&#8230;..dan mungkin sebagian dari mereka ada yang tidak bersekolah di sekolah formal. Lalu bagaimana dengan Bethoven, Thomas Alfa Edison, Stephen Hawkins, Charles Darwin. Albert Einstein, Emile Zola,  adalah orang-orang terkenal yang dianggap “bodoh” di sekolah sehingga mereka dikeluarkan dari sekolah karena sekolah hanya untuk anak pintar&#8230;&#8230;..</p>
<p>Saya yakin dan seyakin-yakinnya bahwa anak-anak unggul dapat lahir dari mana saja. Suatu saat nanti, mungkin kita akan terkejut ketika anak-anak yang betul-betul unggul dalam artian yang sebenarnya datang dari sekolah sederhana di daerah terpencil, sementara  dari sekolah “unggulan” lahir anak-anak dengan “keunggulan yang semu”. Unggul dengan sejumlah prestasi di sekolah, mampu dengan baik menjawab soal ujian, namun tidak mampu menghadapi persoalan kehidupan oleh karena selama masa pendidikan  yang tumbuh subur adalah kesombongan dan egoisme. Semoga hal ini  tidak terjadi!</p>
<p>Salam dan selamat berjuang para Sobat, tidak ada istilah terlambat, selagi ada persoalan yang kita hadapi maka peluang kita untuk menunjukkan bahwa kita adalah “sang profesional di bidang kita” semakin terbuka lebar. Itu artinya, peluang untuk maju sangat terbuka. Itu semua kembali ke diri kita masing-masing, kita tidak akan pernah menuntut orang lain untuk  berubah sebelum kita menunjukkan perubahan itu sendiri&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;Yang utama adalah mari kita berbuat, sekecil apapun itu, jika perbuat dengan HATI NURANI, sebesar apapun persoalan bangsa yang kita hadapi, Insya Allah akan dapat diselesaikan, karena Allah tidak pernah memberikan persoalan lebih besar dari kemampuan kita. Sebesar apapun persoalan yang dihadapkan ke kita, selalu lebih kecil dari kemampuan yang diberikan Allah kepada manusia! Good luck!</p>
<p>Zulfikri Anas&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fikrieanas.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fikrieanas.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fikrieanas.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fikrieanas.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fikrieanas.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fikrieanas.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fikrieanas.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fikrieanas.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fikrieanas.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fikrieanas.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fikrieanas.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fikrieanas.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fikrieanas.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fikrieanas.wordpress.com/603/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=603&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/09/27/sebuah-impian-16-sekolah-unggul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fikrieanas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/09/angklung.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Angklung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Impian (15) &#8220;Kenaifan Tes IQ&#8221;</title>
		<link>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/09/27/sebuah-impian-15-kenaifan-tes-iq/</link>
		<comments>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/09/27/sebuah-impian-15-kenaifan-tes-iq/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 05:03:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikri Anas</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fikrieanas.wordpress.com/?p=600</guid>
		<description><![CDATA[John Dewey (Filosof dan Ahli Pendidikan)&#8230;.&#8221;menyamakan (Tes IQ) dengan persiapan keluarganya untuk membawa ternak ke pasar. Untuk mengetahui berapa harga ternak tersebut, keluarganya menaruh ternak itu di salah satu ujung papan timbangan dan menaruh setumpuk batu bata di ujung papan yang satunya yang akan membuat papan itu seimbang. Kemudian kita berusaha menghitung berapa berat tumpukkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=600&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/09/left-brain-right-brain.jpg"><img src="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/09/left-brain-right-brain.jpg?w=141&#038;h=150" alt="" title="left-brain-right-brain" width="141" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-601" /></a>John Dewey (Filosof dan Ahli Pendidikan)&#8230;.&#8221;menyamakan (Tes IQ) dengan persiapan keluarganya untuk membawa ternak ke pasar. Untuk mengetahui berapa harga ternak tersebut, keluarganya menaruh ternak itu di salah satu ujung papan timbangan dan menaruh setumpuk batu bata di ujung papan yang satunya yang akan membuat papan itu seimbang. Kemudian kita berusaha menghitung berapa berat tumpukkan batu bata  tersebut:&#8230; (Parker J Palmer,,Pendidik dengan Nurani)<span id="more-600"></span></p>
<p>John Dewey menyadari bahwa dunia pendidikan berhadapan dengan manusia, dan manusia itu makhluk yang &#8220;paling sempurna&#8221; diciptakan Illahi, tidak ada satu alatpun yang mamu mengukur kemampuan otak manusia, Kemampuan otak tak terbatas, positifnya tak terbatas, negatifnya juga tak terbatas. </p>
<p> Itu pernyataan  Dewey sekitar 80 tahun yang lalu,  ketika ia dimintai  respon terhadap Tes IQ, dia menjawab dengan menceritakan pengalamannya sewaktu kecil yang  hidup di keluarga petani. Pointnya adalah&#8230;..kita tidak pernah tahu bobot batu bata itu yang sesungguhya, bagaimana bisa kita menjadikan batu bata itu sebagai ukuran,  begitu banyak jenis dan ukuran, serta bahan baku batu bata, semua itu mempengaruhi bobotnya. Batu bata mana yang kita jadikan ukuran? Adalah suatu kekeliruan besar ketika kita menaksir bobot ternak berdasarkan berat batu bata yang kita tidak tahu pasti bobot yang sebenarnya saking banyaknya jenis, tipe dan ukuran  batu bata yang bisa digunakan sebagai ukuran.</p>
<p> Sungguh sangat naif&#8230;&#8230; ketika kita memiliki alat untuk mengukur kemampuan kuda berlari&#8230;&#8230;.berdasarkan alat yang kita gunakan terdeteksi bahwa &#8220;Kuda mempunyai tenaga besar, berkaki empat dan bertungkai panjang, lalu kesimpulan kita, kita bisa latih kuda untuk berlari dan mearik gerobak&#8221;. Nah setelah kita latih berlari, kemudian kita uji kemampuan berlari&#8230;dan betul hasilnya&#8230;&#8230;..pendidikan kita berhasil&#8230;..untuk itu, kita harus &#8220;seleksi&#8221; calon  murid-murid yang akan datang dengan alat ini&#8230;..dst.<br />
Akhirnya alat tersebut jadi primadona, dan dijadikan untuk seleksi sebelum masuk ke sekolah tertentu. Naifnya,  untuk mengukur kemampuan &#8220;belut&#8221; juga mengggunakan alat yang sama, sehinggga diperoleh hasil&#8230;&#8230;belut tidak bisa diterima karena menurut alat tes&#8230;.tidak mungkin belut bisa berlari,&#8230;skornya terlalu rendah&#8230;.dia tidak punya kaki&#8230;&#8230;.belut tidak dapat diterima&#8230;&#8230;&#8230;.hanya kudalah yang bisa diterima sebab kuda banyak manfaatnya&#8230;dia mampu melakukan segala-galanya&#8230;.Ada yang dilupakan bahwa kuda tidak akan mampu menjadi &#8220;predatorr&#8221; di air sebagai mana yang dilakukan oleh belut, sehingga belut menjadi salah satu tokoh penting dalam hal menjaga kesimbangan alam di dalam air dan lumpur, sebuah kemampuan yang tidak mampu dilakukan oleh kuda!. </p>
<p>Salam</p>
<p>Zulfikri Anas&#8230;&#8230;Catatan Perjalanan dari Semarang  ke Jakarta&#8230;&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fikrieanas.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fikrieanas.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fikrieanas.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fikrieanas.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fikrieanas.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fikrieanas.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fikrieanas.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fikrieanas.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fikrieanas.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fikrieanas.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fikrieanas.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fikrieanas.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fikrieanas.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fikrieanas.wordpress.com/600/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=600&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/09/27/sebuah-impian-15-kenaifan-tes-iq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fikrieanas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/09/left-brain-right-brain.jpg?w=141" medium="image">
			<media:title type="html">left-brain-right-brain</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Impian (14)  Menjadikan  &#8220;Manusia Sebuah Misteri&#8221;</title>
		<link>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/09/27/impian-14-menjadikan-manusia-sebuah-misteri/</link>
		<comments>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/09/27/impian-14-menjadikan-manusia-sebuah-misteri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 04:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikri Anas</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fikrieanas.wordpress.com/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[Jika perilaku, profesi dan keahlian manusia bisa ditebak dengan mudah oleh orang lain, derajat “kemanusiaannya” akan turun ke level benda-benda hasil temuan/rakitannya sendiri, atau malah lebih rendah dari itu, dan pada level itu keberadaannya sebagai manusia akan segera digantikan oleh mesin-mesin temuannya tersebut. Dalam pandangan Daniel H.Pink, perjalanan peradaban manusia yang di awali dari peradaban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=593&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika perilaku, profesi dan keahlian manusia bisa ditebak dengan mudah oleh orang lain, derajat “kemanusiaannya” akan turun ke level  benda-benda hasil temuan/rakitannya sendiri, atau malah lebih rendah dari itu, dan pada level itu keberadaannya sebagai manusia akan segera digantikan oleh mesin-mesin temuannya tersebut.  Dalam pandangan Daniel H.Pink, perjalanan peradaban manusia  yang di awali dari peradaban modern di abad ke-18. Era itu, kehidupan ini didominasi  oleh pekerja  pekerja pertanian (farmers), era itu disebutnya sebagai era  agriculture. Ini masa-masa kejayaan para tuan tanah, dan pengusaha pertanian. Menjadi Insiyur Pertanian adalah sebuah cita-cita  yang diidamkan oleh banyak orang. Begitu masuk abad ke-19, era itu segera digantikan oleh era industri, kebanyakan orang mengidamkan pekerjaan sebagai karyawan atau manajer di dunia  industri (factory worker).  Bekerja di dunia industri memiliki daya pikat dan gengsi tersendiri. Rupanya, era itupun segera berlalu, dan masuk ke era informasi di abad ke-20 yang ditandai dengan perkembangan pesat teknologi informasi dan komputerisasi. Dunia menjadi mengecil ukurannya, kita dengan mudah memperoleh informasi secara langsung di seluruh penjuru dunia.  Di era ini, kehidupan didominasi oleh pekerja ilmu yang menguasai IPTEK (knowedge worker).<span id="more-593"></span></p>
<p>Di ketiga era tersebut, pola pikir linier menjadi primadona dalam menyelsaikan persoalan karena persoalan-persoalan hidup yang muncul pada saat itu masih relatif sederhana sehingga dapat diselesaikan melalui pola pikir linier.  Profesi-profesi yang mengggunakan pola pikir linier sebagai metode penyelesaian masalah menjadi profesi yang berjaya. Ketika itu pula para insyinyur, teknisili teknik, ahli komputer (hard-ware dan soft-ware), akuntan, dan semua keahlian yang didasarkan pada ilmu-ilmu eksakta (termasuk matematika) yang mengggunakan pikiran-pikiran, linier,  rasional,  dan logis menjadi keahlian dan profesi idola. Peran mereka menjadi dominan dan di tangan mereka semua persoalan yang dihadapi ketika itu dapat diselesaikan dengan baik, sehingga profesi tersebut mendapat penghargaan yang tinggi dalam kehidupan masyarakat. </p>
<p>Era itu sudah lewat, menurut Daniel H Pink, peran itu semua akan segera digantikan oleh mesin-mesin dan komputer, semua persoalan yang membutuhkan pikiran dan keahlian linier akan diselesaikan oleh mesin dan komputer. Ke depan, manusia yang mampu bertahan dan akan berjaya adalah manusia-manusia “misterius” yang keahliannya tidak bisa ditebak, ia dapat tampil terbaik kapanpun dan dalam situasi apapun ia muncul, keberadaannya ditandai dengan ide-ide yang selalu baru dan penuh kejutan. Tiap detik ia tampil dengan hasil berbeda. Kemampuan seperti ini tidak dapat di-copy sehingga tidak akan mampu digantikan oleh mesin-mesin atau komputer tercanggih sekalipun. Orang-orang seperti ini betul-betul menggunakan power “otak dan hati-nya” yang tidak terbatas.  Orang ini sangat sadar bahwa kekuatan otak yang diberikan Illahi  tidak terbatas. Positifnya tidak terbatas, negatifnya juga tidak terbatas. Para ahli mengakui bahwa sampai kapanpun tidak akan ada alat ciptaan manusia yang mampu mengukur kekuatan otak manusia, dan ketika ini disadari oleh manusia, dan ia mampu mengembangkan dan memberdayakan dengan baik, maka is akan menjadi kekuatan yang “misterius”, siapa yang tahu seorang intellijen?, siapa yang mengerti keahlianya? No body knows!  </p>
<p>Pertama kali saya melihat judul buku “Manusia Sebuah Misteri” karya Louis Leahy pada tahun 80-an, buku itu langsung saya cari, dan memang&#8230;jika ingin eksis sebagai manusia sekaligus sebagai wujud rasa syukur kepada Illahi yang telah menciptakan manusia, kita harus muncul sebagai sosok manusia yang misterius, tidak bisa ditebak keahliannya  yang sesungguhnya!  </p>
<p>Tapi, Ini semua, TIDAK BERLAKU  bagi manusia yang memilih menjadi “misterius” dengan cara berperan seperti  “bunglon” untuk “menyelamatkan muka” atau “bersembunyi”  seperti bunglon-bunglon politik yang –seolah-olah&#8211; selalu tampil “bersih” di hadapan publik.<br />
Menjadi manusia “misterius” yang dimaksudkan di sini adalah menjadi orang-orang yang memiliki kemamampuan untuk berbuat kebaikan yang bermanfaat bagi semua orang untuk selamanya, bukan untuk kepentingan sesaat dan bagi sebagian orang saja. Menjadi “Manusia Misteri” di sini adalah manusia yang menguasai kecerdasan dengan perangkat-perangkat dasarnya kemampuan (Design, Story, Symphony, Emphaty, Play, Meaning). </p>
<p>Ini sinyal bagi dunia pendidikan kita yang harus segera merevolusi diri jika kita tidak ingin anak-anak kita nanti menjadi tergilas oleh zaman!.  (Zulfikri Anas, &#8211;on the way Madiun to Semarang, September 2011&#8211;)<br />
<a href="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/09/daniel-pink-conceptual-age1.png"><img src="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/09/daniel-pink-conceptual-age1.png?w=150&#038;h=94" alt="" title="daniel-pink-conceptual-age" width="150" height="94" class="aligncenter size-thumbnail wp-image-597" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fikrieanas.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fikrieanas.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fikrieanas.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fikrieanas.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fikrieanas.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fikrieanas.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fikrieanas.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fikrieanas.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fikrieanas.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fikrieanas.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fikrieanas.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fikrieanas.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fikrieanas.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fikrieanas.wordpress.com/593/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=593&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/09/27/impian-14-menjadikan-manusia-sebuah-misteri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fikrieanas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/09/daniel-pink-conceptual-age1.png?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">daniel-pink-conceptual-age</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Impian (13)</title>
		<link>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/07/04/sebuah-impian-13/</link>
		<comments>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/07/04/sebuah-impian-13/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jul 2011 02:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikri Anas</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fikrieanas.wordpress.com/?p=591</guid>
		<description><![CDATA[Selamat Tinggal “Mufakat” dengan Cara Berpikir Linier Mengunakan, membiarkan &#8211;apalagi memaksa—orang untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi dengan cara berpikir linear, berurutan secara logis, dan rasional sebagaimana yang digunakan oleh orang pada umumnya saat ini, dan apalagi menjadikan berpikir linier itu menjadi indikator keunggulan seseorang sehingga menjadikan semua orang berpikiran seragam, adalah cara berpikir yang menganiaya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=591&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Selamat Tinggal “Mufakat” dengan Cara Berpikir Linier</strong></p>
<p>Mengunakan, membiarkan &#8211;apalagi memaksa—orang untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi dengan cara berpikir linear,  berurutan secara logis, dan rasional sebagaimana yang digunakan oleh  orang pada umumnya saat ini, dan apalagi menjadikan berpikir linier itu menjadi indikator keunggulan seseorang  sehingga menjadikan semua orang berpikiran seragam,  adalah cara berpikir yang menganiaya.  Menurut Daniel H. Pink, seorang motivator dunia saat ini menyatakan bahwa  pola pikir  seperti itu merupakan cara pikir masa silam tatkala persoalan hidup yang dihadapi masih sangat sederhana &#8212; pola pikir linear hanya  cocok  dan efektif untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sederhana!&#8211;.  Ke depan, pola pikir seperti itu akan menjadi &#8220;rongsokan&#8221; yang tidak bermanfaat. Persoalan  datang dengan berbagai kejutan dan di luar jangkauan pikiran linear. Tiba-tiba saja Briptu Norman menyita perhatian banyak orang, sementara ada diantara kita yang berjuang dengan mengikuti prosedur yang logis, linear sepertinya  hanya  jalan di tempat!.<br />
 “Pikiran liar, logika yang  terbalik,  melakukan sesuatu yang tidak biasa, dan membiarkan setiap orang &#8220;konsisten&#8221; menjadi diri sendiri akan memperkuat jati diri dan memposisikan yang bersangkutan pada fitrahnya sebagaimana manusia yang diciptakan berbeda satu sama lain. Setiap individu diciptakan membawa misi masing-masing seperti planet dengan kekhasannya  namun konsisten menjalankan  dan memilihara kehormatan  orbitnya  masing-masing. <span id="more-591"></span><br />
Pemikiran ini memiliki konskuensi bahwa perbedaan pendapat harus dipelihara. Musyawarah untuk mufakat bukan berarti menyatukan pemikiran yang berbeda, tetapi mengkondisikan setiap planet agar tentap konsisten  pada orbitnya. Konsistensi pada orbit masing-masing  akan membangun sebuah sistem yang kuat dan menghapus egoisme secara otomatis.  Hal ini juga ditegaskan oleh Alquran bahwa “kehidupan manusia ibarat planet yang memiliki orbit masing-masing. Ketika masing-masing konsisten pada orbitnya akan terjadi kesimbangan, dan kesimbangan akan menghasilkan keharmonisan.<br />
Falsafah adat Minang tentang  TIGO TUNGKU SAJARANGAN  semakin menguatkan pemikiran ini. Sebuah tungku terdiri dari 3 sisi atau tiga tiang, ketiga sisi menjalankan tugasnya sesuai dengan posisinya. Sepanjang masing-masing sisi itu konsisten dengan posisinya maka semuanya akan saling menguatkan sehingga periuk, belanga, atau apapun yang ditaruh di atas tunggku  itu akan bertengger dengan tenang. Namun jika ada yang tidak konsisten, artinya ada yang merasa lebih berkuasa lalu menginginkan 2 sisi yang lain menyatu dengan dia sebagaimana yang dianut oleh sistem voting –lazim dalam demokrasi  saat ini, termasuk di Minang&#8211;  berarti melanggar hukum alam. Jika demikian, sampai kapanpun keharmonisan hidup tidak akan terjadi. Itulah yang kita rasakan saat ini.<br />
Begitu juga dengan “bulek samo digolongkan, picak samo dilayangkan, saciok bak ayam, sadanciang bak basi” ini sama sekali bukan penyeragaman pendapat, melainkan menyadari bahwa semua unsur harus menempati posisinya masing-masing. Sebuah benda yang bulat terdiri dari partikel-partikel yang berada pada posisi masing-masing. Jika disederhanakan, sebuah benda yang bulat memiliki 4 sisi, yaitu atas, bawah, kiri dan kanan. Keempat sisi itu dihubungkan oleh partikel-partikel yang berjarak sama dari titik pusat. Sisi yang berlawanan akan saling mendukung sesuai dengan kedudukannya. Jadi,agar membetuk sebuah benda yang bulat “harus ada sisi yang berlawanan!”, lalu setiap sisi konsisten dengan kedudukan dan tidak “mencikaraui”  keberadaan sisi yang lain, yang pokok adalah konsisten sebagai sebuah partikel yang menempati sisi tertentu. Jika ia lupa dan “keluar dari orbit, dengan penuh kesadaran, ia kembali pada posisinya, karena jika tidak demikian, bulat akan menjadi persegi sehingga tidak bisa digolongkan. Titik pusat menjadi orientasi dan tujuan bersama yang harus disadari oleh setiap pihak. Itulah tujuan hidup, yaitu menwujudkan kesejahteraan, kebahagiaan, kebersamaan, keharmonisan  dan sebagainya.  Setelah menjadi bulat, baru dapat “dogolong”. Hal yang sama juga berlaku bagi “picak samo dilayangkan”, setiap partikel menempati sisi yang tepat sehingga benda itu berbentuk picak, setelah itu baru dilayangkan. Hal yang sama juga berlaku  untuk “saciok bak ayam”, ayam bisa manciok ketika ada udara yang menggetarkan selaput suara dan itu terjadi perintah dari “otak” ayam, semua saraf yang ada di tubuh ayam bekerja  dengan baik sehingga menghasilkan bunyi “ciok”.  Besi bisa “bandanciang” karena ada unur-unsur partikel yang saling bekerja sesuai dengan sifatnya masing-masing.  Yang menjadi kata kunci dari semua ini adalah konsistensi, komitmen yang dibangun atas adanya kesadaran dan  kerelaan untuk menyumbangkan sesuatu yang kita punya dengan semaksimal mungkin.  Itulah fitrah. Itulah kehidupan.<br />
Egoisme muncul pada saat salah satunya gagal menjaga konsistensinya sehingga menyalahi orbitnya      (= menyalahi fitrah).  Dalam kehidupan –terutama di masa datang jika kita tidak hati-hati, kita akan kehilangan eksistensi. Dan ternyata hanya berkonsentrasi pada konsistensi diri sendiripun tidak cukup,  kita perlu berkontribusi sesuai dengan keberbedaan kita, di samping itu  kita perlu juga menyadari bahwa kita memang saling berbeda dan kita harus menghargai itu, serta adanya kerelaan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada orang lain untuk mengurus orbitnya.  Dengan demikian, tidak satupun yang bisa tergantikan. Setiap unusur kehidupan, apalagi manusia hadir dengan perannya masing-masing.  “Si buto pahambui lasuang, si pakak palapeh badia, si lumpuah panunggu jamua” .<br />
Ketika  orang Minang sampai pada kesimpulan  “Tagang bajelo-jelo, kandua badantiang-dantiang, ado samo ditahan, indak ado samo di makan”. Tidak terlepas dari pola pikir yang demikian.<br />
Adalah kekhsan orang Minang dari dulu untuk selalu tampil beda sesuai dengan fitrah masing-masing. Orang Minang selalu tampil dengan kekhasannya, inilah yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh Minang yang tidak tergantikan seperti Buya Hamka, Hatta, dan sebagainya, mereka eksis dan jadi tuntunan bagi semua golongan,  menjadi harapan besar  bagi semua umat karena  Beliau memiliki kekhasan,  sebagai  orang Minang yang khas  yang “menguasai” sifat-sifat dasar alam dan berpegang pada ajaran Islam secara konsisten.<br />
Terkait dengan itu,  pernyataan Daniel H. Pink yang mengaskan bahwa untuk mesuki abad 21 “Tidaklah lagi memadai untuk menciptakan sebuah produk, jasa, pengalaman, atau gaya hidup yang semata-mata fungsional. Saat ini adalah saat yang secara ekonomis penting dan berharga secara personal untuk menciptakan sesuatu yang juga indah, sedikit  fantastis, dan menarik secara emosional”. Ini merupakan salah satu kecerdasan dari enam kecerdasan yang dibutuhkan dalam memasuki   era &#8220;high concept dan high touch. Era yang merindukan  kelahiran  kreasi berbeda dan tidak lazim!<br />
Ini merupakan salah satu tanda bahwa  kita bersyukur  dengan  memaknai secara benar tentang  hakikat penciptaan manusia dan alam oleh Illahi. Tinggalkan cara berpikir linier dalam bermufakat, bukankah ini termasuk ciri Orang Minang?. Ini suatu bukti juga bahwa filosofi adat Minang menjangkau jauh ke depan dan akan bertahan terus sepanjang masa. Hal-hal seperti itu “indak lapuak de hujan, indak lakang dek paneh! Sekaligus bukti bahwa  antara adat Minang dan Islam merupakan  satu kesatuan dalam keterpaduan. Sungguh menjadi kebanggaan yang luar biasa terlahir sebagai Orang Minang, demikian juga seharusnya bagi dunsanak yang terlahir sebagai Orang Jawa, Sunda dan seterusnya harus bangga terlahir dalam budaya masing-masing, sehingga kita sama-sama bangga menjadi orang Indonesia. Bravo! &#8212;-based on Daniel H. Pink and Paul Arden&#8212;- (Catatan Zulfikri Anas)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fikrieanas.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fikrieanas.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fikrieanas.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fikrieanas.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fikrieanas.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fikrieanas.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fikrieanas.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fikrieanas.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fikrieanas.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fikrieanas.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fikrieanas.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fikrieanas.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fikrieanas.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fikrieanas.wordpress.com/591/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=591&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/07/04/sebuah-impian-13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fikrieanas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Impian (12)</title>
		<link>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/07/03/sebuah-impian-12/</link>
		<comments>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/07/03/sebuah-impian-12/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jul 2011 16:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikri Anas</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fikrieanas.wordpress.com/?p=589</guid>
		<description><![CDATA[TAHIMPIK HANDAK DI ATEH: Sebuah Ajaran yang Humanis (Zulfikri Anas) Apapun kondisinya, dan sampai kapanpun, saya sangat bangga terlahir sebagai orang Minang. Perjalanan panjang nenek moyang kita dalam membangun dasar-dasar kehidupan berupa pikiran-pikiran yang fislosofis dan utuh tentang kehidupan, merupakan jasa yang tidak pernah terukur dan tak terbayar sampai kapanpun. Salah satu yang membuat saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=589&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TAHIMPIK HANDAK DI ATEH:<br />
Sebuah Ajaran yang Humanis<br />
(Zulfikri Anas)</strong></p>
<p>Apapun kondisinya, dan  sampai kapanpun,  saya sangat bangga terlahir sebagai orang Minang. Perjalanan panjang nenek moyang kita dalam membangun dasar-dasar kehidupan berupa pikiran-pikiran yang fislosofis dan utuh tentang kehidupan, merupakan jasa yang tidak pernah terukur dan tak terbayar sampai kapanpun.  Salah satu yang membuat saya salut adalah ajaran bijak tentang “TAHIMPIK HANDAK DI ATEH, TAKURUANG HANDAK DI LUA”. Ini salah satu dari sekian banyak ajaran humanis yang dimiliki alam budaya Minang.  Ajaran tersebut mengandung makna bahwa setiap makhluk dan benda apapun yang diciptakan Illahi memiliki energi untuk mempertahankan hidup dari sebuah himpitan atau tekanan. Archimedes membuktikan bahwa setiap benda yang mendapat tekanan akan mengeluarkan energi sebesar takanan yang ia terima, hal yang sama juga dibuktikan oleh Newton dengan teori AKSI= (min) REAKSI. <span id="more-589"></span></p>
<p>Sunnatullah adalah fakta yang tak terbantahkan, termasuk keberagaman kedudukan dan peran dalam kehidupan, ada yang kebetulan memiliki “kekuatan” lebih besar dari yang lain, dan juga yang kebetulan memiliki “kekuasaan” dan ada yang “dikuasai”. Dalam membangun kehidupan yang harmoni, semua kedudukan dan peran memiliki arti dan makna tersendiri. Untuk itu, para orang tua kita zaman dulu mengingatkan, jika berhubungan dengan orang lain “jangan menghimpit” dan “jangan mengurung”, karena semakin kuat himpitan yang kita berikan, akan semakin kuat pula perlawanan yang akan kita dapatkan.  Siapakah manusia di dunia ini “rela dihimpit dan dikurung?. Jangankan manusia, semut yang terinjakpun akan melawan, dan benda mati pun memiliki  energi untuk bertahan dari tekanan. Begitu juga dalam hubungan orang per orang, bagi yang kebetulan memiliki kelebihan dari yang lain, jangan sekali-kali menggunakan kelebihan itu untuk menekan atau menghimpit dan mengurung, karena tindakan itu akan menjadi bumerang nantinnya. Fungsi tekanan adalah menghasilkan power internal, semakin besar tekanan, akan semakin besar pula “ledakannya”. Dalil ini pula yang digunakan oleh perakit bom. Dalam kehidupan sosial, dalil ini terbukti dengan runtuhnya rezim orde baru. Seperti yang kita ketahui, salah satu ciri orde baru adalah mengendalikan rakyat dengan “tekanan”, awalnya aman-aman saja, namun lama kelamaan energi internal berubah menjadi POWER yang tidak terkendali, sekuat apapun rezim itu akhirnya tumbang juga!</p>
<p>Begitu arifnya nenek moyang kita, mereka meninggalkan acuan hidup bagi anak cucunya. Kita diingatkan jangan pernah menghimpit dan jangan pernah mengurung, apapun, apalagi sesama manusia. Pemikiran ini didasarkan pada hukum alam bahwa semua benda dan makhluk ciptaan Illahi, sekecil apapun ukurannya, selalu memiliki kedudukan dan peran yang ikut menentukan terciptanya tatanan kehidupan yang harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Khalik. Tarubuak  busuak, jariang busuak menjadi santapan yang enak di meja makan, dan memperkuat ikatan moral antara ibu, ayah, dan anak. Daun busuak, sampah busuak menjadi pupuk yang menyuburkan tanah. Bakteri, virus dan penyakit yang diderita mendorong manusia untuk “mengeksplore” alam untuk menemukan obat, dan seterusnya. Untuk itu jangan pernah meremehkan setiap benda dan makhluk ciptaan Illahi.  Dalam penciptaan alam tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, semuanya memiliki kemuliaan sendiri=sendiri dan tidak bisa dibandingkan. Sungguh ini ajaran yang sangat mulia.  </p>
<p>Semula, sama dengan yang lain, saya juga berpikiran bahwa “TAHIMPIK HANDAK DIATEH, TAKURUANG HANDAK DI LUA” merupakan simbol  kelicikan (cadiak buruak) orang Minang sebagaimana yang dipahami oleh banyak orang sampai saat ini.  Ungkapan ini akan jadi ajaran “licik” di tangan orang yang berpandangan “licik”, namun ia akan menjadi ajaran yang “arif” di tangan orang yang berpandangan “arif”, itulah Orang Minang, nenek moyang kita!.  Tidak satupun ajaran, pepatah petitih, atau filosofi dalam alam pikir budaya Minang yang sengaja untuk “MENJELEKKAN DIRI SENDIRI”. Ini salah satu bukti bahwa antara Islam dan alam pikiran/Budaya Minang merupakan satu ke satuan yang tidak terpisahkan. Sampai saat ini saya belum ketemu suatu bangsa yang secara “eksplisit” dan “ikhlas” mengakui kearifan alam (Sunnatullah)  dalam mendidik manusia. Alam Takambang Jadi Guru. Inilah yang membuat saya bangga sebagai orang Minang. Subhannallah! (Zulfikri Anas).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fikrieanas.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fikrieanas.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fikrieanas.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fikrieanas.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fikrieanas.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fikrieanas.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fikrieanas.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fikrieanas.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fikrieanas.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fikrieanas.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fikrieanas.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fikrieanas.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fikrieanas.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fikrieanas.wordpress.com/589/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=589&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/07/03/sebuah-impian-12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fikrieanas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Impian (11)</title>
		<link>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/07/03/menyatunya-adat-minang-dan-islam-alam-takambang-jadi-guru/</link>
		<comments>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/07/03/menyatunya-adat-minang-dan-islam-alam-takambang-jadi-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jul 2011 15:53:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikri Anas</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fikrieanas.wordpress.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[Menyatunya Adat (Minang) dan Islam : Alam Takambang Jadi Guru Oleh: Zulfikri Anas*) fikrieanas.wordpress.com fikrieanas@yahoo.com Salah satu karakter dasar orang Minang adalah sulit untuk menerima begitu saja sesuatu yang datang dari luar, sehingga ada pandangan bahwa inilah salah satu bentuk “kesombongan budaya” Minang. Apalagi sesuatu yang baru datang itu kemudian “diangkat” derajatnya, lalu di posisikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=584&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Menyatunya Adat (Minang) dan Islam :<br />
Alam Takambang Jadi Guru<br />
Oleh: Zulfikri Anas*)<br />
fikrieanas.wordpress.com<br />
fikrieanas@yahoo.com<br />
</strong></p>
<p>Salah satu karakter dasar orang Minang adalah sulit untuk menerima begitu saja sesuatu yang datang dari luar, sehingga ada pandangan bahwa inilah salah satu bentuk “kesombongan budaya”  Minang. Apalagi sesuatu yang baru datang itu kemudian “diangkat” derajatnya, lalu di posisikan sebagai “sandi” dari sesuatu yang telah mereka yakini sejak ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan tahun sebelumnya. Tidaklah mudah untuk membuat sebuah filosofi hidup “Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah” mengingat  adat lebih dulu eksis daripada Islam. Pada saat itu, pastilah terjadi pergumulan luar biasa, semua “kekuatan” yang dimiliki adat dikerahkan untuk “menyerang” pandangan baru –ISLAM&#8211;. Ini sebuah keputusan yang luar biasa  berat jika tidak ada sesuatu yang sangat-sangat-sangat istimewa yang dibawa oleh Islam.  Dan semua tokoh <span id="more-584"></span>adat memutuskan untuk belajar ke negeri asal Islam!</p>
<p>Yang pasti, ketika Orang Minang mengangkat Alam Takambang sebagai guru sejati, itu berarti “alam” adalah suri tauladan, tempat kita bernaung, mencapai kebahagiaan yang hakiki, dan tempat kita menggali ilmu setinggi-tingginya sehingga sampai pada kesimpulan bahwa semua rahasia penciptaan alam semesta tersimpan dalam sifat-sifat seluruh makhluk, benda, jagat raya ini. Adat membungkus ini dengan apik, tanpa ada yang terlewat satupun, bahkan kesimpulan itu menembus batas-batas logika linier, kadang-kadang justeru berlogika terbalik, dialektis, paradoks, pokoknya lengkap dengan keberagaman yang terkadang saling bertentangan. Sebagai contoh, bagaimana nenek moyang kita sampai pada kesimpulan “ado samo ditahan, indak ado samo di makan, tagang bajelo-jelo, kandua badantiang-dantiang, duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang!”. Semua itu adalah alam!, dan tidak satupun dari ungkapan itu keluar dari sifat-sifat alam. Kalau dilihat dari kata secara harfiah seperti bertentangan, pada hal tidak, inilah “logika” tingkat tinggi. </p>
<p>Dan ternyata, semua yang diperoleh nenek moyang kita dari pengembaraan pemikiran melalui penelusuran sifat-sifat alam yang sangat-sangat mendetil yang dilakukan sejak ribuan, mungkin jutaan tahun lamanya itu –untuk sampai pada kesimpulan alam adalah guru sejati— merupakan sunatullah sebagaimana dijelaskan oleh Alquran secara lengkap dan menyeluruh,  mulai dari proses penciptaan, sifat-sifat dan keberadaanya dalam kehidupan manusia.  Mungkin ada diantara beberapa pertanyaan yang belum sempat terjawab oleh pemikiran manusia, dijawab dengan baik oleh Alqur’an. Akhirnya nenek moyang kita sampai pada kesimpulan bahwa, Allah itu abadi, tidak  punya awal, dan Allahlah menciptakan semua jagat raya yang telah dianggap sebagai “guru sejati” –termasuk manusia itu sendiri&#8211;  oleh Orang Minang. Lalu, dengan keikhlasan yang penuh, Adat menerima Syara’ sebagai sandi, dan kitabullah sebagai sandi dari kesemuanya! </p>
<p>Dalam skala kecil  dan sesuai dengan bidang yang saya geluti, saya mencoba mengkaji teori-teori pendidikan sejak awal pendidikan formal dikenal dalam peradaban manusia sampai pada perkembangan mutakhir, begitu ditarik ke ajaran Islam, ternyata semua teori-teori itu telah diijelaskan dengan sempurna oleh Alqur’an. Ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa Islam dan Alqur’an merupakan payung dari semua ilmu yang ada di alam.  Semua cabang ilmu-ilmu pengetahuan lahir sebagai alat dan metodologi untuk memahami alam –tidak satupun ilmu pengetahuan yang keluar dari alam&#8211;, sementara alam itu sendiri merupakan firman Illahi –sunnatullah&#8211;, jadi pada hakekatnya, semua ilmu pengetahuan adalah strategi dan metode untuk memahami sunnatullah –alam dan segala aspek yang terkait dengannya— Ini juga memiliki makna bahwa ilmu pengetahuan adalah ‘jembatan emas’ untuk menuju ketaqwaan. </p>
<p>Artinya lagi, semakin dalam orang mengkaji sifat-sifat alam, semakin tinggi ilmunya, maka –seharusnya—makin kuat iman dan ketaqwaanya. Namun, apa yang terjadi kini?, makin tinggi ilmu seseorang makin jauh dia dari agama. Ini salah satu bukti bahwa dunia pendidikan kita yang kita sebut dengan pendidikan moderen adalah pendidikan yang sekuler. Sangatlah nyata sekali bahwa pendidikan kita sekuler!, &#8212;termasuk (maaf) pada lembaga-lembaga pendidikan yang mengatasnamakan Islam atau bernafaskan Islam&#8212;, sebab, selagi lembaga itu membedakan antara ilmu umum dan ilmu agama (pagi belajar ilmu umum, sore belajar agama), artinya jam pembelajaran antara keduanya dipisah dan terpisah, ini ciri utama bahwa pendidikan itu sekuler. </p>
<p>Pada level mikro di kelas (dalam pendidikan formal), pemikiran “Alam takambang jadi guru”  &#8211;yang menjadi dasar bagi pengembangan adat&#8211;  dapat diimplementasikan melalui pendekatan konstruktivisme dengan berbagai alternatif metode seperti collaborative learning, eksplorasi, elaborasi, konfirmasi dan sebagainya (metode ini lazim diterapkan di surau zaman dulu). Contoh implementasinya (ini contoh kecil saja)  pada saat anak belajar biologi tentang fotosintesis, amuba dan sebagainya, guru sebanyak mungkin menggunakan alam nyata sebagai sumber belajar dan  setelah guru dan anak terlibat (sama-sama aktif) dalam pembelajaran yang demikian, lalu di akhir pembelajaran sang guru &#8211;mestinya mereka yang berani menjadi  guru sangat paham tentang ini&#8211; menyampaikan pada anak muridnya bahwa “anak-anak kita baru saja belajar tentang firman Illahi”. Sifat-sifat tumbuhan, bagaimana dia bernafas, hidup, berbuah, dan sebagainya&#8230;semua itu adalah ayat Illahi atau sunnatullah.  Metode ini juga berlaku dalam pembelajaran IPS, Agama  atau yang lainya, karena obyek semua mata pelajaran (ilmu)  adalah alam dan kehidupan di alam.</p>
<p>Jika proses ini terjadi dalam pendidikan kita, maka antara ilmu, kehidupan,  dan agama sekaligus menyatu sehingga semakin tinggi ilmu anak-anak, semakin dalam di masuk ke alam, maka semakin kuatlah imannya.  INILAH YANG MENJADI SALAH SATU KEKUATAN YANG DIMILIKI SURAU SEBAGAI INSTITUSI PENDIDIKAN (pola ini pula yang dkembangkan oleh Engku Sjafei di INS Kayutanam).  Bukti lain dari keberhasilan “Surau” dalam mengimplementasikan ini adalah ketika keberadaan “Surau” berhasil membangun tatanan kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat Minang yang arif  dalam menyikapi alam dan kehidupan, sehingga berpikir berfilsafat dimiliki oleh setiap individu orang Minang (ini terlepas dari apakah dia berpendidikan tinggi atau tidak, dan malah kecenderungannya justeru mereka yang berpendidikan tinggi yang sering kali tidak mampu bersifat arif). Hal  ini menjadi modal dasar bagi orang Minang untuk mampu hidup di mana saja. Ini pula yang menyebabkan orang Minang mampu beradaptasi di manapun. Orang Minang yang sebenar-benarnya Minang tidak akan pernah mengeluh dalam menghadapi persoalan hidup, mereka tetap menjadi orang cerdas walaupun di tengah himpitan berbagai persoalan, termasuk masalah ekonomi yang  sangat menghantam dirinya, semakin kuat himpitan, semakin kuat pula semangat dia untuk keluar dari himpitan itu. Tahimpik ingin di ateh, takuruang ingin di lua” (ini sama dengan hukum Archimedes dan Newton) , “Indak ado kusuik nan indak ka salasai, indak ado karuah nan indak bisa dijaniahkan”, “jiko tasasek, kembali ka pangka”. inilah  sederetan  simbol-simbol ketawakalan dan ketekunan orang Minang (zaman dulu) dalam menyelsaikan semua persoalan yang dihadapi.</p>
<p>Oleh karena itu, KEMBALI KE SURAU berarti KEMBALI KE ISLAM sebagai basis penyelenggaraan pendidikan dalam artian yang sebenar-sebanarnya!, bukan dalam artian sempit seperti yang ada sekarang &#8211;termasuk yang disebut dengan “boarding school” atau “islamic Center&#8211; (maaf) bukan bermaksud “merendahkan”, saya sangat menghormati Islam dan alam pikir Minang (adat), tapi jika kita berani mencatut  “ISLAM” sebagi label sekolah tanpa diiringi dengan tindakan yang konsisten untuk menjadikan Alquran sebagai induk kitab (“sandi” dari segala aspek kehidupan) dalam mengembangkan sumber dan metode pelajaran&#8230;&#8230;.menurut saya itu tindakan sangat keterlaluan. Tindakan itu hanya akan mengotori kemurnian Islam dan alam pikir Minang (adat)  itu sendiri. Dengan demikian, tanpa disadari, ternyata kita telah memperkuat akar SEKULARISME&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Nenek moyang kita sangat paham bahwa untuk meraih puncak kesuksesan hidup termasuk dalam pengembaraan spiritual sampai ke puncak tertinggi,  harus belajar pada alam, dan sendirinya harus menjadikan Alqur’an  (kitabullah) sebagai sendi utama. Lalu mengapa Islam?, bukan agama yang lain selain Islam?!.  Orang Minang  sangat cerdas, teliti dan arif, pilihan jatuh pada Islam membuktikan  bahwa agama lain tidak  mampu menjelaskan dengan sempurna apa yang dicari oleh ADAT!. Islamlah yang paripurna, makanya lahir ADAT BASANDI SYARA’, SYARA’ BASANDI KITABULLAH!  Ternyata orang Minang itu telah “Islam” sebelum Islam datang ke Ranah Minang, makanya tidak salah  AA Navis bilang “bukan Islam yang berkontribusi pada Adat, melainkan Adat yang berkontribusi pada Islam”. (Zulfikri Anas,  2011, Dalam Perjalanan dari Manado ke Jakarta)</p>
<p>*) Zulfikri Anas, Alumni Antropologi Univ Anadalas Padang dan Curtin University of Technologi, Perth, Australia, bekerja sebagai praktisi pendidikan dan sebagai “Curriculum Engineer” di Badan Litbang Kemdiknas, Jakarta)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fikrieanas.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fikrieanas.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fikrieanas.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fikrieanas.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fikrieanas.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fikrieanas.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fikrieanas.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fikrieanas.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fikrieanas.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fikrieanas.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fikrieanas.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fikrieanas.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fikrieanas.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fikrieanas.wordpress.com/584/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=584&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/07/03/menyatunya-adat-minang-dan-islam-alam-takambang-jadi-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fikrieanas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Impian (10): Hati-Hati Ada Gelombang “INSTANISME” dalam Pendidikan Kita</title>
		<link>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/03/24/sebuah-impian-10-hati-hati-ada-gelombang-%e2%80%9cinstanisme%e2%80%9d-dalam-pendidikan-kita/</link>
		<comments>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/03/24/sebuah-impian-10-hati-hati-ada-gelombang-%e2%80%9cinstanisme%e2%80%9d-dalam-pendidikan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 07:15:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikri Anas</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fikrieanas.wordpress.com/?p=520</guid>
		<description><![CDATA[Ibarat memasak kue, seorang koki yang berpikiran instan tidak peduli dengan proses pembuatannya. Atas nama efisiensi, semua adonan dicampur lalu dimasak, untuk mempercantik penampilan dan penikmat rasa dilakukan aksi instan dengan memberikan hiasan warna-warni dan bumbu penyedap buatan yang banyak. Begitu dilihat dan dicicipi kue itu sangat menarik hati dan sedap rasanya, namun semua itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=520&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibarat memasak kue,  seorang koki yang berpikiran instan  tidak peduli dengan  proses pembuatannya. Atas nama efisiensi,  semua adonan dicampur lalu dimasak, untuk mempercantik penampilan dan penikmat rasa dilakukan aksi instan dengan memberikan  hiasan warna-warni dan bumbu penyedap buatan yang banyak. Begitu dilihat dan dicicipi kue itu sangat menarik hati dan sedap rasanya, namun semua itu merupakan kenikmatan semu karena dibumbui zat kimia yang lama kelamaan akan menjadi racun dalam diri manusia.  Kira-kira analogi seperti itulah yang pas untuk menggambarkan kondisi iklim pembelajaran kita saat ini. <span id="more-520"></span></p>
<p>Semua orang berlomba agar anaknya memiliki NILAI yang tinggi sehingga rapor dan ijazahnya indah dipandang mata. Untuk itu dan atas nama efisiensi, berbagai upaya dilakukan, belajar instan, bimbel instan untuk menguasai  strategi jitu untuk  menjawab soal ujian, tidak cukup hanya di situ, masih ada upaya lain seperti menyewa  joki, mencari bocoran jawaban. Demi mendapatkan nilai instan, semua upaya ditempuh bila perlu dari awal gurunya “didekati” dengan berbagai cara yang penting anak naik kelas dan lulus dengan angka bagus! </p>
<p>Semua orang, tanpa memandang profesi, memiliki kepentingan dengan nilai anak, mereka berlomba-lomba untuk melakukan itu  tanpa menghiraukan  bahaya gelombang yang satu ini. Tidak hanya saat ini,  bahaya besar akan menghadang di masa datang. Apa yang sedang kita hadapi saat ini, bangsa kita yang tadinya memiliki semangat juang (patriotisme) yang tinggi dengan selalu  mengutamakan  kejujuran dan kerja keras berubah  menjadi bangsa yang serba INSTAN. Para pejabat berlomba membuat kebijakan instan. Upaya ini perlu dilakukan  untuk “menyelamatkan” nama mereka agar jabatan dapat terus dipertahankan. Cara instan sudah menjadi pilihan yang dianggap strategis. Pengentasan kemiskinan, bahaya kelaparan, penanggulangan bencana krisis pangan, kesehatan, politik dan semua  urusan pembangunan dilakukan dan diatasi  dengan cara instan. </p>
<p>&#8212;o00o&#8212;<br />
Perilaku manusia tidak ada yang tiba-tiba dan kebetulan, mungkin saja suatu ketika Si A kebetulan ketinggalan HP, dan kebetulan juga ada Si B di tempat itu,  serta kebetulan juga tidak ada orang lain di situ. Semua serba kebetulan!. Tapi,  begitu HP diambil, ada dua pilihan, mengembalikan kepada yang punya atau diambil menjadi milik pribadi. Keputusan diambil bukan lagi “kebetulan”, itu merupakan keputusan yang mencerminkan kepribadian. Inilah pentingnya proses pendidikan.  Jika selama mengisi pengalaman belajar, anak-anak kita dibiasakan dengan upaya-upaya instan, semua tindakannya setelah dewasa kelak akan selalu diwarnai oleh keputusan instan untuk kepentingan sesaat.</p>
<p>Sudah saatnya kita perlu mengembangkan perangkat early warning system agar para orang tua dapat mengurangi resiko bencana akibat  gelombang “INSTANISME” yang melanda dunia pendidikan kita. Ada banyak peringatan dini yang dapat dilakukan, seperti Pepatah Minang  yang mengingatkan kita akan dampak sebuah proses pendidikan. “Katiko ketek taraja-raja, lah gadang tabao-bao, katiko tuo tarubah tidak (Ketika kecil coba-coba, dewasa terbawa-bawa, setelah tua sulit diubah). </p>
<p>Jika anak dibiasakan dengan hal baik, dia akan jadi baik, sebaliknya juga begitu. Mungkin pengalaman belajar INSTAN  seperti itu sudah berlangsung lama di negeri ini. Bila asumsi ini benar,  tidaklah  mengherankan mengapa orang-orang penting di negeri ini  menyukai semua hal yang berbau “INSTAN”! Siapapun itu! Dan tidak mengherankan juga mengapa bangsa ini seperti ini!</p>
<p>Namun kita tidak perlu khawatir,   jika kita mampu menjaga anak-anak kita dari pengaruh INSTANISME, semua penyakit akan sembuh, lalu bangsa ini akan bangkit kembali!  karena tidak ada penyakit, kecuali ada obatnya!. Tentunya&#8230;bila kita mau!   </p>
<p>Selamat mengikuti ujian Ananda tersayang!&#8230;&#8230;tidak akan ada ujian yang “melebihi” batas kemampuan kita, percayalah pada dirimu! Insya Allah, ujian selalu lebih rendah dari kemampuan kita! Begitu firman ILLAHI!<br />
(Zulfikri Anas, Maret 2011)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fikrieanas.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fikrieanas.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fikrieanas.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fikrieanas.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fikrieanas.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fikrieanas.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fikrieanas.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fikrieanas.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fikrieanas.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fikrieanas.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fikrieanas.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fikrieanas.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fikrieanas.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fikrieanas.wordpress.com/520/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=520&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/03/24/sebuah-impian-10-hati-hati-ada-gelombang-%e2%80%9cinstanisme%e2%80%9d-dalam-pendidikan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fikrieanas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Impian (9) MENJADI GURU : SEBUAH PILIHAN YANG JENIUS DAN AMANAH (Disampaikan pada Pertemuan MGMP SMA se Kota Cilegon, Maret 2010)</title>
		<link>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/03/03/sebuah-impian-9-menjadi-guru-sebuah-pilihan-yang-jenius-dan-amanah-disampaikan-pada-pertemuan-mgmp-sma-se-kota-cilegon-maret-2010/</link>
		<comments>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/03/03/sebuah-impian-9-menjadi-guru-sebuah-pilihan-yang-jenius-dan-amanah-disampaikan-pada-pertemuan-mgmp-sma-se-kota-cilegon-maret-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Mar 2011 02:27:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikri Anas</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fikrieanas.wordpress.com/?p=512</guid>
		<description><![CDATA[I. Menjadi Guru atau Tidak Sama Sekali “Menjadi guru adalah pilihan yang berani. Berani jadi guru, harus berani pula menjalani segala konskuensinya. Apabila mampu menjalaninya secara konsisten, jalan ke syurga akan menunggu, jika tidak, bahaya menghadang!.” Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengangkat kembali pamor guru yang beberapa waktu lalu mulai memudar. Hari ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=512&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I.	Menjadi Guru atau Tidak Sama Sekali </p>
<p>“Menjadi guru adalah pilihan yang berani. Berani jadi guru, harus berani pula menjalani segala konskuensinya. Apabila mampu menjalaninya secara konsisten,  jalan ke syurga akan menunggu,  jika tidak, bahaya menghadang!.”  <span id="more-512"></span></p>
<p>Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengangkat kembali pamor guru yang beberapa waktu lalu mulai memudar. Hari ini kembali bersinar walau dengan berbagai alas an (salah satunya karena sertifikasi). Untuk mengangkat kembali kehormatan guru, langkah pertama adalah “melarang sembarangan orang menjadi guru”. </p>
<p>Oleh karena modal utama jadi guru adalah “nurani”, bukan “akademiknya”, maka siapapun  itu,  apapun latar belakang pendidikannya, jika tidak memiliki nurani sebagai pendidik, mohon maaf, tidak ada toleransi. Pertanyaannya, “apakah latar belakang pendidikan mempengaruhi hal ini?”. Jawabannya bisa “Ya”, bisa “Tidak”.  Artinya,  latar belakang pendidikan tidaklah terlalu  penting, apalagi dalam sebuah sistem pendidikan yang “tidak terarah” seperti yang kita alami saat ini. </p>
<p>Apakah hanya orang-orang yang berlatar belakang pendidikan dari Ilmu Kependidikan saja  yang boleh jadi guru?. Idealnya memang begitu,  tapi tunggu dulu!. Pada dasarnya setia manusia ditakdirkan menjadi guru bagi generasi penerusnya. Namun banyak di antara kita yang tidak menyadari hal ini, bahkan yang sudah memilih profesi jadi guru pun banyak yang tidak menyadari hal ini, sehingga dia menyia-nyiakan kesempatan berharga dalam hidupnya. </p>
<p>Jika system dan proses pendidikan dari awal berjalan sesuai dengan kaidahnya, yaitu membantu anak untuk menemukan potensi dirinya sedini mungkin, lalu mereka dibekali dengan sikap “belajar bagaimana belajar, sehingga belajar menjadi bagian dari hidupnya dan pada akhirnya tidak “menyesatkan”  orang dari fitrahnya, maka mereka yang memilih “GURU”  sebagai PROFESI adalah orang-orang yang tepat. Bukan kecelakaan atau kebetulan jadi guru. Memilih jadi guru karena memang telah dipersiapkan oleh Allah sebelum ruh ditiupkan dalam rahim. </p>
<p>Namun, jika selama dalam perkuliahan di LPTK para mahasiswa hanya dijejali ilmu dengan mengkonsumsi berbagai teori saja, sementara dia memilih untuk masuk ke situ  bukan karena “nurani”, ini  berbahaya. Kalau dianalogikan, apa yang terjadi ketika seseorang ahli merakit bom, namun yang bersangkutan tidak memiliki nurani?. Dengan mudah ia akan melenyapkan orang lain yang ia tidak suka. Lalu apa yang terjadi ketika ada “orang pintar” tapi tidak memiliki nurani sebagai pendidik, lalu ia jadi guru.  Ia pasti akan menjadikan “kepintarannya” sebagai ukuran bagi anak-anak didiknya, dalam kondisi ini, di mata dia, anak-anak selalu pada posisi “bodoh”. Ini berbahaya karena akan mempengaruhi sikapnya dalam mendidik anak.</p>
<p>Betapa ketatnya seleksi menjadi seorang dokter, pada hal apabila ada dokter yang salah mendiagnosis dan salah mengasih obat, resiko yang tertinggi adalah hilangnya nyawa satu orang, tetapi, ketika guru salah mendiagnosis dan salah mendidik, 1.000 nyawa atau lebih 10 generasi akan  terbunuh potensinya, dan untuk menebus semua ini tidak bisa dengan materil karena usia yang telah terpakai tidak dapat dikembalikan. </p>
<p>Di dunia ini hanya ada 2 profesi, yaitu guru dan bukan guru. Kita boleh kagum pada seorang dokter ahli yang mampu menyembuhkan penyakit yang kritis, juga sangat kagum kepada yang merancang sebuah jembatan panjang dengan tingkat kesulitan tinggi. Pertanyaannya, kehebatan orang-orang tersebut apakah terlepas dari peranan seorang guru?. Banyak cerita tentang keberhasilan seorang anak akibat guru yang hebat, namun banyak cerita juga tentang kegagalan karena guru salah didik. Kegagalan Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Stephen Hawking dan sebagainya di sekolah, dia bayar melalui belajar sendiri, dia menjadikan alam dan ilmu sebagai gurunya. </p>
<p>Pentingkah seorang guru?. Penting! Tapi guru yang mana?  Yang jelas tidak ada tempat bagi guru yang “kecelakaan”, yaitu guru yang hanya manjadi guru sekedar mendapatkan pekerjaan.  Namun, seorang guru profesional adalah guru dengan pangilan nurani, mungkin pada awalnya tidak sengaja jadi guru, namun jika yang bersangkutan dengan cepat menyadari akan  pentingnya peran dia sebagai guru, lalu ia bangun paradigmanya, dan dengan nurani ia melangkahkan kaki ke hadapan anak-anak didiknya. Inilah guru yang dicari, ditunggu, dipuja, dan disayang sepanjang masa. </p>
<p>Guru adalah profesi yang paling terhormat. Ketika para arsitek jembatan, ahli biologi tanah, dokter  bergelimang kotoran dan penyakit karena lahan pekerjaanya di situ, maka betapa bahagianya seorang guru yang memiliki lahan pekerjaan pada otak manusia. Otak adalah karunia tertinggi yang dimiliki manusia, dan otak juga di antara beberapa kekuatan maha dahsyat yang dimiliki manusia. Kita wajib bersyukur dengan menjadi guru </p>
<p>II.	Bagaimana cara bersyukur dengan menjadi guru? </p>
<p>Salah satu cara untuk mensyukuri kita sebagai guru adalah “konsisten” pada amanah sebagai pendidik. Tujuan kita mendidik anak adalah agar  anak-anak tumbuh menjadi manusia yang cerdas, berilmu pengetahuan, dan berakhlak mulia. Ukuran keberhasilan mendidik adalah terjadinya perubahan perilaku anak dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, dan tidak terbiasa menjadi terbiasa, sesuai dengan apa yang kita inginkan bersama. Artinya, tugas guru dianggap “selesai” setelah terjadi perubahan perilaku pada anak kearah yang lebih baik. Lalu, apakah dengan menyusun silabus, RPP, mengisi daftar hadir dan menuntaskan materi dapat menjadi ukuran bahwa guru yang bersangkutan telah menjalankan tugas?, Jawabannya belum!.  Jika ukuran keterlaksanaan tugas sebagai guru hanya diukur dari aspek administrasi semata, berarati baru sebagian tugas yang selesai, yaitu tugas administratif, tugas sebagai edukator, belum!. Ingat, jika terjadi kesalahan dalam administrasi, kita dapat menghapus dan mengganti dengan yang baru, namun jika terjadi kesalahan dalam mendidik, kita tidak mampu menghapusnya, itu artinya kita bermimpi mengembalikan umur ke kondisi semula. </p>
<p>III.	Peranan MGMP. </p>
<p>Sulitkah menjadi guru?, jawabannya TIDAK!, tentunya jika yang bersangkutan memang ahli dalam mendidik. Agama mengajarkan pada kita bahwa Tuhan tidak akan memberikan beban persoalan melebihi batas kemampuan manusia. Artinya, beban dan kemampuan selalu seimbang, dan sebelum beban diberikan kepada manusia, Tuhan membekali kemampuan lebih dulu. Hanya orang berkamampuan besarlah yang akan diberi persoalan besar,  seharusnya kita berterima kasih ketika diberi persoalan besar, karena itu pertanda dalam diri kita tersimpan kemampuan sebesar persoalan yang dihadapi oleh kita. Sesulit apapun merancang dan membuat sebuah pesawat terbang, atau komputer tercanggih sekalipun, mudah bagi yang menguasai ilmunya. Namun, semudah apapun membuat pisang goreng, sulit bagi yang tidak menguasai ilmunya. </p>
<p>Artinya, menjadi guru sangat mudah bagi mereka yang professional di bidangnya. Orang-orang professional adalah orang-orang yang menguasai ilmu sesuai bidang kealiannya. Nah, bagi yang merasa sulit untuk mendidik anak dengan baik, berarti mereka belum menguasai ilmu mendidik sepenuhnya. Agar menjadi guru tidak menyiksa diri, dan dapat bekerja dengan rileks, untuk itu harus menjadi ahli. MGMP adalah salah satu wahana bagi guru untuk menguji dan mengembangkan kemampuannya secara bersama-sama. </p>
<p>MGMP adalah organisasi profesional, dan merupakan ajang atau arena bagi guru untuk mengembangkan kreatifitas dan prestasi melalui berbagai kegiatan ilmiah seperti workshop, seminar, presentasi hasil-hasil karya guru. Jangan menghabiskan energi dan waktu untuk memperdebatkan hal-hal spele seperti format-format adminstratif, jadikan MGM menjadi ajang peragaan best practice yang dilakukan oleh guru sehingga menjadi guru yang profesional. </p>
<p>IV.	Semua Manusia Jenius!</p>
<p>Sesuatu yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa manusia adalah ciptaan ILLAHI, dan agama mengajar kepada kita bahwa setiap manusia diciptakan selalu dalam perencanaan, tidak satupun menusia yang dicptakan secara kebetulan. Setiap nyawa yang lahir mengemban suatu tugas sesuai dengan kekhasan potensi yang dimilikinya. Sebelum roh ditiupkan kepada jabang bayi  di dalam rahim ibu, sebetulnya setiap kita telah “menandatangai” sebuah kontrak bahwa setiap menusia dibekali dengan potensi yang berbeda-beda. Apabila potensi yang saling berbeda tersebut dapat dikembangkan secara maksimal, tentunya tidak akan ada manusia yang terbuang. Semua anak menjadi juara di bidangnya masing-masing.  </p>
<p>Berbagai hasil studi tentang perkembangan anak menyimpulkan bahwa pada dasarnya siswa itu baik, mereka memiliki kebutuhan untuk berekspresi, mengendalikan, memberi atensi dan mencintai. Hanya saja beberapa cara yang mereka pilih untuk mengekspresikan kebutuhan kadang-kadang tidak sesuai dengan situasi (kelas). Kondisi keseharian di sekolah seringkali tidak mampu mengakomodasi kebutuhan siswa secara keseluruhan, akhirnya mereka mencari konpensasi-konpensasi.   Studi-studi tersebut juga menemukan bahwa seringkali pengalaman belajar anak “menghambat” proses kreatifitas.  “Kebanyakan anak-anak memiliki kreatifitas tinggi (yang diatur oleh otak kanan) sebelum mereka masuk sekolah. Hanya 10% dari anak-anak ini yang tingkat kreatifitasnya sama pada usia 7 tahun, dan ketika telah dewasa hanya 2% yang tetap memiliki kreatifitas. Ini salah satu akibat dari proses pembelajaran yang mengutamakan otak kiri saja (Guinever Eden dalam Veronica Sri Utami, Majalah Nirmala, Okt 2008). </p>
<p>Studi lain yang dilakukan oleh Sidiarto berkesimpulan bahwa “tidak hanya kehilangan kreatifitas, meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh anak sebagai salah satu akibat metode pembelajaran yang mengutamakan otak kiri. Di samping itu pembelajaran yang demikian juga bisa membuat orang menjadi stress, bahkan musikpun tidak sempat lagi mereka nikmati karena sibuk menganalisis, serta akan menciptakan orang-orang yang :selalu berkompetisi dan selalu memandang sesuatu dari sisi menang-kalah” (Paul E. Dennison : Pencipta Brain Gym). </p>
<p>Kondisi demikian mengakibatkan nilai-nilai yang dipelajari oleh anak di sekolah menjadi tidak sinkron dengan perilaku mereka sehari-hari. Mereka rajin, disiplin, kolaboratif hanya pada saat berada di sekolah, di luar itu, dia bertindak lain, dan bahkan bertentangan. </p>
<p>V.	Peranan Guru dalam Pendidikan  </p>
<p>Hasil-hasil pengkajian tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa proses pembelajaran di dalam dunia pendidikan  juga memiliki andil dalam proses “tercerabutnya” anak-anak dari akar budaya yang melingkupinya.  Kondisi ini seharusnya menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan untuk melakukan berbagai perubahan dalam proses pembelajaran.  Artinya, apabila terjadi inkonsistensi perilaku pada diri siswa, itu menjadi pertanda ada masalah dalam proses pembelajaran. </p>
<p>Eric Jensen (2008), seorang ahli yang mendalami pembelajaran berbasis otak (Brain Based Learning)  menyatakan bahwa “anak-anak yang gagal dan sekolah yang gagal adalah sebuah indikasi dari adanya sistem yang salah, bukan otak yang salah”.  Lebih jauh Eric Jensen mengungkapkan bahwa otak memang tidak dirancang untuk mengikuti instruksi formal. “Dalam kenyataanya, otak sama sekali  tidak didesain untuk efisiensi atau ketertataan. Justeru otak berkembang paling baik melalui seleksi dan kemampuan bertahan hidup”. Semua ini diperoleh melalui pengalaman menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup.  Melalui keterlibatan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah kemampuan otak bekerja makin optimal. “Masalah yang dihadapi saat ini tidak dapat diselesaikan dengan tingkat pemikiran yang sama atau dengan perangkat yang sama dengan yang telah menciptakan permasalahan itu (ibid). </p>
<p>Untuk itu, proses pembelajaran seyogyanya menyediakan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan potensi yang dimiliki, sekolah perlu menyediakan “tempat-tempat”  produktif  untuk melepaskan frustrasi dan berikan perhatian.  Tempat-tempat tersebut dapat dalam bentuk proses pembelajaran yang demokratis, tugas-tugas yang menantang potensi setiap individu, dan mengurangi tugas-tugas yang sangat formal dan seragam untuk semua siswa. Melalui tugas-tugas yang beragam, setiap siswa memiliki peluang untuk mengekspresikan kreatifitas sehingga mereka berkembang secara optimal. Kondisi ini akan mengurangi perilaku “jahat” atau “brutal” karena mereka merasa dihargai dan dilibatkan.</p>
<p>Proses`tersebut harus didukung dengan penciptaan iklim belajar  yang humanis, melalui berbagai kegiatan seperti pemeliharaan lingkungan sekolah yang nyaman yang melibatkan siswa secara aktif, melakukan kegiatan-kegiatan yang mirip dengan kehidupan nyata seperti dalam bersosialisasi, kegiatan ekstrakurikuler dan hubungan social antar warga sekolah yang penuh dengan keramahan. Sekolah yang ramah anak, lingkungan yang nyaman, dan keterlibatan anak terlibat dalam persoalan-persoalan nyata akan mendorong tumbuhnya jiwa humanis pada setiap anak. </p>
<p>Kegiatan-kegiatan seperti itu akan membangun mileu yang mendorong optimalisasi fungsi otak sebagaimana yang dinyatakan oleh Eric Jensen,  kemampuan otak berkembang 99% melalui proses yang tanpa disadari. Artinya, pembelajaran yang sangat formal dan dilakukan secara sadar efektifitasnya hanya 1 %, berikut perbandingan proses pembelajaran berbasis otak.<br />
<a href="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/03/cara-kerja-otak-2.jpg"><img src="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/03/cara-kerja-otak-2.jpg?w=150&#038;h=103" alt="" title="Cara Kerja Otak-2" width="150" height="103" class="aligncenter size-thumbnail wp-image-515" /></a></p>
<p>Konsep ini ini juga berlaku dalam penanaman disiplin. “satu-satunya sistem disiplin yang terbaik adalah pembelajaran yang melibatkan. Ketika anak-anak dilibatkan, kenakalannya akan berkurang.  Semakin siswa tidak mengetahui kalau mereka sedang didisiplinkan, akan semakin baik” (Jensen). Agar-agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang humanis, yaitu cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia maka kita perlu membangun  suasana sekolah yang humanis pula. “Buatlah agar sekolah menjadi lebih seperti kehidupan nyata,  integrasikan kurikulumnya, sertakan masalah-masalah nyata, lakukan kegiatan-kegiatan simulasi, berikan lebih banyak kebaruan dan umpan balik dan dapatkan kerjasama pembelajaran dengan memancing ketertarikan dan rasa hormat mereka” (ibid).   </p>
<p>VI. Penutup </p>
<p>Sebagai kesimpulan dapat ditegaskan lagi bahwa pendidikan adalah salah satu media proses pembudayaan (enkulturasi). Manusia yang berbudaya adalah manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap sehingga mereka mampu berpikir secara rasional, kritis, dan memiliki karakter serta kepribadian yang cina pada keharmonian kehidupan.  Mendidik anak agar menjadi humanis harus diawali dengan penciptaan iklim pembelajaran (school Culture) yang humanis dan bersahabat dengan anak. Persoalan pendidikan bukan pada kurikulum secara dokumen, melainkan kurikulum sebagai proses</p>
<p>•	Pendidikan diharapkan dapat mengembangkan perilaku setiap individu siswa agar  mampu  menjaga konsistensi  antara kompetensi hasil pembelajaran di sekolah dengan perilaku sehari-hari dalam kehidupan nyata.<br />
•	Sekolah diharapkan mampu  mendidik siswa agar menjadi manusia pembelajar sehingga tumbuh menjadi orang  yang berbudaya,  kebiasanan belajar dan terus belajar (relearn).<br />
•	Sekolah diharapkan mampu  mendidik  siswa  bagaimana cara manusia untuk mengetahui dan memahami, berdapatsi, menginterpretasi dan memanfaatkan sesuatu dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup.<br />
•	Sekolah diharapkan membiasakan siswa untuk saling percaya, menghargai, empati, simpati, serta bagaimana menumbuhkan kesenangan terhadap perbedaan gaya hidup di antara sesama mereka dan orang lain, bagaimana cara berpartisipasi, komit, kooperatif, dan emphati dalam berbagai hal.<br />
•	Kegiatan-kegiatan seperti melakukan pengamatan langsung secara teintegrasi antar mata pelajaran, praktik presentasi, pameran (eksebisi), membiasakan mengunjungi teman yang sakit atau ditimpa musibah, bermain peran sebagai pedagang, petani, dan berdoa sebelum belajar, membersihkan pekarangan sekolah dan ruang kelas adalah kegiatan-kegiatan yang merangsang anak untuk mengimplentasikan kompetensinya secara integratif. Apabila kegiatan tersebut di “manage” dengan baik dan menyenangkan, dengan sendirinya kemampuan akademik para siswa juga akan meningkat, mereka  akan menjadi anak yang tahu, bisa, dan terbiasa.  </p>
<p>Kita perlu menjadi guru yang jenius dan amanah yang dapat diteladani oleh setiap anggota masyarakat, terutama siswa. Guru adalah orang yang berilmu, cerdas, dan berakhlak mulia. Untuk itu jangan sia-siakan kesempatan yang mulia ini. Selamat menjadi guru yang professional, keindahan hidup akan selalu mewarnai. Amin.  (Zulfikri Anas)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fikrieanas.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fikrieanas.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fikrieanas.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fikrieanas.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fikrieanas.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fikrieanas.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fikrieanas.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fikrieanas.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fikrieanas.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fikrieanas.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fikrieanas.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fikrieanas.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fikrieanas.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fikrieanas.wordpress.com/512/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=512&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/03/03/sebuah-impian-9-menjadi-guru-sebuah-pilihan-yang-jenius-dan-amanah-disampaikan-pada-pertemuan-mgmp-sma-se-kota-cilegon-maret-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fikrieanas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/03/cara-kerja-otak-2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Cara Kerja Otak-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Impian (8) &#8220;“MERAJUT KEMBALI KAIN YANG TERKOYAK” Catatan Bedah Buku Arah Aktif Engku Syafei</title>
		<link>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/02/09/sebuah-impian-8-%e2%80%9cmerajut-kembali-kain-yang-terkoyak%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/02/09/sebuah-impian-8-%e2%80%9cmerajut-kembali-kain-yang-terkoyak%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 02:45:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikri Anas</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fikrieanas.wordpress.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini para orang tua banyak yang bertanya “ada apa dengan pendidikan kita? Mereka disentakkan oleh perilaku anak-anaknya yang tadinya &#8211;sewaktu kecil &#8212; merupakan anak manis yang lincah, kreatif, bersahaja, santun, tekun, disiplin, dan mandiri, tiba-tiba begitu memasuki usia remaja mereka menjadi “liar”, suka melawan, menyenangi hal-hal yang instan untuk meraih segala sesuatu yang diinginkan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=493&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/02/arah-aktif21.jpg"><img src="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/02/arah-aktif21.jpg?w=150&#038;h=138" alt="" title="Arah Aktif2" width="150" height="138" class="alignleft size-thumbnail wp-image-502" /></a>Akhir-akhir ini  para orang tua banyak yang bertanya “ada apa dengan pendidikan kita? Mereka  disentakkan oleh perilaku anak-anaknya yang tadinya &#8211;sewaktu kecil &#8212; merupakan anak manis yang lincah, kreatif, bersahaja, santun, tekun, disiplin, dan mandiri, tiba-tiba begitu memasuki usia remaja mereka menjadi  “liar”, suka melawan, menyenangi hal-hal yang instan untuk  meraih segala sesuatu yang diinginkan. Kosa kata indah seperti : mohon maaf”, terimakasih, permisi, tenggang rasa, saling menghargai  makin menjauh dari perbendaharaan kata mereka sehari-hari. Tidak hanya itu, keteladanan dari orang-orang dewasa dan tokoh-tokohpun semakin menjauh.  Antara kata, hati dan perbuatan tidak lagi menyatu, kepentingan pribadi dan upaya melanggengengkan kekuasaan lebih mengemuka daripada memberikan layanan kepada masyarakat. Situasi tersebut sebagai  akibat sekaligus penyebab kegagalan proses belajar yang menjadi pemicu  kerusakan moral  anak bangsa selanjutnya. <span id="more-493"></span></p>
<p>Ada apa dengan negeri  ini? Kita tahu bahwa setiap perilaku manusia tidak ada yang “tiba-tiba”, muncul begitu saja dan kemudian akan hilang begitu saja, semuanya melalui proses berpikir. Proses berpikir berkembang berdasarkan learning experiences  dan mimpi hidup ke depan.  Padahal bila bicara content pelajaran, tidak ada sekolah yang –dengan sengaja&#8211; mengajarkan anak untuk  berperilaku tidak baik!, di rumahpun orang tua selalu mengingatkan dan mengawasi perilaku anak-anak mereka, semua  baik-baik saja. </p>
<p>Lalu?, tentu ada sesuatu yang telah terjadi dalam perjalanan proses belajar anak-anak.  Iklim belajar yang tidak sehat, anak dijejali dengan pengetahuan, mengajar hanya untuk kepentingan mendapatkan nilai baik (teaching to the test), pencapaian prestasi anak diukur secara kuantitatif  yang menggunakan n pencapaian nilai rata-rata  sehingga  berujung pada pengaburan potensi individu, bahan belajar yang diseragamkan. Belajar menjadi kerontang, hidup diselimuti kemarau panjang, panas oleh selimut emosi yang meledak-ledak mengakibatkan semakin suburnya kesombongan, keserakahan, dan perilaku menerabas.  Semua ini mendorong kebiasaan menggunakan jalan pintas dengan  cara-cara instan untuk mewujudkan keinginan,  termasuk maraknya bimbingan belajar agar pintar menjawab soal-soal ujian.  Celakanya, semua orang, apakah itu guru, orang tua dan masyarakat “mendukung” cara-cara demikian.<br />
Dalam konteks ini, kita semakin yakin terhadap kebenaran kesimpulan hasil penelitian Guinever Eden tentang sekolah yang telah menyebabkan hilangnya kreatifitas pada anak.  “Kebanyakan anak-anak memiliki kreatifitas tinggi (yang diatur oleh otak kanan) sebelum mereka masuk sekolah. Hanya 10% dari anak-anak ini yang tingkat kreatifitasnya sama pada usia 7 tahun, dan ketika telah dewasa hanya 2% yang tetap memiliki kreatifitas. Ini salah satu akibat dari proses pembelajaran yang mengutamakan otak kiri saja (Guinever Eden dalam Veronica Sri Utami, Majalah Nirmala, Okt 2008). </p>
<p>Studi lain yang dilakukan oleh Sidiarto berkesimpulan bahwa “tidak hanya kehilangan kreatifitas, meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh anak sebagai salah satu akibat metode pembelajaran yang mengutamakan otak kiri. Di samping itu pembelajaran yang demikian juga bisa membuat orang menjadi stress, bahkan musikpun tidak sempat lagi mereka nikmati karena sibuk menganalisis, serta akan menciptakan orang-orang yang :selalu berkompetisi dan selalu memandang sesuatu dari sisi menang-kalah” (Paul E. Dennison : Pencipta Brain Gym). </p>
<p>Di sengaja atau tidak, yang jelas itu telah terjadi.  Masa kanak-kanak adalah masa-masa aktif dalam pendidikan, jika pengalaman belajar pada masa kanak-kanak itu berjalan sesuai dengan aturan yang benar, maka ia akan menjadi benar, dan setelah dewasa akan terbawa, anak akan sulit untuk mengubah perilakunya. Begitu juga sebaliknya, jika ketika kecil tidak mendapat pengalaman belajar yang benar, maka setelah dewasa  juga akan sulit diubah (Sjafei,2010 : 7). Prinsip ini  mengingatkan kita pada pepatah Minang “katiko ketek baraja-raja, lah gadang tabao-bao, dan katiko tuo tarubah tidak “(sewaktu kecil coba-coba,  ketika remaja terbawa-bawa, dan setelah dewasa tidak bias diubah), (mengutip ungkapan  Fidesrinur : 2011).  Ini mengarah pada kesimpulan bahwa setiap perbuatan pasti melalui sebuah proses terlebih dahulu, di situlah peranan penting pendidikan.</p>
<p>Pada hal 80-an tahun yang lalu, seorang pendidik sejati, Engku  Mohamad Sjafei , telah memulai merajut dan membangun pondasi  kehidupan dengan menata pendidikan secara benar. Tidak dipungkiri bahwa awalnya ide tersebut muncul dari dorongan dan keinginan  yang kuat agar  bangsa segera lepas dari belenggu penjajahan psikologis  untuk menuju kehidupan baru  yang  bermartabat melalui  pengembangan kreatifitas, penanaman nilai-nilai agama dan budaya dalam pembentukkan perilaku sejak dini. Hal ini  memunculkan kesadaran akan pentingnya pembangunan jatidiri, dengan disertai ketulusan hati , kondisi tersebut telah memicu semangat  Sang Pendidik  sejati  dalam membangun sebuah institusi pendidikan.  Engku Sjafei, melalui tangannya sendiri  yang dibantu oleh para murid dan masyarakat sekitar, satu-persatu batu  yang diambil dari kali digotong, semak-semak ditebas, dan akhirnya berdirilah sebuah “Ruang Pendidik” yang kemudian dikenal dengan INS Kayutanam.   Dengan keyakinan penuh, Sang Guru membuktikan  filosofi yang dianutnya “sehari selembar benang, lama-lama menjadi sehelai kain (Mohamad Sjafei).  </p>
<p>Buku &#8220;Arah Aktif  memberikan bukti  bahwa Engku Sjafei adalah seorang guru sejati yang pernah dimiliki bangsa ini. Pikiran yang jernih dan tajam menyigi  dan mengupas apa yang seharusnya dilakukan oleh dunia pendidikan dalam upaya membangun setiap  individu menjadi produsen yang aktif  dan berbudi sejak dini. Tidak hanya filosofis, Engku Sjafei bicara tentang hal-hal yang nyata, mudah, dan efektif. Impian kita yang terpendam selama ini tentang kurikulum yang hidup, bersahabat dan ramah anak terlihat terang di sini.  Pembaharuan dalam dunia pendidikan yang saat ini menjadi wacana, seperti belajar aktif, contextual teaching learning, multiple intelligences, pendidikan karakter, budi pekerti,  dan akhlak mulia justeru telah diimplementasikan  dengan baik pada zaman itu. Andaikan pemikiran dalam Arah Aktif ini secara konsisten diterapkan sejak ide ini dimunculkan, alangkah hebatnya bangsa ku kini. </p>
<p>Bak setetes air di padang pasir yang tandus, pemikiran Engku Sjafei membawa angin segar dan nafas lega untuk menjawab berbagai persoalan pendidikan dalam rangka menjawab  tantangan hidup generasi muda ke depan sebagaimana yang dicanangkan pemerintah akhir-akhir ini. Sayangnya tidak semua peserta acar bedah Buku ini menangkap itu, dan yang membuat  kita menjadi miris adalah ketika  sambutan riuh dari sebagian besar peserta pada saat salah seorang guru SD memberikan tanggapan  “bahwa pendekatan seperti yang digunakan oleh Engku Sjafei ini sulit diterapkan di sekolah karena tuntutan  akhir pemerintah berupa nilai angka (kuantitatif)”.  Sebagian besar peserta “mengamini” pandangan guru ini. </p>
<p>Pemikiran yang demikian mengisyarakatkan seolah-olah pola pembelajaran yang mengaktifkan siswa ini akan mengurangi pencapaian hasil (nilai) akhir anak.  Tentunya apabila anak terkondisi untuk belajar secara aktif, inovatif,  mandiri dan kontekstual dengan sendirinya pencapaian prestasi juga akan baik. Entah ruh apa yang merasuki pikiran  para guru kita saat ini sehingga mereka mengangap proses pembelajaran yang mengaktifkan siswa  tersebut justeru akan membuang  waktu sia-sia, “buat apa capek-capek, toh pemerintah hanya menuntut hasil akhir yang kuantitatif di ranah kognitif”.   Ibarat memasak kue,  sang koki tidak peduli dengan  proses pembuatannya, yang penting semua adonan dicampur lalu dimasak, untuk mempercantik penampilan dan penikmat rasa dilakukan aksi instan dengan memberikan  hiasan warna-warni dan penyedap rasa yang banyak. Begitu dilihat dan dicicipi kue itu sangat menarik hati dan sedap rasanya, namun semua itu merupakan kenikmatan semu karena dibumbui zat kimia yang lama kelamaan akan menjadi racun dalam diri manusia.  Kira-kira analogi seperti itulah yang pas untuk menggambarkan kondisi iklim pembelajaran kita saat ini. Prihatin!.  </p>
<p>Pandangan senada juga diungkapkan oleh seorang guru TK yang menyatakan bahwa “jangan biarkan anak-anak  kebanyakan bermain, mereka perlu dibiasakan untuk belajar tekun sejak dini, untuk itu saya juga membuka bimbingan belajar, termasuk bahasa Inggeris untuk membekali anak agar kelak  mampu bersaing dengan negara maju”.  Pandangan ini mewakili pandangan banyak  orang tua yang ingin anaknya dikenal sebagai anak super,  sehingga anak-anak dijejali dengan berbagai beban belajar formal sejak dini.   </p>
<p>Apapun persepsi guru tentang belajar, tentu tidak adil apabila mereka  yang dipersalahkan? Mengapa guru jaman dulu tidak begitu?  Mereka lebih tulus mengabdi sebagai guru, dan memandang kebutuhan belajar anak dengan jernih.  Perlu dipertanyakan  “sistem apa yang telah berlaku saat ini di republik ini sehingga guru berubah jadi begitu?”.  </p>
<p>Engku Sjafei telah memulai merajut helai-demi helai benang lebih 80 tahun yang lalu, kini kain itu terkoyak, mari kita rajut kembali. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu, apalagi itu pernah menjadi bagian dari diri kita. Amin!</p>
<p>Bedah buku yang dilakukan pada tangal 4 Februari 2011 di Auditorium Arifin Panigoro, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Jakarta ini terlaksana atas prakarsa Dedi Sjarir Panigoro  bekerjasama dengan Yayasan Jembatan Pekerti (JembaTi), Penerbit Tiga Serangkai Solo, dan Universitas Al Azhar Indoesia. Hadir sebagai pembicara utama, Dr. Dewi Utama Faizah (Staf Direktorat Pembinaan SD, Kemdiknas),  Dr. Fidesrinur, M.Pd (Dekan Fak. Psikologi dan Pendidikan, UAI), Murni Djamal, MA (Dekan Fak. Sastra UAI), dengan moderator Drs. Zulfikri Anas, M.Ed (Staf Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemdiknas).  Kegiatan yang dibuka oleh Rektor UAI  Prof. Dr. Zuhal  yang di dampingi oleh Dr. Ir. Ahmad H. Lubis, M.Sc (Wakil Rektor III UAI)diikuti  oleh sekitar 600 orang peserta terdiri dari guru TK, SD, Mahasiswa dan Umum. Dan yang terpenting juga hadir tamu istimewa, Elvira Sjafei, salah satu puteri engku Sjafei, Muchtar Taat salah seorang murid Engku Sjafei  dan Dr. HC Ani Iwasaki dari Pusat Studi Jepang Untuk Kemajuan Indonesia (PUSJUKI) dan Ir. H.Akhmad Supriyatna dari Binaputera, Kopo, Serang Banten. Penanggung jawab kegiatan Dr. Ahmad Lubis, M.Sc.(UAI)  dan Ikhsan Fauzie (yayasan Jembatan Pekerti), dan Ketua Panitia Penyelenggara Suwardi dari UAI.  (Zulfikri Anas).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fikrieanas.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fikrieanas.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fikrieanas.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fikrieanas.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fikrieanas.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fikrieanas.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fikrieanas.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fikrieanas.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fikrieanas.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fikrieanas.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fikrieanas.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fikrieanas.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fikrieanas.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fikrieanas.wordpress.com/493/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=493&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikrieanas.wordpress.com/2011/02/09/sebuah-impian-8-%e2%80%9cmerajut-kembali-kain-yang-terkoyak%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fikrieanas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2011/02/arah-aktif21.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Arah Aktif2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Impian (7) &#8220;Hukum Kekekalan Energi&#8221;</title>
		<link>http://fikrieanas.wordpress.com/2010/08/14/sebuah-impian-7-hukum-kekekalan-energi/</link>
		<comments>http://fikrieanas.wordpress.com/2010/08/14/sebuah-impian-7-hukum-kekekalan-energi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 18:30:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikri Anas</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fikrieanas.wordpress.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[Energi tidak dapat diciptakan  dan dimusnahkan, namun ia dapat dialihkan atau beralih. Hukum ini berlaku untuk semua benda dan makhluk yang memanfaatkan energi, termasuk manusia. Setiap individu dibekali dengan takaran  energi yang sama, apapun kondisinya. Seorang yang terlahir sebagai Tunanetra memiliki kelebihan yang tidak dapat kita tandingi. Ketika kita berlomba dengan mereka berjalan dalam gelap, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=469&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_471" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2010/08/slb-bangka-tengah1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-471" title="SLB Bangka Tengah" src="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2010/08/slb-bangka-tengah1.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a><p class="wp-caption-text">Potensi yang Belum Tergali</p></div>
<p>Energi tidak dapat diciptakan  dan dimusnahkan, namun ia dapat dialihkan atau beralih. Hukum ini berlaku untuk semua benda dan makhluk yang memanfaatkan energi, termasuk manusia. Setiap individu dibekali dengan takaran  energi yang sama, apapun kondisinya. Seorang yang terlahir sebagai Tunanetra memiliki kelebihan yang tidak dapat kita tandingi. Ketika kita berlomba dengan mereka berjalan dalam gelap, mereka tetap tenang, sementara kita sudah pasti jungkir balik.<span id="more-469"></span></p>
<p>Seorang Hellen Keller, yang semula terlahir normal, namun pada usia 19 bulan ia terkena demam panas, demam tersebut hampir saja merenggut nyawanya. Sebuah keajaiban terjadi, ia kembali sembuh, namun ia tiba-tiba menjadi buta dan tuli. Di awal hidupnya, Hellen Keller sempat frustrasi dan marah, namun karena keuletan seorang guru yang mamahami  kemarahan Hellen Keller, ia di didik dengan sentuhan hati, kemudian  Hellen Keller  tumbuh menjadi seorang penulis terkenal.  Ia dijuluki sebagai keajaiban dunia yang kedelapan karena prestasinya dengan tulisanya sangat inspiratif dan memotivasi setiap pembaca.</p>
<p>&#8220;Di dalam hidup ini &#8220;janganlah kita meminta pada Tuhan untuk diringankan beban, tetapi, mintalah kekuatan agar kita mampu memikul beban yang diberikan&#8221; (Helen Keller). Agama mengajarkan bahwa Tuhan  tidak akan memberikan beban melebihi batas kemampuan manusia. Kemampuan yang diberikan seimbang atau lebih besar dari beban yang diberikan dan sebelum memberikan beban,  Tuhan memberikan kemampuan terlebih dulu.  Pada saat kemampuan kita kecil, kita diberi beban kecil, beban yang diberikan akan bertambah besar seiring dengan makin besarnya kemampuan. Artinya, beban yang diberikan merupakan &#8220;anak tangga&#8221; bagi kita untuk maju. Kita  seharusnya  bersyukur ketika beban yang diberikan kepada kita cukup besar, itu pertanda bahwa kekuatan yang ada dalam diri kita juga besar.   Ini ayat, kebenarannya mutlak!. Hanya terkadang kita yang menzalimi diri sendiri,ketika beban itu datang, beban &#8220;dibesarkan&#8221; lalu potensi  diri &#8220;dikecilkan&#8221;,  akhirnya kita keteteran sendiri, lalu dengan tanpa merasa bersalah, dan dengan enteng kita bilang bahwa  Tuhan tidak adil, memberikan beban yang berat pada saya. Ironis!.  Kita lupa bahwa takaran energi yang kita miliki seimbang  dengan energi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Ayat itu juga berarti bahwa solusi persoalan yang kita hadapi ada dalam diri kita.</p>
<p>Ada sejumlah pengalaman teman saya  tentang kebenaran hukum kekekalan energi ini.Pada suatu saat, sebuah mobil mengalami gangguan mesin, hidupnya tidak stabil.Mobil tersebut sudah diperbaiki di beberapa bengkel, namun tetap tidak&#8221;sembuh&#8221;. Akhirnya sampai di sebuah bengkel yang salah satu montirnya  Tunarungu (mengalami gangguanpendengaran).  Si Montir tersebut  menaruh telapak tangannya di atas kap mesin,diam sejenak, sambil berfikir, lalu ia membuka kap mesin, dan meng-uta-atikbagian tertentu, beberapa menit kemudian mesin dinyalakan. Ajaib. Mesin  mobil kembali normal.  Pengalaman lain, ada beberapa teman dari LSMmelatih anak-anak tunagrahita (anak-anak yang diketegorikan ber-IQ sangatrendah) untuk mensortir sayuran, kemudian anak tersebut diperkejakan disupermarket. Selama mereka bekerja di situ, hasilnya bersih, walaupun iabekerja tanpa pengawasan.  Ada yang diajarimenjahit dengan jarak 2 mm, setelah dia bisa, dia dibiarkan bekerja sendiritanpa diawasi, jahitan itu kossisten 2 mm. Ada juga yang melatihnya untukmeng-entry  jutaan data di komputer,kecepatan dan ketepatanya melebihi kita yang normal. Salah satu kelebihanmereka di banding kita adalah ketekunan, kejujuran, konsistensi dan komitmen.Jika kita ingin mencari manusia yang tingkat kebohongan  &#8220;nol&#8221;, merekalah orangnya. Energi yangseharusnya digunakan untuk berfikir, sebagian dialihkan ke konsistensi dankejujuran itu.  Maha besar Allah!</p>
<p>Allah menunjukkan kebesaran dan keadlian-Nya.  Namun, dengan berbagai alasan dan dengan logika manusia (yang dipersempit), seringkali kita melupakan karunia yang maha besar itu. Suatu ketika,terjadi kebakaran dalam ruangan mesin sebuah pabrik. Karena bising, para teknisi yang bekerja di ruangan tersebut harus memakai tutup telinga untuk peredam suara agar para teknisi dapat bekerja dengan konsentrasi yang penuh.Namun apa yang terjadi, tiba-tiba penutup telinga tidak berfungsi,  konsentrasi buyar, kepekaan terhadap lingkungan sekitar menjadi hilang. Terjadilah kebakaran itu. Andaikan yang dipekerjakana dalah teman-teman kita yang Tunarungu, tentunya kejadian akan lain, karena alat peredam suara ciptaan Allah  tidak akan pernah rusak!</p>
<p>Pandangan umum dalam masyarakat kita terhadap saudara kita  yang terlahir sebagai orang yang berkebutuhan khusus,  dikonotasikan sebagai &#8220;produk gagal&#8221; atau bahkan ada yang berani dengan enteng mengatakan bahwa itu &#8220;kutukan&#8221;. Lalu mereka diperlakukan bukan seperti orang-orang yang memiliki potensi, seringkali kita hanya memandang mereka dengan belas kasihan lalu &#8220;membantu&#8221; mereka dengan cara yang tidak tepat. Keterbatasan yang dimilikinya dianggap sebagai penyakit. Seharusnya mereka diberi kesempatan untuk mengasah keunggulannya tanpa harus terhambat oleh pandangan-pandangan yang diskriminatif. Allah menitipkan &#8220;sesuatu&#8221; pada diri mereka, yang tidak ada dalam diri kita, dan kita butuh mereka!</p>
<p>Nenek moyang orang Minang zaman dulu sangat arif menyikapi hal ini, sehingga lahirlah filosofi tentang kehidupan bahwa setiap manusia bermanfaat bagi kehidupan. <em>Si Buto paambih lasuang, si lumpuah panunggu jamua, si pakak palapeh badia</em>.Artinya, yang buta ditugasi meniup debu di lesung, yang lumpuh &#8220;mengangon&#8221;jemuran padi agar tidak dimakan ayam, dan yang tuli ditugasi meletuskan meriam.</p>
<p>Sorang yang &#8220;lumpuh&#8221;  mengalihkan energi yang seharusnya digunakan untuk berjalan ke kesabaran, ketekunan, dan ketelitian. Apabila kita menyerahkan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, ketelitian dan ketekunan yang tinggi kepada mereka, dan ketika pekerjaan itu sesuai dengan potensi yang diberikan Allah padanya, pekerjaan itu akan   dapat dilakukan dengan baik dan dengan hasil yang menakjubkan.   Keberhasilan sesorang tidak bergantung pada jenis profesi, melainkan kesesuaian antara potensi (fitrah) yang dimiliki dengan profesi yang digeluti. Semua manusia memiliki potensi unik yang dibutuhkan dalam kehidupan.</p>
<p>Dalam hati kecil, saya berucap, sesungguhnya saudara  kita yang mengalami keterbatasan seperti tunarungu, tunanetra, tunagrahita, tunadaksa dan sebagianya, adalah orang-orang yang &#8220;beruntung&#8221; karena secara kasat mata ditunjukkan keterbatasannya oleh Allah sehingga dalam mengelola energi yang dimiliki, mereka bisa lebih focus daripada kita. Menyadari keterbatasannya, seseorang yang menderita kelumpuhan  tidak akan membuang energinya untuk bermimpi menjadi pelari. Energinya akan difokuskan pada keahlian yang ia punya. Hasilnya? Maksimal! Orang-orang yang fokus  bisa dihargai berpuluh kali lipat dari orang yang tidak fokus. Sementara kita yang merasa diri kita  &#8221;serba lengkap&#8221; ini bermimpi untuk jadi apa saja, ketika ada orang ang berhasil menjadi pemain bulu tangkis, kita bilang &#8220;saya juga bisa&#8221;, apa bedanya saya dengan dia! Ketika ada orang yang berhasil sebagai penceramah, lalu kita berpikir,betapa enaknya hidup seperti dia, bicara ke sana ke mari lalu dapat uang.  Apa kurangnya saya dari dia? Saya  juga bisa, lalu kita coba pula. Akibatnya kita malah tidak focus. Salah satu kelemahan kita yang &#8220;normal&#8221; ini adalah  seringkali &#8220;tidak focus&#8221;, tidak terarah, semua ingin  dicoba, sehingga pemanfaatan energi tidak efektif.</p>
<p>Kita harus bersyukur pada Allah, menghargai apa yang ada,memahami potensi diri, menyadari keterbatasan, berbuat sesuatu yang dapat dilakukan dengan kemampuan maksimal dan dengan ketulusan hati sehingga bermanfaat bagi kehidupan. Itulah orang sukses. Sukses tidak  ada kaitannya dengan kaya raya, populer, jabatan yang tinggi, dan sebagainya, orang-orang sukses adalah orang-orang mensyukuri apa yang ada, berbuat sesuatu dengan memaksimalkan kemampuan dan tulus sehingga bermanfaat bagi orang lain, apapun itu bentuknya. Kesuksesan dan kebahagian hidup dapat hinggap di manapun, tukang sapu, tukang bakso keliling, guru, karyawan, pengusaha dan sebagainya.  Namun ketidaksuksesan juga bisa hinggap dimanapun. Apakah orang kaya dapat dikatakan seorang yang sukses?, Jawabnya, bisa&#8221;ya&#8221; bisa &#8220;tidak&#8221;, bergantung sejauh mana yang bersangkutan mensyukurinya.</p>
<p>Kiranya tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa dari 5 atau 6 milyar manusia di dunia, Allah telah membaginya dengan sempurna, berapa % yang diutus sebagai ilmuwan (penemu),berapa orang untuk pengemudi, cleaning service, manajer, guru, karyawan, dansebagainya.  Komposisinya diatu rberdasarkan hukum kesimbangan dan hukum kekekalan energi karena inila hukum tertinggi. Namun kesimbangan itu menjadi terganggu ketika manusia ingin mengubah komposisi dengan mengagungkan salah satu potensi yaitu (IQ) yang tingggi. Semua orang ingin dididik berdasarkan kekuatan IQ. Inilah sebuah keniscayaan. Jika IQ menjadi satu-satunya penentu  keberhasilan hidup manusia, (mohon maaf) berarti Allah diskriminasi menciptakan manusia. Tentunya bukan demikian,perbedaan IQ hanya mengisyaratkan berbagi peran saja. Saudara kita yang tunarungu, dibekali dengan kepekaan membaca getaran dengan sensitifitas yang tinggi.Kepada orang lumpuh diberikan ketekunan dan kesabaran.  Kepada orang-orang yang ditugasai sebagai penemu (ilmuwan)  dibekali IQ tinggi,jumlah penemu tidak perlu banyak, cukup 2,5% saja dari populasi. Hasil temuan para penemu tidak dapat dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan sehingga diperlukan orang lain yang berperan sebagai pengolah, pentransfer (guru),pekerja dan tukang sapu. Ketika semua peran itu dimainkan dengan baik oleh masing-masing sesuai dengan potensinya, maka terjadilah kesimbangan. Jika ada  yang mengingkarinya,  tunggulah &#8220;kiamat&#8221;.</p>
<p>Itulah contoh cara kerja hukum kekekalan energi pada kehidupan manusia.Setiap manusia memiliki keunggulan, Thomas Armstrong dengan tegas mengatakan bahwa setiap manusia terlahir jenius, tanpa kecuali. Kesalahan kita selama ini adalah menggunakan IQ sebagai satu-satunya ukuran kejeniusan, akibatnya kita diskriminatif terhadap sesama. Bagi Armstrong, kejeniusan diartikan sebagai kemampuan unik yang dimiliki oleh setiap orang. &#8220;Semua orang dilahirkan dengan kejeniusan unik yang menjaga mereka, membantu mereka keluar dari kesulitan, dan memberi inspirasi pada saat-saat yang penting dalam kehidupan mereka&#8221; (Thomas Armstrong).  Didalam Alquran dijelaskan bahwa kehidupan manusia ibarat planet yang memiliki orbit sendiri-sendiri, dan setiap orbit sama pentingnya, terlepas dari besar-kecil ukuranya. Dan ketika setiap planet konsisten menjalankan orbitnya,terjadilah keseimbangan. Sebaliknya apabila ada salah satu atau beberapa  &#8220;planet&#8221; hanya sibuk mengurus orbit yang  lain sementara orbitnya macet, terjadilah &#8220;kiamat&#8221;.</p>
<p>&#8220;Anak-anak yang gagal dan sekolah yang gagal adalah sebuah indikasi dari adanya sistem yang salah, bukan otak yang salah&#8221;(Eric Jensen).  Ya, karena otak ciptaan Allah, dan otak salah satu karunia tertinggi yang diberikan pada kita. Semoga bermanfaat&#8230;&#8230;(bersambung).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fikrieanas.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fikrieanas.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fikrieanas.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fikrieanas.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fikrieanas.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fikrieanas.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fikrieanas.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fikrieanas.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fikrieanas.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fikrieanas.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fikrieanas.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fikrieanas.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fikrieanas.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fikrieanas.wordpress.com/469/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fikrieanas.wordpress.com&amp;blog=4265416&amp;post=469&amp;subd=fikrieanas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikrieanas.wordpress.com/2010/08/14/sebuah-impian-7-hukum-kekekalan-energi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fikrieanas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fikrieanas.files.wordpress.com/2010/08/slb-bangka-tengah1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">SLB Bangka Tengah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
