SURAU: Educational Engineering

Manapak Jajak, Menemukan Potensi Diri Sedini Mungkin

  • Artikel Utama

  • Monolog

    Setiap manusia terlahir sebagai ahli di bidangnya masing-masing. Agama menegaskan kepada kita bahwa Tuhan tidak akan memberikan beban melebihi batas kemampuan kita. Artinya, sebelum "beban" diberikan, manusia dibekali kemampuan terlebih dahulu. Untuk itu, jika kita dihadapkan pada suatu persoalan, seberat apapun, sesungguhnya kita "mampu" mengatasinya asal kita menyadari bahwa jawaban dari semua persoalan tersebut ada dalam diri kita. Peran orang lain hanya "membantu" untuk membuka jalan, sementara yang menggerakkan langkah di atas jalan itu adalah kita sendiri.

  • Kebanyakan anak-anak memiliki kreatifitas tinggi (yang diatur oleh otak kanan) sebelum mereka masuk sekolah. Hanya 10% dari anak-anak ini yang tingkat kreatifitasnya sama pada usia 7 tahun, dan ketika telah dewasa hanya 2% yang tetap memiliki kreatifitas. Ini salah satu akibat dari proses pembelajaran yang mengutamakan otak kiri saja (Guinever Eden). Sumber: Veronica Sri Utami, Majalah Nirmala, Okt 2008

    1
  • “Tidak hanya kehilangan kreatifitas, meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh anak sebagai salah satu akibat metode pembelajaran yang mengutamakan otak kiri (Sidiarto), disamping itu pembelajaran yang demikian juga bisa membuat orang menjadi stress, bahkan musikpun tidak sempat lagi mereka nikmati karena sibuk menganalisis, serta akan menciptakan orang-orang yang :selalu berkompetisi dan selalu memandang sesuatu dari sisi menang-kalah” (Dr. Paul E. Dennison (Pencipta Brain Gym).

  • "Jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil warga negara yang punya kepedulian besar dapat mengubah dunia. Justeru sebetulnya, inilah satu-satunya hal yang telah mengubah dunia " (Margaret Mead)

    Zulfikri Anas on Dari Pohon Mangga Jangan Minta…
    isyiana w on Dari Pohon Mangga Jangan Minta…
    Zulfikri Anas on Budaya dan Pendidikan
    Zulfikri Anas on Kembali Ke Surau
    Lia Abdulsyukur on Budaya dan Pendidikan
  • .Satu-satunya sistem disiplin yang terbaik adalah melalui pembelajaran yang melibatkan. Ketika anak-anak dilibatkan, kenakalannya akan berkurang. Semakin siswa tidak mengetahui kalau mereka sedang didisiplinkan, akan semakin baik. Fungsi otak yang mempengaruhi perilaku dan disiplin meliputi area otak tengah, khususnya amigdala (area yang berhubungan dengan emosi yang intens) (Eric Jensen)

  • Archives

Sebuah Impian (4) “Belajar adalah Rekreasi”

Posted by Zulfikri Anas on October 28, 2009

Bulu babi

95% tubuhnya terdiri dari bulu yang mengandung racun, namun isinya dapat dimakan dan menjadi menu favorit bagi orang Jepang.

“Tiba-tiba badan saya panas dingin, kaki saya bengkak, kata Ibu  harus  dipukul-pukul  dan siram dengan air pipis” kata seorang anak bernama Ali  menceritakan pengalaman pribadinya ketika pertamakali terkena tusuk duri landak laut atau dikenal dengan sebutan  bulu babi.

“Anak-anak,  bulu babi yang menancap di tubuh kita tidak bisa dicabut karena sangat rapuh, untuk itu harus dihancurkan dengan cara memukul-mukulnya agar bulu dan racunnya keluar bersama darah, dan kata orang yang pernah mengalaminya,  racun itu  dapat ditawarkan dengan amoniak,  karena sudah diyakini secara turun-temurun, Ibu Ali menyuruh  Ali menyiram dengan air seni, air seni  kita mengandung amoniak. Kata para ahli,  sebetulnya tubuh kita yang sehat ini mampu mengatasi racun karena tubuh kita mengandung antibody yang mampu  menawarkan racun,  untuk membuktikan kebenaran ini, kalian harus belajar dengan baik  dan mungkin ada diantara kalian yang berbakat menjadi ilmuawan ahli bulu babi”, Bu Guru memberikan penjelasan tambahan setelah Ali bercerita.

“Ada Bu……., beberapa anak berteriak ketika Bu guru mengakhiri penjelasannya tadi.

-o0o-

Pagi itu, pelajaran baru saja dimulai,   “Anak-anak, minggu lalu kalian telah mampu membuktikan bahwa Tuhan menyayangi kita semua, dan kalian juga telah berjanji akan mensyukuri atas semua  yang disediakan Tuhan bagi kita.  Nah, sebagai kelanjutannya, pada hari ini kita belajar bagaimana cara bersyukur pada  Illahi.   Melalui  mata pelajaran IPA, kita telah menyadari bahwa alam beserta isinya yang beragam seperti  hewan,  tumbuhan, dan benda-benda yang ada disekitar kita dicipakan oleh Illahi untuk kemakmuran kehidupan manusia.  Kita semua juga sudah paham bahwa manusia tidak mampu menciptakan semua itu,  untuk itu kita harus bersyukur, salah satu cara bersyukur adalah dengan  mempelajari semua ciptaan Tuhan sehingga kita paham dengan segala sifat-sifat dan manfaatnya”, kata Bu Guru mengawali pelajaran pagi itu sebelum meminta salah seorang anak bercerita tentang pengalaman pribadi.

“Sehari-hari, kita bergaul dengan alam, terutama alam laut karena kita

Bendungan

Menerapkan ilmu di sekolah dan kehidupan sehari-hari adalah ibadah (Banggai-za09)

tinggal di sekitar laut, untuk itu, masing-masing kalian menuliskan cerita singkat berdasarkan penglaman pribadi tentang hal-hal yang berkesan yang kamu alami, seperti cerita Ali, tadi. Waktu kalian ada 5 menit, dan setelah itu secara bergantian dengan teman yang berdekatan kalian menceritakan apa yang ditulis”, kata Bu Guru yang mengajar pagi itu.

Ketika semua siswa asyik dengan tugasnya masing-masing, guru berkeliling, melakukan observasi sambil membawa lembaran checklist untuk mencek siapa anak yang paling tidak bisa dan siapa yang paling bisa. Sebelumnya guru telah mempersiapkan indikator-indikator sebagai tolok ukur perkembangan kemampuan siswa pada pertemuan ini.  Paling tidak, ada beberapa indiktor mata pelajaran yang saling terkait, seperti “menentukan cara-cara besyukur pada Illahi, kemampuan menulis cerita, memilih dan merangkai kata menjadi kalimat yang bermakna, bercerita dengan kalimat yang jelas dan mudah dipahami,  menarik  kesimpulan, dan banyak lagi. Indikator tersebut membantu guru utnuk mengukur seberapa terjadi perubahan kemampuan pada setiap pertemuan.  Dengan berpegang pada indikator-indikator tersebut, guru dengan mudah mendesain pembelajaran interaktif, proses pembelajaran mengalir  di mana aktivitas siswa yang menjadi pusat kendali pembelajaran. Suasana kelas menjadi sanagt hidup, siswa terlihat sangat menikmati namun tetap kental dengan sifat kekanakan mereka. Dengan demikian, pada saat yang bersamaan, substansi yang dipelajaripun beragam, ada yang berkaitan dengan IPA, Bahasa, IPS, dan Agama. Sesuatu yang dianggap sangat sulit bagi guru pada umumnya. Guru ini melakukannya dengan mudah, dan yang lebih hebat lagi, kelihatannya guru ini sangat siap, perencanaannya matang sehingga pada saat masuk kelas seperti “rekreasi” saja.  Di sepanjang proses pembelajaran, siswa terkondisi menjadi orang-orang yang produktif. “Sekecil apapun, siswa harus memproduksi sesuatu, sekalipun itu hanya ide sederhana dan yang harus kita jaga jangan sampai mereka merasa terpaksa, biarkan mereka melakukan dengan caranya sendiri agar tidak terbebani sehingga seberat-beratnya persoalan yang dihadapi, akan terasa enteng”, kata Bu Guru.

Berbekal, catatan yang diisi sambil melakukan observasi, guru dengan mudah mengontrol perkembangan dan pencapaian kompetensi setiap siswa. Dan yang paling penting, guru dengan mudah mengambil keputusan apakah siswa-siswanya telah tuntas atau belum, bagian mana yang belum tuntas, juga dengan mudah diketahui. Hal ini akan mengatasi resiko kesalahan dalam memberikan tindak lanjut kepada setiap anak.

Oleh karena guru ini sudah terbiasa dengan cara demikian, guru yang satu ini sangat ahli menentukan metode, berkreasi dengan bebas, sehingga anak-anak terlihat gembira. Sepertinya, anak-anak didiknya tidak mengalami kesulitan menguasai kompetensi yang  telah ditargetkan. Dengan cara demikian “sesulit apapun, mereka mampu mengatasi kesulitan  secara mandiri”, kata Bu Guru optimis.

Bis Air

"Bis Air" : Akrab dengan alam laut (Siantan, za-08)

Di akhir pelajaran, setelah menutupnya dengan membantu siswa menarik kesimpulan dan penguatan, semua siswa ditugasi membuat cerita tentang apa yang mereka alami selama satu minggu ke depan. Topik utama cerita  “cara-cara bersyukur kepada illahi lewat pengalaman pribadi”.  Media yang dipilih diserahkan kepada masing-masing siswa,   kemungkinan ada yang memilih cerita essay, cerita bergambar, komik, pidato, puisi, dan sebagainya.  Tugas yang diberikan itu mampu memancing potensi-potensi yang tersembunyi   dalam setiap diri siswa karena di samping cerita yang beragam sesuai dengan yang dialami, mereka juga memiliki peluang untuk mengekspresikan kemampuan  melalui media yang diminati.  Melalui satu tugas tersebut, puluhan, dan bahkan ratusan kemampuan dapat terasah sekaligus, sementara guru telah mempersiapkan “rubrik” untuk mengevaluasinya.

“Anak-anak di pelosok (baca:pulau)  ini harus diperlakukan demikian Pak, jika tidak, semangat belajar mereka mengendor. Pada hal sebetulnya mereka sangat kreatif dan terbiasa mengatasi persoalan”, kata Bu Guru diakhir  pembicaraan kami, begitu saya pamitan sehabis melakukan observasi di kelasnya.

Wahhhhh… “guru ini memang hebat” anak-anak belajar dengan rileks. “Belajar adalah rekreasi bagi anak-anak!, begitu juga  bagi guru, bersama siswa adalah rekresi yang paling nyaman!”, katanya (bersambung). ……. Zulfikri Anas.

Posted in 1 | Leave a Comment »

Sebuah Impian (3): “Belajar dari Kehidupan Nyata”

Posted by Zulfikri Anas on October 28, 2009

Kehidupanku

Di pagi hari, kehidupan berawal, dan belajarpun dimulai. "Sesungguhnya alam raya ditunddukan bagi manusia"(za-09)

Matahari pagi menyapa, nadi kehidupan masih berdenyut, suara ombak, desiran angin menghembuskan udara segar pagi ini. Semalaman tidur nyenyak tanpa lampu. Inilah kehidupan di pulau, listrik hanya menyala antara pukul 18.00 – 24.00, tapi beberapa hari ini sering mati semalaman, kalau sudah begitu, sinyal HP-pun hilang. Beberapa hari di sini saya terbebas dari dering HP, he,he,…….kadang-kadang enak  juga hidup tanpa dering HP, tapi rasa ingin tahu dan ingin berbagi cerita dengan keluarga sering membuat kita ingin cepat pulang….

“Di sini satu strip sinyal HP  lebih mahal dari HP-nya  Pak”, kata Bu Camat menceritakan pengalamannya ketika beliau berusaha mengontak kerabatnya di kota, karena sangat penting, terpaksa Bu Camat naik speedboat ke pulau lain (dekat pusat pemerintahan kepulauan) untuk mencari sinyal HP, begitu dapat 2 strip, perasaan bukan main lega.  “Alhamdulillah, akhirnya ada sinyal, hati senang walaupun harus merogoh kocek  Rp. 1 juta untuk keperluan BBM speedboat pulang-pergi”, katanya.

Saya membatin “hari gini, masih ada wilayah di republik ini yang sulit listrik dan komunikasi, sementara pulaunya menyimpan ribuan potensi, potensi itu tertidur karena  selama ini pendidikan juga  tertidur”.

Pagi ini saya berencana masuk ke kelas, sebuah SD yang dulunya

Berdansa

Dua ikan "aneh" kelihatan seperti daun kering, berdansa menikmati beningnya air laut. Potensi yang terlupakan. (za-09)

direncanakan sebagai sekolah kelautan. Setahun yang lalu, saya datang ke sini, lalu bertanya kepada anak-anak di dalam kelas, coba sebutkan contoh ikan yang kamu ketahui!, serentak mereka menjawab “hiu, tongkol, teri, udang”, lalu saya bertanya lagi, hanya itu?, bagaimana dengan ikan sunu, bubara, ikan kardinal (cardinal fish), ikan napoleon, ikan yang berwarna-warni, dan puluhan dan mungkin ratusan jenis ikan lain yang akrab dengan kalian sehari-hari?, “Itu kan tidak ada dalam pelajaran Pak”, kata mereka polos. Dahsyatnya akibat dari sebuah pembelajaran!. Nnama-nama ikan tersebut tidak disebut dalam buku yang mereka gunakan sebagai bahan ajar sehar-hari.

“Anak-anak di sini terbiasa mendayung  sendiri sampan mereka setiap hari pergi sekolah, bila musim badai, mereka dengan lihai mengatur kecepatan sampan sehingga posisi sampan selalu persis di puncak gelombang,  jika tidak, bisa berbahaya”, kata Pak Guru menceritakan anak-anak pulau pada saat kami sedang memperhatikan beberapa anak yang mendorong perahu ke pantai beberapa menit sebelum pelajaran di mulai.

Anak Pulau

Tidak hanya di laut, di daratpun mereka perkasa karena terbiasa belajar dari kehidupan nyata (za-09)

Keperkasaan” anak-anak mengarungi laut setiap hari membuktikan betapa mereka memiliki life skills yang teruji. Ketika mereka mengatur kecepatan sampan, di dalam otak mereka perhitungan matematis mengalir secara  otomatis, bukan saja perhitungan matematis, perhitungan fisika seperti, gaya,  gesekan, momentum, tekanan udara, hukum Archimedes dan banyak lagi yang lain begitu akrab dengan kehidupan mereka. Demikian juga pemahaman mereka dengan berbagai biota laut. Namun, semua itu “di-nol-kan (nullified) begitu dia masuk kelas.

“Anak-anak, hari ini kita belajar tentang peta, buka buku kalian halaman 20, dan lihat peta di papan tulis, ini adalah peta Jawa Barat, ibu kotanya Bandung…..dst, bu Guru dengan fasih mengajak anak-anak untuk bercerita tentang Jawa Barat”.

Reaksi anak-anak?, sekilas mereka terkagum-kagum mendengar cerita Bu Guru tentang kota Bandung, di sana banyak mobil, kereta api, dan toko-toko besar, dan beberapa makanan khas yang enak rasanya. Sejenak mereka berfantasi membayangkan kota yang diceritakan, dan mulai lupa atau mungkin melupakan keindahan dan kekayaan alam yang mereka gauli setiap hari. Perlahan-lahan mereka bermimpi, betapa enak…..ya hidup di kota besar separti Bandung, listrik tidak pernah mati, bisa naik kereta api, naik mobil……. “Aku akan ke sana”……..mimpi mereka!.

Jika saja kita mampu memberikan pembelajaran mereka melalui kehidupan

mereka sendiri, tanpa harus meracuni dengan memaksa mereka untuk menggunakan buku sebagai satu-satunya sumber belajar, mungkin suatu saat wajah-wajah polos dan penuh semangat ini menjadi pengusaha lokal di bidang kelautan yang tersohor ke

Nampang Sejenak di Halaman Parkir Gedung APEC, Busan Korea

penjuru dunia, atau sekurangnya menjadi konsultan kelautan di Jerman, Amerika, dan di manapun……, namun, akibat proses pembelajaran yang sejak awal mulai sekolah “mencabut” mereka dari kehidupannya, mimpi itu mungkin tetap tinggal mimpi.

Hari ini akan saya buktikan, seberapa jauh lagi langkah yang harus diayunkan untuk mencapai mimpi itu! (bersambung). Zulfikri Anas-09

Posted in 1 | Leave a Comment »

Sebuah Impian (2): “Alam Terkembang Jadi Guru”

Posted by Zulfikri Anas on October 14, 2009

Tuapejat-0

"Mimpi yang tertunda": Alam Takambang Jadi Guru. (za: Tuapejat 09)

“Alhamdulillah, kita masih bisa bermimpi”. Kalimat ini menjadi energi pendorong sebelum saya meneruskan bermimpi. Takutnya, suatu saat bermimpi pun dilarang.

Menyimak kebijakan pemerintah Negeri Impian, saya menjadi tergugah untuk menjelajah lebih jauh ke pelosok tanah air. Sungguh sangat menakjubkan, sebuah negeri “laut” yang ditaburi pulau. Selama ini para warganya memandang bahwa tanah airnya sebagai negeri “pulau” yang dihubungkan oleh laut sebagai pemersatu. Konon, cara pandang ini sengaja ditumbuhkan sejak zaman kolonial agar masyarakat negeri ini berpikir sebagai “orang gunung” bukan “orang laut”.  Karakternya jelas beda, orang gunung  relatif manja karena semua kebutuhan pangan terpenuhi tanpa harus menguras “energi” untuk berpikir lebih keras, alam yang sejuk, subur, dan siap menyuplai kebutuhan hidup setiap saat. Sementara orang laut harus “berpikir” keras karena hidup dalam ketidakpastian. Hidup di laut harus “perkasa” secara fisik dan mental. Akibat keganasan “alam”, hari ini dapat makan, besok belum tentu. Masa paceklik dapt berlangsung  berbulan-bulan. Akibat kehidupan yang “keras” dan  diimbangi dengan konsumsi protein tinggi dari laut,  orang-orang laut tumbuh menjadi orang perkasa dan ulet. Berbeda dengan orang gunung dengan hidup yang lebih santai. Karakter sebagai orang “laut” ini menjadikan bangsa ini dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Ini — salah satunya– ditunjukkan oleh bangsa Bugis yang tersohor sebagai pelaut yang ulung.

Lalu apa kepentingan pemerintah kolonial menjadikan masyarakat negeri

dua wanita

"Keperkasaan Wanita Mentawai", potensi yang di-nol-kan (nullified) di dalam kelas. Tuapejat-za-09)

ini jadi “orang gunung”, bukan “orang laut”?. Ya….cara berpikir. Jika kehidupan bangsa kita didominasi oleh cara berpikir orang “laut” yang lebih dinamis, ulet, gigih dan kreatif, tentu, bangsa ini akan lebih cepat pintar dan cerdas. Alasan lain, jika anak-anak bangsa ini terkonsentrasi di “gunung”, harapannya mereka “lupa” akan kehebatan sumber daya lautdengan  kekayaan yang tersimpan di dalamnya mungkin jauh melebihi kekayaan yang tersimpan di daratan. Mungkin begitu!.

Tuapejat-5

Terdampar di Pantai Tuapejat: Meski sudah mati, ikan ini tetap memperlihatkan keindahan warnanya sebelum ia lenyap buat selamanya. (za-09)

Kembali ke pokok cerita “mimpi” kali ini, ketika  saya berada di sebuah pulau yang  sangat mempesona. Letaknya yang terpencil justeru makin membakar adrenalin turis mancanegara untuk datang ke sana. Makin lama turis yang datang makin banyak, dan pulau ini makin tersohor.  Pesona laut menjadi kekuatan magis bagi mereka. Air yang bening memantulkan warna kebiruan, bias langit. Ikan laut dengan berbagai bentuk dan warna menghiasi pemandangan dan menjadi aquarium hidup. Rumput luatpun menjadi komoditi baru yang menjanjikan, tiap minggu para saudagar datang membawa uang miliyaran untuk membeli ribuan ton rumput laut yang katanya akan diekspor ke Korea sebagai bahan baku kertas pengganti kayu pinus. Wow……pola hidup sebagian warga masyarakat berubah. “Wah pak, kalau musim panen rumput laut, membeli barang elektronik dan kendaraan bermotor seperti membeli kacang goreng”, kata yang punya penginapan kepada saya sewaktu sarapan pagi.

“Di sini pernah dibangun sebuah SD Kelautan” kata Ibu Camat. Awalnya

Bersantai bersama Pak Husnul Kamal "Keindahan Alam": Sumber belajar yang menumbuhkan ketakjuban

pemerintah “tergugah” karena banyak anak-anak yang tidak bersekolah, pada hal mereka sehat-sehat, segar, prima, dan memiliki keberanian luar biasa. Mereka pesahabat, penakluk, dan penikmat alam laut. Bukan tidak mungkin suatu saat mereka menjadi ahli laut termahal di dunia. Namun, belakangan  ini sekolah ini menjadi sekolah biasa yang jauh dari cita-cita semula, menjadikan sekolah berbasis keunggulan lokal, (kelautan). Dari dialog singkat saya dengan Ibu Camat itu, membersitkan sebuah ide, mendesain sekolah khas kelautan  dan ide tersebut sudah terimplementasi sejak beberapa tahun yang lalu. Hari ini saya datang lagi ke pulau ini untuk melihat seberapa jauh ide ini terlaksana. (bersambung..) Zulfikri Anas

Posted in 1 | Comments Off

Sebuah Impian (1): ” Kembalinya Nurani”

Posted by Zulfikri Anas on October 5, 2009

rumah-gadang-edit-24

"Rumah Gadang Kian Berlalu" di sinilah tempatku dibesarkan, umumnya rumah gadang di Ranah Minang bernasib sama.

Suatu saat saya berkunjung ke “negeri impian”. Pemerintahnya benar-benar komit membangun bangsanya. “Tidak ada jalan lain, kecuali kita harus merombak sistem pendidikan, utamanya implementasinya”, ungkap Presiden terpilih pada saat dia dikukuhkan. “Kita telah sepakat akan membangun ekonomi lewat pendidikan, bukan meng-”ekonomiskan” pendidikan” (melindungi secara formal pendidikan menjadi ladang bisnis yang menggiurkan), demikian tegasnya. Undang-undang sudah benar, tapi aturan-aturan operasional dari undang-undang tersebut banyak yang keliru, untuk itu kita harus konsisten dengan undang-undang.

Tekad pemerintah sudah bulat, bila perlu kita akan melakukan revolusi pendidikan. Pertanyaan masyarakat, apanya yang akan direvolusi?,  jika hanya mengubah kurikulum dan tetek bengeknya,  kita sudah terlalu capek, masyarakat sudah lelah. Berkali-kali ganti kurikulum, hanya ganti baju,  “kurikulum” yang sesungguhnya tidak pernah berubah.  Sejak dirusak oleh bangsa lain,  sistem pendidikan kita tercabik-cabik menjadi perca yang berserakan dan ironisnya, kondisi tersebut belum banyak berubah sampai saat ini. Alih-alih peningkatan mutu dan atas nama upaya “mensejajarkan” dengan bangsa lain melalui SBI (sekolah bertaraf internasional), namun karena konsep dan penerapanya salah kaprah. Kita berlomba-lomba “menginduk” dan “minta” diakreditasi oleh negara lain yang menurut pandangan awam kita lebih maju dengan melupakan potensi unggulan yang kita miliki.  Sering kali tidak kita sadari bahwa kita memiliki banyak keunggulan di banding negara lain. Unggulan-unggulan tersebut akan menjadi  pijakan untuk memperkokoh nilai tawar (bargaining position) karena mereka tidak memiliki itu. Apabila dikemas dengan sungguh-sungguh, hal tersebut sekaligus akan memperkokoh jatidiri bangsa, meningkatkan daya saing.

Jika tidak dengan menawarkan keunggulan yang kita miliki,  cara menginduk akan terus melemahkan jatidiri bangsa kita. Bayangkan,  suatu saat nanti, semua sekolah di negeri impian ini menjadi “sub ordinat” dari sekolah-sekolah di negara lain, di samping menjadi “ladang” yang subur bagi mereka, semua sisi kehidupan kita akan dikendalikan melalui “remote control”.  Dalam kondisi seperti ini mungkinkah mereka akan menganggap kita sejajar dengan mereka? atau mungkinkah kita akan mencapai standar yang telah mereka tetapkan?. Jawabnya tidak akan pernah!.

Tuapejat-8

Salah satu keunggulan lokal: Potensi alam yang tidak terhingga, jangan sampai tidak dikenali oleh anak-anak kita, sementara orang-orang asing memburunya. (Tuapejat, za-09)

Biaya yang dikeluarkan untuk “merombak” sistem pendidikan sudah terlalu banyak, tapi hasilnya makin semrawut, inti persoalan tidak pernah terjawab!. Pemerintah mencoba meyakinkan masyarakat, “yang akan  kita lakukan  adalah mengembalikan nurani para pelaku pendidikan mulai dari tingkat menteri sampai pelaksana di lapangan karena yang hilang dalam dunia pendidikan kita adalah nurani!”.

Pemerintah optimis meski mengembalikan hati nurani yang hilang tentunya tidak mudah. Contoh kecil saja, bayangkan!, demi “nama baik sekolah”,  kita-kita ini rela mengorbankan sebagian besar  anak-anak yang sesungguhnya sangat membutuhkan layanan pendidikan yang terbaik. Sekolah-sekolah, terutama sekolah negeri berlomba-lomba memasang “kriteria tinggi” bagi calon muridnya. Dan celakanya, kriteria tersebut hanya diukur dari satu sudut kemampuan saja, yaitu kemampuan kognitif. Dengan ukuran-ukuran tersebut lahirlah pengkategorian yang dikhotomis, pintar-bodoh, unggul-tidak unggul. Ya, atas nama “gengsi” sekolah, sekolah-sekolah yang menganggap “dirinya” bermutu, sangat alergi dan takut dengan anak-anak yang menurut kategori mereka “tidak unggul”. “Apabila kita membiarkan sekolah kita dimasuki oleh anak-anak yang tidak “bermutu” maka mutu sekolah kita akan anjlok!”, tegas kepala sekolah, dan gilanya lagi keputusan para kepala sekolah “yang menganggap dirinya bermutu” tersebut  didukung penuh oleh aparat pemerintah dan parlemen. Dalam berbagai talk-show, pemerintah dan parlemen dengan bangganya mengatakan “kita tidak akan menyia-nyiakan aset bangsa yang berharga ini, untuk itu kita siap menggelontorkan dana sebanyak-banyaknya untuk merelaisasikan program pendidikan untuk anak-anak unggulan ini!”. Anak unggulan harus kita layani, ini aset yang paling berharga. Pernyataan ini adalah pengakuan bahwa hanya sebagian kecil anak-anak bangsa ini yang disebut “unggulan”. Ini melecehkan penciptaan manusia yang dirancang secara khusus sebagai khalifah di muka bumi.

Tuapejat-1b

Lambaian Nyiur "Kelapa Pontong" (Tuapejat, za-09)

Ironis memang!, sebagai manusia, kita dengan mudah mengatakan bahwa makhluk ciptaan Allah yang bernama manusia itu hanya sebagian kecil yang “layak” didik, atau dari jutaan manusia yang diciptakan-Nya sebagian besar  dinyatakan “afkir”. Bagi kelompok-kelompok afkiran akan mendapat pelayanan pendidikan yang bermutu rendah.  Ini sungguh telah mengingkari amanah Illahi, pantas aja bangsa ini terpuruk. Untuk itu, mulai saat ini juga, dasar pemikiran ini harus dibuang jauh-jauh.  Sekolah-sekolah negeri yang berkategori bagus justeru diharuskan menerima murid-murid yang “dianggap” lemah, karena sebetulnya mereka bukanlah orang “lemah”. Mereka hanya dikucilkan karena instrumen penilaian yang digunakan tidak cocok dengan potensi yang mereka miliki. Belakangan ini pemerintah mulai menyadari kekeliruanya.

Pertanyaan saya, “apakah mimpi ini akan terwujud?”, yang kita takutkan adalah sebagian besar aparat yang ada saat ini, bermimpi aja belum, apalagi niat untuk melakukan perubahan. Lalu, kapankah impian ini akan terwujud?.  Atau ini hanya mungkin mimpi seorang rakyat kecil yang merasa dunia pendidikan kita sudah tidak lagi memiliki NURANI!. (Zulfikri Anas) (Bersambung……)

Posted in 1 | Leave a Comment »

Melempar Jala

Posted by Zulfikri Anas on October 5, 2009

Tuapejat-2

Jala hanya mampu menangkap "ikan" yang "jinak" dan dekat dengan pusatnya (za-09)

Selama bertahun-tahun para pendidik melemparkan jala yang sangat besar hanya untuk berharap dalam “menangkap” sebanyak-banyaknya “ikan” (pembelajar). Sesungguhnya “ikan-ikan” itu tidak pernah bergerombol, dia berjalan di jalurnya masing-masing. Kalaupun kita bisa mendapatkan jala terbaik di dunia, tetapi jika kita menjala ikan di tempat yang salah, kita pasti tidak akan pulang ke rumah membawa ikan.

Otak tidak dirancang dengan “baik” untuk mengikuti instruksi formal, dalam kenyataanya juga, otak sama sekali tidak didesain untuk efisiensi atau ketertataan. Justeru otak berkembang paling baik melalui seleksi dan kemampuan bertahan hidup. Kekuatan yang terlatih dalam menyelesaikan persoalan-persoalan dalam kehidupan nyata akan mendorong pengayaan kemampuan bertahan hidup. Hal ini terjadi karena persoalan yang ada saat ini tidak dapat diselesaikan dengan tingkat pemikiran yang sama atau dengan perangkat yang sama dengan yang telah menciptakan semua permasalahan itu. Artinya setiap saat kita berhadapan dengan berbagai persoalan, dan ketika kita menghadapinya dan kemudian menemukan solusi yang terbaik, kita telah belajar dari sesuatu yang aktual dan kemampuan kita telah meningkat.

Mentawai-1

Hidup adalah misteri, dinamis dan menjadi sumber kekuatan tersembunyi, seperti yang diisyaratkan semburat warna yang ditimbulkan oleh efek sinar matahari pagi di pantai Tuapejat ini, detik demi detik warna ini akan berubah (za-09)

Demikian yang ditawarkan oleh pemikian tentang pembelajaran yang berbasis otak. Pembelajaran yang berbasis otak (brain based learning), mempertimbangkan apa yang menjadi sifat-sifat alami bagi otak dan bagaimana otak dipengaruhi oleh lingkungan. Betapa mulianya manusia diciptakan melalui pemebrian otak sebagai pengatur mekanisme kehidupan, Subhanallah!. Jangan sia-siakan dengan mengatasnamakan pendidikan yang bermutu karena jala hanya mampu menjaring ikan-ikan yang jinak yang berenang di sekitar pusat jala!. (insipred by Eric Jensen, Brain Based Learning). ZA

Posted in 1 | Leave a Comment »

Dari Pohon Mangga Jangan Minta Buah Rambutan : Merindukan Pendidikan yang Humanis

Posted by Zulfikri Anas on October 5, 2009

Dari pohon mangga jangan diminta buah rambutan,

tetapi jadikan setiap pohon menghahasilkan buah yang manis”.

(Engku Sjafe’i, dalam Navis, 1996:94).

Pendidikan: Mengembangkan potensi bukan memasukkan ke dalam kotak yang telah ditetapkan ukuranya. (za-09)

Pendidikan: Mengembangkan potensi bukan memasukkan ke dalam kotak yang telah ditetapkan ukuranya. (za-09)

Ungkapan di atas menegaskan bahwa tugas dan fungsi utama pendidikan bukan untuk membentuk anak (didik) sesuai dengan selera kita atau menjadi manusia dengan cara berpikir (wawasan) yang seragam, melainkan membantu mereka untuk mengenali dan mengembangkan potensinya sedini mungkin sehingga mereka mampu membangun diri menjadi manusia yang berkualitas prima sesuai dengan fitrah yang ia terima dari Sang Khalik. Pendidikan bukan untuk “memaksa” mereka untuk menjadi apa yang kita inginkan, tetapi lebih kepada “upaya membangkitkan minat mereka agar berkemauan keras untuk memilih sendiri arah jalan hidupnya”, demikian tegas Engku Sjafei dalam tulisannya.

Tuapejat-7

Pagi menjelang siang di pinggir kampung nelayan Tuapejat, Mentawai (za-09)

Pada zamannya, (antara tahun 1920-1950-an), Sjafe’i (Pendiri INS Kayu Tanam, Sumatera Barat) menentang keras pemaksaan terhadap peserta didik. Hal ini merupakan “warisan” pola pendidikan zaman kolonial. Namun, sampai saat ini, praktik seperti itu tetap hidup dan bahkan makin subur. Ada berbagai macam bentuk pemaksaan dalam praktik pendidikan, antara lain: (1) penyeragaman orientasi, bahan, sumber, metode, dan pengalaman belajar siswa; (2) mengutamakan kebakuan format dan pengaturan adminstrasi daripada out-come dalam proses pembelajaran; (3) mempoisisikan kebutuhan psikologis siswa sebagai “hadiah” daripada “ruang” dan media belajar; (4) menggunakan ukuran “kuantitatif dan normatif” sebagai ukuran keberhasilan belajar.

Lebih lanjut Engku Sjafei menegaskan bahwa “penyeragaman jenis, tingkat dan materi kurikulum untuk seluruh sekolah di manapun lokasinya, berakibat pada penyeragaman kualitas dan wawasan manusia, akibat lanjutnya adalah memusnahkan keberagaman manusia itu sendiri. Ini menentang kodrat manusia!. Jika kita memiliki 250 juta penduduk, dengan pola yang demikian seolah-olah kita hanya memiliki 1 (satu) orang yang seharusnya kita memiliki 250 juta potensi yang berbeda dan semuanya menjadi juara di bidang masing-masing. Betapa dhasyatnya bangsa kita bila ini terwujud. Tapi a pa mau di kata, para pemikir dan pengambil kebijakan dunia pendidikan kita selalu menggiring kita untuk menghargai “satu” potensi, yaitu “potensi akademik”.

Pengkuran yang demikian melahirkan dikotomi: pintar-bodoh, berbakat-tidak berbakat. Anak pintar dan berbakat akan dipromosikan dengan baik, sebaliknya anak bodoh dan tidak berbakat diabaikan atau diberi layanan seadanya, dan yang lebih parah lagi mereka diserahkan pada nasibnya masing-masing. Persentase anak yang terabaikan ini jauh lebih tinggi dibanding anak yang diurus dengan baik. Dari 40 anak dalam 1 kelas, ada 10 anak (25%) yang disebut anak “unggul” atau 10 besar, dan 30 anak atau 75% temasuk yang tidak unggul. Anak unggul dituntun, dan diberi berbagai kemudahan dan fasilitas, sementara yang tidak unggul dibiarkan. Bila diibaratkan anak pintar sebagai orang yang memiliki kaki yang lengkap, sementara anak “bodoh” bagai orang lumpuh, yang justeru perlu dituntun berjalan malah ditinggal dengan alas an “kasihan anak yang berkaki, jalannya “terhalang” karena waktu kita tersita hanya karena melayani yang lumpuh!

III. Pendidikan yang Diskriminatif

Apabila pola tersebut tetap kita biarkan, bangsa ini akan runtuh. Betapapun hebatnya kualitas gizi orang tua dan mampu melahirkan anak-anak yang berkualitas, karena system penilaian dalam proses pendidikan stelah ia lahir yang bersifat eliminasi dengan menjagokan salah satu kemampuan tertentu (akademik), maka lebih 75% anak-anak tersebut tetap akan tereliminasi alias tidak mendapatkan layanan pendidikan yang baik. Hal ini terjadi bukan karena mereka tidak punya potensi, melainkan system yang tidak menerima mereka. Sistem yang berlaku hanya member tempat pada 25% anak. Artinya, dari 250 juta penduduk Indonesia, yang berpeluang mendapatkan layanan pendidikan yang baik, artinya lagi, yang berpeluang menjadi anak yang terdidik atau professional hanya 25% saja. Pertanyaannya adalah, mampukah anak-anak yang 25% itu mengatasi persoalan yang muncul dari 75% yang lain? Jawabnya “pasti tidak!”. Bukankah ini yang terjadi dibangsa kita saat ini. Sesungguhnya tidak ada satu alasanpun untuk hidup miskin di tanah air yang kaya ini, kecuali system pendidikan kita yang tidak bersahabat dengan sebagian besar anak, kalau tidak boleh dikatakan tiak becus.

Praktik pendidikan yang demikian terbukti “membunuh” potensi yang ada dalam diri seseorang. Lewat kacamata awam, kita dapat menentukan kira-kira berepa persen anak-anak kita yang memiliki ijazah dengan nilai tinggi tetapi pasif (tidak produktif, tidak kreartif, pesimis, fasis, dan memiliki mental “buruh” , selalu ingin dilayani an tidak mampu menciptakan peluang). Pada hal ketika terlahir, tidak satupun manusia bersifat pasif. Dalam ajaran agama sudah jelas dikatakan bahwa potensi itu merupakan amanah dari Illahi yang diterima manusia sebelum lahir. “Manusia diciptakan setelah sebelumnya direncanakan untuk mengemban satu tugas dan sesungguhnya aku hendak menjadikan ia sebagai seorang khalifah di bumi” (QS 2:30). Kitab suci (terutama Al Qur’an) memandang manusia sebagai makhluk yang tercipta bukan secara kebetulan. Untuk itu, manusia dibekali dengan potensi dan kekuatan positif untuk mengubah corak kehidupan di dunia ke arah yang lebih baik (QS 13:11). Dan ditundukkan serta dimudahkan kepadanya (manusia) alam raya untuk dikelola dan dimanfaatkan (QS 45:12-13). Antara lain, ditetapkan arah yang harus ia tuju (QS 51:56) serta dianugerahkan kepadanya petunjuk untuk menjadi pelita dalam perjalanan itu (QS 2:38).

Dalam kajian lain, Thomas`Armstrong dengan tegas mengatakan bahwa semua manusia terlahir jenius, kesalahan kita selama ini adalah menggunakan IQ sebagai satu-satunya ukuran kejeniusan. Hal ini yang mengakibatkan kita menjadi diskriminatif terhadap peserta didik. 12 ciri kejeniusan menurutnya adalah; rasa ingin tahu, jenaka, imajinasi, kreatif, ketakjuban, bijaksana, penuh daya cipta, vitalitas, peka, fleksibel, lucu dan gembira. Sementara ahli psikologi sepakat bahwa IQ hanya menyumbang sekitar 20% factor-faktor yang menentukan suatu keberhasilan hidup. 80% sisanya berasal dari factor lain, termasuk kecerdasan emosional (Goleman). Ini mengandung makna, jika hidup kita hanya mengandalkan kekuatan IQ, peluang gagal dalam kehidupan mencapai 80%.

Kejeniusan anak bisa hilang oleh berbagai faktor seperti peran rumah, sekolah, media. Situasi rumah yang tidak menyenangkan, serba cepat dan serba instan akan mempengaruhi perkembangan kejeniusan seseorang. Di sekolah, kejeniusan anak terancam tidak berkembang antara lain disebabkan oleh cara-cara pengujian dan penilaian yang sangat formal. “Tes-tes formal dan sistem penilaian mempunyai banyak fungsi yang penting dalam pendidikan; namun mengembangkan kejeniusan siswa tidak terjadi karena hal-hal tersebut’ (Armstrong; 2004;73). Pemberian julukan yang menjadikan siswa terkelompok seperti “kelompok unggulan”, kelompok berbakat dan seterusnya juga berpotensi untuk mengegrogoti perkembangan kejeniusan seseorang. Demikian pula faktor kelelahan dan kejenuhan akibat suasana yang monoton.

Setiap siswa menginkan suasana belajar yang menyenangkan dan ramah terhadap mereka, namun keramahan itu didapatkan oleh sebagai “hadiah” dari “perilaku baik dan pintar” yang mereka tampilkan tanpa dilihat apakah perilaku itu merupakan kamuflase atau yang sebenarnya. Asal berperilaku “baik dan pintar” diberi hadiah, yaitu layanan yang indah dan bersahabat. Bila sebaliknya, “nakal dan bodoh” akan “dilemparR dari system, padahal justeru merekalah yang lebih membutuhkan belaian, karena anak yang sudah pintar dan baik tinggal di tantang untuk membuktikan bahwa dirinya memang layak disebut anak pintar. Pendidikan diperuntukkan bagi mereka yang sudah “jadi”. Hanya anak “baik” yang akan memperoleh layanan yang bagus. Lainnya, merasakan betapa layanan pendidikan tidak bersahabat dengan mereka.

Praktik pendidikan seperti ini yang menjadikan dunia pendidikan kita menjadi dunia yang ekslusif, diskriminatif, dan layanan yang bermutu hanya akan menangkau sebagian kecil siswa saja. Dan yang lebih membahayakan, pengalaman belajar mereka menjadi miskin. Kemiskinan pengalaman belajar akan berdampak pada orientasi pembelajaran dan mengakibatkan mereka lebih dominan berpikir secara linier dan satu arah.

Kurikulum sbagai lintasan atau kendaraan utama bagi setiap anak selayaknya bersahabat dengan setiap individu yang ada dalam lintasan atau kendaraan tersebut, mari kita ciptakan itu, dan tentunya tidak akan sulit apabila kurikulum itu dekembangkan atas dasar makna manusia sebagai ciptan Illahi, semuanya diciptakan untuk mengemban satu tugas, dan dengan sendirinya tugas itu berbeda satu sama lain, ibarat planet dengan orbitnya masing-masing. Ketika setiap planet konsisten pada orbitnya, akan terjadi kesimbangan yang haromonis, sebaliknya, apabila ada satu saja yang macet atau tidak konsisten pada orbitnya, akan terjadi kekacauan. Agama mengingatkan kita, serahkan pada ahlinya masing-masing, jika tidak tunggu kiamat akan datang.

Posted in 1 | 2 Comments »